Asal-Usil (“Asal-Usil” ini merupakan usilan / sorotan atas artikel “Perempuan dalam Pandangan Rasulullah Muhammad Saww”)

http//www.weheartit.comDalam  tulisan/artikel  “Perempuan  dalam  Pandangan  Rasulullah  Muhammad  Saww” (Bagian Pertama), kita  dapat  menangkap  tiga  isu  yang  dipaparkan  secara  sekilas  oleh Dr Ali  Syari’ati (intelektual Iran).  Tiga  isu  tersebut  adalah: (a) Poligami; (b) Cadar; dan (c) Diskriminasi  jenis  kelamin.

Pada  “Asal-Usil”  kali  ini  hanya  isu  “Cadar”  yang  akan  diusili / disoroti.  Isu  “Poligami”  belum  akan  disentuh, sementara  untuk  isu  “Diskriminasi  jenis  kelamin”  akan  diusili  pada  “Asal-Usil”  untuk  rubrik / artikel  “Perempuan  dalam  Persepsi  Ayatullah  Khomeini”.

Menurut  Syari’ati  ada  tiga  kelompok  sejarawan  dan  ilmuwan  yang  telah  berupaya  membahas  topik  “Perempuan  Menurut  Rasulullah  Shalallahu  alaihi  wa  âlihi  wassalam  (Saww)”. Kelompok  Pertama   adalah  yang  dikungkungi  oleh  semangat  kebencian, sehingga  tidak  jarang  mengungkapkan  pernyataan  berlebih-lebihan. Kelompok  Kedua   adalah  yang  cenderung  kompromistis, yang  seringkali  terjebak  untuk  merakayasa  interpretasi  dengan  disesuaikan  pada  keadaan  masyarakat  dalam  periode  tertentu. Kelompok  Ketiga  adalah  yang  mendasarkan  penyelidikannya  pada  realitas  sesungguhnya  dalam  rangka  menemukan  kebenaran.

Persoalannya, apa  parameter-parameter  dari  “realitas  sesungguhnya”  yang  dimaksud  oleh Syari’ati?  Kemudian, apa acuan  “kebenaran” itu?  Bisakah “kebenaran” itu bersifat  multi-interpretable (bebas tafsir)?  Bila ia  “bebas  tafsir”, maka keabsahan kebenaran penyelidikan tidak saja dimonopoli oleh  “kelompok ketiga” di atas, tapi juga  “kelompok  kedua”.  Maka, “cadar penutup muka”, kendati dianggap merupakan warisan dari tradisi Arab (dan tetap dipertahankan oleh sekelompok ummat Islam) dapat saja ditafsirkan sebagai salah satu tradisi yang diserap dalam Islam dalam rangka menopang konstruksi universalitas Islam itu sendiri.  Bukankah Islam datang sekadar bersifat menyempurnakan pranata-pranata sosio-kultural atau adat-istiadat yang sudah ada?  Dengan karakter penyempurnanya itu, logiskah bila ia (Islam) membuldoser seluruh tatanan atau tradisi lama, apalagi bila tradisi-tradisi itu memberikan kontribusi positif bagi pemberdayaan tatanan masyarakat Islam?

***

SEBAGAIMANA  diketahui, istilah “al-ma’ruf”  berarti nilai-nilai kebaikan yang ada dalam adat-istiadat suatu masyarakat, namun tetap sejalan dengan nilai-nilai “al-khair”, yakni nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Bila penggunaan cadar dianggap tidak sejalan dengan Al-Qur’an — bahkan mungkin juga Sunnah — bisakah dikemukakan argumentasinya secara logis?  Seandainya argumen yang dikemukakan itu lemah, atau dengan kata lain penggunaan cadar masih dianggap memberikan manfaat lebih besar ketimbang mudhorat-nya, maka bukankah terbuka peluang bagi cadar untuk dipandang sebagai aset kultural yang bernilai baik?  Secara jujur diakui bahwa terdapat perbedaan  antara  “nilai kebaikan” dan  “nilai kebenaran”.  Tetapi, pada kondisi-kondisi tertentu, tradisi-tradsi yang  “bernilai baik”  dapat ditarik — ibarat tersedot gaya magnet — ke dalam domain  “nilai kebenaran”.  Oleh karenanya, mengapa setiap orang beriman dianjurkan untuk menegakkan yang  ma’ruf  [Al-Qur’an Surah (QS) 9 : 71], padahal ia (yang  ma’ruf) bisa hanya merupakan sekumpulan nilai-nilai tradisi (yang baik).

Dalam hubungan ini, bisakah atau pantaskah  kita sejajarkan kedudukan hukum pengenaan cadar terhadap pengenaan jilbab (QS 33 : 59 dan 24 : 31) di satu pihak dengan hukum haramnya anjing terhadap haramnya babi dan bangkai (QS 5 : 3) di pihak lain?

Sebagaimana diketahui, hukum haramnya anjing ditetapkan dalam fiqh (Islamic  jurisprudence), bukan dalam Al-Qur’an.  Dan upaya-upaya ijtihad (penetapan fiqh) itu merupakan bagian dari tradisi keulamaan.  Lalu, apa perbedaan nilai antara sebuah  fiqh  yang telah ditetapkan, dengan tradisi yang masuk dalam kategori al-ma’ruf  (misalnya: pengenaan cadar)?  Bukankah keduanya bisa menempati deretan yang sama atau setara?

Kendati begitu, sama halnya dengan fiqh, nilai-nilai kebaikan yang berasal dari suatu tradisi harus dianggap bersifat kondisional dan kontekstual. Penggunaan cadar bisa saja bernilai sangat positif jika diterapkan di negara-negara Timur Tengah, misalnya.  Tetapi, mungkin, bila dikenakan di Indonesia, mudhorat-nya akan lebih besar ketimbang manfaatnya.  Bisa dibayangkan, betapa perempuan pemakai cadar akan menjadi tontonan khalayak ramai, padahal itu  seharusnya dihindari.  Bukankah dalam sekularisme, kepuasan laki-laki disimbolkan melalui tatapan atau sentuhan?  Lebih parah lagi jika si pemakai cadar diteriaki: “ninja  masuk kota”.

***

BILA   dicari  kontekstualitasnya  untuk  menopang  universalitas  Islam, maka  wacana  tentang  cadar  itu  mungkin  bisa  dipahami  lewat  paparan   berikut   ini.

Dalam  operanya  yang  berjudul Falstaff, komposer  kenamaan  asal  Italia, Giusppe  Verdi  (meninggal: Januari  1901), menulis: “Bocca  baciata  non  perdeventura, anzirinnova  come  fa  la  luna” (Bibir  tidak  jadi  tua  karena  ciuman, malah  sebaliknya  jadi  baru, seperti  bulan).

Dalam  syair-syair cengeng, perempuan  sering  diistilahkan  sebagai  “rembulan”.  Tapi, Verdi  menukik  lebih  spesifik   lagi  pada  salahsatu bagian/anggota  tubuh  perempuan  yang  paling  sensual: “bibir”.  Dan  Verdi  tidak  sendirian  dalam  memuja “bibir”.  Media  massa  pun  ternyata  tidak  kalah  gencarnya  mempromosikan  sang  “bibir”.  Jangan  heran,  jika  setiap  kali  mengekspos  seorang  artis, misalnya, ungkapan-ungkapan  seperti  “bibir  tipis”, “bibir  sensual”, dan  seterusnya, selalu  saja  dijadikan  bumbu  pembangkit  syahwat.  Tidak  ketinggalan, ada  pula  sutradara  yang  membuat  film  berjudul  “Bibir  Merah”.  Bahkan  di  beberapa  portal  seksual (esek-esek) yang  dimuat  dalam  internet  pun  sering  dilampirkan  aneka  data  tentang  bibir, lengkap  dengan  warnagincu  yang  dipakai.

Konon, entah  fakta  ilmiah  atau  mitos, ragam  warna  berpengaruh  terhadap  asmara, kemesraan  maupun  hubungan  intim  antara  laki-laki  dan  perempuan.  Dikatakan, keindahan  dan  sifat  warna  juga  dapat  mendongkrak  libido  seksual, termasuk  bagi  suami-istri  yang  telah  hidup  puluhan  tahun.  Jangan   heran  omset  pemasaran gincu  (lipstick) — dengan  berbagai  warna — semakin  meningkat. Bukan mustahil, anggaran  mingguan  untuk   per- gincu – an   seorang  remaja  (ABG)  di  kota  besar  hampir  sama  dengan net  profit   bulanan seorang Mbok  pedagang  jamu  gendong.  Silahkan  dikalkulasi, berapa  jumlah  pengeluaran  per  tahun  untuk budget   gincu  seluruh  ABG  plus  tante-tante   girang — di  Indonesia — yang  ber- gincu  ria  (berlebihan) karena  tak  cukup  puas  bersolek   pada  masa  remajanya.

Forum SPTN / BUTONet 2  belum memiliki data perihal daya perusak yang ditimbulkan oleh zat-zat yang terdapat dalam gincu.  Dalam hal ini baru ada data tentang produk-produk kosmetik, shampo, dan parfum yang merusak sistem reproduksi manusia.  Dari data-data tersebut terungkap bahwa zatphthalates (baca: thal-eights) yang terkandung dalam beberapa jenis produk tersebut akan diserap melalui kulit, terhirup saat bernapas, ataupun melalui makanan yang terkontaminasi.  Dan dalam kadar tertentu, zat tersebut bisa mengubah keseimbangan hormon, mengurangi kesuburan, hingga merusak kandungan (rahim), bahkan juga bisa merusak liver, ginjal, dan paru-paru.

Seandainya, kelak, terungkap  bahwa  zat   pada gincu  juga  mengandung  daya  perusak  yang  sama  seperti  pada  produk-produk   kosmetik  itu, maka  sejarah  per-gincu-an  akan  menjadi  lain.  Kaum  laki-laki   akan  berhati-hati  untuk  mengecup  bibir  perempuan yang rajin bersolek dengan gincu, yang  menurut  Verdi, laksanana  bulan.  Maka, nantinya, bibir  tidak  lagi  seperti  “bulan”, tapi  sudah  berubah  menjadi  “batu  nisan” atau paling  tidak, “batu asah”.

***

SUNGGUH  tragis, tanpa  disadari, perempuan  telah  mengeksploitasi  pesona  bibirnya  dibandingkan  dengan  ikhtiar  menggali  kecantikan  non-fisik  mereka (“inner   beauty”  atau “spiritual   beauty”).  Apa  yang  diimajinasikan  oleh  kaum  laki-laki — yang  sangat  ditentukan  oleh  propaganda  para  kapitalis  eksploitatif penyembah berhala “pasar bebas”atau “totaliterisme pasar”— tentang  pesona  perempuan, kemudian  dimitoskan  oleh  kalangan  perempuan  itu  sendiri  yang  menjadikan  mereka  memuja  ideologi  “konsumerisme”.  Maka, terjadilah  kepungan  kepentingan  ekonomi  dalam  tubuh — khususnya  “bibir” — perempuan.

***

DENGAN   skenario  seperti  itu, bukankah  penggunaan  “cadar  penutup  muka”  menemukan  legitimasinya?  Bibir-bibir  yang  tersembunyi  di  balik  cadar  tidak  akan  seenaknya  dipelototi  oleh  mata-mata  penuh  birahi  laksana  sepasang  mata  Verdi.

Dan  karena  penggunaan   cadar  telah  diberi  ruang  dalam  Islam,  berarti  ia  telah  memberi     kontribusi  bagi   fleksibilitas, kontekstualitas, kondisionalitas, dan  universalitas  ajaran  Islam  itu.  Dengan  begitu  terbukti  bahwa  Islam  senantiasa  aktual, tak  pernah  usang  seperti  cara pandang atau sepatu  bekasnya  Bung Verdi. [**]

___________________

“Asal-Usil” ini dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano), Koordinator Umum  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional (Forum SPTN) dan sejak Maret 2014 bekerja sebagai Pemimpin Redaksi  BUTONet2. 

Artikel ini pernah dimuat  dalam  Jurnal  ISLAM  LiBeRaL?  edisi  Juni 2004.

Facebook Comments

You May Also Like

30 thoughts on “Asal-Usil (“Asal-Usil” ini merupakan usilan / sorotan atas artikel “Perempuan dalam Pandangan Rasulullah Muhammad Saww”)

  1. Uno de los problemas más comunes entre los hombres es la impotencia, también conocida como disfunción eréctil. No es noticia para nadie lo corrosivo que pueden resultar las drogas y el alcohol para el organismo.

  2. Generico Do Viagra Da Sandoz Best Prices For Viagra Cialis viagra Isotretinoin Accutane C.O.D. On Sale Ou Acheter Le Viagra En Belgique Kamagra Use For Women

  3. Sildenafil, better known by the brand name Viagra, is one of the most common and widely used erectile dysfunction treatments available today. Originally developed as a treatment for high blood pressure, sildenafil was approved as an ED drug in the late 1990s. Buy cialis online. From its introduction until 2007, Viagra was by far the most widely used erectile dysfunction drug on the market, accounting for 92% of global sales in 2000. While sildenafil isn’t quite as dominant as it once was, it’s still by far the most popular treatment for ED.

  4. Una vez que haya hablado con su pareja sobre sus problemas, es posible que desee considerar ir un paso más allá con la terapia psicosexual. A veces, la disfunción eréctil se debe a una combinación de cuestiones físicas y psicológicas. La DE es tratable a cualquier edad, y el conocimiento de este hecho ha ido creciendo. Intente inhalar lenta y profundamente durante un conteo de 5 y luego contenga la respiración durante 5 segundos antes de exhalar lentamente durante otro conteo de 5. La excitación sexual masculina es un proceso complejo que involucra al cerebro, las hormonas, las emociones, los nervios, los músculos y los vasos sanguíneos. https://comprarlevitra.com/

  5. Onde Comprar viagra generico pela internet. Muchos hombres que sufren disfunción eréctil se sienten culpables por no poder complacer a su pareja. Suelen aparecer a partir de cierta edad, aunque también se suele dar en personas jóvenes. Al igual que la disfunción erectil, la eyaculación precoz es una patología que se presenta al menos una vez en los hombres, pero la continuidad de los episodios genera la patología, necesita un diagnóstico y un tratamiento. El Instituto Nacional de la Diabetes y las Enfermedades Digestivas y Renales (National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, NIDDK) y otros componentes de los Institutos Nacionales de la Salud (National Institutes of Health, NIH) llevan a cabo y apoyan la investigación de muchas enfermedades y condiciones.

  6. De los 64 participantes, 8 tenían trastornos depresivos comórbidos y 15 tenían trastornos de ansiedad. Jugos y batidos: Pueden realizarse de forma casera o comprarse los batidos, son todos de origen natural. Por resultados casi inmediatos vaya a ereccion total. Comprar Levitra barcelona. No debe esforzarse en utilizar palabras técnicas cuyo significado exacto pueda desconocer, por el contrario es conveniente utilizar un lenguaje sencillo. Una erección es resultado de una compleja interacción entre los sistemas nervioso, circulatorio, el equilibrio hormonal y factores psicológicos, y cuando deja de funcionar adecuadamente puede deberse a la disfunción eréctil.

  7. In a normal man, this PDE5 works in conjunction with cGMP to ensure proper blood flow to the organ when there is a sufficient level of sexual stimulation. However, when the balance between these two substances becomes upset, the PDE5 can begin to lower the amounts of blood that make it to the penis. This is where the main component of Cialis, called Tadalafil, comes in. – http://cialis.fun/

Leave a Reply

Your email address will not be published.