Asal-Usil (“Asal-Usil” ini merupakan usilan/sorotan atas artikel “Konsep Minoritas dan Mayoritas Dalam Islam” yang dipadukan dengan artikel “Teori Politik Islam”)

Bhttp//www.setara-institute.orgila Islam menolak pengabaian nilai-nilai Ketuhanan dalam pembuatan hukum dan perundang-perundangan [lihat Al-Qur’an Surah (QS) 5 : 45 dan 47], yang berarti memberikan hak lebih tinggi bagi perealisasian “kehendak Allah SWT”, lalu bagaimana mengsinkronkan beragam pemahaman atas nilai-nilai Ketuhanan itu dari perspektif masing-masing mazhab (teologi atau  fiqh) yang ada dalam Islam?

Bagaimana pula menepis anggapan bahwa praktik formalisme penerapan nilai-nilai Ketuhanan dalam sistem bernegara akan menjurus menjadi semacam kediktatoran mazhab (agama) yang berkuasa atau mayoritas? Mana yang lebih penting, formalisasi syariat (secara total) ataukah objektivikasi syariat dalam hukum nasional / negara, yang berarti syariat — bersama-sama hukum lain, seperti hukum adat, hukum Barat dan hukum yang disepakati oleh masyarakat — bisa diterapkan secara kontekstual melalui tahapan penyerapan, verifikasi, dan uji layak untuk menjadi hukum negara? Kemudian, bagaimana membedakan, mana yang disebut syariat dan mana yang tafsir syariat? Apakah tafsir atas syariat harus diperlakukan secara baku atau lentur?

Bila sorotannya diperluas, bukankah penerapan nilai-nilai Ketuhanan itu dapat pula diklaim oleh agama-agama, ideologi-ideologi atau  the interest-groups  lain? Nah, jika semua pihak diberi hak dan ruang main yang sama, berarti rambunya adalah “demokrasi”. Dengan memilih jalur demokrasi, berarti hanya ada dua sarana yang bisa dipakai untuk memperjuangkan suatu prinsip atau mission (program), yaitu: sarana politik (struktural) dan sarana kultural (yakni melalui sosialisasi apa yang hendak diperjuangkan). Persoalannya, demokratisasi yang menggunakan sarana politik mendapat kritik dari Rene Guenon. “Konsep demokrasi membelenggu hak-hak rakyat dalam borgol kedaulatan kuantita (suara mayoritas),” begitu kata Guenon. Kritik yang sama juga dilontarkan oleh Sekretaris Jenderal “Transparency International” Emmy Hafild. Emmy menyatakan, “lama-kelamaan rakyat akan menyalahkan demokrasi atas kegagalan elite politik memberantas korupsi.” (“Indonesia Makin Korup Salah Demokrasi?” — Bara Hasibuan, Kompas, 1 November 2003).

Memang betul tidak ada jaminan bahwa praktik berdemokrasi akan mendorong ke arah perbaikan dan keteraturan. Polling yang diselenggarakan pada tahun 1993 mengungkapkan fakta, 39 persen penduduk Moskwa dan St Pettersburg berpendapat bahwa kehidupan yang lebih baik justru didapatkan ketika penguasa komunis berkuasa; dan hanya 27 persen yang mengatakan lebih nyaman di bawah pemerintahan demokratis. Ini dapat ditafsirkan bahwa demokrasi justru menimbulkan sejumlah masalah, bahkan ada masalah-masalah tertentu (baru) yang tidak akan muncul seandainya tidak dipraktikkan demokrasi. [Tetapi bukan berarti komunisme adalah baik atau benar, sebab komunisme sama saja bobroknya seperti kapitalisme (neoliberalisme)].

Fakta menunjukkan, demokrasi tidak jarang melahirkan otoritarianisme (sipil atau militer). Kasus pembatalan hasil pemilihan umum yang dimenangkan oleh Front Penyelamatan Islam (Front Islamique du Salut / FIS) di Aljazair pada masa lalu, penjegalan pemerintahan demokratis Hammas di Palesina oleh negara-negara Barat, dan juga berbagai ketimpangan pada sistem politik demokratis sekularistik di Turki yang didirikan oleh Kemal Attaturk (sejak 1923) dapat dijadikan contoh terbaik. Kendati praktik demokrasi di Turki mendapatkan pujian dari Huntington (1991) dan Bernard Lewis (1993) — juga Bung Karno — tapi ummat Islam tahu betapa bernafsunya Attaturk memarjinalkan peran Islam dalam tatanan bermasyarakat dan bernegara. Ini antara lain terlihat pada dipaksakannya perempuan untuk tidak mengenakan jilbab di tempat-tempat umum, atau juga dirubahnya  adzan  shalat ke dalam bahasa Turki.

Pertanyaan selanjutnya, jika dalam sistem demokrasi, partai-partai politik dimaksudkan dapat menjadi  interest aggregation, mengapa yang banyak terjadi justru sebagai lahan persemaian benih-benih eksklusifisme agama, ideologi, paham kebangsaan chauvenistik, profesi, atau kesukuan? Lalu, mengapa pula setelah dicetuskannya pemerintahan demokratis (seperti di Rusia) banyak muncul bandit-bandit politik — yang duduk di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif — yang melakukan penjarahan kekayaan negara karena tidak yakin bisa tetap bertahan setelah pemilihan umum (pemilu) berikutnya (biasa, penyakit  aji mumpung!!!), atau bahkan memang diniatkan untuk membiayai pemenangan pemilu di masa datang?

Dalam kaitan ini, bukankah benar apa yang dikemukakan oleh Prof Hans Kelsen yang di masa pra-Hitler menulis buku tentang demokrasi, bahwa demokrasi adalah suatu istilah politik yang paling banyak disalahgunakan negara-negara (para elite politik) di dunia?

Tak dapat dipungkiri bahwa agama [bisa juga dibaca: “Kehendak Tuhan” (lawan dari “Kehendak Rakyat”) — BUTONet 2] tetap memiliki fungsi terbaik bagi kehidupan manusia, seperti diisyaratkan oleh William Durant dalam  The Lesson of History. Dan bahwa agama senantiasa hidup di tengah kehidupan ummat manusia sepanjang masa. Suatu hal yangcontradictory dengan sekularisme atau juga keyakinan Nietzsche dan Ludwig Feurbach, bahwa Tuhan (agama) telah mati.

Bila demikian, mengapa semua pihak — tanpa ada yang dikecualikan — tidak segera membangun kesepakatan bersama (common platform) yang tulus berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan yang bersifat universal itu? Mengapa tidak disepakati saja bahwa agenda yang paling mendesak untuk diperjuangkan bersama — yang menguntungkan semua pihak  (mutual benefit) — adalah penegakkan keadilan (karena ia bersifat universal), di samping mentradisikan praktik bermusyawarah? Bukankah Al-Qur’an sangat menekankan keuniversalan nilai-nilai keadilan itu (QS 4 : 58 dan 5 : 8), dan oleh karenanya ia — bersama-sama dengan komitmen terhadap kepentingan dan kesejahteraan umum (al-maslahat al-am) yang merupakan representasi dari al-ihsan (performance of good deeds) — sangat dianjurkan untuk ditegakkan (QS 16 : 90)? Bukankah Al-Qur’an juga sangat mendorong penyelesaian persoalan atau resolusi konflik lewat musyawarah (QS 3 : 159)? Tetapi, agar proses musyawarah berjalan efisien dan efektif, semua pihak yang terlibat selayaknya memiliki kapasitas atau frekuensi berfikir yang seimbang agar tidak  hang” (“tulalit” alias “telat berpikir“). Maka, masyarakat perlu diberdayakan potensi berfikirnya, di mana  entry point-nya adalah dengan “membaca” (iqra). Namun, yang diperlukan adalah membaca dengan nama Tuhan (QS 96 : 1), bukan dengan hawa nafsu, misalnya terjebak pada pengkultusan simbol-simbol materialisme, prestiseisme, konsumerisme atau kapitalisme (neoliberalisme), dan sebagainya.

Sesungguhnya, bertindak berdasarkan hawa nafsu identik dengan perilaku tidak rasional yang berarti “mengaburkan” atau “melibatlan misteri” atas suatu kebenaran hakiki (harap dibedakan dari “kebenaran semu”). Jika kita membuka kamus Webster’s New Twentieth Century Dictionary, terlihat bahwa kata “mengaburkan”, “melibatkan misteri”, dan “menjadikan teka-teki” merupakan terjemahan dari kata “mistify”. Dan menurut kamus bahasa Belanda  van Dale Handwoordenboek Hedendaags Nederlands,mistifikasi  diartikan sebagai “penyimpangan dari pakem yang otentik”. Ya, betul, pakem otentik adalah pakem yang didasarkan pada fitrah (QS 30 : 30), dan — bila mau jujur — ia berasal dari Allah SWT (QS 3 : 60). Maka, adagium “dari rakyat”, “oleh rakyat”, dan “untuk rakyat” harus dirubah menjadi “dari Allah”, “oleh Allah”, dan “berproses untuk menggapai keridhaan Allah” (inna lillahi wa inna ilaihi rojiun — QS 2 : 156). Tetapi, ini jangan naïf diartikan sebagai mematikan inisiatif-inisiatif manusia (pada kesempatan lain BUTONet 2  akan memuat artikel tentangijtihad” — yang ditulis oleh pemikir Iran, Ayatullah Prof Murtadha Mutahhari — di mana di situ dapat kita simak betapa Islam sangat menjunjung tinggi berbagai prakarsa atau inisiatif manusia).

Oleh karena itu, mengacu pada logika elementer, sesungguhnya masyarakat konsumeristik yang mengklaim diri paling modern banyak terjebak pada mistifikasi, praktik tebak-tebakan, teka-teki, atau gandrung undian. Suatu bentuk lain dari praktik judi atau “adu nasib” yang sangat dinistakan agama-agama  samawi. Sering kita saksikan betapa histerisnya sekelompok orang tatkala menyaksikan penampilan atau mendengarkan artis idolanya. Atau betapa naifnya rakyat memilih tokoh-tokoh politik yang memanipulasi simbol-simbol tertentu, padahal tokoh-tokoh tersebut hanya sibuk membakar kemenyan politik yang aromanya dapat meningkatkan nafsu syahwat politik mereka.

***

KENDATI demokrasi mengandung sejumlah kelemahan, tapi toh juga dipakai dalam Islam. Imam Khomeini (pencetus Revolusi Islam di Iran), misalnya, mengatakan: “Rakyatlah yang memilih seorang sosok atau figur. Rakyatlah yang seharusnya mengatur ketentuan-ketentuan administratif dan urusan-urusan pemerintahan lainnya. Berdasarkan hak-hak asasi manusia, adalah kalian, rakyat, yang mesti menentukan sendiri nasib kalian.” (Jurnal Al-Huda Volume 2 Nomor  4, 2001).

Kemudian, Abu al-Hasan Ali bin Habib al-Mawardi (lahir: 975 Masehi di Basrah, Irak) — seorang ulama bermazhab Syafi’i — juga menguraikan tentang prinsip-prinsip demokrasi dalam Islam. Dalam kitabnya, Al Ahkam Al Shulthoniyah (Hukum-hukum Kekuasaan), ia menguraikan dua cara pemilihan seorang pemimpin (Khalifah atau Presiden), di mana salah satunya adalah dipilih oleh parlemen (ahlul halli wal aqdi). Akan tetapi, sistem pemilihan tidak langsung ini (beda dengan yang digagas oleh Imam Khomeini tentang pemilihan Presiden, yang menekankan sistem pemilihan secara langsung) bisa mereduksi peran politik rakyat. Elite politik yang duduk di parlemen dengan mudah bisa berbuat manipulatif dengan mengatasnamakan rakyat. Dengan kata lain, mereka seakan memiliki kebebasan penuh untuk mengisi (menuliskan) cek kosong yang diberikan oleh rakyat.

Jadi, persoalannya sekarang adalah bagaimana “mur” demokrasi (baca: “Demokrasi Islam”) bisa  match  dengan “baut”  musyawarah (syura meskipun wilayah  “syura”  jauh lebih luas dari demokrasi — agar bisa menopang konstruksi mesin Islam, yang dapat berwujud sebagai tata kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan tata kemasyarakatan global. Nah, dalam konteks ini, bagaimana ulama harus memosisikan diri untuk membangun tatanan seperti itu, mengingat posisi mereka sebagai pewaris Nabi  (al ‘ulama warasathul anbiya)?

Sebagai  “wali”  (lihat kriteria seorang  “wali” yang dimuat dalam  artikel “Islam Liberal?”), ulama harus benar-benar membimbing, mendidik, mematangkan atau mendesain masyarakat agar sesuai dengan prinsip-prinsip masyarakat madani (civil society), seperti yang telah diteladankan oleh Rasulullah Muhammad  Shalallahu  alaihi  wa  âlihi  wassalam (Saww). Ulama seperti itu (lihat kriteria “ulama”  dalam  artikel “Islam Liberal?”) tidak hanya cukup memiliki kemampuan esoterik — karena masyarakat yang dibimbingnya terdiri dari sekelompok manusia yang merupakan makhluk paradoksal [materi berrukh (berspiritual) dan rukh  bermateri] — tapi juga kapasitas  dzahiriyah (duniawi). Kerangkapan pola kapasitas kepemimpinan — merujuk pada prinsip  the couple existence (QS 36 : 36) — inilah yang sesungguhnya bisa menempatkan ulama seperti seorang kepala keluarga yang bervisi (dunia dan akhirat), bijak, dan bertanggung jawab.

Nah, bila ulama telah menjalankan fungsi dengan penuh tanggung jawab yang — antara lain — didasarkan pada visi, kearifan, dan kebijaksanaan sebagai implementasi dari  tawhid dan amanah Kenabian (Nubuwwah), pantaskah masyarakat sebagai anak-anak sah dari institusi ulama bertindak seperti kacang yang lupa akan kulitnya? Sebaliknya, pantaskah ulama membiarkan dirinya menjadi  political broker yang dimanfaatkan oleh para petualang politik (politician for rent)? Betulkah ungkapan sejarawan Inggris John EE Dalberg — yang dikenal sebagai  Lord Acton (1834 – 1902) bahwa “power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely” (kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang mutlak pasti korup) — bisa berlaku untuk sosok-sosok ulama yang diidealkan seperti dimaksud?

Harus diakui bahwa problem terbesar ummat Islam saat ini adalah krisis ulama, yang kemudian menjalar menjadi krisis multi-dimensi. Banyak yang mengklaim diri sebagai ulama, tapi miskin inisiatif dalam mengemban amanah Kenabian. Ini bisa disebabkan karena yang mengklaim diri sebagai ulama (atau juga cendekiawan — ulil albab) belum memenuhi persyaratan utuh — yakni faqahah, ‘adalah dan qifaah  (lihat  artikel “Islam Liberal?”)sehingga kepercayaan diri (self confidence) dan rasa kemuliaan diri (self esteem)  untuk mengurus ummat semakin merosot. Akibatnya, terjadilah kesenjangan antara rakyat (ummat) dan ulama. Ummat tidak lagi mencintai ulamanya. Celah inilah yang kemudian dimasuki oleh aneka model kepemimpinan yang bersifat duniawi belaka, yang sering kali ditutupi dengan topeng humanisme, keadilanisme, nasionalisme, kerakyatanisme, atau bahkan spiritualisme yang serba tanggung (pas-pasan).

***

PERAN sentral ulama — bukan seperti sentralisme dalam komunisme atau fasisme militeristik — menjadi penting ketika Islam menjadikan politik (lebih tegasnya: “ideologi”, meminjam alur berfikir Ali Syari’ati, intelektual Iran) sebagai instrumen untuk membangun suatu maslahat (jalbul mashlahahsetelah berupaya menghindari kerusakan (dar’ul mafsadah). Masalahnya, siapa yang lebih mengerti perihal haram, halal, atau makruhnya berbagai persoalan atau kasus agar kerusakan bisa dihindari secara tersistem? Bila jawabannya adalah ulama, maka seharusnya perannya pun bukan lagi sekadar ibarat pemadam kebakaran. Maka, dari perspektif ini kita bisa menolak pernyataan Thomas S Kuhn bahwa demokrasi (baca: demokrasi Islam) bukanlah suatu (bagian dari) ideologi, tetapi cara menyeleksi masalah (a way of dealing with problem). Lebih jauh, kita juga layak perdebatkan proyek deideologisasi Adorno, salah seorang tokoh filsuf mazhab Frankfurt.

***

DENGAN peran sentral ulama (maaf: “bukan ulama palsu”) yang mengawal dan membimbing demokrasi, maka efek pembersihan (cleansing effect) yang dimiliki oleh demokrasi itu akan bisa bekerja efektif. Dalam mekanisme demokrasi seperti ini, siapa pun yang dinilai gagal mengemban amanah kepemimpinan dari rakyat pasti tercampakkan, atau terkena penyakit “campak politik”.

Selanjutnya, sistem tersebut bertanggung jawab untuk menjamin selalu menghasilkan apa yang diinginkan oleh rakyat. Dengan kata lain, demokrasi seperti itu tidak akan memberikan cek kosong untuk seenaknya diisi oleh para bandit-bandit politik yang menyelewengkan kepercayaan rakyat. Oleh karena itu, ulama berkewajiban memberikan bimbingan dan arahan kepada rakyat agar cek kosong itu dipercayakan untuk diisi oleh pribadi-pribadi yang memenuhi persyaratan. Dengan begitu, kekeliruan demokrasi Barat yang telah melahirkan diktator (bengis) Hitler dan Mussolini — melalui mekanisme pemilu yang cukup  fair tidak akan terulangi; dan bahwa  democracy”  tidak akan menjadi  democrazy”.

***

DARI spektrum pemikiran yang digelar di atas dapat dinyatakan bahwa demokrasi tidak identik dengan  vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Setiap orang memiliki “maqam” (kedudukan atau tingkat-tingkat) tertentu di hadapan Allah SWT. Dan yang paling layak serta gigih dalam mengemban amanah Allah adalah pribadi-pribadi yang memenuhi kriteria Wali; atau dengan kata lain ia harus faqahah, ‘adalah, dan qifaah (seperti telah disinggung di atas). Pribadi-pribadi seperti itu akan kelihatan dari amal salehnya di berbagai ranah kehidupan, mulai dari kepeduliannya atas penggusuran tanah, kekerasan terhadap rakyat, otoritarianisme, kemiskinan masyarakat, penyelewengan jabatan, pungutan liar dan korupsi, hegemoni kekuatan global, perjuangan membebaskan  al-Quds (masjidil aqsa) secara konkret (bukan hanya sekadar berdemonstrasi atau unjuk rasa), penciptaan rasa damai (nyaman dan aman), dan seterusnya. Dan yang terpenting lagi, dia harus hidup sederhana (menurut ukuran masyarakat bawah), tidak mengumbar hawa nafsunya menikah di sana-sini alias mengoleksi aneka model perempuan (dengan berlindung di balik argumen kehalalan berpoligami atau “nikah di bawah tangan“), dan melebur serta berjuang bersama masyarakat yang diperjuangkannya.

Ulama demikian tidak akan membiarkan hidupnya terperangkap seperti dalam alur marxisme, di mana lingkungan sosial-ekonomi menguasai ide, sikap, dan perilaku. Dengan kata lain, justru ide, sikap, perilaku, komitmen, perjuangan, dan keyakinan — untuk tujuan bersama yang adil dan luhur — ulama seperti dimaksud yang harus memengaruhi lingkungan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Dan, tentu saja, untuk itu ia harus memiliki aura, kharisma atau kewibawaan sebagai refleksi dari ketawadhu-an atau watak/karakter Ilahiah yang menyatu dalam dirinya.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
[Al-Qur’an Surah (QS) 35 : 28]

Kemudian Kitab (Al-Qur’an) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara
hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri
dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang
lebih dahulu dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah
(yakni ulama — Forum SPTN / BUTONet 2).
Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”
(QS 35 : 32)

Ulama seperti itulah yang mampu menerjemahkan ilmu-ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah Muhammad Saww, bukan saja ilmu dzahir tapi juga ilmu ghaib  sebagai modal untuk mengemban misi Kenabian  (Nubuwwah).

Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.
(QS 81 : 24)

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib.”
(QS 2 : 3)

Ulama adalah pewaris Nabi.”
(Al-Hadits)

***

UNTUK menjaga agar kekuasaan tidak disalahgunakan, para pendukung teori demokrasi (baca: demokrasi Barat) mengajukan rumusan agar kekuasaan dibatasi melalui sistem negara hukum atau  rule of law“. Ini dimaksudkan untuk mencegah penyimpangan menjadi negara kekuasaan. Dan salah satu cara pembatasan kekuasaan adalah melalui mekanisme  accountability, yakni pertanggungjawaban dari pihak yang diberi mandat — untuk memerintah — kepada yang memberi mandat. Persoalannya, bagaimana kalau moral pemberi mandat mudah  goyah karena diberi suap, misalnya?

Dalam kaitan ini, perlu dikaji apakah hambatan mekanisme  check and balances  yang sering kita saksikan, antara lain, disebabkan oleh  moral hazard  seperti itu?  Bila jawabannya, “ya”, maka persoalannya terletak pada “moral” (akhlak). Nah, kalau “Nabi” diutus untuk menyempurnakan akhlak”, maka logikanya — setelah Nabi — yang berakhlak adalah pewaris Nabi, yaitu ulama. Maka, kalau ada ulama yang tidak berakhlak (misalnya, tidak sejalannya perkataan dan perbuatannya — lihat QS 61 : 2), sesungguhnya dia hanyalah sebatas mengklaim diri sebagai ulama; dan tidak pantas untuk dipanuti, apalagi membimbing atau mengawal demokrasi.

***

DARI pemikiran Samuel Huntington bisa ditangkap rumusan bahwa kendati sistem demokrasi tidak ideal, tapi belum tentu sistem lain lebih baik. Merujuk pada rumusan ini, kita patut bertanya, apakah dengan belum idealnya penerapan dan operasionalisasi sistem lain lalu bisa disimpulkan bahwa sistem demokrasi lebih unggul dari sistem lainnya?

Sementara itu, Winston Churchill mengakui bahwa pemerintahan demokratis merupakan bentuk pemerintahan yang “paling buruk” (the worst form of government), namun bentuk lainnya tidak lebih baik dari demokrasi.

Nah, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna (QS 95 : 4), mengapa hasil karyanya yang paling maksimal di bidang politik (pemerintahan) hanya berkualitas sebatas “paling buruk”, seperti yang dapat kita tangkap dari pernyataan Churchill? Lalu, bagaimana pula sosok hasil karya yang berkualitas “buruk”? Bukankah dengan mengatakan berkualitas “buruk”, secara tersirat kita mengakui adanya kualitas “baik” atau “benar”, yang kemudian menjadi “paling benar” tanpa harus menistakan sistem-sistem lainnya? Jika seandainya sistem politik “paling benar” itu ada, adakah hubungannya dengan firman Allah berikut ini?

Kebenaran itu dari Tuhan, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS 3 : 60)

Dan, jika kita yakin bahwa Tuhan beserta kita di manapun kita berada, mengapa dalam menata pemerintahan, kita acap mengabaikan prinsip-prinsip atau rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT?

Dan Ia (Tuhan) itu beserta kamu dimanapun kamu berada (termasuk ketika Anda sedang  nangkring
memimpin rapat di kelurahan, di kabinet, atau tatkala bersidang sambil  ngantuk
di parlemen — Forum SPTN / BUTONet 2)”
(QS 57 : 4)

Bukankah Allah SWT telah mengatur segala sesuatu — apalagi untuk manusia yang diciptakan paling mulia — dengan peraturan yang pasti, minimal dari segi garis-garis pedomannya (guidelines)?

Dan Ia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu kemudian mengaturnya dengan peraturan yang pasti.”
(QS 25 : 2)

Dan Kami (Tuhan) telah turunkan kepada engkau (Muhammad) suatu kitab (Al-Qur’an)
sebagai keterangan tentang segala sesuatu serta sebagai petunjuk, rahmat
dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri
.”
(QS 16 : 89)

Dan jika sistem (demokrasi) yang kita hendaki adalah yang mulia, mengapa kita tidak sandarkan kepada Pemberi Kemuliaan (Allah SWT)?

Barangsiapa menghendaki kemuliaan maka seluruh kemuliaan itu ada pada Tuhan.
(QS 35 : 10)

***

AKAN tetapi, apakah dalil-dalil (hujjah) yang dikemukakan di atas tidak bertentangan dengan prinsip kemerdekaan berikhtiar yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada manusia? (lihat QS 11 : 61; 53 : 39; 13 : 11; 16 : 90; 17 : 84; 42 : 38; dan 39 : 39).

“………..urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.
(QS 42 : 38)

Katakanlah: ‘Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan kesadaranmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula),
maka kelak kamu akan mengetahui.

(QS 39 : 39)

Atau, jangan-jangan karena kita terlalu percaya diri  (over confidence), maka kita enggan berserah diri kepada Allah (QS 16 : 89) yang kemudian mempersulit diri sendiri.

Sesungguhnya manusia itu mempersulit diri sendiri dan bodoh.”
(QS 33 : 72)

_______________________

La Ode Zulfikar Toresano (Aba Zul) adalah Koordinator Umum  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional / Forum SPTN. Sejak Maret 2014 juga bekerja sebagai Pemimpin Redaksi   BUTONet 2.  Tulisan ini pernah dimuat dalam  Jurnal ISLAM LiBeRaL?  edisi Juni 2004.

Facebook Comments

You May Also Like

73 thoughts on “Asal-Usil (“Asal-Usil” ini merupakan usilan/sorotan atas artikel “Konsep Minoritas dan Mayoritas Dalam Islam” yang dipadukan dengan artikel “Teori Politik Islam”)

  1. Usually I don’t learn post on blogs, but I would like to
    say that this write-up very forced me to try and do it!
    Your writing taste has been surprised me. Thanks, very nice post.

  2. I think that is one of the such a lot vital info for me.
    And i’m glad studying your article. But wanna commentary on few normal issues,
    The web site taste is wonderful, the articles is in point of fact excellent : D.
    Excellent activity, cheers

  3. naturally like your website however you need to test the spelling on several of your posts.

    Several of them are rife with spelling issues and
    I find it very troublesome to inform the reality then again I will surely come back again.

  4. Hello! I know this is kind of off topic but I was wondering
    if you knew where I could get a captcha plugin for my comment form?
    I’m using the same blog platform as yours and I’m having
    trouble finding one? Thanks a lot!

  5. Every weekend i used to go to see this site, for the
    reason that i want enjoyment, for the reason that this this web page conations actually fastidious funny stuff too.

  6. Hi! This is my 1st comment here so I just wanted to give a quick shout out
    and say I truly enjoy reading your posts. Can you recommend any other blogs/websites/forums that go over the same topics?
    Thank you so much!

  7. La implantación de una prótesis peniana es actualmente un tratamiento de 3ª línea, siendo indicado apenas cuando los tratamientos descritos anteriormente no dan resultado.

  8. Most men in general do not want to be seen in the local drug store buying pills for curing their erectile dysfunction.

  9. Unquestionably consider that which you said.
    Your favorite reason appeared to be at the net the easiest factor to have in mind of.

    I say to you, I certainly get annoyed whilst people think about issues that they just don’t realize about.
    You managed to hit the nail upon the highest and defined out the whole thing without having side
    effect , other people could take a signal. Will probably be again to
    get more. Thank you natalielise pof

  10. La presión arterial alta si no es tratada a tiempo puede conducir a la disfunción eréctil. Si el paciente presenta, por ejemplo, deficiencia de la testosterona, el uso exclusivo de Viagra no resolverá su problema.

  11. What i do not realize is in fact how you’re not really much more smartly-preferred than you might be now.
    You are very intelligent. You already know therefore considerably relating to this topic, produced me in my view imagine it from a lot of numerous angles.
    Its like men and women aren’t involved until it’s one thing
    to accomplish with Girl gaga! Your personal stuffs outstanding.
    At all times handle it up! pof natalielise

  12. I love your blog.. very nice colors & theme.
    Did you make this website yourself or did you hire someone to do it for you?

    Plz reply as I’m looking to design my own blog and would like to find out where u
    got this from. appreciate it

  13. Hey There. I discovered your weblog the usage of msn. This is
    an extremely neatly written article. I’ll be sure to bookmark
    it and come back to learn extra of your helpful information. Thanks for the post.
    I will definitely return. pof natalielise

  14. Greetings! I know this is somewhat off topic but I was wondering which
    blog platform are you using for this website?
    I’m getting fed up of WordPress because I’ve had problems with hackers
    and I’m looking at options for another platform. I would be awesome if you could point
    me in the direction of a good platform.

  15. I love your blog.. very nice colors & theme. Did you design this website yourself or did
    you hire someone to do it for you? Plz reply as I’m looking to create my
    own blog and would like to know where u got this from. many thanks

  16. Thanks for your marvelous posting! I quite enjoyed reading it,
    you could be a great author.I will be sure to bookmark your blog and
    will come back someday. I want to encourage you continue your great
    writing, have a nice afternoon!

  17. La eyaculación prematura se divide en primaria y secundaria. La enfermedad del corazón hace casi imposible que este órgano bombee lo suficientemente rápido o fuerte para distribuir la sangre a cada porción del cuerpo, incluyendo el pene.

  18. Greetings from Carolina! I’m bored at work so I decided to check out your site on my iphone during lunch break.

    I love the information you provide here and can’t
    wait to take a look when I get home. I’m amazed at how quick your blog loaded on my
    cell phone .. I’m not even using WIFI, just
    3G .. Anyhow, good site!

  19. En la consulta se realiza un historial médico con el paciente y unas pruebas diagnósticas básicas, que determinarán el nivel y las posibles causas de la disfunción. Se estima que entre el 30% y el 40% de los hombres por encima de los 40 años presentan algún grado de disfunción eréctil.

  20. Excellent article. Keep writing such kind of information on your site.
    Im really impressed by your blog.
    Hi there, You’ve performed a fantastic job. I’ll certainly
    digg it and personally recommend to my friends. I am sure they will be
    benefited from this web site.

  21. You could definitely see your skills in the article you write.
    The world hopes for more passionate writers
    such as you who are not afraid to say how they believe.
    All the time follow your heart.

  22. Hello There. I found your blog using msn. This is a very well
    written article. I’ll make sure to bookmark it and come back
    to read more of your useful info. Thanks for the post.
    I’ll certainly comeback.

  23. Hi, i think that i noticed you visited my web site
    thus i came to go back the favor?.I am attempting to in finding issues to enhance my web site!I assume its ok to make use of some of your ideas!!

  24. I’m extremely impressed with your writing talents as well as with the structure on your
    weblog. Is this a paid subject matter or did you customize it
    yourself? Either way stay up the excellent high quality writing,
    it’s rare to see a great weblog like this one today..

  25. Heya! I just wanted to ask if you ever have any issues with
    hackers? My last blog (wordpress) was hacked and
    I ended up losing several weeks of hard work due to no backup.

    Do you have any methods to protect against hackers?

  26. Woah! I’m really loving the template/theme of this website.
    It’s simple, yet effective. A lot of times it’s hard
    to get that “perfect balance” between superb usability and visual appeal.
    I must say you’ve done a superb job with this.
    Also, the blog loads super fast for me on Opera.

    Excellent Blog!

  27. Wow! This blog looks exactly like my old one!
    It’s on a completely different subject but it has pretty much the
    same page layout and design. Wonderful choice of colors!

  28. whoah this blog is wonderful i really like studying your posts.
    Stay up the great work! You already know, lots of individuals are looking round for this info, you could help them
    greatly.

  29. Free Samples Of Viagra Prezzo Viagra Cialis Levitra Cialis 36 Heures Viagra Effets Secondaires Cialis Cephalexin Shortage In Canada

  30. They may do tests to determine if your symptoms are caused by an underlying condition. You should expect a physical exam where your doctor will listen to your heart and lungs, check your blood pressure, and examine your testicles and penis. Buy cialis online germany. They may also recommend a rectal exam to check your prostate. Additionally, you may need blood or urine tests to rule out other conditions. Your doctor may prescribe medication to help manage your symptoms of ED.

  31. A normal dose of vardenafil takes action in about one hour. On a per-milligram basis, vardenafil is significantly stronger than sildenafil and is usually used at a lower dose. The normal starting dose of vardenafil is 10mg, with tablets available in 5, 10 and 20mg dosages. Buy cialis online south africa. The side effects of vardenafil are similar to other ED medications. The most commonly reported side effects include facial flush, headaches, stuffy nose and heartburn. Like other ED drugs, it’s also linked to more serious side effects in people with pre-existing heart conditions.

  32. Comprar Viagra generico online barato. La impotencia es también más común de lo que se puede pensar en personas jóvenes. El médico lo entenderá perfectamente ya que está acostumbrado a escuchar problemas similares. En caso de ocurrir disminución repentina de la visión de uno o ambos ojos se deberá suspender el medicamento y consultar a su médico. En general los estudios a realizar no resultan dolorosos ni molestos para el paciente. De igual manera hay tratamientos para poder controlar directamente la impotencia masculina, y a continuación verás algunos de ellos.

  33. Si no está del todo preparado para hablar con un terapeuta sobre su impotencia psicológica, hay algunas terapias alternativas que puede probar en casa. Del mismo modo, el estrés y las inquietudes relacionadas con la salud mental pueden provocar disfunción eréctil o empeorarla. Ir al terapeuta con su pareja también puede ayudarlo a resolver cualquier problema de relación que haya estado afectando su vida sexual para que ambos estén más satisfechos. Comprar Levitra en argentina. En contraindicaciones añadir: neuropatía óptica isquémica. Obesidad: Se trata de una enfermedad relacionada con la acumulación de grasa por la ingesta de una cantidad de calorías mucho mayor a la que el organismo puede gastar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.