Antara Kehilangan dan Ketidakpastian

Oleh Wa Ode Zainab Zilullah Toresano

air-asia-8501-jatuh-karena-badai-diawan-cumulonimbusDi penghujung tahun 2014 ini rakyat Indonesia menghadapi peristiwa mengharu-biru, selain “kegaduhan politik” di Papua. Pada Minggu (28/12/2014), tersiar kabar di sejumlah media tanah air mengenai hilangnya pesawat AirAsia AWQ8501. Pesawat dengan muatan 155 penumpang itu diperkirakan jatuh di perairan Tanjung Pandang dan Pontianak.

Pesawat AirAsia tersebut mengangkut 155 orang penumpang yang terdiri dari dewasa 138 orang, anak-anak 16 orang, dan bayi/balita 1 orang. Pesawat juga diawaki 2 orang pilot dan 4 orang cabin crew. Rakyat Indonesia berduka berjama’ah; kita ibarat satu tubuh, apabila 1 tubuh merasa sakit, maka bagian yg lain ikut merasakan sakit. Terlebih lagi keluarga yg didera kedukaan, mungkin td malam mereka tdk bisa memejamkan mata walaupun sekejap. Semoga saja tidak ada wartawan yg menanyakan kepada keluarga penumpang pesawat Airasia itu stupid question, “bagaimana perasaan anda saat mendengar kabar tersebut, apakah anda sedih?” OMG

Langit pagi ini pun mendung, seolah merasakan kedukaan bangsa Indonesia. Kedukaan yg dirasakan bukan semata karena “kehilangan”, melainkan “ketidakpastian”. Sejatinya manusia memang tidak memiliki apa pun. Kita hanya dititipkan oleh Sang Pemilik atas keluarga, harta, kedudukan, bahkan raga ini. Jadi, menangis karena kedukaan bukan dilatarbelakangi posesivitas, seandainya kita menyadari posisi sebagai manusia.

Namun, kita patut berduka menghadapi “ketidakpastian”, krn sesungguhnya fitrah manusia condong pada “kepastian”. Seperti halnya penciptaan kita ke muka bumi ini dengan Tujuan yg pasti dr Sang Pencipta, tanpa kesia-siaan. Bayangkan terombang-ambingnya perasaan keluarga penumpang menanti kepastian berkenaan dg keberadaan keluarganya; bagaimana keadaan mereka, selamat atau tidak? Pertanyaan bagaimana memang tak cukup dgn jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, tapi butuh penjelasan lebih lanjut. Kegalauan menghinggapi benak keluarga penumpang AirAsia tersebut. Mungkin sama halnya kegalauan anak ABG yg digantung hubungannya; ngga jelas sudah putus atau masih nyambung, hehe.

Nah, kita berharap pada pihak yg terkait untuk memberikan kepastian pada keluarga penumpang dan rakyat Indonesia. Tidak hanya kita yg menanti kepastian, tapi mereka pun (penumpang AirAsia yg hilang) mungkin sedang dilanda ketidakpastiaan. Mereka berharap ada orang-orang yang segera memberikan kepastian bagi keselamatan dan keberlangsungan hidupnya. Mari kawan-kawan kita sama2 berdoa agar kepastian terhadap kondisi mereka bisa terwujud! Semoga angin segar dr arah Kalimantan mengabarkan berita baik bagi kita.

“Bergantunglah pada yg absolut, jangan pada yg relatif karena yg absolut memberikan kepastian, sedangkan yg relatif hanya menawarkan ketidakpastian” (wzzt)

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × 2 =