Kerjasama Bilateral Indonesia-Iran

IndonesiaIranBANDUNG, BUTONet 2 — Terpilihnya presiden baru Iran, Hassan Rouhani, pada 14 Juni 2013, memberi dampak signifikan bagi hubungan negara Republik Islam itu dengan dunia internasional, khususnya Indonesia. Ini membuka peluang besar dalam peningkatan kerjasama di berbagai bidang, terutama ekonomi dan perdagangan.

Kerja sama antara Iran dan Indonesia mengemuka dalam acara Forum Kajian Kebijakan Luar Negeri (FKKLN) yang digelar Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika serta Badan Penelitian dan Pengembangan dan Kebijakan Kementerian Luar Negeri yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat, pada hari Sabtu (8/2). Kali ini FKKLN mengangkat tema “Optimalisasi Hubungan RI-Iran di Bawah Pemerintahan Presiden Hassan Rouhani Pasca-Pelonggaran Sanksi Negara Barat”.

Seperti diberitakan sejumlah media, hubungan Iran dan negara-negara Barat terus menunjukkan tanda-tanda positif, terutama setelah tercapainya kesepakatan program nuklir antara Iran dan kelompok 5+1 di Geneva, Swiss, pada 24 November 2012. Rouhani menunjukkan keseriusan menyuarakan komitmennya untuk menjalankan diplomasi yang mengedepankan perdamaian dan interaksi konstruktif dengan dunia.

Duta Besar Indonesia untuk Iran Dian Wirengjurit berpendapat, paling tidak ada empat potensi besar yang dimiliki Iran untuk meningkatkan hubungan dagang dengan Indonesia, yakni di bidang minyak, gas, petrokimia, dan teknologi. Sementara Indonesia memiliki komoditas melimpah yang dibutuhkan Iran, seperti karet, sawit, teh, kopi, dan cokelat.

Indonesia dan Iran sebagai dua negara Muslim besar memiliki banyak potensi yang bisa bersinergi demi mengatasi berbagai masalah internasional.

“Sebagai dua negara moderat, Indonesia dan Iran bisa bekerjasama mengatasi berbagai masalah internasional seperti kekerasan, terorisme dan lainnya. Peningkatan kerjasama Jakarta dan Tehran diharapkan akan memberikan signal positif bagi dunia internasional,” tutur Mohammad Hery Saripudin, Kapus P2K2 Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu RI, Sabtu (8/2).

Selama ini potensi besar yang dimiliki Iran dan Indonesia belum dioptimalkan demi kepentingan masing-masing dan dunia. Menurut Saripudin, secara politik hubungan Indonesia dan Iran terjalin baik. Di bidang politik, Indonesia dan Iran telah memiliki mekanisme konsultasi bilateral antara kementerian luar negeri kedua negara melalui pembentukan Komite Konsultasi Bilateral (KKB) RI-Iran. Hingga kini pertemuan tersebut telah dilaksanakan selama lima kali.

Di bidang kebudayaan, kerjasama antara Indonesia dan Iran dimulai sejak penandatanganan Cultural Agreement tanggal 27 April 1971. Sejak itu kedua negara terus memperbaharui perjanjian tersebut yang dilakukan tahun 1978, 2003, 2006, dan 2009. Kemudian, pada tanggal 7 Maret 2012 kembali ditandatangani Arrangement Cultural Exchange Program Years 2012-2014 di Jakarta. Sebagai tindak lanjut penandatangaan Arrangement tersebut diadakan Joint Cultural Commision (JCC) RI-Iran di Jakarta pada tanggal 14-15 Juni 2012 antara Kemendikbud RI dan Kementerian Kebudayaan dan Bimas Islam Iran.

Di sektor ekonomi dan perdagangan, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Iran tahun 2008-2012 mengalami perkembangan positif dengan peningkatan sebesar 13,57 %. Meski demikian, potensi kedua negara yang sangat besar masih belum digali secara optimal.

Para analis menilai sanksi internasional terhadap Iran sebagai hambatan utama hubungan Iran dan negara-negara dunia, termasuk Indonesia. Tahun 2012, akibat sanksi baru sejumlah negara Barat terhadap Tehran, neraca perdagangan Iran dan Indonesia turun hingga $1,26 miliar atau turun 32,35 % dibandingkan periode yang sama tahun 2011 yang tercatat sebesar $1,856 miliar.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, volume perdagangan dari Januari hingga Juni 2013 lalu sebesar $303,50 juta mengalami penurunan sebesar 65,75 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 yang tercatat sebesar $886,14 juta.

Pada pertemuan KKB RI-Iran ke-5 tahun 2013, pihak Iran mengharapkan kerjasama ekonomi kedua negara tidak terganggu sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, serta perlunya upaya-upaya kreatif yang menguntungkan kedua pihak, khususnya dalam hal perdagangan.

Berbagai upaya ditempuh kedua negara untuk menggenjot peningkatan kerjasama di berbagai sektor. Selain menggelar pertemuan tingkat pejabat negara, kedua negara meningkatkan kerjasama budaya dan ekonomi yang melibatkan para budayawan, seniman dan pelaku bisnis.

Duta Besar Indonesia di Tehran, Dian Wirengjurit mengungkapkan optimismenya terhadap prospek hubungan ekonomi kedua negara.

“Seharusnya nilai neraca perdagangan Indonesia-Iran besar, bahkan di tahun 2015 ditargetkan bisa mencapai 8 atau bahkan 10 miliar dolar. Buat saya, ini satu tantangan..,” tutur Dian dengan optimis, November lalu.

Mantan Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Geneva itu menilai potensi Indonesia dan Iran saling melengkapi. Meski demikian, Dubes Indonesia di Tehran mengakui masih adanya tantangan utama peningkatan hubungan bilateral kedua negara. Yang paling utama adalah mengubah mindset masyarakat kedua negara, terutama pelaku bisnis.

Kini, dari Tehran angin segar harapan itu semakin kencang berhembus ke seluruh penjuru dunia hingga Bandung, pasca penerapan kesepakatan Nuklir Geneva antara Iran dan kelompok 5+1 pada 20 Januari lalu. Di kota Paris Van Java itu, pada tanggal 7-9 Februari 2014, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menggelar pertemuan khusus membahas upaya peningkatan kerjasama bilateral Indonesia-Iran dalam bentuk forum Kajian Kebijakan Luar Negeri (FKKLN) yang mengusung tema “Optimalisasi Hubungan Indonesia-Iran di bawah Pemerintahan Presiden Hassan Rouhani Pasca Pelonggaran Sanksi Iran oleh Negara Barat”.(Wa Ode Zainab Z Toresano: Kompas / IRIB Indonesia)

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one + 13 =