Hari Al-Quds, Pengingat Perjuangan Palestina

JAKARTA, www.sorotparlemen.com Tidak lama setelah Revolusi Islam di Iran, 1979, Imam Khomeini menyatakan, setiap Jum’at terakhir bulan suci Ramadhan sebagai Hari Al-Quds dengan tujuan untuk menyatukan bangsa atau negara-negara Arab dan juga sesama ummat Islam, sehingga diharapkan terbangun kebulatan dukungan bagi perjuangan Palestina.

Untuk menandai momen penting itu, di tengah pandemi Covid-19, pada tanggal 18 dan 19 Mei diselenggarakan konferensi online Hari Al-Quds Internasional. Peringatan tahun ini memiliki signifikansi khusus karena munculnya penolakan atas “Kesepakatan Abad” dan usulan pencaplokan Lembah Jordan serta pendudukan Tepi Barat (West Bank), yang melecehkan hukum internasional.  Kesepakatan tersebut memberi lampu hijau bagi menguatnya kedaulatan Israel atas pembangunan permukiman liar (illegal), yang sudah dimulai usai perang 1967; dan kini dihuni oleh 600.000 orang Yahudi Israel.

Protes di wilayah itu pada 15 Mei lalu menandai peringatan ke-72 Nakba (malapetaka), yakni saat ratusan ribu warga Palestina dipaksa mengungsi segera setelah terbentuknya negara Zionis Israel pada tahun 1948. Ini juga merupakan peluang untuk memprotes kebijakan ultra-kanan Presiden Donald Trump yang bersekutu dengan Israel.

Memang, beberapa presiden AS dan jajarannya memberikan dukungan penuh atas Israel, namun tak pernah ada yang membuat kebijakan dukungan banyak dalam waktu singkat, selain Presiden Trump. Dukungan ini  mendorong administrator (penguasa) sayap kanan di daerah permukiman untuk mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel pada tahun 2017, yang kemudian  mengaburkan peta jalan untuk solusi dua negara.

Perlu diketahui “Kesepakatan Abad” dirancang oleh menantu Trump, Jared Kushner, yang bekerja sama dengan Jason Greenblat, utusan khusus AS untuk Timur Tengah. Rencana itu diumumkan pada Januari setelah beberapa bulan mengalami penundaan. Apa yang orang-orang Palestina saksikan sebagai “catatan penaklukan/penyerahan”, direfleksikan oleh “Tehran Times” dalam sebuah headline : “Jalan Raya ke Neraka” (Highway to Hell), sementara banyak orang menganggapnya sebagai “Pencerahan Abad Ini” (Heist of the Century).

Setelah terjadi tiga kali pemilihan bermasalah di Israel, pada bulan April diumumkan perjanjian pembagian kekuasaan tiga tahun yang memungkinkan Netanyahu untuk pertama kalinya menduduki tampuk kepemimpinan sebelum menyerahkan kekuasaan kepada Benny Ganzt. Inti perjanjian tersebut adalah aneksasi illegal atas sebagian besar Tepi Barat, termasuk Lembah Jordan dan Laut Mati Bagian Utara.

Sungguh, Israel patut dianggap mirip dengan Afrika Selatan (di era apartheid) menurut versi Timur Tengah abad ke-21. Bahkan ia adalah satu-satunya negara apartheid yang masih tersisa, di mana orang-orang Palestina dianggap sebagai warga negara kelas dua, yang ditempatkan di bawah pendudukan di Gaza, Jerusalem Timur, dan Tepi Barat.

Fakta historis yang juga sangat menyedihkan adalah tentang Jalur Gaza. Pada Januari 2006, Hamas memenangkan suara mayoritas dalam pemilihan Dewan Legislatif Palestina, yang mengakhiri dominasi Fatah (selama lebih 40 tahun), yakni faksi politik yang didirikan oleh Yaser Arafat.

Tragisnya, setelah pemilihan tersebut, AS, Uni Eropa, dan Kanada memotong anggaran untuk Pemerintahan Ototoritas Palestina. Kendati demikian, Kanada masih memfasilitasi dan memantau hasil pemilihan. Terkait dengan ini patut disebutkan bahwa selama musim panas 2006 juga terjadi konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah.

Pada tahun 2007, Jalur Gaza diblokade oleh Israel dan Mesir saat Gerakan Perlawanan Hamas mulai mengontrol daerah-daerah yang dimenangkan lewat pemilihan umum. Akibat dari tindakan Israel yang represif dan brutal itu kemudian mendorong PBB mengingatkan bahwa pada tahun 2020 Jalur Gaza bisa dibuat menjadi “tak dapat dihuni”.

Lebih dari dua juta orang hidup berjejalan dalam wilayah seluas 362 kilometer per segi. Mereka tercerabut hak-hak asasinya, termasuk kebebasan untuk bergerak dan memperjuangkan harkat serta martabat. Selama tiga belas tahun Jalur Gaza dikepung rapat dari udara, laut, dan darat oleh Israel dan Mesir. Fakta ini kemudian membuatnya dijuluki sebagai penjara dunia terbuka yang paling besar.

Julukan tersebut bahkan juga diakui oleh komunitas internasional. Lucunya, AS dan negara-negara Barat (yang selalu membela Israel) pun mengakuinya. Selama masa pengepungan, daerah-daerah pantai mengalami tiga kali serangan besar dari Israel.

Saat ini kira-kira ada 6,5 juta orang Palestina yang tinggal diluar negeri sebagai pengungsi maupun diaspora.

Sungguh, Hari Al-Quds merupakan pengingat tentang penderitaan dan kenestapaan rakyat (orang-orang) Palestina. [**]

—————————————-

Diterjemahkan oleh La Ode Zulfikar Toresano (www.news.sorotparlemen.com) dari https://www.tehrantimes.com/news/448126/Quds-Day-Reminder-of-Palestinian-struggle

Sumber Gambar: https://media.tehrantimes.com/d/t/2020/05/21/4/3458414.jpg

Facebook Comments

Topik Tarkait