Logika dan Dialektika (1) : Tuhan dan Ketakterhinggaan

La Ode Zulfikar Toresano (JAKARTA, www.sorotparlemen.com, 26/1/2018) — Dalam buku “Vicious Circles and Infinity” (Lingkaran Setan dan Ketakterhinggaan) ditampilkan potret sekelompok orang yang duduk (berjongkok) membentuk lingkaran, masing-masing duduk di atas pangkuan orang di belakangnya, dan sebaliknya mendukung orang yang di depannya. Putaran saling mendukung yang tertutup ini mensimbolisasikan konsepsi fisikawan John Wheeler tentang alam semesta. Dalam fisika kuantum dikenal ide-ide : “Fisika memunculkan keterlibatan pengamat; keterlibatan pengamat memunculkan informasi; dan informasi memunculkan fisika”. Di situ pengamat dan dunia (eksistensi) yang diamati saling terkait erat, sehingga disebut : “keterlibatan pengamat” (observer participancy). Dari perspektif mekanika kuantum, Wheeler menginterpretasikan bahwa hanya melalui aktivitas pengamatan semata realitas fisik dunia menjadi teraktualisasikan; tetapi, dunia fisik yang sama menurunkan pengamat-pengamat yang bertanggung jawab untuk mengkonkretkan eksistensinya.

Atas dasar ini, antara lain, Wheeler (yang juga didukung oleh sejumlah ilmuwan fisika kuantum) menolak sepenuhnya gagasan tentang hukum-hukum abadi (kekekalan atau “keghaiban”), dan bahwa “hukum-hukum fisika tidak dapat eksis dari keabadian menuju keabadian karena mereka mesti telah terwujud pada saat terjadinya dentuman besar yang mengakibatkan terbentuknya alam semesta (seperti dijelaskan dalam ‘Big Bang Theory’)”. Dengan kata lain, konkretisasi dunia fisik terus meluas ke hukum-hukum fisika itu sendiri, dan tidak ada kaitannya dengan “Hukum Keabadian”. Artinya, dari sudut pandang fisika kuantum yang Wheeler nalari, hukum-hukum transenden (Ilahiah) yang abadi tidak berperan dalam mewujudkan alam semesta.

Kaitannya dengan “lingkaran saling tertutup” seperti disebutkan tadi, Wheeler menggambarkan konkretisasi dunia fisik (dalam terminologi Islam bisa dipahami lewat rasionalitas perwujudan kehendak Allah SWT : “Kun fayakûn”, QS 36 : 81) sebagai “Sirkuit yang menggairahkan diri” atau “Putaran-putaran Partisipatoris Alam Semesta”, di mana alam semesta fisik (mungkin juga termasuk yang “non-fisik” dalam pandangan kita yang meyakini “ke-ghaib-an”) berusaha memunculkan sendiri eksistensi, hukum-hukum, dan apa pun yang terkait dengannya; bukan karena dorongan atau pengaruh dari “Kekuatan Maha Kuasa” di luar dari alam fisik itu sendiri.

Bahkan dari perhitungan rumus kontra “Dilatasi Waktu”, para fisikawan materialistik-ateistik niscaya mampu membuktikan tentang “pemampatan sang waktu”, sehingga tidak berlaku lagi “dimensi waktu (tempo)” untuk menciptakan atau membuat “ada” sesuatu.

***

ATAS dasar paparan tadi, kita lantas berimajinasi liar, seandainya kelak para fisikawan memahami kode genetika [ADN (Asam Deoksiribonukleat) dan ARN (Asam Ribonukleat)] partikel fisik John Wheeler yang telah berkonversi menjadi aneka wujud, dengan transformasi tingkat pertamanya (setelah jasadnya menjadi santapan berbagai jenis cacing tanah) adalah berupa “energi”, mampukah mereka memberdayakan daya konduksi partikel subatomik atau “quark” (yakni enam entitas dasar partikel yang berinteraksi dengan kuat membentuk materi nuklir) — yang tersebar di jagad raya — sehingga dapat berkomunikasi dengan sosok eksistensial (bisa juga dibaca : ruh) John Wheeler? Kalau saja mampu, bagaimana bila kita umat Islam numpang nitip pertanyaan kepadanya (Wheeler), apa pendapatnya soal prinsip penciptaan dalam Islam, di mana diyakini bahwa seluruh eksistensi diciptakan oleh Tuhan (Allah SWT)?

Apakah kemudian Wheeler potensial untuk menjawab dengan menggunakan teori “Putaran-putaran Partisipatoris Alam Semesta” yang dipahaminya, sehingga ia akan mengajukan pertanyaan balik : kalau misalnya A diciptakan oleh B; B diciptakan oleh C; dan seterusnya …. diciptakan oleh TUHAN (sebagai “Penyebab Utama” atau “Causa Prima”); maka berdasarkan prinsip kesinambungan (ad infinitum), seharusnya teori tentang Penyebab Utama itu menjadi tidak relefan (batal) sehingga memunculkan gugatan : Siapa yang menciptakan TUHAN, oleh karena DIA sendiri berfirman “Segala sesuatu ada penyebabnya” (min kulli say’in sababa)? Bukankah TUHAN harus pula konsisten memberlakukan “Hukum Sebab-Akibat” (Kausalitas) atas DIRI-NYA sebelum menerapkan hukum kepada ciptaan-Nya, atas dasar argumen : “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (QS 61 : 3), dan juga kaidah “takhallaqu bi akhlaqillah” (berakhlaklah kamu sebagaimana akhlak Allah)?

Bukankah rekaan pertanyaan (dari Wheeler) seperti itu seakan menegaskan bahwa logika penciptaan (dengan Prinsip Kausalitas) yang selama ini diusung sebagian umat Islam terkungkung pada alur dengan model siklus yang justru memperkuat teori “Putaran-putaran Partisipatoris Alam Semesta” hayalan Wheeler? Jika kita tidak mampu menjawab, dengan tepat, rangkaian pertanyaan rekaan Wheeler tadi, bukankah itu berarti kita sendiri yang “seakan” menjebak TUHAN masuk ke dalam putaran partisipatoris atau “Siklus Ketakterhinggaan” ala Wheeler? Naudzubillah min zâlik!!! Sekadar bantuan jawaban awal dari saya, dengan keterjebakan dalam (sangkar) hukum siklus ini, bukankah eksistensi “Pencipta” dan “Sesuatu Yang Diciptakan” menjadi tidak memilki garis atau batas demarkasi? Kalau demikian, logiskah, misalnya, pernyataan : Apoteker meracik obat, namun di saat yang bersamaan justru “obat” yang meracik “apoteker”? Tetapi, terkait dengan hal ini, untuk sementara, abaikan dulu konsep teosofinya Ibn ‘Arabi (1165 – 1240) yang sangat fenomenal itu (yakni teori “Wahdat al-Wujûd”), yang kemudian dielaborasi oleh filosof-sufistik/’irfânî asal Persia, Mullâ Shadrâ (1572-1640) lewat temuannya berupa teori “gradasi wujud” (tasykîk al-wujûd), yang ia sandingkan dengan konsepnya tentang “gerak substansial” (al-­harakah al-jauhariyyah). [**]

Catatan:

Tulisan seperti di atas merupakan bagian kecil dari materi training “Nilai Dasar Perjuangan”/NDP (Filsafat Ketuhanan) yang sejak tahun 1983 saya berikan secara kontinu — sebagai “Pemateri” (trainer) — kepada para peserta “Latihan Dasar Kepemimpinan” (LDK) di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Jakarta. Tidak lama setelah itu, pada paruh awal dekade 80’-an, saya pun terlibat aktif dalam “Kelompok Diskusi Rawamangun” (yang dikawal oleh Habib Omar Hashem Assegaf) dan “Kelompok Diskusi Srengseng Indah” (yang dikawal oleh Habib Zainal Abidin al-Muhdhor). Kemudian, mulai paruh terakhir dekade 80’-an, saya juga memperluas pelibatan diri dalam “Komunitas Pejaten”/KP (yang dibimbing oleh Habib Ali bin Yahya) dan “Kelompok Diskusi Cikoko-Tebet” (bersama Bang Zulfan Lindan). Lalu, pada paruh awal dekade 90’-an, Habib O. Hashem mengajak kami (sejumlah aktivis HMI dan alumni HMI) mendirikan “Masyarakat Indonesia Baru”/MIB. Pada KP dan MIB, saya diminta untuk membantu memimpin kelompok diskusi, di samping bertindak sebagai pemateri untuk diskusi-diskusi bertema “Strategi Perjuangan Politik” dan “Perbandingan Ideologi & Mazhab” (sejak dekade ’90-an, tema-tema ini juga saya berikan dalam training rutin di HMI). KP dan MIB turut berkontribusi dalam menumbangkan rezim despotik Orde Baru, terutama karena banyak anggotanya yang terlibat aktif dalam aksi-aksi lapangan yang merupakan bagian dari peran mereka sebagai tokoh mahasiswa dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan.

***

Serial “Logika & Dialektika” dimaksudkan untuk tukar-menukar pemahaman dalam rangka mempertajam nalar atau “aql” (la dîna liman la aqlalah = tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal) serta kemampuan berargumentasi, dan terutama untuk turut menyumbang pengenalan dan pemerkuatan pemahaman (ilmu) tentang “Tuhan” dan “Ketuhanan”, sebab “awal dari agama adalah mengenal Allah SWT” (awwalu dînu ma’rifatuhu). Ini juga sekaligus berusaha mengikuti jejak Imam ‘Ali karamallahu wajhah, yang menyampaikan pesan profetik : “Aku tidak akan menyembah Tuhan yang tidak kukenal”.

Bila di antara Pembaca yang budiman ada yang penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, silahkan bertanya kepada para ‘âlim atau cerdik pandai yang tersebar di mana-mana. Saya yakin jawaban dan bimbingan mereka akan sangat mencerdaskan dan membangun pencerahan (enlightenment). Bila di antara mereka ada segelintir individu yang menyusup (sebagai penumpang gelap alias “black goat”) dan mengaku-ngaku sebagai “Ustadz”, tetapi kerjanya suka mengharamkan atau membid’ahkan qunut, tahlil-an, shalawat-an, Yâsin-an, tabarruq melalui ziarah kubur, penyelenggaraan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan seterusnya, maka mohon Anda hadapi dengan kesabaran seraya sarankan saja agar daripada repot menyalah-nyalahkan sesama umat Islam yang berlainan mazhab (termasuk soal “social and political engineering” pembenturan Sunni-Syiah melalui operasi senyap berdimensi global), lebih baik “membantu” menemukan jawaban tepat atas pertanyaan-pertanyaan seperti yang tertampil dalam serial tulisan “Logika & Dialektika” di situs ini, karena tantangan (perang pemikiran) dari kalangan materialis (terutama materialis radikal) semakin dahsyat dan akut, bahkan nyaris susah dibendung; terlebih lagi mereka memanfaatkan kecanggihan aneka sarana teknologi. Bukankah bantuan demikian lebih bermanfaat dan bermartabat daripada sibuk menghabiskan waktu serta energi untuk menghasut dan menebarkan fitnah pecah belah — yang meluluhlantahkan potensi umat Islam — atas nama tafsir (pemahaman) kebenaran menurut subjektifitas mereka?

Di atas semua itu, insya Allah, materi dalam nomor-nomor serial tulisan “Logika & Dialektika” akan dikumpulkan dan, minimal, diterbitkan dalam format e-Book yang dapat diakses dalam situs ini (www.sorotparlemen.com). Bahkan bisa jadi di sana saya sertakan jawaban-jawabannya untuk melengkapi jawaban Anda (atau jawaban dari pihak lain yang Anda tanyai). Namun, harap maklum, bisa jadi jawaban saya kurang memuaskan. Maklumlah disiplin saya hanyalah teknik mesin, bukan sains murni (ilmu dasar).

Bila Anda berada dalam posisi seperti saya (“gemar mengajukan pertanyaan” dan mendapatkan candaan demikian), saran saya agar kutib saja pernyataan Claude Levi Strauss (lahir tahun 1908) : “Orang bijak tidak memberi jawaban yang tepat, melainkan mengajukan pertanyaan yang tepat.” Tetapi, hati-hati! Kalangan setan juga gemar bertanya, tetapi justru membuat mereka menjadi hina karena bermotif sekadar untuk membudikreatifkan ego sentris atau subjektifitas yang palsu, apalagi mengabaikan data dan ilmu pengetahuan (lihat QS 2 : 30). Maka, dalam setiap pertanyaan apa pun, minimal harus tersirat makna untuk pencerahan (enlightenment), keberdayaan (empowerment), dan “keadaban” (yang dimulai dari kejujuran serta kedalaman berpikir); bukan “kebiadaban” atau dekandensi yang memecah-belah (sebuah modus yang menjadi andalan setan). [**]
___________________

Image Source: http://techjin.co.jp/wp/wp-content/uploads/2017/06/miraie_ai_1.jpg 

Facebook Comments

You May Also Like