Eid Ghadeer Mubarak

Oleh Wa Ode Zainab Zilullah Toresano

15953_198448071058_125197201058_3579939_2005171_nKetika Haji Perpisahan (Hajjatul Wada’) 18 Zulhijah sekitar 14 abad yang lalu, Rasulullah mengumpulkan kaum Muslimin demi melaksanakan perintah Allah dalam Q.S. al-Maidah: 67 [“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan risalah/agama-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”].

Pada kesempatan itu, di tengah teriknya matahari, Rasul mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib setinggi-tingginya dan bersabda: “Man kuntu maula fa hadza ‘aliyyun maula” (Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka ia pun harus menjadikan Ali sebagai pemimpinnya). Kemudian turunlah ayat berikut ini: “Pada hari Ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah: 3).

Peristiwa pengangkatan Imam Ali sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Islam pasca Nabi saw terjadi di Ghadir Khum, yang terletak di kawasan antara Mekkah dan Madinah (dekat Juhfah), sekitar 200 km dari Mekkah.

Allamah Amini dalam kitab monumentalnya Al Ghadir, menyebutkan seluruh perawi hadis “Man Kuntu Maula” yang diucapkan Rasulullah di Ghadir Khum, terdapat 110 sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut, di antaranya adalah Thalhah, Zubair, Abu Bakar dll. Adapun 84 perawi hadis tersebut merupakan generasi kedua, yakni tabi’in. Bahkan peristiwa Ghadir Khum dan hal-hal yang terkait dengannya, diabadikan dalam 360 kitab Sunni. Jadi, status hadis “Man Kuntu Maula” bukan hanya mutawatir, tetapi fauqa mutawatir (di atas mutawatir).

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 − 5 =