Ebtekar: Semua MoU Internasional di Bidang Lingkungan Hidup Menjadi Berlaku

Oleh Maryam Qarehgozlou

2091578TEHRAN — Mengawali kunjungan kerjanya di Jakarta, Ketua Departemen Lingkungan Hidup  (Department of Environment / DoE) Iran, Masoumeh Ebtekar, pada Ahad (29/5) lalu menyatakan, semua nota kesepahaman (Memorandum  of Understanding / MoU) lingkungan hidup internasional yang sudah ditandatangani selama ini menjadi berlaku.

Ia membuat pernyataan dalam sebuah konferensi pers terkait dengan perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni.

“Penandatanganan MoU dengan Austrian Raiffeisen Bank yang bersamaan dengan peningkatan Dana Lingkungan Hidup Nasional oleh Iran (Iran’s National Environment Fund), kontribusi China sebesar 3 miliar dolar (untuk pengadaan peralatan kontrol emisi rumahkaca), dan kontribusi Italia sebesar 3 miliar dolar (untuk pengadaan perangkat mitigasi polusi udara) adalah merupakan bagian dari perjanjian-perjanjian yang akan ditindaklanjuti,” ujar Ebtekar.

Program-program Iran untuk Restorasi Lahan Basah adalah yang Terunggul 

Mengomentari langkah-langkah efektif yang diambil Departemen Lingkungan Hidup untuk mengatasi (kumungkinan) kerusakan lingkungan, Ebtekar memberikan dukungan penuh atas program-program restorasi lahan basah yang sedang berjalan.  “Kenyataan sesungguhnya adalah bahwa pola curah hujan tidak berubah besar dan jika hal itu tidak segera ditangani oleh Departemen Lingkungan Hidup — khususnya untuk lahan basah seperti di Hamoun, Jam-al Azim, dan Urmia — maka tidak akan sebaik sekarang kondisinya,” urai Ebtekar.

Rencana Pengairan Memerlukan Penilaian (Audit) Lingkungan

“Untuk menindaklanjuti sejumlah usul rencana pengairan, kita terlebih dahulu perlu memastikan bahwa implikasi keputusan/kebijakan lingkungan adalah benar-benar telah diperhitungkan dengan cermat sebelum pengimplementasiannya,” lanjut Ebtekar.

Ia kemudian menambahkan, dalam hubungan itu, pertama-tama kita harus memastikan bahwa ketersediaan air di lahan basah masih utuh (memadai), dan kemudian barulah kita memikirkan perencanaannya.

Ebtekar juga menjelaskan, (rencana) pengairan atau penyaluran air skala provinsi tidak akan berguna terkecuali dibuka banyak pilihan (rencana) lain, di samping pentingnya untuk segera bertindak memberikan pasokan air minum ke daerah-daerah.

“Oleh karena itu, kita tidak  bisa  sepenuhnya  sekadar menyetujui  atau tidak menyetujui rencana demikian, namun  pertama-tama kita perlu hadirkan pilihan-pilihan  lain, seperti pola-pola daur ulang (recycling) atau perbaikan pertanian, sebagai bahan pertimbangan sebelum beralih kepada alternatif-alternatif  invasif atas lingkungan,” saran Ebtekar.

Produksi pangan dari rekayasa genetika tidak disetujui oleh Departemen Lingkungan Hidup.

Saat ditanya soal (bahan) pangan dari rekayasa genetika, Ebtakar mengatakan bahwa produksi  pangan seperti itu tidak dianggap legal oleh Departemen Lingkungan Hidup.  “Siapa pun yang hendak memproduksinya, haruslah mempelajari dokumen ‘Biosafety Protocol’ (Protokol Keamanan Hayati),” tandas Ebtekar.

Dalam Biosafety Protocol  disebutkan bahwa produksi atau pengadaan produk-produk teknologi baru (canggih) harus didasarkan pada prinsip kehati-hatian dan harus memberi peluang bagi negara-negara berkembang untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan kesehatan publik/rakyat di satu pihak dan tuntutan keuntungan ekonomi (bisnis) di pihak lain.

Ebtekar kemudian menjelaskan, oleh karena itu jika ada produk-produk pangan yang dikapalkan ke Iran, maka harus diberi label sebagai informasi bagi konsumen tentang organisme-organismenya  yang sudah terekayasa secara genetika.

Larangan keras eksploitasi  ekonomi atas sumber daya hutan

Dalam hal ini Ebtekar menekankan, menurut undang-undang terkait yang disahkan pada Januari 2015, eksploitasi ekonomi atas sumber daya hutan sangat dilarang di Iran, sehingga hal itu akan memberikan keamanan  dari  ancaman penebangan dan perusakan pohon.

Ia mengatakan, kendati beberapa pengusaha/pebisnis mencoba mengupayakan penglegitimasian eksploitasi yang merusak itu, namun pemerintah tidak akan membiarkan terjadinya penggundulan hutan; lagi pula kebutuhan Iran akan kayu bisa dipenuhi dengan mudah melalui impor lewat sejumlah pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Kaspia.

 “Sebanyak apa pun pohon yang ditanam, tidak akan pernah mengembalikan kepada kondisi hutan alam  seperti yang kita miliki hingga saat ini, yakni hutan yang telah berusia jutaan tahun dan memiliki ekosistem unik dan kompleks,” Ebtekar mengingatkan.

Pasir dan kerikil halus dari pabrik di Tehran merupakan kendala bagi mitigasi polusi udara.

Dalam  menjelaskan langkah-langkah efektif Departemen Lingkungan Hidup untuk menurunkan tingkat polusi udara pada kota-kota di Iran, Ebtekar menyatakan penyesalannya karena pasir dan kerikil halus dari tambang-tambang di daerah-daerah pinggiran Tehran merupakan sumber utama polusi udara.

“Dari segi ketentuan perizinan, tambang-tambang seperti itu telah mendapatkan izin dari pemerintahan sebelumnya, sehingga sulit ditindak (ditertibkan),” keluh Ebtekar, seraya menambahkan, hanya dengan hembusan angin dapat dengan mudahnya menghantarkan debu-debu dan polusi tersebut yang kemudian menerjang Tehran.

“(Kendati demikian) kami telah membuat prestasi besar dalam mengurangi polusi udara itu  menjadi tiga kali lipat sehingga setara dengan tingkat kualitas udara pada hari bersih (clean day) di Isfahan,” ujar Ebtekar optimistik.

Dalam kaitan itu, lanjutnya, partikel debu yang datang dari perbatasan negara, seperti Irak, dan juga sejumlah pertambangan besar, bukanlah bagian dari pengontrolan Departemen Lingkungan Hidup.

Polisi  cyber  (Cyber  police) membantu menekan angka kejahatan atas hewan dan penyelundupan binatang.

Dalam hubungan ini, jika ada orang yang memasang foto-foto di media sosial, misalnya, tentang kejahatan atas hewan atau penyelundupan binatang, Ebtekar mengingatkan bahwa dengan bantuan  cyber  police, jenis-jenis kejahatan seperti itu dapat dijerat hukum.

Lebah rentan terhadap insektisida

Mengenai insektisida, Ebtekar sangat prihatin terhadap keberlangsungan hidup komunitas lebah karena mereka benar-benar rentan terhadap zat-zat pembasmi serangga, khususnya “neonicotinoid”.

 “60 persen produk-produk pertanian bergantung pada proses penyerbukan oleh lebah,” Ebtekar menjelaskan.  Ia kemudian menambahkan, jika mereka (lebah) mati/punah, mustahil para petani bisa memanen hasil tanaman mereka.

“Oleh karena itu kami membuat perencanaan dalam mengkampanyekan  pelestarian (peternakan) lebah; juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya peran lebah dan serangga dalam lingkungan hidup kita, di samping dampak buruk dari kepunahan mereka,” tandas Ebtekar. [**]

MQ/MG.

_______________________________

Diterjemahkan dan diedit dari http: //tehrantimes.com (“All intl. environmental MOUs brought into effect: Ebtekar” — Senin, 30/5/2016) oleh  Wa Ode  Zainab  Zilullah Toresano  dan  La Ode Zulfikar Toresano  (www.sorotparlemen.com, Rabu, 8/6/2016).

Facebook Comments

You May Also Like