Dewan Perwakilan Daerah dan Amandemen Kelima UUD 1945 (2002): Suatu Tinjauan dari Perspektif Fisika-Genetika Politik

http//www.sinergitas.wordpress.comWacana tentang amandemen kelima Undang-Undang Dasar / UUD 1945 (2002) terus digulirkan oleh DPD (Dewan Perwakilan Daerah), bahkan intensitasnya semakin meningkat. Dukungan individu-individu dari partai-partai politik yang duduk di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), terutama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Bintang Reformasi (PBR), pelan tapi pasti semakin memperlihatkan grafik yang meningkat.

Kendati demikian, resistensi yang muncul juga tidak sedikit, terutama dari beberapa anggota DPR yang berasal dari Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Kalangan akademisi berpendapat bahwa amandemen kelima atas UUD 1945 (2002) itu sudah merupakan keniscayaan, bukan saja untuk penguatan DPD- — dari soft bicameral  menjadi strong bicameral — tetapi juga untuk menyempurnakan pasal-pasal lainnya agar semakin sesuai dengan tuntutan reformasi.

Persoalannya, apakah tepat pemilihan umum (Pemilu) 2009 dijadikan sebagai momentum perubahan konstitusi? Dari perspektif ilmu fisika, “momentum” adalah hasil multiplikasi antara “massa” dan “kecepatan”.

Jika DPD benar-benar hendak mendorong agar dilakukan perubahan konstitusi sebelum 2009, sudahkah dihitung besaran “massa” dan “kecepatan” dari berbagai sisi tinjau yang dilihat dengan menggunakan teleskop politik. Yang kita maksud dengan “massa” adalah berbagai sumber daya yang ada, baik yang berdimensi struktural maupun kultural.

Sayangnya, realitas yang kita tonton, DPD terkesan hanya bersemangat (ngotot) menuntut (hak) perimbangan politik dalam rangka check and balances, dan kurang konkret dalam menunaikan kewajiban-kewajiban (tanggung jawab) yang terprogram secara terstruktur dan komprehensif, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan para konstituen di daerah. Padahal, penunaian kewajiban merupakan tindakan alternatif (berdimensi kultural) yang — tentu saja — memiliki nilai politik tinggi jika benar-benar dikemas secara cerdas dengan brand yang marketable. Perjuangan dalam tataran kultural itu penting di tengah “kelembaman politik” yang tetap dipertahankan oleh mayoritas partai politik (Parpol) yang ada di DPR.

Bukankah Hukum Mekanika Newton (Hukum Newton I) tentang kelembaman juga berlaku dalam pertarungan kepentingan politik (political interest struggle)? Dalam hubungan ini, sudahkah DPD mengkalkulasi berapa besar resultan gaya (political force) yang telah diberikannya untuk memengaruhi atau menggerakkan benda lembam yang bernama DPR itu? Bila nilai political force yang dilancarkan oleh DPD lebih kecil atau sama dengan nilai (gaya) kelembaman politik institusi DPR, maka jangan berharap akan bisa dilakukan perubahan secara struktural. Disinilah urgensi perjuangan kultural bagi DPD, yang antara lain melalui aksi-aksi pemberdayaan konstituen di daerah, misalnya dengan memperkuat peran mediasi anggota DPD dan kemudian juga DPD secara institusional. Itu berarti, dalam perjuangan politik, berpikir dan bertindak alternatif tidak boleh disepelekan. Dapat dibayangkan, berapa kekuatan desak politiknya (political pressure) jika seluruh konstituen yang mendukung anggota DPD membubuhkan tanda-tangan untuk melakukan perubahan konstitusi (amandemen kelima UUD 1945 / 2002)?

***

IDEALNYA, nilai “massa” (political capacity) didapatkan dari sumber daya struktural dan kultural. Tapi, bila perolehan dari sumber daya struktural (structural political resources) jauh dari nilai optimal, bukankah adalah merupakan suatu kecerdasan jika DPD segera menerapkan “manajemen air” (balancing of power) dengan mengambil langkah-langkah alternatif melalui perjuangan kultural atau mengoptimalkan fungsi intermediasi (DPD) antara para konstituen dengan berbagai kekuatan struktural atau kalangan potensial lainnya? Sekadar tambahan, beberapa karakteristik “air” sungai adalah pandai (cerdik) mencari celah-celah untuk memperlancar gerakannya menuju muara (samudra).

Dengan demikian, bila selama ini DPD lebih nyaman memperjuangkan amandemen UUD 1945 yang kelima melalui langkah struktural, maka mulai sekarang perlu dilengkapi dengan mengoptimalkan peran sebagai motor penggerak perjuangan kultural dan intermediasi seperti telah dikemukakan tadi. Sejalan dengan itu juga diperlukan keberanian untuk tidak mensakralkan perjuangan struktural, dan karenanya harus berani keluar (tidak berarti melepaskan) dari comfort  zone  tersebut.

Untuk itu — seperti juga makhluk biologis — dalam rangka meningkatkan perannya, DPD tidak perlu menempuh langkah radikal dengan melakukan kloning DNA [deoxyribonucleic acid (asam deoksiribonukleat), yakni rantai kimia berupa pita nukleotida yang berfungsi sebagai pembawa sifat, karakter, penampilan fisik dan bahkan kejiwaan] agar didapatkan bibit unggul makhluk yang bernama DPD, tetapi cukup merubah DNA-nya agar tidak egois atau ananiyah  (tidak mau menerima pendapat pihak lain) dan mampu berkompetisi cerdas dalam belantara politik.

Atas dasar itu, keberhasilan perubahan posisi politik atau peningkatan peran DPD juga sangat ditentukan oleh — meminjam istilah Rhenald Kasali — kadar “Change DNA” (DNA Perubahan) institusi DPD itu sendiri. Maka, sangat diperlukan nilai-nilai baru yang di-re-code (ditanam kembali ke dalam DNA) dalam tubuh DPD. Kalau perlu dalam DNA-nya DPD itu juga perlu ditanam gen yang memiliki kekebalan (imunitas) terhadap manufer politik yang bermaksud membangun jaringan terselubung (hidden networking) dalam tubuh molek DPD itu.

Kendati demikian, perjuangan struktural DPD tidak boleh dikendorkan. Dengan begitu diperlukan peningkatan intensitas dan eskalase lobi atau komunikasi politik ke berbagai pihak, tetapi — meminjam alur berpikirnya kalangan postmodernis (seperti Faucoult, Derrida, dan Lacan) — paradigmanya perlu didekonstruksi, sehingga lobi atau komunikasi politik harus dimulai dari grass root level  (konstituen) dan bergerak ke arah suprastruktur politik. Ya, agar DPD tidak kelihatan seperti kumpulan orang-orang sombong atau borjuis.

Setelah melakukan re-code, DPD perlu terus meningkatkan sosialisasi pemerkenalannya (political supporting). Dan untuk mendapatkan political supporting itu, DPD harus bisa memetakan: (1) Apa saja keterampilan terbaru yang dibutuhkan oleh setiap anggota DPD untuk meraih political supporting?; (2) Apa saja trend  baru (utama) yang bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi political supporting?; (3) Apa saja faktor terpenting dalam menciptakan kepuasan para konstituen?; (4) Bagaimana cara membangun brand  bagi setiap anggota DPD, sehingga bisa terbentuk citra positif DPD secara keseluruhan (institusional)?; (5) Seperti apa sosialisasi dan komunikasi politik DPD di masa mendatang?; dan (6) Dan sebagainya (masih ada ribuan pertanyaan lagi yang tidak mungkin dirinci di sini).

***

DENGAN menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu diharapkan terbuka peluang perubahan sikap anggota DPD, yang kemudian — secara kolektif — akan memengaruhi peningkatan “kecepatan” kapasitas DPD sebagai institusi politik pengimbang DPR (bicameralism).

***

KALAU semua yang disebutkan di atas bisa diwujudkan maka akan didapatkan nilai “massa” dan “kecepatan” yang signifikan. Bukankah itu dapat berpengaruh terhadap peningkatan nilai atau harga “momentum”  karena — sekali lagi — momentum adalah hasil multiplikasi “massa” dengan “kecepatan”.

Atas dasar itu, sebenarnya, momentum perubahan konstitusi bisa kita [DPD dan rakyat (yakni seluruh konstituen di daerah-daerah)] sendiri yang tentukan, bukan anggota DPR. Tetapi ini tidak usah dikatakan bahwa ketergantungan DPD  yang ngotot  melobi DPR untuk melakukan amandemen kelima UUD 1945 (2002) adalah merupakan refleksi dari “perasaan rendah diri” (inferiority complex) DPD dihadapan Kang Mas / Mbak Yu  DPR itu. “If you don’t like something, change it. But if you can not change it, change your attitude,” begitu kira-kira ungkapan hati para konstituen di daerah yang mulai belajar bahasa Inggris untuk menyongsong era globalisasi. Lalu, bagaimana dengan DPD? Mau globalisasi atau “gombalisasi”  (globalisasi yang ditunggangi oleh neoliberalisme, baik secara sadar maupun tidak sadar, langsung maupun tidak langsung)? [**]

_______________

La Ode Zulfikar Toresano (Aba Zul) adalah Koordinator Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN) dan sejak Maret 2014 belajar mengabdi sebagai Pemimpin Redaksi  BUTONet 2.

Artikel ini pernah dimuat dalam Jurnal DPD Plus Digital  Nomor 14 / Tahun Ke-1, 7 Maret 2007 dan juga  Jurnal Parlemen Online (Jurnal ParlemenO) / 2007.

Facebook Comments

You May Also Like

40 thoughts on “Dewan Perwakilan Daerah dan Amandemen Kelima UUD 1945 (2002): Suatu Tinjauan dari Perspektif Fisika-Genetika Politik

  1. Today, I went to the beach front with my children. I found a sea shell
    and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She put
    the shell to her ear and screamed. There was a hermit crab inside and it pinched
    her ear. She never wants to go back! LoL I know this is totally off topic but I had to tell someone!

  2. I don’t even know how I stopped up here, but I assumed this submit was
    once great. I don’t understand who you are however
    certainly you are going to a well-known blogger should you
    aren’t already. Cheers!

  3. I think what you said was actually very logical.
    But, what about this? what if you were to create a killer
    title? I mean, I don’t want to tell you how to run your website, however what if
    you added a title to possibly grab folk’s attention? I mean Dewan Perwakilan Daerah dan Amandemen Kelima UUD
    1945 (2002): Suatu Tinjauan dari Perspektif Fisika-Genetika Politik – Sorot Parlemen is a little
    boring. You should look at Yahoo’s home page and note how they
    create news titles to get viewers to open the links.
    You might try adding a video or a related pic or two to grab people interested about what
    you’ve got to say. In my opinion, it could bring your posts a little bit more interesting.

  4. You could definitely see your skills within the article you
    write. The world hopes for even more passionate writers such as
    you who aren’t afraid to say how they believe. All the time follow
    your heart.

  5. Today, I went to the beachfront with my kids.
    I found a sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She placed the shell to
    her ear and screamed. There was a hermit crab inside and it pinched
    her ear. She never wants to go back! LoL I know this is totally off topic but
    I had to tell someone!

  6. Having read this I thought it was very informative.
    I appreciate you taking the time and energy
    to put this information together. I once again find myself spending way too much time both
    reading and commenting. But so what, it was still worthwhile!

  7. I feel this is one of the so much significant info for me.
    And i’m glad studying your article. But wanna statement on few basic issues,
    The site taste is ideal, the articles is in reality nice : D.
    Good process, cheers

  8. Hi there! Quick question that’s totally off topic.
    Do you know how to make your site mobile friendly? My website
    looks weird when browsing from my iphone 4. I’m trying to find a template or plugin that might be able to
    correct this problem. If you have any recommendations,
    please share. Thank you!

  9. Heya i am for the primary time here. I found this board and I
    in finding It truly helpful & it helped me out much.
    I hope to provide one thing back and help others like
    you aided me.

  10. Generalmente, la función sexual masculina normal comienza con el deseo sexual o libido que ocurre por la estimulación del cerebro, el sistema nervioso, los vasos sanguíneos y las hormonas, lo que conlleva a la erección del pene, la liberación de semen (eyaculación) y termina finalmente con tener un orgasmo. Afecta la capacidad del hombre de llegar a la tener una erección debido a la compresión de los vasos sanguíneos.

  11. Muchos expertos creen que cuando las venas son la causa, el derrame venoso o “insuficiencia cavernosa” es el problema vascular más común. Disfunción Eréctil Generalizada: Ocurre cuando el hombre no puede obtener erecciones de ninguna manera ni en ninguna circunstancia.

  12. Dentro de esta categoría pueden destacarse los antihipertensivos y los psicótropos (antidepresivos sobretodo). Para lograr una erección y mantenerla, podrías necesitar más contacto directo en el pene. A veces, el tratamiento de una enfermedad no diagnosticada es suficiente para revertir la disfunción eréctil.

  13. A more involved version of this test uses an electronic monitoring device that will record how firm the erections are, the number of erections, and how long they last. They work by temporarily increasing the blood flow to your penis. Based on your age and risk factors, the exam may also focus on your heart and blood system: heart, peripheral pulses and blood pressure. http://buycialis.online/blog/how-cialis-works.html

  14. Other forms of male sexual dysfunction include poor libido and problems with ejaculation. Men with erectile dysfunction often have a healthy libido, but their bodies fail to respond in the sexual encounter by producing an erection. Usually there is a physical basis for the problem. Buy cialis online netherlands. Symptoms of erectile dysfunction include erections that are too soft for sexual intercourse, erections that last only briefly, and an inability to achieve erections. Men who cannot have or maintain an erection at least 75% of the time that they attempt sex are considered to have erectile dysfunction.

  15. Since the discovery that the drug sildenafil, or Viagra, affected penile erections, most people have become aware that ED is a treatable medical condition. Men who have a problem with their sexual performance may be reluctant to talk with their doctor, seeing it can be an embarrassing issue. Buy cialis online new zealand. However, ED is now well understood, and there are various treatments available. Erectile dysfunction (ED) is defined as persistent difficulty achieving and maintaining an erection sufficient to have sex. Organic causes are usually the result of an underlying medical condition affecting the blood vessels or nerves supplying the penis…

  16. Consiste en la inyección intracavernosa de alprostadilo, que conduce a la erección en 15-20 minutos. La inhibición de la fosfodiesterasa potencia el efecto vasodilatador del NO y permite recuperar temporalmente la capacidad de erección del pene. Si la disfunción eréctil es un problema continuo, sin embargo, puede provocar estrés, afectar la confianza en ti mismo y contribuir a causar problemas en las relaciones. Hay muchas formas diferentes de practicar la meditación, así que pruebe algunas opciones para ver qué funciona mejor para usted. La alternativa es la utilización de alprostadilo por vía uretral, el cual tiene resultados aceptables. https://comprarlevitra.com/

  17. Este fue el primer inhibidor selectivo de la fosfodiesterasa de tipo V al que han seguido otros como el tadalafilo y el vardenafilo. La combinación puede disminuir la presión arterial a niveles peligrosos. Si estás preocupado acerca de la disfunción eréctil, conversa con el médico, incluso si te avergüenza. Comprar Viagra generico en espaГ±a contrareembolso. Esto se consigue al relajar la musculatura lisa, permitiendo la entrada de sangre y la consiguiente erección. Esta patología supone la incapacidad persistente para conseguir o mantener una erección que permita una relación sexual satisfactoria. Pero para estar diagnosticada es necesario que el problema persista en el tiempo y no se trate de un hecho puntual.

  18. Si bien el trauma infantil es una razón completamente válida para desarrollar la DE, nos centraremos en los problemas psicológicos que se desarrollan más adelante en la vida. Cuando se plantea un tratamiento de la disfunción eréctil se debe tener en cuenta que quizá también sean necesarios cambios en el estilo de vida. Comprar Levitra online espaГ±a. Puede ayudar a prevenir muchas de las causas de la disfunción eréctil adoptando comportamientos de estilo de vida saludables, como ser físicamente activo, dejar de fumar y seguir un plan de alimentación saludable. La disfunción eréctil puede ser el resultado de un problema con alguno de dichos factores.

Leave a Reply

Your email address will not be published.