Efektifkah Sanksi Ekonomi Dewan Keamanan-PBB atas Iran?

Ewww.indonesian.irib.irfektifkah sanksi ekonomi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) — terkait isu nuklir — yang dijatuhkan kepada Iran hari Sabtu 23 Desember (2006) lalu?  Jawabannya gampang-gampang susah. Sanksi itu mungkin saja efektif karena disepakati seluruh anggota DK-PBB yang beranggotakan 15 negara; sehingga — jika kelak benar-benar konsisten dilaksanakan dan terbukti efektif — dampak negatifnya akan bereskalase luas.

Apalagi itu mempertaruhkan kredibilitas PBB sebagai institusi dunia, dan juga Amerika Serikat / AS (beserta sekutunya) sebagai negara adidaya (?). Seandainya sanksi itu tidak serius atau tidak bisa dikontrol konsistensi pelaksanaannya, maka wibawa AS — yang menjadi mandor  dalam konspirasi itu — akan semakin anjlok seperti ikan pepes basi, dan itu bisa saja kemudian akan dijadikan sebagai faktor pendorong (accelerator  factor) bagi Iran, Suriah, Hizbullah (bukan Hezbollah), Jihad Islam, dan Hamas untuk mempreteli atau meng-khitan-i  setting  and  hidden  agenda AS di Timur Tengah.

Jika skenario ini benar, yang paling  menggigil  bin  merinding  adalah Israel, sebab baginya, Iran merupakan ancaman terbesar dan oleh karenanya segala faktor yang berpotensi memperkuat wibawa dan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah harus dipangkas sejak awal. Dan Israel menganggap proyek nuklir Iran sebagai faktor utama yang dimaksud.

Akan tetapi banyak pihak yang skeptis dengan keberhasilan sanksi tersebut (bahkan cenderung dianggap sebagai gertak sambal) mengingat dalam dunia yang dikangkangi ideologi neoliberalime (ultrakapitalisme) seperti saat ini, yang paling menentukan segalanya adalah uang atau  “fulus”.

Salah satu adagium yang terkenal dalam praktik kapitalisme: “Ada uang Abang disayang, tidak ada uang Abang di-jewer”.

Maka, jangan heran ketika Iran dijatuhi sanksi ekonomi dan militer oleh AS sejak Revolusi Islam tahun 1979, justru AS sendiri yang melanggar sanksi itu di tahun 1980-an dengan diam-diam menjual senjata kepada Iran dalam skandal yang disebut Iran-Contra.  Penjualan senjata itu adalah  untuk mendapatkan dana yang akan disumbangkan — oleh AS — kepada gerilyawan Contra di Nikaragua, Amerika Latin.  Kendati sanksi tersebut masih berlaku hingga sekarang, pengaruhnya praktis tidak terasa bagi Iran (mungkin sekadar ibarat gatal-gatal kecil di celah jari kaki), sebaliknya justru  Presiden AS Ronald Reagen jatuh — bak nangka busuk — akibat skandal tersebut.

Jangankan Iran, Irak saja semasa kekuasaan Saddam Husein juga pernah dijatuhi sanksi ekonomi, tapi penjualan minyaknya (Irak) tetap saja berlangsung melalui pasar gelap (black  market). Tentu tak sama dengan Irak, negara yang menerapkan sistem pemerintahan Wilayat-ul Faqih itu (Iran) sudah terlanjur mesra menjalin kerjasama proyek-proyek raksasa strategis dengan sejumlah negara di antaranya Rusia, China, dan beberapa negara Barat (Eropa), sehingga AS tidak akan mudah mendepak negara-negara tersebut dari rangkulan Iran.  Sekadar catatan, hingga saat ini China sangat mengandalkan pasokan minyak dari Iran untuk menjamin kebutuhan industrinya. Itu berarti jika pasokan minyak terganggu, industri dan roda perekonomian China akan mengalami stagnasi besar yang bermuara pada  ketidakstabilan sosial-politik, bukan saja di dalam negeri China sendiri tapi juga di negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi tradisional dengannya, seperti negara-negara di kawasan Asia Tenggara.  Dapat dibayangkan, berapa juta pengangguran yang akan ditimbulkan akibat penerapan sanksi (ekonomi) konyol  itu.

Dari uraian di atas kita meragukan efektifitas sanksi ekonomi atas Iran itu. Mungkin bagi Iran sendiri akan menertawakannya karena mereka paham betul hadist Nabi Muhammad Shalallahu alaihi  wa  âlihi  wassalam (Saww)  bahwa  manusia rawan  terperosok pada  tiga hal: perempuan, tahta (jabatan untuk tujuan duniawi semata), dan harta (uang).  Dan kelemahan neoliberalisme yang menyembah uang itu pasti akan digunakan oleh Iran untuk memperkuat perjuangan menegakkan keadilan. Dalam hal ini, mungkin Iran akan kembali menggunakan modifikasi strategi senjata makan tuan (seperti yang pernah dipraktikkan dalam kasus Iran-Contra) untuk memperolok-olok sanksi ekonomi tersebut.

***

SEANDAINYA sanksi ekonomi atas Iran tidak efektif, apakah akan beranjak menjadi sanksi militer?  Pertanyaan ini pun gampang-gampang susah untuk dijawab. Jika sanksi militer tidak diberlakukan (seandainya kelak terbukti sanksi ekonomi tidak efektif), maka wibawa AS dan sekutunya — termasuk DK-PBB — akan semakin  anjlok. Bahkan AS akan menganggap dominasinya di kawasan Timur Tengah akan menjadi goyah seiring dengan menguatnya harga diri dan rasa percaya diri (self  convidence) Iran, berikut para koleganya.

AS  pun akan semakin dipusingkan dengan  rengekan  anak emasnya (yang sekaligus dianggapnya sebagai penyangga — buffer  state — di Timur Tengah) Israel karena anak ini semakin merasa merinding  membayangkan terjangan rudal  Shahab-3 Iran yang mampu menjangkau Tel Aviv.

Sebaliknya, kalau sanksi militer terpaksa harus dipilih, AS tentu sudah mempertimbangkan konsekuensi seriusnya. Melalui departemen khusus yang mengkaji tentang Iran dan Islam Syiah yang ada dalam struktur CIA (Badan Intelilijen Amerika), AS pasti paham betul perbedaan antara Syiah di Irak dan Syiah di Iran.  Kendati keduanya   mayoritas sama-sama  menganut  mazhab  Syiah Imamiah, namun militansi keduanya sangat berbeda.  Dari perspektif  historical  background hal itu dengan mudah dipahami dalam beberapa rentetan kejadian menjelang syahidnya Imam Husein (as) — cucu kesayangan Rasulullah Muhammad Saww — di Padang Karbala (Irak), khususnya pada momen di Kuffah.  Ketegaran Syiah Iran juga bisa kita saksikan pada kekokohan kepribadian pemuda Iran  (Persia) Salman al-Farisi, yang oleh Rasulullah Saww dijadikan sebagai salah seorang sahabat sejati.  Namun yang paling penting adalah bahwa — terkait dengan penjabaran makna ayat Qur’an Surah al-Jumu’ah ayat 3 — Rasulullah Saww pernah bersabda: “Andaikan iman terletak di bintang tsurayya (bintang kejora), orang-orang dari bangsa Salman ini  (maksudnya: Iran) akan dapat menggapainya” (lihat hadits Rasulullah Saww yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Alu’lu Wal Marjan  jilid II, juga oleh at-Turmudzi, dan an-Nasai).

Apakah hal itu pula yang antara lain mendorong Imam Ali karamallahu wajhah (kw) menikahkan puteranya, al-Husein, dengan Syahbanu, salah seorang puteri Raja Persia / Iran, yang keturunannya kini banyak menjadi ulama di Iran?  Wallahu  a’lam.  Yang jelas kalau AS dan sekutunya menyulut api peperangan di Iran, yang pertama akan terbakar adalah Teluk Persia, khususnya Selat Hormuz. Sekadar catatan, melalui selat ini 30 hingga 40 persen  pasokan  minyak  dunia  dilewatkan, dan  satu  pulau  strategis  di  tengah-tengah  Teluk Persia  adalah Pulau Abu Musa yang dijadikan salah satu pangkalan Angkatan Laut (AL) Iran yang armada lautnya dilengkapi sejumlah kapal selam berteknologi super canggih  yang dibeli dari Rusia.

Maka, dapat diprediksi, pada hari pertama AS dan sekutunya melancarkan serangan militer, harga minyak dunia segera akan melambung ke angka sekitar 100 dollar AS per barrel (bahkan bisa lebih).  Dan ini pasti akan menyengsarakan penduduk dunia.

***

Untuk membaca efektifitas gertakan militer AS dan sekutunya, sederhana saja.  Cermatilah, kalau para gerilyawan di Irak saja sulit diatasi oleh AS — dan sekutunya — apatah lagi dengan menghadapi mobilisasi warga Syiah dan Sunni yang anti AS (dan Israel) di seluruh kawasan Timur Tengah. Dan dalam kondisi dipojokkan bisa saja ulama Iran (Wali Faqih) terdorong untuk mengeluarkan fatwa bahwa membasmi tentara AS dan sekutunya identik dengan menggapai keimanan seperti yang ada di bintang Tsurayya, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Selanjutnya, bagaimana pula mengatasi kemungkinan ribuan speed  boat  karet  (yang dimuati bom, dan tidak bisa dideteksi oleh radar karena “karet” bersifat  non-conductor) Pengawal Revolusi Iran yang  akan  disilewerkan atau digerakkan secara serentak  di  Teluk  Persia seraya menunggu perintah ke-syahid-an untuk  ditabrakan ke lambung-lambung kapal perang AS dan sekutunya? Juga bagaimana mengatasi kemungkinan pesawat-pesawat tempur Iran yang sengaja diterbangkan untuk ditabrakkan ke sasaran musuh, di mana para pilotnya membawa Al-Qur’an sembari melantunkannya bersama-sama dengan melafadzkan shalawat Nabi?

Sebagaimana diketahui, sebelum AS dan sekutunya membombardir Irak, Presiden Irak Saddam (Husein) al-Tarkiti menitipkan 250 pesawat tempur super canggih “Mirage 2000” (buatan Perancis) kepada Iran dan hingga kini belum dikembalikan (mungkin oleh Iran, ini dianggap sebagai pampasan perang dan sebagai bagian dari kompensasi Perang Iran-Irak di masa lalu). Kalau untuk teknologi nuklir saja Iran berhasil melatih tenaga-tenaga ahlinya, mustahil untuk men-training  pilot-pilot — yang akan menerbangkan pesawat-pesawat Mirage — itu  tidak bisa.  Apalagi kebutuhan pilot tersebut sangat urgen bagi Iran karena mereka sudah membeli puluhan pesawat tempur canggih Sukhoi dari Rusia dan telah berhasil membuat modifikasinya untuk diproduksi di dalam negeri.

Sebagai komparasi, gerilyawan mujahidin Hizbullah (Lebanon) saja — yang konon  instrukturnya berasal dari ribuan Pengawal Revolusi Iran — sudah berhasil membuat sendiri rudal panggul anti tank canggih Mirkova yang diproduksi oleh Israel, dan ini membuat Israel babak belur (dan para jenderalnya geleng-geleng kepala dan frustrasi seperti “terasi”) pada peperangan beberapa saat lalu di Lebanon.  Selain itu, besar kemungkinan dinas intelijen seperti CIA dan Mossad (Israel) sudah memperhitungkan bahwa pasca bubarnya Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur,  begitu banyak jenderal dan insinyur (yang bekerja di laboratorium dan industri-industri persenjataan) yang membutuhkan uang. Dan itu mungkin saja dimanfaatkan oleh Iran dengan membeli kemampuan teknologi mereka sekaligus (bukan hanya sekadar membangun pabrik senjata, seperti yang terjadi di banyak negara Dunia Ketiga).

***

TENTU saja kita tidak menghendaki skenario buruk seperti di atas menjadi kenyataan, karena  esensi kemanusiaan adalah cinta damai; dan memang kedamaian itu indah. Dan bagi kita di Indonesia, paling hanya bisa berdoa atau ber-istighosah.  Istighosah teruuuuuus!!!! [**]

_________________________________

La Ode Zulfikar Toresano (Aba Zul) adalah Koordinator Umum  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasioanal  (Forum SPTN) dan sejak Maret 2014  juga belajar mengabdi sebagai  Pemimpin Redaksi  BUTONet 2.  Artikel ini pernah dimuat  dalam Jurnal Parlemen Online (Jurnal ParlemenO) / 2007

Facebook Comments

You May Also Like

44 thoughts on “Efektifkah Sanksi Ekonomi Dewan Keamanan-PBB atas Iran?

  1. Hi there, i read your blog occasionally and i own a similar one and i was just wondering if you get a lot of spam comments?
    If so how do you reduce it, any plugin or anything
    you can advise? I get so much lately it’s driving me mad so any help is
    very much appreciated.

  2. It’s nearly impossible to find knowledgeable people in this particular subject, however, you sound like you know what
    you’re talking about! Thanks

  3. Unquestionably imagine that that you stated.
    Your favorite justification seemed to be at the net the easiest thing to consider of.
    I say to you, I definitely get annoyed at the same time as other people think about issues that they just don’t understand about.
    You controlled to hit the nail upon the top and also defined out the whole thing
    with no need side effect , other people can take
    a signal. Will probably be back to get more.
    Thanks

  4. You actually make it seem so easy with your presentation however I find
    this topic to be actually something which I feel I
    would never understand. It sort of feels too complex and
    very huge for me. I’m having a look forward in your next publish, I’ll try to get the hang of it!

  5. Fantastic blog you have here but I was curious if you knew of any user discussion forums that cover the same topics talked about here?
    I’d really love to be a part of community where I can get comments from other experienced people that share the same interest.

    If you have any suggestions, please let me know. Bless you!

  6. Assim, o homem pode ter um problema quando esta dificuldade acontece em pelo menos 50% das tentativas para ter contato sexual, e o que pode acontecer é que a ereção não é suficientemente rígida para que possa haver penetração. Las causas psicológicas de la disfunción eréctil no siempre están relacionadas con el sexo en sí.

  7. Saber cómo funciona la erección es importante para entender la impotencia sexual y cómo funcionan los actuales tratamientos, como la famosa Viagra. La cirugía también se puede utilizar para reparar los vasos sanguíneos dañados u obstruidos, que pueden causar o contribuir a la DE. Comprar cialis online seguro

  8. La disfunción eréctil afecta entre el 7 y el 52 por ciento de los hombres, dependiendo del grupo específico que se estudia, según diversas investigaciones. Cuando no hay respuesta o cuando el paciente no puede tomar estas drogas, existen otras opciones para el tratamiento de la impotencia; entre ellas podemos citar la administración de drogas con inyección intrapeniana o intrauretral.

  9. La prevalencia de esta enfermedad se estima en torno al 1– 10% en menores de 40 años, 2– 9% entre los 40 y los 50 años, un 20– 40% entre 60 y 70 años y 50– 100% en mayores de 70 años.

  10. Además se desarrollan otras enfermedades comúnmente relacionadas con la obesidad, como la hipertensión, el colesterol, diabetes, etc. Los investigadores han estudiado este efecto y le han dado a la condición su propio nombre: disfunción eréctil inducida por pornografía (PIED).

  11. It affects as many as 30 million men. In general, at least two-thirds of men report having improved erections after taking one of these medicines. Since the 1990s, erectile dysfunction (ED) has been recognized as a common problem. At some point, you might be referred to a urologist – a doctor who specializes in conditions involving the urinary tract and the male reproductive system. http://buycialis.online/blog/enjoy-with-cialis.html

  12. Treatment of erectile dysfunction depends on the cause or causes. Most physicians suggest that treatments proceed from least to most invasive. For example, if caused by the medication you are taking, changing the medication or dosage may help. For some men, making a few healthy lifestyle changes may solve the problem. Buy cialis online netherlands. Stopping smoking, losing excess weight and increasing physical activity may help regain sexual function.

  13. Once a medical history has been established, a doctor will then undertake further investigation. One simple test, known as the ‘postage stamp test,’ can be helpful in determining if the cause is physical rather than psychological. Men usually have 3 to 5 erections a night. Buy cialis online 20 mg. This test checks for the presence of erections at night by seeing if postage stamps applied around the penis before sleep have snapped off overnight. Other tests of nocturnal erection include the Poten test and Snap-Gauge test.

  14. Es importante diferenciarla de otros problemas sexuales, como la falta de deseo, las alteraciones de la eyaculación o los trastornos del orgasmo. Recomendaciones para evitar la disfunción eréctil. La adicción o la dependencia de la pornografía es una causa potencial para la disfunción eréctil que muchos hombres no consideran. El primer fármaco útil para la terapia oral de la disfunción eréctil fue el sildenafilo y apareció en torno al año 1998. Sin embargo, es importante darse cuenta de que hablar sobre su problema con su pareja es una parte importante del proceso de curación. https://comprarlevitra.com/

  15. Al disminuir la autoestima de los hombres, entran en estado de angustia y depresión e incluso obsesión; a su pareja, en tanto, le afecta la calidad de vida familiar y el desempeño laboral. La disfunción eréctil (DE) o impotencia erigendi (a veces llamada incorrectamente sólo impotencia) es la incapacidad repetida de lograr o mantener una erección lo suficientemente firme como para tener una relación sexual satisfactoria, una eyaculación o ambas. Comprar Viagra generico india.

  16. La disfunción eréctil, mejor conocida como impotencia sexual, es un síndrome que afecta a uno de cada dos hombres de entre 40 y 70 años de edad; pero sólo 10 por ciento acude a solicitar atención médica. La incidencia aumenta con la edad: alrededor del 5% de los hombres de 40 años de edad y entre el 15 y el 25 % de los hombres de 65 años de edad experimentan DE. п»їComprar Levitra.

Leave a Reply

Your email address will not be published.