Lumpur Panas Lapindo dan Teori Fungsionalisme Struktural

Mwww.kaskus.co.identeri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengemukakan, pemerintah tak memiliki dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2007 untuk menalangi pembiayaan korban Lumpur Lapindo Brantas, Jawa Timur.  “Alokasi anggaran, apa pun namanya, harus dibicarakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Di APBN 2007  tak ada dana talangan untuk Lapindo,” ujarnya (Kompas, 21 / 3 / 2007).

Dari pernyataan tersebut segera imajinasi kita bergerak liar memplot aneka skenario mengerikan.  Sekarang saja para korban Lumpur tersebut sudah sangat menderita.  Belum lagi semburan lumpur panas itu semakin  banyak bercampur kerikil sebesar biji jagung yang menguatkan dugaan terjadinya mud  volcano  di Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Dengan semakin meluasnya eskalase dan intensitas  mud  volcano, tidakkah segera terbayang lumpuhnya jaringan urat nadi kehidupan (ekonomi) di Jawa Timur (Jatim) dan juga di Indonesia Bagian Timur (IBT) mengingat  Surabaya — sebagai Ibu Kota Jatim — merupakan produsen dan bandar distributor barang-barang ke kawasan IBT?

Kita tidak paham (ngerti)  teori-teori muluk dengan aneka pendekatan sains dan teknologi untuk mengatasi tragedi lumpur itu, mulai dengan teknologi yang menancapkan  pipa  casing  hingga memasukkan bola-bola beton ke perut bumi. Kita cuma tahu bahwa tragedi tersebut telah membuat masyarakat Porong tidak bisa nyenyak tidur dan “bola-bola” mata mereka terus terbelalak menatap ke layar lebar imajinatif yang menampilkan sekian ribu orang yang menahan sakitnya “perut” yang lapar dan pilunya hati karena tak ada dana APBN untuk dijadikan talangan.  Pada layar itu juga terproyeksi adanya dua kelompok orang.  Kelompok (berjumlah) kecil  berada pada tataran bermain-main dengan bola-bola beton untuk dihujamkan ke perut bumi, sedangkan kelompok besar, bola matanya terbelalak bingung seraya memegang perut mereka yang keroncong dan  mules akibat pernah disuguhi makanan basi di tempat pengungsian.

Di Porong tak ada pembahasan atau rapat-rapat seperti di parlemen yang  sok  ilmiah dan akademis lengkap dengan tim ahli, fasilitas proyektor (yang dilengkapi dengan  laptop), dan makan siang yang pasti membuat  iler para tukang ojek dadakan di sekitar  Porong.

Kelompok besar tidak pernah mampu berpikir rumit bahwa tragedi  lumpur tersebut merupakan gejala alam yang tidak ada kaitannya dengan aspek teologi (Tuhan).  Dan itu tentu saja berbeda dengan rekayasa pemikiran kelompok kecil yang doyan betul menggunakan dalil-dalil teknologi, saintifik, filosofis, epistemologis, ontologi, ganco-logi atau ngawuro-logi.

***

BERDASARKAN hierarki epistemologi  (nah  lo) sekularistik, sains dan agama masing-masing memiliki wilayah otonom, dan otonomi itu hanya bisa eksis bila premis-premis yang menyertainya terpenuhi. (Kayak   syarat-syarat perdukunan  aje!).

Bagi masyarakat Porong, sederhana saja: “Tiada bencana yang terjadi di alam semesta ini terkecuali akibat ulah manusia.”  Dan di situ bukan  “manusia” atau  “masyarakat”  Porong  yang berulah, melainkan  “manusia”  yang mengeluarkan dan mengesahkan kebijakan yang serakah menyedot isi perut bumi di luar daya dukungnya.  Tapi  kan di situ mengandung mineral atau gas-gas yang bernilai ekonomi dan bisa menyejahterakan rakyat?

Murid Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pun tahu bahwa tanah pasti mengandung unsur-unsur atau senyawa-senyawa kimia (termasuk yang berwujud gas) atau mineral.  Tapi apakah itu lantas dijadikan alasan untuk terus menguras bumi tempat kita berpijak dan mengambil kehidupan?  Begitu  dungu-nya para  makhluk  yang  sok ilmiah itu jika tidak mampu mencari sumber-sumber ekonomi alternatif yang lebih lestari  (sustainable) dan tidak merusak lingkungan hidup?  Anak-anak  SLTA pasti tahu Hukum Newton (Mekanika) III:  Aksi = Reaksi  atau  Aksi = – Reaksi.  Dengan kata lain, jika bumi terus dieksploitasi atau diperlakukan tidak adil (bahasa Ilahiah: di-dzalim-i), maka ia akan bereaksi melampiaskan kemarahan sesuai dengan bahasa yang dianutnya.  Dalam bahasa  Qur’ani, apa pun ciptaan Allah SWT memiliki bahasa tersendiri dan mereka terus bertasbih kepada  Sang  Khalik [Al-Qur’an Surah (QS) 61 : 1].  Dan bisa jadi apa yang terjadi di Porong merupakan salah satu dari keterpelantingan butiran tasbih semesta yang keluar dari untaiannya.  Dan bahwa keterpelantingan  itu berdampak struktural (bahkan menimpa orang-orang yang tidak berdosa), silahkan saja dipahami melalui teori fungsionalisme strukturalnya Talcot  Parson.

Jadi bagi kita yang awam filsafat ini hanya bisa mengatakan, dalam tataran operasional, sains dan agama bisa saja dipisahkan.  Namun, bukankah keduanya (semuanya) bermuara pada sumber yang sama  yakni  Sumber Segala Sesuatu atau  Sang Pencipta Rabbul  ‘Alamin? [**]

_______________

La Ode Zulfikar Toresano  (Aba Zul) adalah Koordinator  Umum

Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN) dan sejak Maret 2014 belajar  mengabdi sebagai  Pemimpin Redaksi  BUTONet 2.

Artikel ini pernah dimuat dalam Jurnal DPD Plus Digital  No. 16 / Tahun Ke-1,  21 Maret 2007 dan juga  Jurnal Parlemen Online (Jurnal ParlemenO). pada awal 2008.

Facebook Comments

You May Also Like

26 thoughts on “Lumpur Panas Lapindo dan Teori Fungsionalisme Struktural

  1. Por mucho reparo que dé, no se le debe ocultar información, ya que es un profesional de la salud y quien podrá determinar la causa y buscar una solución.

  2. You may need to make a few appointments. This type of hair loss usually affects just the scalp, but it sometimes also occurs in beards or eyebrows. Treatment is often entirely behavioral.

  3. Es importante diferenciarla de otros problemas sexuales, como la falta de deseo, las alteraciones de la eyaculación o los trastornos del orgasmo. Recomendaciones para evitar la disfunción eréctil. La adicción o la dependencia de la pornografía es una causa potencial para la disfunción eréctil que muchos hombres no consideran.

  4. Sexual dysfunction is more common as men age. According to the Massachusetts Male Aging Study, about 40% of men experience some degree of inability to have or maintain an erection at age 40 compared with 70% of men at age 70. And the percentage of men with erectile dysfunction increases from 5% to 15% as age increases from 40 to 70 years. Buy cialis online germany. It is common for men with erectile dysfunction to have an underlying physical basis for it, particularly in older men. However, psychological factors may be present in 10% to 20% of men with erectile dysfunction.

  5. Since the discovery that the drug sildenafil, or Viagra, affected penile erections, most people have become aware that ED is a treatable medical condition. Men who have a problem with their sexual performance may be reluctant to talk with their doctor, seeing it can be an embarrassing issue. Buy cialis online netherlands. However, ED is now well understood, and there are various treatments available. Erectile dysfunction (ED) is defined as persistent difficulty achieving and maintaining an erection sufficient to have sex. Organic causes are usually the result of an underlying medical condition affecting the blood vessels or nerves supplying the penis…

  6. Hoy es el día para dar el primer paso para buscar ayuda y resolver sus problemas. Dentro de esta categoría pueden destacarse los antihipertensivos y los psicótropos (antidepresivos sobretodo). Para lograr una erección y mantenerla, podrías necesitar más contacto directo en el pene. A veces, el tratamiento de una enfermedad no diagnosticada es suficiente para revertir la disfunción eréctil. Comprar Levitra en andorra.

  7. Tienen menos efectos secundarios que las inyecciones y los fármacos, es sumamente aconsejable que se utilice un condón para que dicha crema no esté en contacto con la vagina. La terapia cognitiva conductual (TCC) es un tratamiento común y altamente eficaz para los problemas psicológicos en general, pero también para la DE. Donde comprar Viagra generico barato. Explicó que actualmente existen medicamentos para tratar este padecimiento, los cuales no solo contribuyen a tener una erección sino también mejoran la cantidad de espermatozoides y la calidad del orgasmo.

  8. Personally I take a low dosage because of my height and my weight however some men who are bigger than me need a higher dosage of Cialis to get and to maintain an erection.

Leave a Reply

Your email address will not be published.