Dewan Perwakilan Daerah dan Politik Talas Jepang

www.antaranews.comPada tanggal 21 Februari 2007 malam, Buletin Malam (televisi) RCTI memberitakan bahwa — baru-baru ini — Jepang mengimpor talas (baca: “talas Jepang”) dari Madiun, Jawa Timur. Disebutkan, di Jepang, jenis ubi yang mengandung zat antioksidan dan bergizi tinggi — yang antara lain bermanfaat sebagai anti penuaan, kanker usus, dan kanker kulit — itu mulai giat dijadikan sebagai makanan pokok selain beras. Dan karena negeri Sakura itu baru mampu memproduksi sekitar 200.000 ton lebih setiap kali panen, dari 300.000 ton yang dibutuhkan, maka untuk kekurangannya masih diimpor dari luar negeri, antara lain dari Madiun.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, ada berita lain, Direktur Pengembangan dan Teknologi Perum Bulog Tito Pranolo mengatakan, impor beras tahap I (dari Vietnam) tahun 2006 / 2007 sebanyak 210.000 ton hingga 20 Februari 2007 ini baru terealisasi 208.772 ton. Sedangkan, impor tahap II pada tahun 2007 sebanyak 500.000 ton hingga 20 Februari 2007 baru masuk 106.000 ton, dan sisanya (394.000 ton) baru akan terpenuhi pada awal April 2007 nanti. “Total beras untuk raskin (beras untuk orang miskin) dan operasi pasar (OP) sampai Februari 2007 sebanyak 360.000 ton, atau sekitar 15 persen dari total konsumsi masyarakat sebulan,” kata Tito (Kompas, 21 / 2 / 2007).

Dengan baru sekitar 15 persen saja yang didistribusikan, rakyat sudah rebutan mengantri beras. Pedihnya lagi di antara mereka ada yang nenek-nenek tua. Kita lantas bertanya, bukankah benar anggapan sebagian kalangan bahwa politik perberasan yang berlangsung selama ini juga besar andilnya dalam menciptakan kultur perberasan yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan, di mana antara lain manusia dibuat saling rebut untuk mempertahankan hidupnya? Bukankah hal demikian mirip seperti yang dikatakan Hobbes bahwa kehidupan manusia modern mirip seperti komunitas binatang dalam hutan karena saling menerkam.

***

BANGSA Jepang bersedia mengkonsumsi talas bukan saja untuk menghilangkan ketergantungan mereka atas impor beras, tapi juga untuk mengangkat moralitas dan peradaban rakyatnya. Tentu mereka tahu betul bahwa memperebutkan makanan yang merupakan kebutuhan dasar itu identik dengan rendahnya peradaban suatu bangsa dan tidak becusnya pemimpin mereka dalam mengelola bangsa. Bersyukur sekali para pemimpinnya cepat tanggap untuk merancang dan menerapkan kebijakan diversifikasi pangan.

Politik perberasan yang berjaya di masa Pemerintahan Orde Baru dulu semakin kokoh dengan topangan sentralisme kekuasaan. Maka, melalui rekayasa politik yang canggih — yang antara lain disosialisasikan atau diimplementasikan dengan menumpang program transmigrasi — pengkonsumsian beras dipaksakan secara merata di seluruh pelosok Nusantara. Sosialisasi politik perberasan ini semakin efektif tatkala ditunjang oleh rekayasa pencitraan (virtual reality) bahwa mengkonsumsi beras itu bermartabat dan mendukung program pembangunan. Sebagai akibatnya, aneka pangan lokal menjadi termarjinalkan dan dianggap hina, padahal pangan-pangan lokal itu tidak kalah kandungan gizinya dan telah dikonsumsi secara turun temurun oleh berbagai komunitas daerah.

Para petani aneka tanaman lokal (seperti umbu-umbian) kemudian menjual hasil panen mereka dengan harga murah untuk membeli beras yang lebih mahal dan dicitrakan sebagai makanan orang-orang yang berbudaya. Bukankah ini sejenis imperialisme atas kearifan lokal (local wisdom)?

Rupanya, meskipun kita telah hidup dalam era reformasi, namun perlakuan yang dialami oleh rakyat kita belum tentu bersifat reformatif. Maka, sebagai contoh, jangan heran bila Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan Ardiansyah Parman mengungkapkan, sekarang ini ada dua mekanisme operasi pasar (OP) yang diberlakukan, yaitu langsung ke konsumen dan melalui lini II (pedagang). Pengecer (pedagang) diminta mencantumkan daftar harga beras OP senilai Rp 3.700 per kilogram. Dan ketika ditanya bagaimana kalau pedagang mengganti karung beras OP lalu menjual beras OP dengan harga lebih tinggi, Ardiansyah menjawab, “Itu yang tahu hanya pedagang dan Tuhan” (Kompas, 21 / 2 / 2007).

Pernyataan Ardiansyah itu dikhawatirkan menimbulkan penafsiran seakan-akan negara ini tidak punya sistem, dan bahwa pernyataan demikian mungkin hanya cocok untuk negara yang pedagang-pedagang berasnya terdiri dari para Sufi (spiritualis). Kalau Ardiansyah masih menganggap Indonesia adalah sebuah negara yang berbentuk republik, pasti dia paham betul bahwa hah-hak publik — terutama hak untuk hidup (baca: hak mendapatkan pangan) secara bermartabat harus diutamakan, dan pemerintah harus bertanggung jawab melaksanakan amanat untuk melayani pemenuhan hak-hak tersebut, bukan dengan memercayakan pedagang untuk berkolusi dengan Tuhan.

Lebih tegas lagi, dengan membiarkan para pedagang untuk hanya berurusan dengan Tuhan, bukankah akan menimbulkan kerancuan, seakan-akan negara ini adalah milik para pedagang (dan pemerintah) saja, sehingga mereka cukup berurusan dengan Tuhan? Bukankah Tuhan hanya  ridho  menerima urusan hamba-Nya yang tidak bertindak semena-mena terhadap sesama manusia?  Maka, bukankah konsekuensi lanjut dari pernyataan seperti itu adalah dengan membiarkan rakyat miskin saling rebut — dan saling dorong — untuk mendapatkan raskin yang dijual dengan sistem penjatahan, seperti yang kita saksikan dalam aneka siaran berita di layar-layar kaca (TV)?

Dengan saling rebut seperti itu, apakah kaum miskin dianggap cukup dibiarkan dengan mengandalkan adaptasi biologis atau kekuatan fisiknya (tatkala memperebutkan raskin) untuk mempertahankan hidup mereka? Apa bedanya dengan hewan yang juga mengandalkan adaptasi biologisnya untuk bisa survive? Bukankah itu suatu bentuk lain dari dehumanisasi yang dikemas dalam wujud charity project? Inikah yang disebut penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien?

Mungkin benar pernyataan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Muladi bahwa birokrasi pemerintahan saat ini masih belum banyak berubah sehingga justru membebani pemerintah itu sendiri. Itu terlihat dari belum tercapainya pelayanan publik yang bermutu (Kompas, 21 / 2 / 2007).

***

TAPI, itu kan cerita tentang sepak terjang birokrasi di negeri ini. Dan anak Sekolah Dasar (SD) pun sudah memahami kualitas mereka. Namun, yang menyedihkan, Dewan Perwakilan Daerah (DPD), yang tadinya bisa bertindak sebagai pengontrol birokrasi dan pengimbang Dewan Perwakilan Rakyat / DPR (checks and balances instrument) belum memperlihatkan kepedulian yang berarti untuk keluar dari jeratan “lingkaran genderuwo (vicious circle) krisis perberasan yang terus meliliti leher rakyat jelata (harap dibedakan dengan “jelalatan”).

Rupanya, DPD masih terus berasik-masyuk dengan tuntutan amandemen ke-5 Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) untuk meningkatkan levelnya menjadi  strong bicameral. Meskipun itu penting, tapi mana yang lebih penting dengan mengatasi kelaparan rakyat (konstituen mereka) yang sudah demikian sekarat?

Sekadar mengecek, dari sekian tebal tumpukan “Laporan Kunjungan Kerja” ke daerah-daerah para anggota DPD itu, adakah yang berbicara tentang “kedaulatan pangan” (harap dibedakan dengan “ketahanan pangan” yang sudah sering kali menjadi bahan laporan para anggota DPD)? Dan kalau ada, bagaimana konsepsi pemahamannya yang bisa membuat rakyat di daerah-daerah tidak terjerat dalam gurita neoliberalisme atau ideologi “totaliterisme pasar”?

Kemudian, sebagai langkah awal untuk keluar dari himpitan politik perberasan selama ini, adakah perjuangan DPD untuk menebarkan benih politik pemberdayaan komunitas-komunitas lokal yang kelak mampu mengembalikan berbagai komoditas pangan khas daerah (bukan “beras”) menjadi pangan pokok dan pelengkap yang pantas diandalkan, sekaligus bisa menjadi sumber penghasilan ekonomi daerah? Atau, kalau itu terlalu rumit untuk dijawab, bisakah anggota DPD sekadar memberi stimulus awal dengan mencontohi “politik pertalasan” bangsa Jepang — seperti dikemukakan di depan — agar hasil kunjungan kerja mereka semakin bermakna?

Jika pertanyaan-pertanyaan demikian bisa dijawab secara memuaskan (dan benar-benar terimplementasi), bukankah kita tinggal tunggu saja perjuangan atas amandemen UUD 1945 (2002) itu akan dikumandangkan secara serentak dari seluruh pelosok Nusantara oleh “koalisi para konstituen”? Dan, jangan lengah, anggota DPD hanyalah perpanjangan tangan dari para konstituen di daerah, sehingga “kelompok penekan” yang sesungguhnya dan nilai juangnya efektif untuk mengamandemen UUD 1945 (2002) hanyalah para konstituen itu. Artinya, kalau anggota DPD tidak pandai-pandai memahami amanat penderitaan, kurasan air mata, dan kepiluan hati rakyat, maka jangan berharap rakyat (baca: koalisi konstituen) akan sudi bertindak sebagai “kekuatan penekan” (cultural and morality pressure group) untuk penguatan DPD. Bahkan, dikhawatirkan, mereka akan berbalik menjadi “kekuatan yang menekan” (bahkan “menghimpit” atau “menghempaskan”) DPD yang mereka telah amanati. [**]

_______________

La Ode Zulfikar Toresano  (Aba Zul) adalah Koordinator Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN) dan sejak Maret 2014 belajar mengabdi sebagai  Pemimpin Redaksi  BUTONet 2.

Artikel ini pernah dimuat dalam Jurnal DPD Plus Digital  Nomor 12 / Tahun Ke-1, 21 Februari 2007  dan juga  Jurnal Parlemen Online (Jurnal ParlemenO) / 2007.

Facebook Comments

You May Also Like

55 thoughts on “Dewan Perwakilan Daerah dan Politik Talas Jepang

  1. With havin so much content do you ever run into any issues of plagorism
    or copyright violation? My site has a lot of completely
    unique content I’ve either created myself or outsourced but it looks like
    a lot of it is popping it up all over the web without my authorization. Do you know
    any methods to help reduce content from being ripped off?
    I’d truly appreciate it.

  2. Howdy just wanted to give you a quick heads up.
    The text in your article seem to be running off the
    screen in Firefox. I’m not sure if this is a format issue or something to do with web browser compatibility but I thought I’d post to let you know.

    The design and style look great though! Hope you get the problem fixed
    soon. Cheers

  3. Nice blog! Is your theme custom made or did you
    download it from somewhere? A design like yours with a few simple adjustements would really make my blog jump out.
    Please let me know where you got your theme. Bless you

  4. Great post. I was checking continuously this blog
    and I am impressed! Extremely useful information particularly the last part :
    ) I care for such information a lot. I was looking for this particular information for a very long time.

    Thank you and good luck.

  5. Hi there, i read your blog occasionally and i own a similar one and i was just wondering if you get a lot of spam remarks?
    If so how do you protect against it, any plugin or anything you can recommend?
    I get so much lately it’s driving me insane so any support is very much appreciated.

  6. When I originally commented I clicked the “Notify me when new comments are added” checkbox
    and now each time a comment is added I get three e-mails with the same comment.
    Is there any way you can remove people from that service?
    Cheers!

  7. Woah! I’m really enjoying the template/theme of this
    website. It’s simple, yet effective. A lot of times it’s
    difficult to get that “perfect balance” between user friendliness and
    visual appearance. I must say you have done a great job with
    this. Additionally, the blog loads extremely
    fast for me on Opera. Excellent Blog!

  8. It’s actually a great and useful piece of info. I am glad that you just shared
    this helpful information with us. Please stay us
    up to date like this. Thanks for sharing.

  9. It is the best time to make a few plans for the future and
    it’s time to be happy. I’ve read this submit and if I could I desire to recommend
    you some attention-grabbing issues or tips. Perhaps you could write next articles relating to this article.
    I want to learn even more things about it!

  10. Hey would you mind sharing which blog platform you’re working with?
    I’m going to start my own blog in the near future but I’m having a tough time deciding between BlogEngine/Wordpress/B2evolution and Drupal.
    The reason I ask is because your design and style seems different then most blogs and I’m looking for something unique.
    P.S My apologies for getting off-topic but I had to ask!

  11. Please let me know if you’re looking for a article author for your weblog.
    You have some really great articles and I believe I would be a good asset.
    If you ever want to take some of the load off, I’d really like to write some content for your blog
    in exchange for a link back to mine. Please shoot me an e-mail if interested.
    Thanks!

  12. En estos casos, abordar el problema de estrés puede ser suficiente para revertir la situación. Aunque se solía creer que se debía a problemas psicológicos, en la actualidad se sabe que del 80 al 90 por ciento de los casos de impotencia son causados por problemas físicos, por lo general relacionados con el suministro de sangre al pene.

  13. Antabuse Disulfiram Online Propecia Without A Otc Precio De Cialis De 5 Mg cialis 40 mg Nolvadex Effets Secondaires Can You Take Klonopin With Phenergan Buy Amoxicillin Liquid No Prescription

  14. Propecia Fa Crescere Dei Capelli Discount Clobetasol No Prescription Needed Saturday Delivery Shop Viagra Cannada viagra Cost Of Viagra At Walmart Gineric Viagra From Canada cheap accutane online

  15. Esta es otra de las causas de la impotencia masculina. Sin embargo, la ansiedad de rendimiento es una de las causas psicológicas más comunes de impotencia, psicológicamente hablando se considera como un componente principal y persistente debido a su naturaleza autoperpetuante.

  16. Durante el sueño el organismo hace una verificación general del estado de salud y una de las verificaciones es la erección. Nuestro pene, otra vez lo volvemos a ver en forma, responde a nuestras peticiones, nos saluda como en sus mejores tiempos, lo vemos con una erección duradera.

  17. La baja autoestima también puede ser un signo de otros problemas psicológicos como la depresión. Pero la disfunción eréctil no es necesariamente una parte inevitable del proceso de envejecimiento. Si bien la disfunción eréctil es un problema profundamente personal, no es algo que deba sufrir solo.

  18. Some men are too embarrassed to tell their doctors about their symptoms. Erectile dysfunction is when a man is unable to get and/or keep an erection that allows sexual activity with penetration. Erectile dysfunction or erectile disorder are the preferred terms as opposed to impotence. You should also see a professional if you have issues with premature or delayed ejaculation. http://buycialis.online/blog/enjoy-with-cialis.html

  19. They should not be used more than once a day. Cialis can be taken up to 36 hours before sexual activity and also comes in a lower, daily dose. Staxyn dissolves in the mouth. All require a doctor’s prescription for safety. There are also injectable drugs for erectile dysfunction. Some men sustain stronger erections by injecting these medications directly into the penis. Buy cialis online.

  20. It is important to note that there can be overlap between medical and psychosocial causes. For instance, if a man is obese, blood flow changes can affect his ability to maintain an erection, which is a physical cause. However, he may also have low self-esteem, which can impact erectile function and is a psychosocial cause. Buy cialis online canada. The good news is that there are many treatments for ED, and most men will find a solution that works for them. The United States Food and Drug Administration (FDA) has a consumer safety guide about this, including a recommendation to check that the online pharmacy.

  21. Es importante diferenciarla de otros problemas sexuales, como la falta de deseo, las alteraciones de la eyaculación o los trastornos del orgasmo. Recomendaciones para evitar la disfunción eréctil. La adicción o la dependencia de la pornografía es una causa potencial para la disfunción eréctil que muchos hombres no consideran. El primer fármaco útil para la terapia oral de la disfunción eréctil fue el sildenafilo y apareció en torno al año 1998. Sin embargo, es importante darse cuenta de que hablar sobre su problema con su pareja es una parte importante del proceso de curación. https://comprarlevitra.com/

  22. La clave para tratar la disfunción eréctil es identificar la causa subyacente. Tener problemas de erección de vez en cuando no es necesariamente un motivo para preocuparse. Como puede imaginar, estos síntomas pueden dificultar el placer de casi todo, y mucho menos del sexo. Donde Comprar Viagra generico sin receta. Por ejemplo, un hombre con baja autoestima puede creer que no es capaz de satisfacer a una mujer y, como resultado, se vuelve incapaz de actuar en el dormitorio. Si no puede iniciarse la erección, se puede aplicar en el pene un dispositivo de vacío manual para la erección.

  23. Comprar Levitra on line. Otra de las causas que pueden desencadenar este trastorno es padecer alguna enfermedad no diagnosticada que necesite un tratamiento. El tratamiento de la disfunción eréctil requiere una consulta franca y honesta entre el paciente y el médico y de ser posible, la pareja. La obesidad no solo afecta a las erecciones, sino también al deseo sexual. Los hombres a partir de los 40 son más propensos a sufrir problemas de impotencia durante las relaciones sexuales, algo que es meramente físico.

Leave a Reply

Your email address will not be published.