Jangan Cabut Kami dari Akar!

Oleh Wa Ode Zainab Zilullah

Dua hari lalu (3/1/2015) bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal yang dipercaya sebagai Hari Lahir Rasulullah— meskipun ada kalangan yang berpandangan 17 Rabi’ul Awwal— Saya dan Aida menyempatkan diri bertandang ke Keraton Kesepuhan Cirebon pada siang hari. Paman Fikriyah mengungkapkan bahwa puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad saw (Muludan) pada malam hari, yakni ketika pusaka-pusaka keraton dipertontonkan di hadapan masyarakat Cirebon; Terlebih lagi ada acara arak-arakan. Sayangnya jadwal kereta kami menuju Jakarta pukul 17.12 WIB.

Posisi Keraton sekitar 15 menit dari Stasiun Cirebon Perujakan. Ketika tiba di sana, masyarakat sudah memadati alun-alun Keraton. Tampak rasa bahagia tersirat pada gurat senyum mereka. Maulid kali ini menjadi momentum bagi rakyat pedesaan keluar dari daerah mereka menuju pusat kota. “Nab, mayoritas yang datang ke acara ini adalah masyarakat menengah ke bawah karena ini merupakan waktu yang tepat bagi mereka untuk mendapatkan hiburan yang murah-meriah. Maulid hanya stimulus bagi mereka untuk keluar berduyun-duyun bersama para saudara dan tetangga, tapi ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk keluar dari kampung dan merasakan hiburan di perkotaan,” papar Aida. Di sepanjang alun-alun dipenuhi dengan jajanan rakyat dengan harga murah. Terlihat orang-orang berbelanja atau sekadar bercengkrama dengan sanak saudara.

Kami pun berjalan lurus menuju Keraton sambil bertukar pikiran mengenai kehidupan. Begitu penuh sesak, terlebih lagi orang-orang yang berjalan sangat cepat, hingga menabrak-nabrak kami agar tidak tertinggal dari keluarganya. Dalam hati, saya mencoba maklum terhadap perilaku mereka. Tiba-tiba Aida nyeletuk, “Nab, kamu sepertinya harus sering berbaur dengan masyarakat untuk melihat realitas, terlihat sekali kamu tidak nyaman, hehe”. Ya, saya afirmasi dalam hati, memang berjalan berdesak-desakan di tengah kerumunan orang dan pasar tumpah ruang memang membuat saya merasa tidak nyaman. Hmm, mungkin karena saya belum terbiasa dgn kondisi seperti ini.

Namun, melihat kebahagiaan mereka, rasa lelah pun hilang. Kebahagiaan menurut mereka begitu sederhana yang mungkin tak sama dengan parameter kebahagiaan bagi kita. Kami pun membayar uang 5000 rupiah berdua untuk masuk wilayah Keraton Kesepuhan Cirebon. Sayangnya, kami enggan masuk lebih dalam karena padatnya pengunjung pada siang hari itu. Kami memilih untuk duduk di samping Bapak penjual kedondong yg sudah tua renta. “Lihatlah Nab, mereka menggunakan baju terbaiknya,” papar Aida. “Hmm, iya sih say kelihatannya begitu, tapi apakah mereka benar-benar datang ke sini untuk memperingati Muludan? Bukankah perayaannya pada malam hari, tapi mengapa sudah rame?” tanyaku gundah. Aida menjawab rasa penasaranku, “Aku tak tau pasti Nab, tapi sepertinya mayoritas tujuan mereka untuk menghabiskan waktu liburan bersama-sama, lihatlah banyak dari mereka hanya sekadar duduk di bawah balai-balai menikmati hembusan angin dengan bercakap-cakap bersama keluarga.”

Media online About Cirebon melansir, selain melestarikan tradisi, masyarakat juga bisa melihat benda – benda warisan peningalan jaman dahulu para sultan dan sesepuh yang ada di Cirebon seperti Singa Barong, Paksi Naga Liman dan lain sebagainya. Bahkan ada pula warga yang memanfaatkan kunjungannya ke Keraton Kasepuhan hanya untuk mengambil air dan mandi di sumur – sumur keramat yang berada di sekitar area Keraton tersebut. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kebahagiaan rakyat ketika menjalankan tradisi kebudayaan dengan spirit keagamaan. Inilah realitas sesungguhnya!

Dari pemaparan di atas, “Agama dan Budaya” memang tidak bisa dipisahkan. Faktanya Islam lahir di Indonesia salah satunya melalui pengaruh budaya; Islam yang ramah terhadap “kearifan lokal”. Pengharaman terhadap peringatan Maulid itu sama halnya mencerabut rakyat Indonesia dari akarnya. Jangan lupakan siapa kita! Islam hadir bukanlah bertujuan untuk melupakan asal, tapi justru membuat kita sadar akan asal! Jangan Cabut Kami dari Akar!

Facebook Comments

Topik Tarkait

One thought on “Jangan Cabut Kami dari Akar!

  1. I was very happy to find this website. I wanted to thank you for
    your time due to this wonderful read!! I definitely loved every little bit of it and I have you saved
    as a favorite to check out new information on your site.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one + 12 =