“Keberadaan atau Ketidakberadaan” (Logika dan Filsafat)

Oleh Sayyid S Akhtar Rizvi

htttp//www.islamcinta.blogspot.comKita  sering  memikirkan  ribuan, bahkan  jutaan  benda  atau  eksistensi  (wujud).  Kita  membayangkan   manusia, kuda, pesawat  terbang, bumi, kereta  api  atau  buku.  Kita  lihat  gambar-gambar    dari  benda-benda  tersebut  terhampar  pada  layar  imajinasi  kita.  Ini  disebut   “wujud  di   dalam  imajinasi” (existence  in  imagination).

Tetapi, benda-benda  yang  disebutkan  di  atas  juga  memiliki  wujudnya  sendiri  di  luar  imajinasi  kita.  Dan  itu  disebut  “wujud  di   luar  imajinasi”  atau   “wujud   riil”  (the real  existence).

Kadangkala kita membayangkan ide-ide atau gambaran yang tidak pernah didapatkan di luar imajinasi.  Kita bisa khayalkan 2 + 2 = 5.  Namun, dapatkah 2 + 2 menjadi 5 dalam eksistensi atau wujud riil?  Tentu saja  “tidak”.  Seseorang bisa saja mengkhayalkan bahwa suatu benda  “ada” dan juga  “tidak ada” pada tempat dan waktu yang sama.  Tetapi, dapatkah hal ini terjadi dalam dunia realitas?  Akal sehat akan mengatakan  “tidak”.

Ide-ide yang diimajinasikan — yang tidak akan pernah terwujud dalam realitas — seperti itu disebut sebagai  “ketidakmungkinan” (impossible).

Sama halnya kita membayangkan seseorang berjalan pada waktu tertentu;  dapatkah ini terjadi dalam realitas?  Apakah orang tersebut perlu berjalan pada waktu yang ditentukan itu?  Atau, apakah tidak mungkin baginya berjalan pada waktu tersebut?  Jawaban dari dua pertanyaan terakhir ini adalah  “tidak”.  Mengapa?  Karena tak ada hal yang perlu dan juga tidak mungkin bagi seseorang berjalan pada waktu yang ditentukan seperti itu.  Jadi, ia tidak bisa berjalan atau bisa juga tidak berjalan.  Sejauh yang bisa diterima akal dan logika, berjalannya atau tidak berjalannya orang itu adalah  “mungkin”, tapi tidak perlu.

Ide-ide yang diimajinasikan — yang mengandung hubungan sama dengan  “keberwujudan”  dan  “ketidakberwujudan” — seperti itu disebut sebagai  “kemungkinan”  atau  “wujud yang mungkin” (possible mumkinul  wujud).  Mereka bisa berwujud dalam realitas, tetapi juga bisa tidak berwujud.  Jadi, tidak ada tuntutan  “ini”  atau  “itu”.  Dan, di situ,  “keberadaan”  atau  “ketidakberadaan” adalah sama saja.

Dengan  demikian, kita  telah  temukan  dua  kategori  hubungan  antara  ide  yang  diimajinasikan  dan   wujudnya  dalam  realitas:

  1. Kategori Pertama, Ide  tersebut  mengandung  hubungan  yang  sama  dengan  wujud   dan   ketidakberwujudan.  Dia     bisa   berwujud, tapi  juga   bisa  tidak  berwujud.  Secara  prinsipil, di   situ   tidak  ada  kelebihan    salah   satu  dari  keduanya.
  2. Kategori Kedua, Ide  tersebut  dapat  secara  mutlak  tidak  memiliki  hubungan  dengan  eksistensi  (wujud). Secara  esensial   dia  tidak  berwujud.

***

DARI uraian di atas tampak bahwa harus ada Kategori Ketiga yang berlawanan dengan  “ketidakmungkinan”, yakni  “ketidakmungkinan ketidakadaan wujud”  yang  disebutkan pada Kategori KeduaKategori Ketiga  ini adalah ide atau gagasan yang dapat secara mutlak tidak memiliki hubungan dengan  “ketidakberwujudan” (non-existence).  Sesuai dengan konteks pembicaraan ini, ia merupakan  “wujud  diri”  (self existent)  atau  “wujud yang berdiri sendiri”.  Ide seperti ini disebut  “Wujud Mutlak”  atau  “Wujud Absolut”  atau  “Wujud Hakiki” (Absolute Existence / Wâjibul Wujud). [**]

_________________________________

Tulisan ini diterjemahkan dari  buku “God   of   Islam”  oleh  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional (Forum SPTN) dan diedit kembali oleh BUTONet 2.

Pernah dimuat dalam Jurnal ISLAM LiBeRaL?  edisi Juni 2004

Facebook Comments

Topik Tarkait

One thought on ““Keberadaan atau Ketidakberadaan” (Logika dan Filsafat)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

four × 1 =