Islam di Ujung Tombak Media

rasilBUTONet 2, Jakarta— Sejak era modernisme, media massa berkelindan dengan kapitalisme. Bahkan, ia lambat-laun menjadi the great globalizer yang membawa pesan “media  monokultural” dengan kecenderungan menyudutkan ‘common enemy’ dari dunia Barat (sebagai penguasa hegemonik di dunia). Pada era Perang Dingin, yang disudutkan adalah Uni Soviet, sementara kini yang diposisikan sebagai ancaman (baca: musuh terbesar) adalah “Islam”. Sehingga, tak dapat dinafikan bahwa Islam berada di ujung tombak media.

Media global membentuk opini publik yang negatif terhadap Islam. Sehingga, apa yang dikhawatirkan kalangan pengamat dengan kebangkitan kembali “Imperialisme Kultural” — akibat “monopoli media” — benar-benar terjadi.

Dengan berkembangnya posmodernisme, yang mengakui eksistensi setiap entitas sebagai wujud perlawanan terhadap hegomoni global, terbuka peluang emas untuk melihat Islam secara objektif. Ini bukan hanya sebagai kesempatan bagi media berlabel Islam, melainkan juga media umum. Sehingga, misi luhur untuk mengembalikan fungsi pers, sebagai pengungkap kebenaran (objektifitas), harus diwujudkan setiap insan media.

Agaknya, misi tersebut yang memotifasi penyelenggaraan Diskusi Terbuka pada Selasa lalu (18/2) di Gedung Auditorium Adhiyana, Wisma Antara, Jakarta.

“Dewasa ini, Islam dianggap sebagai agama yang buruk yang begitu gencar di-blow up  oleh media. Acap kali pemberitaan mengenai Islam menimbulkan kesan intolerant,” ujar Geisz Chalifah dalam sambutannya selaku ketua penyelenggara.

Atas dasar  itu, Radio Rasil  AM 720 KHz — bekerjasama dengan LKBN Antara — menggelar diskusi yang bertema  Islam dan Media Berita.

“Kami bermaksud mengumpulkan insan media untuk menyamakan persepsi dalam memandang apa yang terjadi pada dunia Islam,” ujar Khalifah yang juga adalah Ketua Divisi Public Relation Rasil.

Ini senada dengan pandangan pimpinan Rasil, Ihsan Talib. “Media mengemban peran sentral bagi dakwah Islam yang positif. Maka, kami optimis silaturahim antarmedia  bisa terealisasi dengan baik serta memberikan kontribusi signifikan,” ucapnya.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional. “Fungsi Media sesungguhnya menekankan pada objektivitas, akurasi berita, dan etika. Persoalan terjadi pada tataran persepsi,” ungkap Geisz lantang.

 

Media: Pahlawan Kebenaran yang Mewujudkan Persatuan Islam

Acara diskusi tersebut dihadiri berbagai kalangan media dan pendengar setia Rasil yang dikemas dengan nuansa dialogis. Sebagai narasumber adalah Akhmad Kusaeni, Arifin Asydhad, Budi Winarno, Nasihin Masha, Mauluddin Anwar, dan Nur Fitri Taher.  Anies Baswedan, yang dijadwalkan hadir, berbicara melalui  media audio-visual karena berhalangan. Sementara Sulis, pelantun lagu-lagu Islam, bertindak sebagai moderator.

Kehadiran praktisi media dan pemikir Islam diharapkan dapat mewujudkan persatuan Islam. “Islam yang damai di Indonesia harus terealisasi atas dasar  keadilan sosial untuk mengusung persatuan dan akhlak al-karimah sebagai wujud Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Maka, fokus dakwah Rasil adalah Islam dan keindonesiaan dalam dimensi keadilan sosial,” tegas Talib.

Sementara itu, Budi Winarno sebagai narasumber pertama mengafirmasi pernyataan Talib. “Jurnal Nasional (Jurnas) menempatkan pemberitaan tentang Islam dengan semangat damai, serta diverifikasi terlebih dahulu (shahih). Kami berusaha menghindari berita fitnah yang dapat mengadu domba umat,” ujarnya selaku perwakilan Jurnas.

Nur Fitri Taher, yang mewakili Rasil, menekankan tentang tanggung jawab jurnalis yang sejalan dengan wasiat Rasulullah Saw. terkait dengan penyampaian kabar yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra: 36.  “Tanggung jawab jurnalis sangat berat di dunia dan akhirat karena memiliki beban untuk mengungkap  ‘fakta’ yang dapat mengarahkan pada ‘opini publik’. Hal ini dapat menggiring seseorang / kelompok ‘melakukan’ atau ‘tidak melakukan’ sesuatu,” ujar aktivis MER-C dan Mevi Marmara ini dengan semangat.

Taher  juga mengingatkan jurnalis agar mengedepankan persatuan umat. “Jurnalis harus menyadari batas-batas investigasi berita dengan memerhatikan kemaslahatan umat, seperti  disebutkan pada QS Al-Hujurat : 12. Inti jurnalisme adalah  amar  ma’ruf  nahi  munkar, tapi jangan menghakimi saudara Muslim karena tidak sesuai dengan QS An-Nahl: 125,” ujar satu-satunya narasumber perempuan dalam acara itu.

Dalam kesempatan yang sama, Anies Baswedan, selaku pemikir Islam, memberikan motivasi kepada kaum Muslimin. “Kita harus aktif memunculkan media Islam yang objektif tanpa takut berkreativitas untuk memunculkan  ‘persepsi’ yang positif tentang Islam! Jadi, hal yang seharusnya menjadi sorotan media Islam adalah instrumen yang dapat memperkuat kepercayaan publik,” pesan peserta konvensi Calon Presiden Partai Demokrat yang malang melintang di dunia pendidikan itu.

Kemudian, narasumber lainnya, Arifin Asydhad, menekankan pada problem yang harus disadari oleh umat pada era kini.  “Ada banyak PR besar umat Islam dalam menghadapi gempuran media. Pertama, Islam masih terkotak-kotak, sehingga sulit disatukan. Seharusnya umat Islam punya agenda bersama. Kedua, tokoh Islam tidak memberikan teladan yang baik, termasuk juga lembaga-lembaga Islam. Ketiga, Muslim kurang perduli terhadap kemajuan mereka sendiri. Keempat, umat Islam cenderung menyalahkan, tanpa berbuat. Kelima, kita kurang membekali diri dengan penguatan tekhnologi dan informasi,” ungkap Pemred detik.com  itu.

Sementara itu, Akhmad Kusaeni memandang begitu maraknya media yang berkontribusi dalam melanggengkan the battle of God. “Banyak media berposisi menjadi ‘provokator’ yang memanaskan situasi dan menciptakan ketegangan serta  konflik agama, baik internal maupun eksternal. Objektifitas itu suci, sehingga jurnalis harus bijak memilih fakta agar tidak memecah-belah persatuan umat,” ujar Direktur Pemberitaan Perum LKBN Antara tersebut.

Benarkah Ada Hidden Agenda?

Dalam kesempatan tersebut Nasihin Masha mengafirmasi hidden agenda  pada setiap media. “Setiap media memiliki “agenda setting”, di antaranya adalah Workers Socialization and Attitude, Media Routines, Ideology, dan Other Social Institutions and Forces,” ungkap Masha.

Lebih lanjut, Pemred Republika itu memaparkan faktor-faktor eksternal yang memengaruhi media, yaitu kelompok kepentingan, lembaga public relation, pengiklan, dan lembaga-lembaga pemerintahan serta swasta.

Ia menyayangkan sikap umat Islam yang gagap menghadapi modernisme. “Jangan serta-merta menyalahkan media, tapi kita harus mampu menciptakan berita. Namun, sayang kaum Muslimin mengalami rasa kurang percaya diri, sehingga terjebak pada pragmatisme,” ujar Masha lagi.

Anies juga mengakui bahwa potret Islam ditentukan oleh media global. “Berita dari media luar tidak sejalan dengan wajah Islam, dan citra yang digambarkan bukanlah keadaan (fakta ) yang sesungguhnya; bukan Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” ujar Rektor Paramadina itu.

Di lain sisi, Mauluddin Anwar, dari Liputan 6 SCTV, memandang media itu objektif tanpa ada keberpihakan kepada kelompok tertentu.  “Fungsi media adalah pengontrol. Bila ada sesuatu yang tidak diharapkan masyarakat, maka tugas media mengingatkan berbagai kalangan. Liputan 6 sendiri tidak memiliki tujuan untuk merusak citra Islam. Kami lebih menekankan pada ‘Islam substantif’, bukan Islam Simbolik,” tegasnya.

Kusaeni menambahkan pemaparannya bahwa hidden agenda media dewasa ini adalah akibat dari fenomena global ‘Kebangkitan Agama’ yang berimplikasi pada the clash of religion. “Kebangkitan agama menumbuhkan semangat untuk menguasai dunia. Sehingga, pemurnian agama acap kali berjalan menuju titik ekstrim, yaitu radikalisme. Selain itu, konflik berlangsung karena gerakan ‘Islamophobia’, ‘anti-Barat’, serta ‘konflik atas nama agama’. Maka, media harus menjadi ‘solusi’ dengan menegakkan prinsip agenda ‘good journalism’ di balik pemberitaan,” tandas Kusaeni.

Pemaparan para narasumber dalam acara tersebut memberikan sebuah perspektif  bahwa Islam memang berada di ujung tombak media. Sehingga, pilihan ada di tangan umat Islam: menjadi subjek ataukah objek media? (Wa Ode Zainab ZT)

Facebook Comments

Topik Tarkait

4 thoughts on “Islam di Ujung Tombak Media

  1. Hey there! I just want to offer you a big thumbs up for the excellent info you’ve got right here on this post.
    I’ll be returning to your blog for more soon.

  2. We absolutely love your blog and find nearly all of
    your post’s to be just what I’m looking for.
    Does one offer guest writers to write content for you? I
    wouldn’t mind creating a post or elaborating on a few of
    the subjects you write with regards to here. Again, awesome site!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eighteen + 16 =