Bagaimana Membantu Anak yang Berpikiran Negatif

JAKARTA, www.sorotparlemen.com, 17/10/2020 — Sekolah merupakan salah satu penentu terpenting bagi perkembangan sosial dan emosional anak. Tekanan dari sesama teman di kelas, evaluasi guru, tantangan akademik, dan sejumlah pengaruh (tekanan) lainnya senantasa dialami anak-anak setiap hari. Tekanan-tekanan ini kemudian antara lain membentuk potensi keterampilan hidup dalam berbagai cara, salah satunya bernilai positif. Misalnya, terjalin persahabatan hangat dan sehat yang dapat memacu perkembangan lebih lanjut berupa empati, perluasan perspektif (cara pandang), dan sikap saling mendukung. Sebaliknya, ada kemungkinan munculnya dampak negatif akibat kritik (evaluasi) dari guru atau pengucilan oleh teman-teman, yang kemudian potensial melemahkan motivasi dan kepercayaan diri anak-anak.

Atas dasar itu, orang tua perlu melindungi (memantau) anaknya dari pengaruh-pengaruh negatif seperti yang antara lain disebutkan tadi, seraya memberikan pembimbingan/pengarahan terbaik.

Dalam peran saya sebagai psikolog anak, saya sering berhubungan dengan guru-guru dan para konselor sekolah (guru “Bimbingan Penyuluhan”/BP) untuk anak-anak yang saya tangani. Saya coba berbagi pemahaman tentang anak-anak yang saya tangani untuk “memperluas peluang” penanganan terapi. Seringkali ada aturan-aturan tertentu dari sekolah dan realitas itu bisa saja memicu sebuah keadaan di mana murid murid yang tidak memiliki kemampuan memadai (misalnya dalam berbagi kepedulian, mematuhi aturan, mengelola energi/emosi, dan menerima kritik balik) akan menjadi objek ejekan, persekusi, dan lain lain. Bersyukur, para guru dan konselor (guru BP) mudah diajak bekerjasama dan menerima saran saran saya sebagai bagian dari penanganan perkembangan anak berbasis sekolah. Ketika saya menerangkan model bimbingan/pembinaan (coaching) dan “Kartu Bimbingan Orangtua” ( Parent Coaching Cards), mereka mengajukan beragam pertanyaan yang intinya bagaimana coaching tersebut bisa diterapkan di sekolah.

Artikel ini akan membahas salah satu point utama yang saya telah sumbangkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Bagaimana Bahasa Hati (internal language/IL)
Merefleksikan Pikiran Negatif Anak?

Tujuan utama pekerjaan/profesi saya menangani anak-anak (dan juga anak-anak berkemampuan khusus) adalah mengajari atau membimbing mereka mengenai keterampilan emosional dan sosial agar mereka berhasil menyelesaikan atau mengatasi masalah. Bentuk coaching yang saya berikan sangat bergantung pada pemberdayaan “sisi berpikir” (thinking side) seseorang dan memperkuat perhatiannya terhadap “sisi reaktif” (reacting side). Salah satu cara kritis yang dapat dilakukan adalah melalui pengembangan internal language (IL) yang konstruktif, yakni IL tanpa pikiran negatif. IL adalah apa yang kita pikirkan diam-diam mengenai diri kita sendiri. Dalam hal ini dibutuhkan kualitas yang konstruktif bila ia (IL) digunakan dalam pelayanan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sayangnya, banyak anak lebih terbiasa menggunakan IL sebagai katup pelepas saat dihadapkan tantangan ketimbang sebagai jalur lintasan untuk secara efektif mengatasi tantangan. Misalnya, ketika aneka beban sekolah menumpuk, sebagian anak sekolah cenderung berpikir atau berkata kepada diri sendiri, “Ini buruk…. Saya tak bisa melakukan ini…. Saya tidak akan mampu menjalin pertemanan, dan seterusnya!” Cetusan-cetusan batin dari pikiran negatif seperti itu mungkin untuk sementara dapat meredakan tekanan jiwa dengan mengabaikan tanggungjawab dan partisipasi. Tetapi, dalam jangka panjang, akan melanggengkan kekusutan masalah karena menjauhkan anak dari konstruksi penyelesaian masalah.

Mengubah Anak dari Berpikir Negatif menjadi Berpikir Positif

Anak-anak dapat dilatih/dibimbing bagaimana menggunakan IL dalam semua fase pengembangan keterampilan emosional dan sosial. Dalam hal ini, sekolah merupakan tempat ideal untuk melakukan coaching (pelatihan) karena adanya kebutuhan serta dukungan dari para guru dan guru BP (konselor). Salah satu langkah awal adalah membantu anak-anak mengidentifikasi IL konstruktif mereka. Ini mungkin terkait dengan
“suara berpikir yang membantu” (helpful thinking voice) untuk membedakannya dari sejumlah “pemikiran yang merusak diri” (self defeating thinking) yang ada dalam benak anak-anak.

Guru atau konselor dapat menjelaskan bahwa “suara berpikir” (thinking voice) membantu menyelesaikan masalah dan membuat keputusan yang baik, sedangkan “suara yang tidak membantu” (unhelpful voice) dapat secara aktual memperburuk masalah atau mengarahkan kepada keputusan yang buruk. Contoh berikut ini akan menjelaskan hal tersebut : Misalkan seorang anak laki-laki duduk mengerjakan lembaran kerja yang berisi sepuluh soal dan terbukti dia tidak dapat mengerjakan tiga soal. Dua pemikiran kemudian muncul di benaknya :
A. “Ini tidak mungkin. Saya tidak akan pernah mendapatkan nilai bagus dalam subjek ini. Mengapa saya harus repot mengerjakannya?”
B. “Baik, dengan saya tak bisa mengerjakan tiga soal ini bukan menjadi alasan bahwa saya tidak harus mencoba lagi yang terbaik.”


“A” dapat dicirikan sebagai “suara yang tidak membantu” (unhelpful voice) dan “B” sebagai “suara berpikir yang membantu” (helpful thinking voice).

Lebih lanjut, kepada anak-anak bisa diajukan dikotomi berikut ini untuk memperkuat pemahaman mereka : Contoh “Dua Suara Pikiran” (Mind’s Two Voices).

  1. Tinjauan akademik atas “suara berpikir yang membantu” (helpful thinking voice) :
    “Ini kelihatannya sulit, bahkan lebih sulit bagi saya untuk melakukannya. Tetapi, saya tidak akan pernah tahu terkecuali dengan mencobanya. Saya akan lakukan tahap demi tahap seraya mengabaikan betapa sulitnya hal itu, sehingga saya terus bisa mencobanya.” Sedangkan untuk “suara yang tidak membantu” (unhelpful voice) : “Ini kelihatannya sulit dan bahkan mungkin terlalu sulit bagiku untuk mengerjakannya. Saya pasti tidak akan mampu melakukannya. Saya benci hal ini dan tidak mengerti mengapa saya harus mempelajarinya.”
  2. Tinjauan sosial atas “suara berpikir yang membantu” (helpful thinking voice) :
    “Mereka tidak menyukai saya dan saya pun tidak menyukai cara mereka memperlakukan saya. Mungkin saya berbeda dengan mereka dan mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Atau, mereka hanya belum benar-benar mengenali saya, dan saya yakin mereka akan merubah cara pandang bila mereka mengenali saya lebih jauh.”
    Sedangkan untuk “suara yang tidak membantu” (unhelpful voice) :
    “Mereka tidak menyukai saya dan saya tidak menyukai cara mereka memperlakukan saya. Mereka idiot dan saya ingin membalas perilaku buruk mereka. Bila mereka mengatakan lagi satu hal buruk kepadaku, saya pasti akan membuat mereka menebus kesalahan.”
  3. Tinjauan emosional atas “suara berpikir yang membantu” (helpful thinking voice) :
    “Segalanya tidak berhasil. Sungguh hal ini membuat frustrasi. Sulit dipahami mengapa itu terjadi kepadaku. Tetapi, mungkin orang lain bisa membantu saya menemukan jalan keluar. Kepada siapa saya harus mengadu?”
    Sedangkan untuk “suara yang tidak membantu” (unhelpful voice) :
    “Segalanya tidak berhasil. Mengapa hal ini selalu terjadi? Sungguh ini sangat tidak adil. Saya tidak dapat mempercayainya. Ini tidak pantas menimpa saya. Mengapa harus saya yang terima sial?”

DARI sebagian besar anak-anak akan dikenali bagaimana dalam setiap contoh bahwa pemikiran awal mereka adalah sama, namun kemudian hasil dari dialog internal menunjukkan benar-benar sebaliknya.

Diskusi kemudian berfokus pada skenario khayalan yang mengarah pada masing-masing contoh termaksud dan frasa-frasa khusus yang menggunakan masing-masing suara (voice). Dalam kasus “helpful thinking voice”, misalnya; kata-kata dan frasa-frasa seperti “tahap demi tahap”, “mungkin”, dan “sulit dimengerti/dipahami” diberikan untuk menekankan pentingnya merencanakan strategi untuk mengatasi masalah, membuat opsi perubahan yang memungkinkan, dan mengekspresikan pencarian untuk memahami keadaan sebenarnya.

Berbeda dengan itu, kata-kata dan frasa-frasa seperti “pasti”, “benci”, “idiot”, “rasanya ingin membalas perilaku buruk mereka”, “selalu”, dan “tidak adil” mengungkapkan muatan emosional dan pikiran absolut yang berkaitan dengan “unhelpful voice”.

Contoh-contoh “helpful thinking voice” juga menampilkan upaya untuk mengkonstruksi solusi-solusi atas aneka masalah yang dihadapi oleh anak.

Secara akademis anak mengadopsi sebuah strategi kesadaran untuk meminimalisir (mengatasi) kesulitan. Sedangkan dalam menghadapi dinamika sosial, anak mengadopsi persepsi tentang hal-hal yang berubah untuk menjadi lebih baik di masa mendatang. Sementara itu, dalam hal tantangan emosional, anak memutuskan untuk mengikuti
konsultasi yang bermanfaat.

Manakala anak-anak sudah memahami pentingnya IL yang konstruktif, niscaya mereka akan lebih mampu mendapatkan manfaat dari pelatihan berbasis sekolah (school-based coaching) yang terkait dengan keterampilan sosial dan emosional.

Selanjutnya, sebaiknya Anda juga membaca artikel-artikel lain yang membahas pengembangan lebih lanjut dari hal-hal yang dipaparkan di atas. [**]


Diterjemahkan oleh La Ode Zulfikar Toresano (www.sorotparlemen.com/WSPC) dari

http://mahjubah.itfjournals.com/article_3939.html

Image Source: https://pixy.org/src/177/thumbs350/1778805.jpg

Facebook Comments

You May Also Like