Mata Najwa: Rocky Gerung dan “La ya’rifu Wali illa Wali” (Satu Tahun Jokowi-Ma’ruf)

La Ode Zulfikar Toresano (JAKARTA, www.sorotparlemen.com, 23/10/2020) —— Sejauh ini, tampilan-tampilan dalam program Mata Najwa memang sangat menarik, namun kali ini jauh lebih menarik. Betapa tidak, tema yang diangkat adalah “Satu Tahun Jokowi-Ma’ruf, Berapa Skornya?” [1], yang juga kebetulan masih dalam suasana overheating mesin politik nasional terkait dengan terjadinya serangkaian unjuk rasa (demonstrasi) besar-besaran di berbagai daerah, menyusul pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law).

Dalam kesempatan di Mata Najwa itu, pengamat politik Rocky Gerung memberikan skor “A Minus” untuk kinerja setahun pemerintahan Jokowi-Ma’ruf.

“A plus untuk kebohongan dan A minus untuk kejujurannya,” tegas Rocky dengan nada dan gestur sinis.

Penilaian skor tersebut, lanjut Rocky, setelah setahun mengamati kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf, di mana kepercayaan publik semakin turun.

“Publik yang selama ini menitipkan harapan, kemudian dibatalkan oleh dua caption dalam koran Kompas kemarin; bahwa kepuasan hilang,” sindir Rocky.

Ia kemudian mengatakan, di sejumlah negara di Eropa ada sociological fact yang berbicara bahwa jika kepercayaan publik turun di bawah 50 persen, Perdana Menterinya meletakkan jabatan.

Sayangnya, Rocky tidak memberikan data pendukung atas klaimnya; antara lain berapa besar distribusi persentase dari faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan kepercayaan publik itu. Dalam hal ini, misalnya, berapa persen konstribusi dari dampak pandemik COVID-19, pengesahan UU Cipta Kerja, dan lain-lain, terhadap turunnya kepercayaan publik termaksud.

Terkait dengan itu, peneliti INDEF Enny Sri Hartati, yang juga sebagai pembicara dalam program Mata Najwa tersebut, mengatakan, memang kinerja bidang ekonomi pada satu tahun pemerintahan Jokowi-Ma’ruf tidak memuaskan. Tapi ini, kata Enny, lebih disebabkan dampak pandemi COVID-19, dan bahwa negara-negara lain pun mengalami penurunan kinerja ekonomi (akibat dari pandemi tersebut).

“Persoalan klasik mendominasi hampir semua eksekusi kebijakan ekonomi yang tidak patuh terhadap arahan presiden yang extra-ordinary,” tandas Enny.

Argumen Enny seakan turut dikuatkan oleh pembicara lain, politisi Partai Nasdem Irma Suryani Chaniago, bahwa pemerintah daerah masih banyak yang mementingkan kepentingan sendiri.

Tentu saja sodoran realitas yang terkesan pro-pemerintah itu tidak nyaman bagi oposan pemerintah. Politisi PKS Mardani Ali Sera, yang juga hadir dalam kesempatan tersebut, mementahkan paparan Enny dan Irma.

“Menteri Dalam Negeri punya instrumen untuk mengorkestrasi pemerintah daerah. Yang kurang dari pemerintah pusat adalah soal mengayomi. Ajaklah berbincang (pemerintah daerah)!” ujar Mardani.

Pertanyaan kita buat Mardani, bagaimana dengan sejumlah pemerintah daerah tertentu yang sulit memahami garis demarkasi antara “berbincang” dengan “bercincang”?

Dalam konteks ini kita kemudian teringat kesulitan Sayyidina Ali a.s. (tokoh yang sangat cerdas, adil, dan manusiawi) dalam menghadapi kelompok-kelompok oportunis politik yang keras kepala, susah diatur, dan menghamba pada berhala agenda politik mereka. Sebutlah misalnya Muawiyah bin Abi Sufyan dan gerombolan Khawarij yang dalam sejarah Islam dicatat banyak menciptakan kekacauan dan dekadensi dalam berbagai aspek kehidupan. Bukankah mereka punya pendukung sangat banyak, yang merupakan korban-korban propaganda dan manipulasi data/fakta/hoax (bahkan dibaluti dengan dalil-dalil agama)? Begitu rendahnya kualitas akhlak mayoritas ummat di masa itu, sehingga masuk akal cucu Imam Ali a.s., yakni Imam Zainal Abidin a.s. mengajarkan “Doa Keselamatan”, yang salah satu baitnya adalah : “(Ya Allah) karuniakanlan pada seluruh rakyat kejujuran dan kebaikan akhlak.”

***

DALAM kesempatan di program Mata Najwa itu Rocky juga mengibaratkan pemerintahan Jokowi Ma’ruf Amin seperti halnya “pernikahan”, bahwa ketika sudah tidak ada kepuasan dan kepercayaan, seharusnya pernikahannya bubar. Terlebih lagi rasa ketidakpuasan tersebut sudah muncul sejak malam pertama, yang dalam hal ini adalah masa-masa awal pemerintahan yang baru dilantik setahun lalu (20 Oktober 2019).

“Itu artinya, ini tahun pertama lho; sudah hilang. Sama seperti malam pertama pasangannya sudah tidak percaya, mestinya perkawinannya bubar,” ejek Rocky.

Luar biasa, Rocky mengambil analogi (qiyas) tentang “pernikahan”, meski dirinya belum menikah. Bukankah dalam atmosfer sufisme dikenal adagium, “La ya’rifu Wali illa Wali” (Tidak mengenal Wali terkecuali Wali)? Apakah kemudian Rocky terobsesi hendak menjadi “Wali Nikah” meski belum pernah merasakan lika-liku pernikahan? Apakah hal itu sejenis analogi berspektum kelancangan, yang masuk dalam kategori perilaku yang acap disindirkan oleh kalangan santri : “…. Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan” (Al-Qur’an Surah 61 :2)?

Tapi kan Rocky menganggap “Kitab Suci” (mungkin juga “agama”) sebagai “fiksi”, sehingga dalil santri itu tidak berlaku baginya. Laksana burung terbang (Holy Bird), agaknya ia semakin berbangga mengandalkan satu sayap filsafat yang berbasis pada nalar/otaknya (bukan “otak-otak”, sejenis penganan). Ia tak butuh satu sayap filsafat lainnya yang memuliakan intuisi atau pengamalan spiritual/imajiner (“sayr wa suluk” atau “mi’raj ruhaniyah”), sehingga burungnya Rocky tak layak berkualifikasi “holy/kudus”, padahal ilmu matematika pun (sebagai “the mother of science”) tak bisa beroperasi sempurna tanpa eksistensi “bilangan imajiner” (baca : “bilangan ghaib”), yang terkait dengan elaborasi misterius/ilahiah : integral tak terhingga, bilangan dibagi nol, akar minus satu, dan seterusnya; yang kemudian berkonvergensi lewat sistem komunikasi semesta dengan ilmu fisika kuantum, kerumitan neuro-science, dan seterusnya.

Mungkin keyakinan sistem pemahaman/pemaknaan filsafat satu sayap itu pula (termasuk di dalamnya adalah bahwa “Kitab Suci”/”Agama” adalah fiksi) yang antara lain membuat Rocky tidak merasa perlu mengomentari sebuah “perisitiwa nasional berspektrum keagamaan” (terutama dalam kanal YouTube miliknya), [2] yakni aksi kekerasan pembubaran Midodareni keluarga Habib Assegaf bin Jufri di Solo, pada Agustus lalu, oleh sekolompok radikalis intoleran takfiri (beraliran Wahabi-Salafi) yang diduga kuat merupakan anak buah terpidana terorisme Abu Bakar Ba’asyir, [3] padahal biasanya Rocky (yang pernah berceramah di Pesantren Ngruki, pimpinan Abu Bakar Ba’asyir) [4] sangat bernafsu mengomentari nyaris
kejadian apapun di negeri ini, apalagi peristiwa-peristiwa sensitif yang berdimensi HAM dan berspektrum nasional seperti kasus intoleransi brutal di Solo itu. [**]


CATATAN :
[1] https://www.youtube.com/watch?v=9hqWUmyLULo
[2] https://www.youtube.com/results?search_query=rocky+gerung+official
[3] https://www.youtube.com/watch?v=6lJ66sULD8Q
[4] https://www.tribunnews.com/nasional/2019/11/04/rocky-gerung-heran-pada-pesantren-gontor-dan-ngruki-mau-undang-dirinya-yang-lain-enggak-mau-datang

Image Source: https://cdn-2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/nana-rocky.jpg

You May Also Like