Arab Saudi Copot Ketua Intelijen: Masih Konsisten sebagai Sponsor Utama Terorisme

IsraeldanarabRiyadh, Jum’at Islam Times melansir (Jum’at, 21/2) bahwa Pangeran Bandar bin Sultan dicopot dari jabatan sebagai Kepala Dinas Intelijen dan Penasehat Keamanan Arab Saudi.

Dilaporkan dari sumber anonim Amerika Serikat (AS) dan Saudi Rabu lalu (19/2), ia telah didepak dari lingkaran utama pembuat kebijakan Riyadh.

Dalam  wawancara dengan Press TV pada hari Jum’at (21/2), Ridwan Rizk — seorang analis politik — menegaskan laporan mengenai pencopotan Ketua Intelijen Arab Saudi, Pangeran Bandar bin Sultan, dari tugasnya sebagai ujung tombak misi Kerajaan Arab Saudi dalam krisis Suriah.

Bahkan, kursi Bandar diduduki lawan politiknya, Menteri Dalam Negeri, Mohammed bin Nayef.

Menurut laporan Islam Times, bukti pencopotan Bandar yang paling mencolok adalah ketidakhadirannya di tengah konklaf rahasia yang diadakan baru-baru ini oleh para kepala intelijen negara-negara Timur Tengah untuk mengkoordinasikan posisi mereka dengan Washington di Suriah.

Rizk menyatakan bahwa Arab Saudi telah menjadi sponsor utama terorisme dengan menyebarkan ideologi Takfiri (yakni sebuah ideologi yang mudah mengkafirkan pihak lain yang dianggap tidak sejalan dengan paham mereka).

“Sekarang pelindung utama dan inkubator semua kelompok teroris di seluruh dunia, terutama dunia Arab, adalah Arab Saudi sendiri,” ujar Rizk.

Seperti diberitakan, Kepala intelijen Saudi itu memberikan senjata dan uang kepada pemberontak Takfiri Suriah, serta menginisiasi pembentukan koalisi Front Islam, yang bulan lalu merontokkan kekuatan oposisi utama atau pemberontak FSA (Tentara Pembebasan Suriah) sokongan Washington.

Beberapa sumber di kawasan mengatakan bahwa ia telah membayar harga bagi kegagalan pihak Kerajaan Arab Saudi di Suriah.

Bandar telah berjanji kepada Raja Abdullah bahwa dirinya akan segera menyingkirkan Presiden Suriah Bashar Assad. Namun, ia gagal dalam menuaikan janji itu. Bahkan, ia turut andil dalam persilangan kebijakan antara rezim AS dan penguasa Saudi terkait masalah Suriah, seperti dilansir Islam Times.

Namun, pencopotan itu tidak berpengaruh signifikan terhadap misi Saudi dalam mendukung gerakan terorisme.

“Tindakan mensponsori terorisme tidak muncul dari pribadi Bandar, tapi merupakan kebijakan kerajaan. Kerajaan Saudi ingin menyebarkan Wahabisme dengan setiap cara yang mungkin dilakukan,” tambah Rizk.

Rezim Saud terlihat berupaya ‘cuci tangan’ untuk memperbaiki relasi dengan AS. Berdasarkan laporan Wall Street Journal, penasehat Kerajaan Saudi mengatakan bahwa pemecatan Pangeran Bandar itu bisa membuat hubungan Riyadh-Washington kembali mulus.

“Arab Saudi sedang mencoba membersihkan citranya dan berusaha menutupi kejahatannya yang ada dengan seolah-olah menentang semua kejahatan ini,” ujar Rizk.

Selain itu, ia menyatakan bahwa Pemerintah Saudi harus diadili sebagai penjahat perang dan penjahat terhadap kemanusiaan karena telah membahayakan dunia.

Analis tersebut juga menyebut peran Arab Saudi dalam krisis Suriah dan mengatakan bahwa banyak mantan perwira tentara Saudi kini melatih tentara pasukan al-Qaeda di Yordania untuk beroperasi di Suriah selatan dalam waktu dekat ini.

Bandar juga berperan penting dalam merajut kerja sama dengan Israel. Harian Israel, The Jerusalem Post, melansir bahwa Kepala Intelijen Arab Saudi pernah bertemu dengan pejabat tinggi Israel 27 November 2013 di Geneva, Swiss.

Pertemuan itu mengingatkan peristiwa kesepakatan Faisal-Weizmann pada 3 Januari 1919. Menurut catatan Kompas, Faisal bin Hussein bin Ali al-Hashemi, putra Emir Hussein penguasa Hijaz, dan Chaim Weizmann, Ketua Organisasi Zionis Dunia.

Kesepakatan tersebut terdiri atas sembilan pasal yang menjelaskan tentang kerja sama Arab-Yahudi. Termaktub dalam kesepakatan itu, Faisal menerima dengan syarat Deklarasi Balfour 1917, sebuah deklarasi yang menjadi dasar pembentukan negara Yahudi di Palestina.

(Wa Ode Zainab Z Toresano : Islam Times / Press TV / Wall Street Journal / The Jerusalem Post / Kompas)

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × five =