Lawatan Presiden Jokowi ke Timur Tengah, antara Manfaat Ekonomi bagi Indonesia dan Dampak Wahabisme?

jokowi-ke-timur-tengahJAKARTA, www.sorotparlemen.com — Lawatan Presiden Joko Widodo selama lima hari pada pekan lalu — Jum’at hingga Selasa (11- 15/9) — ke tiga negara Timur Tengah, anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar, dinilai sebagian kalangan  merupakan momentum untuk meningkatkan hubungan kerja sama dengan negara-negara tersebut  mengingat Arab Saudi merupakan mitra dagang terbesar RI di kawasan Timur Tengah (dengan volume perdagangan Indonesia-Arab Saudi tahun 2014 yang mencapai 8,6 miliar dollar AS), UEA adalah tujuan utama ekspor Indonesia ke Timur Tengah (dengan volume perdagangan Indonesia-UEA tahun 2014 yang mencapai 4,25 miliar dollar AS), dan Qatar sebagai penyumbang investasi negara Timur Tengah ke Indonesia (dengan volume perdagangan Indonesia-Qatar tahun 2014 yang mencapai 1,68 miliar dollar AS). Sementara, nilai  investasi Arab Saudi (pada semester I-2015) dan UEA (pada 2014) di Indonesia  masing-masing   mencapai  29,3  juta dollar AS  dan  25,365 juta dollar AS.

Dalam kunjungan kerja sama  ke tiga negara (yang telah menjelma menjadi trio kekuatan raksasa dalam politik, ekonomi, dan militer dunia Arab) — yang juga akan ditingkatkan melalui kerja sama strategis antara Indonesia dan GCC — itu Presiden Jokowi, antara lain, menemui Raja Arab Saudi Salman bin Abdulazis di Jeddah, Putra Mahkota UEA Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan di Abu Dhabi, dan Emir Negara Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani di Doha.

Kendati demikian, kunjungan kemitraan yang diproyeksikan untuk menandingi pengaruh Tiongkok dan Jepang itu, ada juga pihak-pihak yang mempertanyakan implikasinya bagi prospek kehidupan umat Islam Indonesia yang toleran (tasamuh) di masa mendatang, mengingat tiga negara ini terlibat kekerasan militer di Yaman (yang secara genealogis historis merupakan daerah asal para Habaib/Habib keturunan Rasulullah Muhammad Saww yang menyebarkan agama Islam di Nusantara), di mana kebijakan intoleran militeristik itu tidak  compatible  dengan  karakter kultural mazhab Ahlu Sunnah yang dianut oleh mayoritas umat Islam di Nusantara.

Lagipula bukankah investasi Arab Saudi yang masif di Indonesia, misalnya, akan membuat Muslim Nusantara semakin khawatir mengingat mazhab Wahabi yang dianut Kerajaan Saudi Arabia menganggap penghormatan atas situs-situs sejarah/keagamaan menjurus kepada perbuatan bid’ah (yang dilarang agama)?  Bukankah pelecehan dan penghancuran lebih dari 400-an situs sejarah/keagamaan — yang sangat bernilai sakral (di antaranya rumah Sayyidah Khadijah r.a dan makam Bunda Aminah r.a, Ibunda Rasulullah Muhammad Saww) — oleh Penguasa Kerajaan Arab Saudi (atas nama pembangunan/perluasan kompleks infrastruktur untuk memperlancar pelaksanaan ibadah Haji) banyak diprotes oleh umat Islam, termasuk pula yang  dikeluhkan Prof Azyumardi Azra dalam “Trending Topic Metro TV” pada Senin (14/9) ini?

Apa jaminan bahwa investasi yang akan dilakukan para penguasa/pengusaha Wahabi (yakni mazhab yang dengan seenaknya mengklaim dan mempropagandakan diri sama dan sebangun dengan mazhab Ahlu Sunnah wal Jamaah seperti yang kita anut di Nusantara ini) dari Saudi Arabia itu tidak akan menggusur situs-situs sejarah/keagamaan yang kita muliakan sebagai penganut Ahlu Sunnah (yang senantiasa memuliakan Rasulullah Saww dan Keluarga Suci beliau melalui pintu masuk “Shalawat”), dan sebagai komunitas  yang tidaksok suci menghakimi  paham-paham lain (agama, mazhab, dan keyakinan)?

***

KEMBALI menengok tragedi di Yaman, mengapa kita (khususnya umat Islam) atau DPR tidak mempertanyakan kepada Presiden Jokowi, bagaimana konsistensi Indonesia menegakkan amanat konstitusi: “Ikut serta menciptakan ketertiban dunia dan perdamaian abadi“, sementara tiga negara GCC tersebut terlibat langsung dalam pembantaian massal (terhadap kaum tertindas atau mustadh’afin) berdarah-darah di  Yaman?

Menariknya lagi, diberitakan bahwa Presiden Jokowi menyatakan bahwa termasuk dalam aspek ekonomi yang dibicarakan — dalam lawatannya ke Timur Tengah itu — adalah mendorong kemitraan dan kerjasama industri strategis, termasuk rencana pembelian beberapa produk alat utama sistem persenjataan (alutsista) oleh ketiga negara tersebut (Kompas, 12/9).  Selain itu Raja Salman memerintahkan sejumlah menteri utama menemui Jokowi di Istana Raja Faisal. Mereka adalah Menteri Keuangan Ibrahim al-Assaf, Menteri Luar Negeri Adeel al Jubair, Menteri Tenaga Kerja dan Perekonomian Mufrij al-Hakbani, Menteri Pertahanan Mohammed bin Salman Abdulaziz al Saud (Wakil Putra Mahkota), dan Kepala Badan Intelijen Khalid al Humaidan (Kompas, 14/9).

Mungkin rakyat Indonesia mampu menalari (mencerna) relefansi dan kontekstualitas pertemuan Presiden Jokowi dengan tiga menteri utama yang disebutkan pertama, termasuk juga yang disebutkan pada urutan keempat, yakni Menteri Pertahanan (yang mungkin antara lain untuk menegosiasikan  transaksi alutsista), namun sulit memahami  pertemuannya dengan Kepala Badan Intelijen Arab Saudi, terlebih lagi dalam periode sebelumnya, “Tajuk Rencana” Kompas  (11/12/2013) — juga The Jerusalem Post — pernah membahas pertemuan rahasia  antara  Kepala Intelijen Arab Saudi dengan Kepala Intelijen Israel di Genewa, Swiss, akhir November 2013, yang benihnya telah ditebarkan sejak 3 Januari 1919 di Paris antara Putera Mahkota negara Arab tertentu dan Ketua Organisasi Zionis Dunia, yang melahirkan kesepakatan sembilan  pasal  (Kompas, 11/12/2013).  Pertanyaannya, apakah berbagai konflik yang terjadi di Timur Tengah (Dunia Islam) hingga saat ini merupakan bagian dari kelanjutan implementasi sembilan pasal termaksud?  Apakah Presiden Jokowi mencermati hal ini, sehingga bisa terhindar  dari  menyakiti  perasaan umat Islam Indonesia?

Lalu, apakah juga komisi yang membidangi urusan intelijen di DPR RI  sudah mengatahui apa saja agenda yang dibahas oleh Presiden Jokowi  saat bertemu Kepala Badan Intelijen Arab Saudi  itu? [**]

_____________________________

Wa Ode Zainab Zilullah Toresano dan La Ode Zulfikar Toresano (www.sorotparlemen.com, Senin, 14/9/2015).

Facebook Comments

You May Also Like

38 thoughts on “Lawatan Presiden Jokowi ke Timur Tengah, antara Manfaat Ekonomi bagi Indonesia dan Dampak Wahabisme?

  1. En estos casos, es importante hablar sobre el problema lo antes posible. Dado que no sólo hay causas orgánicas para la disfunción eréctil puede desempeñar un papel, o producirse también de cargas psíquicas y la comprensión de papeles del hombre, una terapia de pareja es útil a veces.

  2. Entre las diferentes causas psicológicas que determinan la disfunción eréctil, cabe destacar sobre todo el miedo al fracaso sexual, la presión a las exigencias sexuales de la pareja y la imposibilidad de abandonarse a los sentimientos eróticos, debido en muchas ocasiones a conflictos internos y a posibles sentimientos de culpa. Além disso, o médico faz também um exame físico em busca de deformidades no órgão genital, doenças na próstata, sinais de hipogonadismo ou sinais de doenças cardiovasculares ou de problemas neurológicos. Comprar cialis online seguro

  3. Forty-four percent of men between the ages of 60 and 69 years are affected by erectile dysfunction and 70 percent of men over the age of 70 have difficulty maintaining an erection.

  4. Buy cialis online canada. It is always worth consulting a physician about persistent erection problems, as it could be caused by a serious medical condition. Whether the cause is simple or serious, a proper diagnosis can help to address any underlying medical issues and help resolve sexual difficulties.

  5. These drugs work by widening the blood vessels, causing the penis to become engorged with blood. Another option is a medicated pellet that is inserted into the urethra and can trigger an erection within 10 minutes. Patients should discuss the use of these injections in detail with their doctor before use. Buy cialis online south africa. Male erectile dysfunction (impotence), also referred to as “ED,” is a medical term that describes the repeated inability to achieve and or maintain an erect penis adequate for sexual intercourse. Erectile dysfunction disorder is one of the most common sexual problems for men and the percentage of men with this problem increases with age. An estimated 15 to 25 million American men suffer from erectile dysfunction.

  6. Si no está del todo preparado para hablar con un terapeuta sobre su impotencia psicológica, hay algunas terapias alternativas que puede probar en casa. Del mismo modo, el estrés y las inquietudes relacionadas con la salud mental pueden provocar disfunción eréctil o empeorarla. Ir al terapeuta con su pareja también puede ayudarlo a resolver cualquier problema de relación que haya estado afectando su vida sexual para que ambos estén más satisfechos. Comprar Levitra on line. En contraindicaciones añadir: neuropatía óptica isquémica. Obesidad: Se trata de una enfermedad relacionada con la acumulación de grasa por la ingesta de una cantidad de calorías mucho mayor a la que el organismo puede gastar.

  7. Tienen menos efectos secundarios que las inyecciones y los fármacos, es sumamente aconsejable que se utilice un condón para que dicha crema no esté en contacto con la vagina. La terapia cognitiva conductual (TCC) es un tratamiento común y altamente eficaz para los problemas psicológicos en general, pero también para la DE. Comprar Viagra generico en malaga. Explicó que actualmente existen medicamentos para tratar este padecimiento, los cuales no solo contribuyen a tener una erección sino también mejoran la cantidad de espermatozoides y la calidad del orgasmo.

  8. They also sell cialis in a variety of presentations such as soft tablet, for men who have a difficult time swallowing pills, and in regular tablets which come in a variety of dosages.

Leave a Reply

Your email address will not be published.