Kloning Monyet : Antara Peradaban dan Kebiadaban?

La Ode Zulfikar Toresano (JAKARTA, www.sorotparlemen.com, 30/1/2018) — Dalam suatu kesempatan (pada tahun ’90-an) memenuhi undangan memberikan Kuliah Umum untuk para mahasiswa baru pada sebuah perguruan tinggi di Jakarta, saya menerangkan bahwa peradaban abad ke-21 sangat dipengaruhi 4 jenis atau kategori sains dan teknologi (Sci-Tech), yaitu : (1) Ilmu bahan (material science); (2) Teknologi transportasi; (3) Teknologi informasi dan komputer/TIK; dan (4) Bioteknologi.

Skala atau satuan pengukuran untuk semua jenis Sci-Tech tersebut terus berkembang. Kalau di akhir dekade ’80-an, riset yang saya lakukan masih menggunakan skala mikro (10-6), kini sudah bergelut dalam satuan nano (10-9); dan anak saya menginformasikan bahwa riset-riset yang ia lakukan — sebagai peneliti dan dosen — bahkan sudah mulai melirik (mewacanakan) ke skala pico (10-12) alias “satu per sepuluh pangkat dua belas”. Anda bisa bayangkan, sekecil apa objek (makhluk) yang diamati/diteliti!!! Bukan tidak mungkin, suatu saat makhluk ghaib jenis jin — termasuk “tuyul” (hehe..hehe…) — pun bisa menjadi objek penelitian di laboratorium. Terlebih lagi, peta atau daftar frekuensi berbagai jenis atau spesies makhluk sudah cukup tersedia dalam khazanah ilmu fisika.

***

DARI bioteknologi, antara lain, dilahirkan metode rekayasa genetika, yang untuk tumbuhan disebut “transgenetic” (trans-genetika), sedangkan untuk hewan dan manusia disebut “kloning”. Sesuai dengan sunnatullah (hukum Allah yang berlaku di semesta, baik yang berwujud fisik maupun metafisik) semuanya melahirkan sisi manfaat maupun mudharat. Ini lah yang dikenal sebagai prinsip “the couple existence” (lihat QS Yâsin : 36).

Berbagai benih dan produk pertanian hasil proses transgenetic (rekayasa genetika), misalnya, meski tahan penyakit, tidak rentan perubahan iklim, berkualitas seragam (dengan tampilan super), dan produktifitasnya tinggi (sehingga harganya menjadi murah), namun banyak diprotes orang karena, antara lain, selain mematikan daya saing petani lokal juga diduga kuat memicu (mengakibatkan) aneka penyakit, salah satunya kanker.1 Celakanya, saat ini produk-produk hasil rekayasa genetika — seperti benih, pupuk, pestisida, dan aneka buah serta sayuran (juga pangan lainnya) — semakin banyak membanjiri pasar dunia, dan hal itu susah dibendung oleh berbagai negara karena telah diproteksi dengan sejumlah instrumen atau mekanisme kebijakan (dan aturan) yang berlaku dalam skala dunia, di antaranya WTO (World Trade Organization) dan GATT (General Agreement on Tariff and Trade); ditambah lagi dengan kemungkinan ulah atau aneka praktik lobying para komprador kapitalis atau tengkulak berdasi (lumpen borjuasi) yang menembus tembok-tembok ruang kerja para elite (oligarki/kartel) politik pengambil kebijakan.

Di Indonesia perusahaan-perusahaan yang diduga menyebarkan produk-produk hasil rekayasa genetika yang sangat berbahaya bagi kesehatan, antara lain, adalah Monsanto dan Cargill (keduanya berasal dari Amerika Serikat). Khusus untuk Monsanto, benih genetika yang dihasilkannya sangat meresahkan para petani kita karena berkategori Genetically Modified Seeds (GMO). Tragisnya, 78 persen pasar benih nasional dikuasai sejumlah perusahaan asing dan dua di antaranya berhasil menguasai 67 persen pasar benih.

Yang paling mengerikan dari capaian kemajuan bioteknologi itu adalah kemungkinan penyalahgunaan untuk penyebarluasan “bioterorism”, yakni jenis terorisme yang memanfaatkan aneka makhluk hidup hasil rekayasa genetika (baik yang sangat kecil hingga yang paling besar) untuk tujuan atau maksud-maksud destruktif.

Kloning Hewan Mamalia

Pada tahun 1996, Ian Wilmut dan koleganya dari Roslin Institute, Edinburg, Skotlandia, berhasil merekayasa lahirnya domba Dolly, mamalia pertama yang lahir tanpa didahului pembuahan. Rekayasa yang dimaksud adalah kelahiran tanpa induk jantan, sedangkan induk betinanya hanya dipinjam rahimnya; lalu dengan metode atau teknik SCNT (somatic cell nuclear transfer = transfer nuklir sel somatik) dimulai pengambilan sel epitel — dari jaringan payudara — domba betina (jenis Scottish Blackfire) berumur enam tahun dan memasukkannya ke dalam sel telur domba betina lainnya yang sudah diambil inti DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) atau ADN (Asam Deoksiribonukleat)-nya.

Keberhasilan tersebut kemudian menginspirasi para ilmuwan dunia dengan kesuksesan mengkloning puluhan jenis mamalia lain — masih dengan mengandalkan teknik SCNT — antara lain tikus, babi, rusa, sapi, kucing, dan anjing. Menariknya, dengan teknik yang sama (SCNT), kegagalan ditemui saat mengkloning “monyet”, hewan primata yang secara genetika merupakan kerabat terdekat “manusia”. Monyet yang dihasilkan terus saja tidak sehat. Rupanya proses kloning primata agak sulit karena untuk membentuk atau melahirkan monyet hasil kloning (tiruan) tanpa cacad, tidak cukup dengan sekadar mengambil inti dari sel kulit kemudian memasukkannya ke dalam sel telur. Dalam hal ini DNA sel embrionik untuk jaringan otot, kulit, dan lainnya sangat spesifik. Sehingga inti DNA donor harus direkayasa menyerupai DNA sel embrio muda; padahal untuk hal ini, setiap jenis spesies memerlukan mekanisme kimiawi khusus yang sangat kompleks.

ZZ dan HH, Monyet (hewan primata) Hasil Kloning

Pada 20 Januari 2018, jurnal Cell edisi online mempublikasikan keberhasilan Zhen Liu dan timnya — pada “Chinese Academy of Science’s Institute of Neuroscience” (yang direkturnya adalah Mu-ming Poo) — membidani dua monyet dalam melahirkan dua bayi monyet cynomolgus (Macaca fascicularis) hasil cloning/pengklonan, masing-masing bernama Zhong Zhong/ZZ (berasal dari kata zhonghua yang artinya “orang China”) dan Hua Hua (HH). Informasi tentang keberhasilan ini juga dimuat dalam situs www.telegraph.co.uk (www.sciencedaily.com)2 dan Kompas, 28 Januari 2018.

https://www.sciencedaily.com/images/2018/01/180124123231_1_540x360.jpg
Image Source: https://www.sciencedaily.com/images/2018/01/180124123231_1_540x360.jpg

Gambar (Foto) : Zhong Zhong (kiri) and Hua Hua (kanan), Dua monyet hasil kloning dengan metode transfer inti sel somatik (somatic cell nuclear transfer).
Credit: Qiang Sun and Mu-ming Poo / Chinese Academy of Sciences

Kesuksesan tersebut dicapai setelah menerapkan sejumlah teknik baru, yang awalnya menggunakan dua sel embrio asal, yakni dari jaringan “monyet dewasa (monyet jantan dewasa) dan “janin monyet yang digugurkan” (janin monyet jantan yang digugurkan). Dari 192 sel embrio yang diambil dari jaringan monyet dewasa, hanya 181 yang bertahan hidup (dalam cawan/tabung petri di laboratorium); dan kemudian dilakukan embryo transfer dengan mengambil 42 sel embrio untuk ditempatkan dalam kandungan monyet. Dari penempatan atau penitipan 42 sel ini, lahir dua bayi monyet (klon monyet) melalui operasi caesar; tetapi hanya mampu bertahan hidup selama tiga hari.

Sementara itu, dari sel embrio (dari) jaringan janin monyet yang digugurkan, diambil 149 sel embrio (asal); dan ada 79 yang bertahan hidup, juga dianggap cukup sehat untuk dipindahkan ke kandungan sejumlah monyet betina lainnya. Empat monyet berhasil hamil, tetapi kemudian dua mengalami keguguran. Monyet-monyet yang hamil itu lah yang masing-masing berhasil melahirkan ZZ dan HH.

Peluang Kloning Manusia dan Revolusi Peradaban?

Keberhasilan mengkloning monyet tersebut bukan saja memberikan kontribusi bermakna bagi ilmu pengetahuan, tetapi juga berpeluang besar membentuk peradaban baru yang sangat revolusioner di masa mendatang. Mengapa? Karena spesies manusia sama dengan monyet, yakni “primata”. Artinya, terbuka peluang keberhasilan mengkloning manusia. Atas dasar asumsi yang rasional dan saintifik ini berbagai penyakit manusia, misalnya, yang sulit diobati, seperti penyakit alzheimer, jantung, stroke, autis, diabetes, dan epilepsi berpeluang besar bisa disembuhkan lewat studi (rekayasa) genetika, terutama yang terkait dengan faktor pemicu penyakit-penyakit tersebut. Masalahnya, bagaimana jika risetnya diarahkan untuk berbagai maksud destruktif, misalnya untuk kepentingan militer (bioterorism) atau politik kekuasaan (eksploitasi)? Bukankah hal itu akan menciptakan dislokasi dahsyat bagi tatanan kehidupan manusia?

***

MEMANG benar untuk kepentingan pengobatan (medical need) — meskipun berhasil mengkloning domba (Dolly) — Ian Wilmut lebih menyarankan penggunaan teknik atau metode sel punca yang mampu menumbuhkan sel (sel punca) melalui fragmen/jaringan kulit (atau jaringan otot dan jaringan lainnya), yakni mengambil inti dari sel kulit kemudian memasukkannya ke dalam sel telur, sehingga tidak perlu memanfaatkan embrio (sel embrio) makhluk hidup (The Telegraph, 16/11/2007).3 Tetapi, Wilmut kan menggunakan hewan mamalia (domba) sebagai objek penelitiannya, sedangkan Zhen Liu — dan para koleganya — memanfaatkan hewan primata (monyet). Lagi pula, bukankah DNA sel embrionik sangat spesifik dan berbeda dengan DNA sel dari jaringan kulit, otot, atau lainnya? Kemudian, teknik yang digunakan Zhen Liu pun sudah lebih maju daripada teknik SCNT yang diterapkan Wilmut, antara lain mengganti sel embrio asal dari jaringan monyet dewasa dengan sel embrio asal dari janin monyet yang digugurkan; atau merekayasa inti DNA embrio (sel embrio) donor menjadi menyerupai DNA embrio muda, dan juga bahwa — dalam penelitiannya — Zhen Liu menggunakan mikroskop baru (canggih) yang mampu mengamati inti sel dengan lebih baik.

Apakah keterbatasan metode SCNT yang dipakai Wilmut-lah yang justru mengakibatkan banyaknya kegagalan penelitiannya, di mana domba Dolly merupakan satu-satunya yang berhasil dari 277 percobaan yang dilakukannya? Kemudian bukankah bisa jadi keterbatasan metode itu pula yang membuat sejak awal kelahirannya, Dolly dihinggapi sejumlah penyakit, terutama kanker paru dan artritis (radang sendi akut), sehingga ia terpaksa disuntik mati pada usia 6,5 tahun?

Dari capaian penelitian Zhen Liu, di mana yang dijadikan bahan baku kloning (sel embrio asal) adalah sel embrio dari jaringan janin monyet yang digugurkan, apa kah kemudian para peneliti juga akan mampu (berhasil) membuat “kloning manusia” dengan cukup mengambil sel dari jaringan janin manusia (yang digugurkan) untuk menghasilkan sejumlah embrio, dan nantinya dari di antara embrio yang hidup dan sehat akan dipindahkan — dilakukan embryo transfer — ke dalam rahim perempuan (ibu) untuk memasuki fase mengandung (pregnant)?

***

MEMANG pada tahun 2005 PBB menyerukan agar semua negara melarang upaya kloning pada manusia karena dinilai sebagai ancaman kehidupan manusia dan martabatnya. Tetapi, seandainya juga ada peneliti yang nekad berinisiatif melakukan riset tentang kloning manusia, dan kemudian terbukti berhasil, bukankah hal itu berarti kelak terjadi dekonstruksi (meminjam terminologi postmodernisme/mazhab Perancis, dengan tokohnya antara lain Derrida dan Faucoult) atas teori evolusi atau seleksi alam (survival of the fittest), yang digantikan oleh “Hukum Kuasa Para Peneliti Rekayasa Genetika”.

Dalam hubungan itu, jika ke dalam otak makhluk hasil kloning (monyet ZZ dan HH dan mungkin juga nantinya “manusia”) diinjeksikan “gen” yang menjalankan fungsi indera “proprioception” (indera keenam) atau “Extra Sensory Perception”/ESP, yakni semacam gen PIEZO2 pada tikus, bukankah ia akan mampu memiliki kepekaan atau kemampuan merasakan adanya kekuatan atau gaya di sekitarnya (yang kepekaannya hampir sama seperti ketika seseorang menekan kulit kita)? Apakah ini kemudian bisa membuka peluang kemampuan merasakan keberadaan makhluk-makhluk “ghaib”? Sekadar catatan, gen PIEZO2 pada tikus memiliki sifat-sifat : (1) Mampu menangkap informasi di lingkungan sekitar, yang tidak bisa dilakukan oleh indera biasa atau “panca indera”; dan (2) Dapat memerintahkan sel-sel tubuh untuk memproduksi protein “mechanosensitive” (yang juga berperan dalam kemampuan proprioception).

Seandainya peluang tersebut bisa terwujud, akankah yang paling dibutuhkan manusia di masa mendatang adalah mendirikan sebanyak mungkin “pabrik gen”, di antaranya yang dapat menghasilkan produk semacam gen PIEZO2 itu?

Sejalan dengan ini, bukankah perlu pula digalakkan riset untuk meningkatkan kemampuan fungsi ESP agar kepekaannya menjangkau alam supernatural (terlebih lagi peta/daftar frekuensi gelombang berbagai jenis atau spisies makhluk hidup sudah cukup tersedia dalam khazanah ilmu fisika)? Atau, dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kualitas fungsi ESP, maka ke dalam otak monyet/manusia hasil kloning (MK) mungkin perlu ditanamkan “computer chip”, sehingga MK itu bertransformasi menjadi spesies “Bio Robotic” atau “Cyborg” (Cybernetic Organism), yang dikendalikan melalui perangkat “Artificial Intelligent”/AI (yang terintegrasi dengan “machine learning” serta “deep learning”) sehingga memiliki kemampuan analitik yang mandiri (swa-analitik).

***

DI atas semua itu, kita harus jujur mengapresiasi pengorbanan para “monyet relawan penelitian (MRP)”, yang notabene juga adalah saudara satu spesies kita (manusia), karena mereka telah berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengatahuan dan peradaban. Bahkan, Iran — yang dicap sebagai “Poros Setan” oleh Amerika Serikat (padahal Rasulullah Muhammad Saw menyebutnya sebagai bangsa yang mewarisi keimanan)4 — berhasil mengirimkan MRP ke luar angkasa.5 Bandingkan dengan negeri tercinta Indonesia yang baru mampu menjadikan (mengekspolitasi) monyet sekadar, antara lain, sebagai objek permainan akrobat “topeng monyet” dan menjadi “pekerja pemanjat kelapa”, padahal kita punya lembaga-lembaga penelitian bergensi, seperti LIPI, BPPT, dan lain-lain.

Lalu, apakah maqam para MRP itu lebih tinggi (mulia) daripada anjing yang disebutkan pada kisah ashabul kahfi dalam al-Qur’an? Bukan porsi kita untuk menjawabnya. Sebab kalau kita sok berijtihad seperti kaum neoliberal (ultra Mu’tazilah) yang nyaris tanpa kendali,6 niscaya kita akan langsung disergap — dengan tudingan “ahlu bid’ah” — oleh kaum neotaqfiri (alias Khawarij Gaya Baru/KGB); mirip dengan tudingan mereka mengkafirkan Syiah karena dinilai punya Qur’an versi sendiri (alias punya Qur’an yang telah mengalami perubahan atau “tahrif”), padahal : (1) Allah menjamin keterjagaan Al-Qur’an (QS Al-Hijr : 9); (2) Imam ‘Ali r.a berkata dalam khutbah 197 (dalam kitab “Nahjul Balaghah”), “Kemudian Allah menurunkan kepadanya Kitab (Al-Qur’an) sebagai cahaya yang tidak pernah padam, penerang yang tidak pernah pudar, rambu yang tidak pernah menyesatkan jalan …”; (3) Ayatullah Murtadha Muthahhari menyatakan (dalam bukunya, Al-Ta’arruf ‘alâ Al-Qur’ân Al-Karîm), “Sesungguhnya ayat-ayat Al-Qur’an telah mencapai tingkatan yang tidak mungkin terjadi perubahan atau penghapusan satu huruf pun di dalamnya”; dan (4) Kalau kita yang Sunni mau jujur, tanpa sadar dalam kitab hadits Sunni terkutib mengenai tahrif Al-Qur’an, misalnya Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya, meriwayatkan, “’Yahya bin Yahya menyampaikan hadits kepada kami, ia berkata, ‘‘Aku membaca dengan bacaan Malik, dari Abdullah bin Abi Bakar, dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah, dia berkata, Semula persusuan yang menyebabkan kemarhaman adalah sepuluh kali susuan seperti yang tersebut di sebagian ayat Al-Qur’an, kemudian dihapus dan diganti menjadi lima kali susuan oleh ayat Al-Qur’an tersebut. Lalu setelah Rasulullah SAW wafat, maka ayat Al-Qur’an lima kali susuan itulah yang dibaca”.”’

***

PARA ulama dan cerdik pandai memang harus siap-siap dengan perangkat kaidah filsafat hukum (ushul fiqh) dalam menghadapi begitu cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Misalnya, dalam hubungannya dengan pembicaraan kita, bagaimana hukumnya kemungkinan mengambil sel embrio asal dari jaringan janin laki-laki (manusia) yang digugurkan untuk dijadikan donor bagi pembuatan kloning manusia? Apakah janin tersebut sudah memberikan persaksian Rabbaniah di dalam rahim ibunya (lihat QS Al A’râf : 172), sehingga pemanfaatannya untuk kepentingan riset identik dengan pembunuhan makhluk (lihat QS Al Maidah : 32), yang mengakibatkan adanya konsekuensi fiqh (hukum Islam)? Ulama memang harus terus belajar dan membekali diri, bukan sekadar marah-marah; apalagi yang dipicu pengkondisian oleh permainan intelijen dunia (pelajari peta pertarungan ideologi global dan konstalasi politik internasional dari “berbagai” dokumen yang valid, bukan yang beredar di kaki lima!!!). Kemalasan atau ketakutan untuk berfikir (phronemophobia) niscaya mengakibatkan kelemahan berfikir, dan itu ancaman bagi keutuhan bangsa Indonesia (NKRI) dan kejayaan umat Islam. Padahal kaedah fiqh (Hadist Rasulullah Muhammad Saw) menyatakan, “Al-Islam ya’lu wala yu’la ‘alaihi” (Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam), yang sejalan dengan QS Ali ‘Imran : 139 dan Al-Mâidah : 3. [**]

——————————————-

Catatan :

1https://www.ciel.org/killing-us-softly-from-farm-to-plate/

2https://www.sciencedaily.com/releases/2018/01/180124123231.htm

3https://www.telegraph.co.uk/news/science/science-news/3314696/Dolly-creator-Prof-Ian-Wilmut-shuns-cloning.html

4 Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Al-Turmuzi, Al-Nasa’i, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Jarir dari Abu Hurairah, dikisahkan ketika turun ayat, “…… dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka,” (QS Al-Jumu’ah : 3), para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Rasulullah Muhammad Saw lalu meletakkan tangan beliau di atas kepala (pundak) Salman Al-Farisi seraya bersabda: “Andaikan iman terletak di bintang Tsurayya (Kejora), orang-orang dari kelompok ini (maksudnya adalah Salman yang berasal dari Persia/Iran) akan dapat menggapainya.”

5 https://news.sorotparlemen.com/index.php/2014/12/14/iran-berhasil-mengirimkan-monyet-tahap-kedua-ke-luar-angkasa/

6 Kelompok neoliberal atau Neomu’tazilah   (tafwidh) memang sangat liberal dalam berfikir, bahkan sangat   getol   menafsirkan  ayat-ayat  Al-Qur’an.  Begitu   getol-nya  sehingga, oleh  kalangan  tertentu, aktifitas  berijtihad   mereka   dianggap  mirip  penyakit   ngompol   atau kencing tak terkendali (inkontinesia   urin).  Dalam  wacana   kedokteran, apabila   seseorang   mengalami  kerusakan  klep   splinter, maka  ia  akan  menderita    ngompol  yang  tidak  terkendali.  Maka  hasil  ijtihadnya  bukan  lagimemberi  kesejukan, malah  menyebarkan  bau sangit  (pesing / urine)Apalagi  jika  si  penderita   doyan  makan (suka melahap)   jengkol atau petai china.

Facebook Comments

You May Also Like