Empat Kuadran Kemapanan Finansial (Manajemen Islami?)

Robert T Kiyosaki, seorang pakar motivator ternama, dalam bukunya Cash-flow Quadrant, membuat empat kuadran untuk mencapai kemapanan finansial, yaitu: employee / E (karyawan), self employed / S (pekerja mandiri), business owner / B (pemilik usaha), dan investor / Inv, yang berturut-turut menempati kuadran I, II, III, dan IV yang dibentuk oleh sumbu “x” (abscissa) dan “y” (ordinate).

Garis-garis sumbu (“x” dan “y”) yang membagi kuadran-kuadran tersebut membentuk satu titik koordinat, yang saya sebut sebagai “titik (poros) motivasi diri”. Dengan motivasi berarti akan lahir gerak perubahan menuju pada sasaran atau target yang hendak dicapai. Karena gerak perubahan itu dipersepsikan sebagai gerak putar (“melingkar” atau “berputar” alias “revolve“), maka dari titik koordinat bisa dibuatkan garis lingkaran utuh (full circle), yang saya istilahkan sebagai “lingkaran kemapanan finansial” (LKF).

Memang, kemapanan finansial (kf) sangat beragam. Ada yang mengatakan bahwa seseorang telah mencapai kf bila mampu memenuhi semua kebutuhannya sesuai dengan standar hidupnya, baik pada masa produktif (masa bakti) maupun tidak produktif (purna bakti) tanpa membebani orang lain.

Ada lagi yang mengatakan, tidak hanya harus sesuai dengan standar hidupnya sebagai individu, tapi juga keluarganya [Al-Qur’an Surah (QS) 2 : 233 dan QS 66 : 6]. Pertanyaannya, bagaimana menentukan standar hidup itu? Dengan pola hidup materialistis atau konsumeristis, bukankah standar hidup itu lebih ditentukan oleh hawa nafsu ketimbang nilai fungsional obyek yang dikonsumsi?

Kemudian, ada pula yang mengatakan bahwa untuk menggapai  kf  itu cukup dengan hanya mengoptimalkan perannya pada kuadran I. Dengan kata lain, dia cukup puas sekadar menjadi karyawan, yang senang dengan rutinitas, status quo, ketergantungan (inward looking), menunggu perintah (takut mengambil risiko), dan bertindak reaktif (bukan proaktif). Ditambahkan, bahwa — dalam era informasi ini — karyawan yang berkualitas adalah yang mampu bekerja sebagai  problem solver  bagi perusahaan atau instansi tempat ia bekerja.

Menurut saya, karyawan seperti itu tidak lebih dari sekadar mesin pemroses persoalan atau alat pemadam kebakaran (maaf). Seharusnya — jika ia sebagai knowledge worker — dengan modal pengetahuannya, ia bisa menciptakan kondisi atau sistem (vaksin penangkal) yang tidak akan memungkinkan munculnya atau masuknya (virus) masalah di lingkungan kerjanya. Tetapi, karena dia berada dalam wilayah manajemen yang dikendalikan oleh pihak lain, pasti ia mengalami internal conflict  dalam dirinya. Dengan kata lain, ia tidak lebih dari sekadar “tukang”  yang memenuhi kerangka acuan kerja (TOR /Term of Reference) yang ditetapkan oleh mandornya (majikannya).

Menghadapi kondisi seperti ini, dia harus memilih: (a) Menerapkan manajemen konflik untuk meminimalkan friksi-friksi di lingkungan kerjanya; (b) Bermigrasi atau bertransformasi ke kuadran II, tetapi belum sepenuhnya meninggalkan kuadran I (sementara tetap menjadi karyawan, ia pun menemukan lahan baru sebagai pekerja mandiri); (c) Bermigrasi penuh ke kuadran III (menjadi pengusaha).

Tentu saja, proses transformasi penuh ke kuadran III itu hanya dilakukan oleh pribadi-pribadi yang matang perhitungan (luas wawasan), berani mengambil risiko, berorientasi ke depan (forward orientation), dan memiliki kekayaan inovasi. Yang perlu diperhatikan oleh pribadi-pribadi brilian seperti itu adalah kapan harus melakukan transformasi (migrasi) dan bagaimana cara melakukannya. Dalam kaitan ini harus ada ukuran-ukuran tertentu yang perlu dijadikan acuan. Misalnya, dalam kurun waktu tertentu, adakah peningkatan level jabatan dan pendapatan? Bila tak ada peningkatan, atau peningkatannya sedikit sekali, maka perlu dipertimbangkan untuk bermigrasi ke kuadran lain (berikutnya). Tapi sebelum melakukan migrasi, harus dipertimbangkan agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan risiko atau goncangan besar.

Mungkin strategi berikut ini bisa dicontohi: Sementara bekerja pada kuadran I, juga harus mulai dicoba beraktifitas pada kuadran II. Selama periode tertentu — misalnya tiga tahun — aktifitas-aktifitas pada dua kuadran ini (I dan II) dibiarkan berproses secara bersamaan. Kemudian, lakukanlah penilaian-penilaian yang dicapai pada dua kuadran tersebut selama periode termaksud, yang disertai pembuatan grafik prediksi pertumbuhan berkesinambungan (sustainable growth) selama beberapa tahun ke depan untuk masing-masing kuadran (I dan II).

Bila hasil yang didapatkan pada kuadran II (pekerja mandiri) lebih tinggi dari kuadran I, dan grafiknya pun lebih curam (grafik kuadran II lebih curam dari I), maka bisa diputuskan untuk bertransformasi sepenuhnya menjadi pekerja mandiri (kuadran II).

***

KETIKA berada pada kuadran I dan II, si pelaku mengalami proses “internalisasi”, yang jika bekerja optimal bisa memicunya untuk bertindak secara outward looking, terbuka, dan berorientasi ke depan (forward  orientation). Maka, ia akan menempuh proses selanjutnya yang disebut “institusionalisasi” atau pelembagaan. Pada tahap ini, demi efisiensi dan efektifitas kegiatan usahanya, ia akan membentuk suatu unit usaha yang terorganisir dengan sistem manajemen teratur (modern).

Bila dikelola secara baik dan modern, kendati unit-unit usaha itu berskala kecil, namun bisa membentuk jaringan (networking) berskala luas dan memupuk modal secara kuat. Merekalah kekuatan bisnis yang sangat menentukan di era globalisasi ini, seperti dinyatakan oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdent dalam buku mereka: Megatrends 2000  (1997).

Proses pembentukan network  tersebut saya sebut sebagai proses “sosialisasi”, dan ia tidak saja diartikan sebagai proses penciptaan pasar, tapi juga perluasan investasi (kuadran IV) yang dalam era digital ini sudah bergerak tanpa mengenal batas (the borderless world).

Al-Qur’an menyatakan:Allah menciptakan kamu bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling mengenal.” (QS 49 : 13 ). Karena Al-Qur’an itu bisa ditafsirkan secara kontekstual, maka ayat ini saya tafsirkan secara dinamis sebagai berikut: “Allah menganugrahkan berbagai potensi kepada kamu untuk dikelola secara interaktif (dan optimal) melalui suatu jaringan usaha-usaha terpadu (integrated industries or enterprises networking) demi kemaslahatan ummat manusia.”

Jadi, semangat kerjasama konstruktif di situ tidak hanya terbatas pada lingkaran ummat Islam saja; sebab bisa jadi dalam “satu” komunitas suku atau bangsa terdiri dari berbagai agama atau aliran ideologi. Apalagi dalam  “beberapa” komunitas suku atau bangsa. Kendati begitu harus ada acuan bersama (“kalimat shawa” atau “common platform”) yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Ilahiah.

***

OLEH karena setiap program harus disusun berdasarkan skala prioritas, maka ummat Islam bisa saja membangun jaringan mulai dari lingkaran terdekat (terkecil), yakni ummat Islam itu sendiri. Dan jaringan terkecil dari ummat Islam adalah unit keluarga (family).

Suatu unit keluarga Muslim bisa membangun kekuatan ekonomi atau unit usaha modern yang permodalannya disesuaikan dengan kemampuan (ekonomi) keluarga tersebut. Saya bisa berikan ilustrasi begini: Dengan hanya membeli satu unit alat press buah melinjo, satu unit mesin pengepakan, dan seperangkat alat memasak, misalnya, sudah bisa berproduksi satu modern home industry  — yang ramah lingkungan (alam dan sosial) — yang menghasilkan emping mentah dan beragam emping olahan. Karena diolah secara modern, produk-produk industri tersebut jelas memiliki nilai tambah (added value) dan layak bersaing dengan produk-produk makanan yang dihasilkan oleh berbagai industri kapitalis.

Ini baru satu komoditas. Silahkan hitung, berapa  ribu  (jenis) komoditas (dari darat dan laut) — yang terdapat di Nusantara ini — yang bisa diolah lebih lanjut dalam industri-industri pemroses yang modern (modern  processing  industries)!!!  Bila jumlah komoditas tersebut berbanding lurus dengan jumlah industri pemrosesnya, bukankah dari sana akan terserap banyak sekali tenaga kerja?

***

OLEH karena itu, model industrialisasi ummat Islam selayaknya berorientasi pada pemanfaatan bahan baku lokal, sehingga bisa melibatkan partisipasi masyarakat secara luas; dan bukan seperti model industrialisasi yang ditawarkan oleh pemerintahan Orde Baru yang manfaatnya hanya dirasakan oleh segelintir orang, dan mewariskan utang negara secara beranak-pinak.

Yang saya ingin tandaskan adalah bahwa penggalakan penciptaan industri-industri seperti ini (resource based industries) jauh lebih efektif dari sekadar seruan memboikot produk-produk kapitalis asing. Seseorang yang mekanisme pencernaannya sudah terlanjur cocok dengan makanan ala Amerika atau Eropa, misalnya, susah dipaksa untuk segera berhenti mengkonsumsi makanan (cow boy) tersebut. Tindakan yang cerdas adalah bagaimana menyediakan makanan alternatif (berbahan baku lokal) — yang proses pengolahannya memenuhi standar dan juga bergizi tinggi — tetapi bisa beradaptasi dengan mekanisme pencernaan seperti itu.

***

BERTITIK tolak dari uraian di atas, hal lain yang juga penting adalah kegiatan promosi atau pembentukan citra produk (“image building” atau “brand image”). Untuk skala pemasaran kelurahan, misalnya, industri-industri keluarga seperti di atas belum perlu menginvestasikan biaya promosi. Namun, untuk skala lebih besar (luas), kegiatan promosi dianggap sebagai hal yang mendesak. Masalahnya sekarang adalah dari mana mendapatkan biaya promosi yang tidak kecil itu? Pada kondisi demikian, industri-industri ini perlu membangun jaringan kerja sama (QS 5 : 2 dan QS 49 : 13) dengan individu-individu atau institusi-institusi lain, misalnya saja lembaga-lembaga amil zakat (LAZ) atau berbagai bank syariah. Industri-industri tersebut perlu terus mendesakkan agar lembaga-lembaga keuangan Islam ini terus merumuskan skema kerjasama yang efektif agar mau secara dominan mengalokasikan bantuannya untuk menopang kegiatan-kegiatan produktif (bukan melulu untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat konsumtif).

Oleh karena itu, model jaringan usaha yang perlu dikembangkan ummat Islam adalah bukan lagi sekadar memasarkan produk-produk industri kapitalis (neoliberal), tapi justru produk-produk yang mereka hasilkan sendiri. Pada kondisi demikian, ummat Islam bukan lagi sekadar menjadi baut-baut yang menopang struktur mesin kapitalisme.

Pada skala global, kita masih pesimis melihat prospek jaringan kerjasama ummat Islam. Dalam hubungan ini saya berikan perspektif sebagai berikut: Dari sebelas negara anggota organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) hanya satu yang non-Muslim. Tapi mereka sulit bisa bersama-sama merumuskan angka produksi dan kebijakan harga, kuota, dan sebagainya. Padahal ini memiliki implikasi ekonomi yang besar terhadap perekonomian dunia, yang juga berarti bahwa sesungguhnya ummat Islam melalui kebijakan perminyakan bisa mendisain suatu format tawar-menawar politik atau diplomatik (political and diplomatic bargaining power) terhadap negara-negara Barat (berikut “konco-konco” atau para supporter-nya) guna menyelesaikan persoalan-persoalan saudara-saudara mereka, seperti di Palestina, Kashmir, Irak, Sudan, Mogadishu, Kenya, Thailand Selatan, Myanmar (Rohingnya), dan sebagainya. Jangan-jangan ketidaksamaan visi negara-negara OPEC itu merupakan bagian dari keterpelesetan mereka dalam ranjau neoliberalisme (kapitalisme mutakhir).

***

SAYA berimajinasi, daripada menunggu terwujudnya kesamaan visi negeri-negeri Islam, lebih baik bila industri-industri kecil seperti dikemukakan di atas melakukan terobosan, misalnya mengirimkan contoh produk-produk mereka ke berbagai usaha retail yang tersebar di negeri-negeri Islam. Siapa tahu mereka tertarik dan membangun kerja sama lestari. Lebih baik lagi bila Atase Perdagangan di setiap Kedutaan Besar Republik Indonesia pada negeri-negeri Islam berperan aktif mewujudkan misi tersebut.  Dapat dibayangkan, bila ada seribu produk yang bisa dimasukkan dalam skema kerjasama ekonomi (bisnis) seperti ini, berapa omzet yang dihasilkan, dan berapa jumlah tenaga kerja yang bisa diserap?

Jadi, persoalannya sekarang adalah bagaimana membuat konsep dan disain industri-industri kecil modern (sekali lagi: “modern”) seperti itu, kemudian bagaimana strategi agar masyarakat bisa mengakses secara gampang, murah, dan meriah; dan tidak seperti konsep mentah (dan terpenggal-penggal) yang dijual dengan mahal — kepada para mahasiswa — oleh berbagai perguruan tinggi di negeri ini.

***

BILA kita putar kembali jarum sejarah Islam, terungkap bahwa dalam proses perjalanan hidupnya, Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wa âlihi wassalam (Saww) menjalani urutan-urutan transformasi dari kuadran I, II, III dan IV. Di situ ada beberapa hal yang sangat menarik. Pertama, Muhammad Saww hanya sebentar berprofesi sebagai karyawan Siti Khadijah (ra), yang pada saat itu sebagai pengusaha besar kelas internasional. Ini antara lain disebabkan oleh kejujuran beliau, sehingga dengan cepat dipercaya (oleh Siti Khadijah) untuk menjalankan/mengendalikan usaha, berikut bantuan permodalan. Ditambah pula dengan keluasan wawasan serta keberanian mengambil inisiatif-inisiatif baru, maka beliau bisa dengan cepat mentransformasikan diri menjadi pekerja mandiri (kuadran II), pemilik usaha (kuadran III), dan investor (kuadran IV) pada level internasional secara hampir bersamaan.

Kedua, sebelum menjadi karyawan Siti Khadijah (ra), pada masa usia belasan tahun, Muhammad Saww telah sering diajak oleh paman beliau (sekaligus sangat dicintainya) — Abu Thalib (ra) — melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berbisnis. Dengan begitu, Muhammad Saww telah mendapatkan training  (learning  by  doing  model  of  training) yang bernilai sangat tinggi (dari seorang mentor/trainer brilian pilihan Allah SWT: “Abu Thalib”) tentang bagaimana membangun jaringan bisnis dan investasi berskala internasional (kuadran IV) berikut tali-temalinya.

Ketiga, belajar dari kasus di atas, untuk menciptakan kemapanan finansial (kf) tidak selamanya harus dimulai dengan menjadi karyawan (kuadran I). Dari hubungan Abu Thalib (ra) dan keponakannya (Muhammad Saww), terlihat bahwa pengenalan atau training awal untuk membangun aktifitas pada kuadran II, III, dan IV sudah lebih dulu dialami oleh Muhammad Saww sebelum menjadi karyawan Siti Khadijah (kuadran I) — yang kemudian juga menjadi isteri beliau.

***

JIKA dilihat dari paradigma pemikiran Sun Tzu (ahli strategi militer dari Tiongkok kuno), pada kasus tersebut Muhammad Saww bukan saja mampu menempatkan diri pada pososi strategis, (strategic self positioning), bahkan dengan cerdas dan bijak “menciptakan momentum” strategis, dinamis, dan revolusioner, meski dengan pentahapan yang terukur (“accelerated evolution” alias “evolusi yang dipercepat”). Maka, kemampuan beliau memanfaatkan atau mengelola secara optimal berbagai sumber daya (resources) yang ada di lingkungannya —yang disinergikan dengan sumber daya yang beliau miliki — adalah sesuatu yang tidak terlalu sulit dalam praktik kehidupan sehari-hari(nya).

***

KENDATI mayoritas rakyat di Dunia Ketiga (negara-negara Muslim) adalah pengangguran, tetapi dalam kaitannya dengan LKF, saya tempatkan kelompok ini dalam kuadran I (kuadran E). Karena kurangnya motivasi (dan juga wawasan), posisi mereka sukar untuk berpindah ke kuadran II (S). Ini semakin dihambat oleh ketidakmampuan untuk meningkatkan atau mentransformasikan potensi-potensi diri menjadi layak jual (“layak diberdayakan” alias “well-empowered“).

Meminjam terminologi mekanika, pribadi seperti itu kurang mampu mentransformasikan energi potensial (Ep) atau resources yang dimilikinya menjadi energi kinetis pemberdayaan (Ek).

Bila dilacak lebih menukik lagi dengan menggunakan detektor pemikiran saintifik, ternyata Ek itu dibentuk oleh “massa”/ “m” dan “kecepatan”/”v” (yang tentu saja ada kaitannya dengan “momentum”/”M, karena  M m v).

***

DARI perspektif pemikiran Islam, “m” atau “kwalitas statis” seseorang ditentukan oleh ilmu atau pengetahuannya; dan tentu saja juga keimanannya. Tapi bagaimana seseorang (baca: “ummat Islam”) bisa menguasai ilmu jika dihinggapi kemalasan atau ketakutan untuk berfikir (phronemophobia), padahal kita tahu bahwa orang yang berpengetahuan itu bukan saja unggul (QS 39 : 18), tapi bahkan dimuliakan Allah SWT (QS 58 : 11); dan oleh karenanya harus rajin membaca (QS 96 : 1 dan 73 : 20).

Jadi keterpurukan seseorang (baca: “ummat Islam”) lebih disebabkan oleh kekeliruannya sendiri (QS 53 : 39, QS 4 : 111, dan QS 29 : 40), dan sangat naif bila ditimpakan kepada Allah SWT (QS 10 : 44 dan QS 41 : 46 ), meski tidak dipungkiri bahwa banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang musibah-musibah atau ujian-ujian yang diberikan oleh Allah SWT sebagai wujud kasih sayang-Nya, antara lain untuk meningkatkan maqam rukhaniyyah hamba-Nya, atau dalam bahasa yang lebih membumi adalah untuk membangun kematangan pribadi yang bersangkutan.

“Kualitas statis” (ks) itu bisa bertransformasi menjadi “kualitas dinamis” (kd) akibat pengaruh kecepatan metabolisme (v) sumber daya intelektual, emosional, dan spiritual yang bekerja dalam diri seseorang. Tetapi, keefektifan transformasi tersebut sangat bergantung pada “momentum” (M). Sun Tzu berkata:Yang mampu memindahkan batu di sungai adalah karena momentumnya.” Ia benar, meski asumsinya perlu dikembangkan lagi. Batu (m) bukan saja berpindah, malah bisa terhempas jika diberi semburan air berkecepatan tinggi dari pipa-pipa pancar yang digerakkan oleh mesin kompressor.

Dengan kata lain, pergerakan “batu” tidak hanya dibiarkan pada faktor alam yang serba tidak terukur dan tidak konstan, tetapi harus ada pelibatan peran manusia (ilmu) untuk menghasilkan momentum maksimal dan berkesinambungan. Kemudian, yang dipindahkan atau digerakkan bukan lagi “batu”, seperti dicontohkan Sun Tzu, melainkan (memutar) “turbin” (water turbine) akibat hempasan air yang menerpa sudu-sudunya (turbine blades), sekaligus menciptakan perputaran pada “poros penggerak” (driver shaft) seraya turut memutar driven shaft (poros yang digerakkan) pada “generator (listrik) kemanusiaan/peradaban” sebagai perangkat konversi yang memunculkan energi penerangan atau pencerahan, yakni “energi pencerahan kemanusiaan/peradaban”. Bukankah manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk mengelola atau memberdayakan (bukan memperdayai) alam semesta? (QS 11: 61).

Hubungannya dengan pembicaraan sebelumnya adalah bahwa seseorang yang ingin merubah posisinya dari kuadran I ke II (dan seterusnya) juga patut mempertimbangkan faktor M untuk mencapai hasil yang optimal. Artinya, dia harus mampu mengidentifikasi pada skala kematangan intelektual, emosional, dan spiritual yang ke berapa ia harus memulai (merekayasa/mendisain) suatu perubahan. Tentu saja ini juga terkait dengan lingkungan yang dihadapi, perangkat pengkonversi (converter/generator of thought and metaphysics or spiritual) yang dipilih, dan permodelan (di antaranya permodelan matematika rasional maupun irrational / Ilahiah) yang dipakai.

Oleh karena itu, mengapa — misalnya — Rasulullah Muhammad Saww nanti pada usia 40 tahun baru mulai mengemban misi kerasulan, dan bukan sebelum atau setelah usia tersebut; padahal kita tahu bahwa kerasulan beliau ditentukan oleh Allah SWT. Tentu saja angka 40 (tahun) tidak bisa dijadikan sebagai standar kematangan setiap pribadi, kendati ada adagium: life begin from forty.

***

KARENA tidak ada saham kecepatan (v) eksternal pada Ep [Catatan, Ep m.g.h (di mana: “m” = massa; “g” = gravitasi; “h” = “tinggi” atau “jarak”)], maka ia (Ep) juga bisa disebut sebagai “kualitas statis” (ks). Meskipun statis, bukan berarti eksistensi Ep tidak bermakna. Dengan menggunakan pendekatan persamaan kalkulus (dalam matematika rasional dan irrational) bisa dilukiskan interaksi antara  Ep  dan  Ek  yang menggambarkan sistem dinamis atau revolusioner (accelerated evolution) yang dapat dengan mudah diproyeksikan pada kehidupan sosial [bukan saja untuk bidang ekonomi/bisnis, melainkan juga lebih luas dari itu, termasuk transformasi politik, kebudayaan, ideologi, bahkan tasawuf/irfan (“mi’raj  rukhaniah” atau “sayr  wa  suluk“, dari “fana  fi  Allah” ke “baqa  bi  Allah“).

Dengan kata lain, secara matematis, ada “fungsi pengaruh” di antara keduanya (Ep dan Ek). Dalam ilmu kimia pun kita kenal model reaksi timbal balik (reversible), yakni reaksi antara unsur-unsur yang membentuk senyawa (atau molekul) atau yang menguraikan senyawa menjadi unsur-unsur (atau “atom-atom”, bahkan “serangkaian  sub-atomic“).

Dengan “fungsi pengaruh” (medan magnetik Ilahiah atau elektro dinamika kuantum Ilahiah) itulah, Ep dan Ek bisa berkonvergensi atau berkolaborasi membentuk “energi mekanik pemberdayaan” (Em) atau “energi dinamis pemberdayaan” (enlightment / aufklarung / isyraqiyah).

***

JADI, dengan mengikuti prinsip dialektika pemikiran, seseorang yang berikhtiar untuk merubah posisinya dari kuadran I ke II, II ke III, dan III ke IV, tidak saja harus mampu mentransformasikan  Ep  menjadi  Ek, tapi juga mengkonvergensikan keduanya  menjadi  Em.

Kemudian, dengan merujuk pada Hukum Kekekalan Energi (Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan), berarti di alam semesta ini berlaku hubungan-hubungan transformasi “energi”, misalnya dari Em menjadi energi listrik (EL), dari EL menjadi EM, dan seterusnya.

Sampai di sini timbul pertanyaan, siapa yang menciptakan “energi” itu? Untuk menjawabnya diperlukan kajian mendalam, namun jika dilihat dari perspektif filsafat Islam, semua eksistensi di alam semesta ini — baik yang  dzâhir  maupun  bâthin — diciptakan oleh Allah SWT. Tidak ada satu pun kekuatan, termasuk motivasi (niat) manusia, yang luput dari kekuasaan-Nya (QS 25 : 2). Sehingga, seharusnya motivasi diarahkan untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah SWT (QS 51 : 56).

Kendati demikian, perlu diketahui, untuk beribadah atau mencintai Allah SWT, seseorang haruslah mencintai Rasulullah Muhammad Saww; dan untuk mencintai Rasulullah Saww haruslah mencintai keluarga (Ahlul Bait) beliau seperti diisyaratkan dalam Al-Qur’an (QS 33 : 33). Sedangkan untuk mencintai Ahlul Bait beliau haruslah mengenali riwayat serta perjuangan mereka, kemudian mentransformasikannya secara dinamis dan kontekstual. Menyedihkan sekali — sekaligus merupakan tragedi besar — bila ada yang menepuk dada sebagai pejuang Islam (atau beragama Islam), tetapi tidak mengenali kehidupan pribadi-pribadi seperti Saydina Ali  karamallahu wajhah (kw), Sayyida Fâthimah (ra), Saydina Hasan (as), Saydina Husein (as), dan seterusnya, yang sangat dicintai oleh Baginda Rasulullah Muhammad Saww.

***

KARENA Allah SWT menganugrahkan kemerdekaan kepada manusia untuk menentukan pilihannya (QS 53 : 39, QS 13 : 11 dan QS 76 : 3), maka lahirlah berbagai motivasi yang memengaruhi sikap dan tindakan setiap individu atau kelompok sosial.

***

DI atas, saya telah uraikan transformasi dari kuadran yang satu ke kuadran yang lain. Secara substansial, transformasi tersebut timbul dari  inner force  yang ada dalam diri seseorang. Inilah yang disebut “motivasi” atau dalam bahasa santrinya disebut “niat”. Begitu strategisnya peran “niat” dalam suatu perubahan, sehingga agama menekankan, “Segala sesuatu bergantung pada niat” (Innamal  a’malu  binniyah).

Motivasi dipicu oleh suatu keyakinan (self confidence), yang antara lain dibentuk oleh filsafat. “Was fur eine Philosophie man Wahle hangt davon ab, was fur ein Mensch man ist (Jenis filsafat yang dipilih oleh seseorang akan menentukan jenis manusianya),” begitu kata Fichte (1762-1814), filsuf Jerman.

Kendati motif-motif bisa dikelompokkan dalam motif biogenetik, sosiogenetik, ideologi genetik, dan teogenetik, namun motif-motif tersebut tidak akan dibahas di sini. Secara filosofis, setiap perilaku individu yang dibentuk oleh sistem kapitalisme atau sosialisme dan varian-variannya selalu berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan material atau duniawi semata, sekalipun berlindung di balik kedok humanisme dan keadilan. Jangan heran bila Anda bisa saja temukan seorang ustadz, misalnya, begitu bangga tatkala diundang berceramah pada sebuah komunitas borjuis, tapi segera akan memperlihatkan kesedihan atau kekecewaan mendalam jika order ceramah hanya datang dari musholla yang ada di lingkungan kelurahannya. Seandainya ustadz  tersebut mendasarkan motivasinya pada prinsip agama (bukan sekadar lip service), maka dia tidak akan mengingkari etika zuhud. Ketika ditanya tentang makna zuhud, Imam Zainal ‘Abidin (as) menerangkan:Zuhud itu ada sepuluh perkara, dan setinggi-tinggi derajat  zuhud  sama dengan serendah-rendah derajat  wara’ ; setinggi-tinggi derajat wara’ sama dengan serendah-rendahnya derajat yaqin ; setinggi-tinggi derajat yaqin sama dengan serendah-rendahnya derajat ridha. Ketahuilah, sesungguhnya zuhud itu terdapat dalam suatu ayat dalam Kitabullah, yaitu: ‘Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu’ (QS 57 : 23).”

***

ATAS dasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan LKF yang berbentuk full circle (tidak lonjong) haruslah ditumpukan pada poros motivasi Ilahiah karena hanya dengan itulah bisa tercipta keseimbangan antara gaya sentrifugal (mengarah ke luar) dan gaya sentripetal (mengarah ke dalam) pada diri seseorang. Bukankah prinsip keseimbangan atau keadilan sangat dianjurkan dalam agama?

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk berlaku adil (menjaga keseimbangan) dan berbuat baik.”
(Al-Qur’an)

***

DALAM ilmu manajemen pemasaran, kita mengenal konsep “360 Degrees Customer-Centric Marketing” / 360 DCCM (yang merupakan modifikasi konsep “Sembilan Elemen Pemasaran”) yang diperkenalkan oleh MarkPlus & CoBagi saya, konsep ini — termasuk juga konsep-konsep lainnya — tidak akan efektif bila melanggar hukum keseimbangan gaya sentripetal dan gaya sentrifugal yang tunduk pada fungsi pengaruh optimalisasi kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Maka, LKF dan 360 DCCM (dan juga model lingkaran-lingkaran lainnya) bisa pula diproyeksikan dalam alam metafisik karena manusia adalah makhluk paradoksal, yakni materi ber-rukh dan rukh bermateri. Dengan menggunakan persamaan matematika kalkulus bisa saja ditemukan relasi antara dunia fisik dan non-fisik (tentu saja hal ini tidak akan dibahas di sini, karena mimbar ini bukanlah kajian tasawuf/irfan atau Islamic mystic;  apalagi saya ini hanyalah seorang awam yang mungkin akan menderita radang selaput otak jika memikirkan hal-hal pelik seperti itu).

***

DARI perspektif religiusitas, shalat merupakan mediator antara dua alam: “fisik” dan “non-fisik”. Bahkan, bisa sebagai determinan untuk mengatasi segala problema yang terjadi dalam dua alam tersebut.“Sesungguhnya shalat dapat mencegah (mengatasi) perbuatan keji dan munkar,” demikian yang diajarkan agama.

Karena gerakan-gerakan dalam shalat  lahiriah pun membentuk lingkaran 360 derajat, maka — sesuai dengan prinsip the couple existence (QS 36 : 36) — seharusnya secara rukhaniyyah, shalat juga dapat membentuk formasi lingkaran 360 derajat. Tetapi agar dapat membentuk full circle (tidak lonjong atau tidak penyok), maka ia harus ditopang oleh jari-jari yang berupa sumbu “x” dan sumbu “y” (jari-jari utama). Dan dengan sumbu-sumbu itulah terbentuk empat kuadran Ilahiah.

Kita tahu bahwa shalat merupakan sarana penyucian diri (mi’raj rukhaniyah). Sementara dalam Al-Qur’an (QS 33 : 33) dinyatakan bahwa yang disucikan oleh Allah SWT adalah Rasulullah Muhammad Saww dan keluarga (Ahlul Bait) beliau, yang menurut para ahli tafsir (mufassir) — baik dari kalangan Sunni maupun Syiah — terdiri dari Imam Ali (kw), Sayyida Fâthimah Azzahra (ra), Imam Hasan (as) dan Imam Husein (as). Pertanyaannya, adakah korelasi tegas antara kualitas shalat  itu dengan pemahaman dan penghayatan kita atas praktik keberagamaan (religiusitas) Rasulullah Muhammad Saww dan Ahlul Bait  beliau, yang kemudian terproyeksi dalam layar lebar kehidupan kita, baik  dzâhir  maupun bâthin?  Bila Allah mengizinkan, pada kesempatan lain, saya bermaksud  “belajar” menjawab pertanyaan ini — termasuk mendalami lagi berbagai hal yang terkait dengan paparan di atas —  dalam buku tersendiri. [**]

____________________________

La Ode Zulfikar Toresano (Aba Zul) adalah Koordinator Umum

Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN) dan sejak Maret 2014 juga

belajar mengabdikan diri sebagai Pemimpin Redaksi  BUTONet 2.

Artikel ini pernah dimuat dalam  Jurnal ISLAM LiBeRaL?  edisi Juni 2004.

Facebook Comments

40 thoughts on “Empat Kuadran Kemapanan Finansial (Manajemen Islami?)

  1. De hecho, algunos estudios apuntan que los hombres suelen tardar unos 8 meses desde que empiezan a percibir que tienen disfunción eréctil hasta que van al médico.

  2. Effectiveness Viagra Danger Sante Will Amoxicillin Cure Clamidia generic viagra What Is Amoxicillin Used To Treat Does Amoxicillin Contain Any Sulfa Bentyl Australia Delivered On Saturday Without Rx

  3. The dermatologist may remove a small piece of the scalp. The condition occurs when white blood cells attack the cells in hair follicles, causing them to shrink and dramatically slow down hair production.

  4. Researchers suggest that because erectile dysfunction is a symptom of a psychological or physiological condition, physicians should work to diagnose the underlying cause of the issue instead of focusing on finding a temporary treatment.

  5. La disfunción eréctil, mejor conocida como impotencia sexual, es un síndrome que afecta a uno de cada dos hombres de entre 40 y 70 años de edad; pero sólo 10 por ciento acude a solicitar atención médica. La incidencia aumenta con la edad: alrededor del 5% de los hombres de 40 años de edad y entre el 15 y el 25 % de los hombres de 65 años de edad experimentan DE.

  6. Tadalafil lasts for up to 36 hours and is more suitable if you require treatment for a longer period of time, for example, over a weekend. A meta-analysis published in 2013 clearly demonstrated increased efficacy over placebo for all PDE5 inhibitors. It is important to emphasize to patients that these drugs augment the body’s natural erectile mechanisms, therefore the neural and psychoemotional stimuli typically needed for arousal still need to be activated for the drugs to be efficacious. https://cialis.fun/erectile-dysfunction-types-and-treatments.html

  7. Once a medical history has been established, a doctor will then undertake further investigation. One simple test, known as the ‘postage stamp test,’ can be helpful in determining if the cause is physical rather than psychological. Men usually have 3 to 5 erections a night. Buy cialis online new zealand. This test checks for the presence of erections at night by seeing if postage stamps applied around the penis before sleep have snapped off overnight. Other tests of nocturnal erection include the Poten test and Snap-Gauge test.

  8. Donde comprar Viagra generico contrareembolso. Cabe aclarar que en cuanto se detectan los síntomas de la impotencia es imprescindible que se consulte con un profesional para poder realizar las acciones correctas, cuanto más tiempo esperes se volverá aún más grave, porque entra en juego la psicología, estableciendo un círculo vicioso; es decir que la impotencia masculina te traerá depresión y ansiedad; y a su vez, éstos traerán más impotencia.

  9. Comprar Levitra barcelona ibuprofeno disfuncion erectil. También es conveniente dejar atrás el consumo de alcohol y tabaco. Los hombres con una causa física de DE a menudo experimentan el mismo tipo de reacciones psicológicas (estrés, ansiedad, culpa, depresión). Los médicos deben advertir a los pacientes suspender cualquiera de estos medicamentos y buscar atención médica en caso de ocurrir disminución repentina de la visión de uno o ambos ojos. Aunque podría pensar que la disfunción eréctil es un problema de un hombre mayor, las estadísticas muestran que esta condición afecta a hombres de todas las edades.

  10. Although the mechanism of action for a Cialis is the same as other ED solutions, there is one major difference between Cialis and other medications that is leading more men to Buy Cialis.

Leave a Reply

Your email address will not be published.