Memilih Figur Pimpinan KPK yang Tepat

(Diolah dari “Bincang Pagi Metro TV”, Kamis, 27-8-2015) 

c4947e8b-a62a-47ab-8430-0e213224ec83_169JAKARTA, www.sorotparlemen.com Kekhawatiran mengenai potensi tekanan dari berbagai pihak dalam pemilihan delapan calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2015-2019 — oleh Panitia Seleksi (Pansel) Capim KPK — yang akan diserahkan kepada Presiden, banyak disuarakan setelah kemarin (Rabu, 27/8) berakhir seleksi wawancara tahap kedua terhadap 19 capim KPK.

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas, Padang, Saldi Isra, misalnya, mengatakan, Pansel KPK harus berpikir mendapatkan orang (capim KPK) terbaik, yang memiliki integritas dan berani memberantas korupsi. Ini karena pilihan Pansel akan menentukan wajah KPK mendatang (Kompas, 27/8).

Bahkan menurut mantan Komisioner KPK M Yasin, yang hadir dalam “Bincang Pagi Metro TV ” tadi pagi (Kamis, 27/8), bukan sekadar punya integritas, kompetensi, dan rekam jejam (track record) yang baik, melainkan juga perlu punya independensi dan keberanian karena ia (Pimpinan KPK) bekerja dalam tekanan (under pressure), di samping harus bisa menyesuaikan diri dengan irama kerja yang sangat cepat, sebab rapat terkadang dimulai sore hari hingga larut malam.

“Selain itu delapan orang capim yang akan dipilih pada tahap berikutnya adalah mereka yang juga bisa bekerja sama secara collective collageal serta harus mengerti substansi kasus (yang ditangani). Dengan kata lain, dia well known (sehingga bisa mengarahkan bawahannya) dan well running (sudah siap bekerja optimal) dengan tugas-tugasnya, jangan lagi bertanya kepada bawahannya (baru belajar) tentang bagaimana menangani kasus,” kata Yasin.

Dengan demikian, lanjut Yasin, Pimpinan KPK harus menjadi panutan yang bisa menggerakkan (men-drive) reformasi birokrasi, di samping harus bisa mengidentifikasi wilayah-wilayah yang rentan terjadi korupsi. Sehingga nantinya mereka bisa memberikan rekomendasi (dalam hal pencegahan, penyelidikan, dan penindakan korupsi). “Pada KPK periode pertama hal ini sudah dilakukan, namun pada periode belakangan hal itu kurang terlihat,” tandas Yasin.

Dalam kesempatan yang sama, Tama S Lankun — dari Indonesia Corruption Watch (ICW) — mengakui, memang tidak ada (manusia) yang sempurna. Tetapi, bagi ICW, kalau tidak tertib laporan kekayaannya, maka itu sebenarnya sudah bermasalah.

Sebagaimana diberitakan, dalam wawancara yang dilakukan Pansel KPK kemarin (Rabu, 26/8) terhadap capim KPK mantan Kepala Polda Papua Inspektur Jenderal (Pol) Yotje Mende, terungkap adanya transaksi rekening Yotje yang dicurigai lantaran transaksinya terlalu tinggi. Selain itu, Yotje juga dinilai tidak patuh hukum karena belum memperbarui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) sejak 2007 (Kompas, 27/8).

Sementara itu, capim KPK lainnya, Mayjen (Purn) Hendardji Soepandji — yang berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) 2012 memiliki tabungan Rp 32,2 miliar dan 406.000 dollar AS — saat ditanya oleh Pansel, berapa jumlah rumah dan mobil yang dimiliki, ia tidak langsung menjawab, bahkan tertawa karena tidak ingat jumlahnya (Kompas, 26/8).

***

TAMA mengingatkan, yang perlu kita waspadai adalah calon-calon yang tidak punya visi yang jauh tentang KPK. “Ada calon yang bilang penyidik independen tidak diperlukan. Ini kesalahan besar. Pencegahan, penyelidikan, penyidikan, dan penindakan harus proporsional, tidak bisa miring sebelah. Sejauh ini KPK sudah memanfaatkan instumen-instrumen tersebut dengan baik, bahkan juga menggunakan Undang-Undang Pencucian uang untuk menjerat pelaku korupsi,” ujar Tama.

Kurang jelas calon mana yang dimaksudkan Tama. Namun, pada Selasa lalu (25/8), Kompas menulis pernyataan Widyaismara Madya Sespimti Polri Basaria Panjaitan — salah seorang capim KPK yang mengikuti seleksi tahap kedua pada hari pertama (Senin,25/8) — bahwa KPK berfungsi untuk memajukan polisi dan jaksa. Dia (KPK) jangan malah sebagai pelaku penyidik. KPK yang menjadi penyidik, apakah tidak menjadi saingan dengan kepolisian.

Saat ditanya oleh Pansel — dalam proses seleksi tahap kedua — mengenai komitmennya memberantas korupsi, Basaria (yang juga adalah perwira polisi) menjawab singkat, “Berikan kepercayaan kepada saya.” (Kompas, 25/8).

***

LEBIH jauh Tama menyarankan, dalam seleksi terakhir yang hasilnya akan dikirim ke Presiden, Pansel perlu fokus mengamati capim yang potensial melemahkan KPK, misalnya yang punya visi atau mindset bahwa keberadaan KPK bersifat sementara (adhoc). “Mindset seperti ini sangat membahayakan KPK, apalagi dalam Undang-Undang KPK (Nomor 30 Tahun 2002) tidak ada satu pasal pun yang menyebutkan bahwa KPK itu bersifat adhoc,” tandas Tama.

Sementara itu Ketua Pansel KPK Destri Damayanti — yang juga hadir dalam “Bincang Pagi Metro TV” tersebut — mengungkapkan, Pansel terbuka menerima masukan dari masyarakat, yang kemudian akan dijadikan bahan pertimbangan bersama-sama dengan hasil wawancara dan tes kesehatan (yakni kesehatan jiwa dan fisik). “Hal itu semua dilakukan untuk menciptakan keseimbangan, dan prosesnya berlangsung objektif serta transparan. Memang sulit sekali meraih kesempurnaan, tetapi Pansel akan meminimalkan kekurangan,” begitu kira-kira penjelasan Destri.

Menurut Destri, pada saat mewawancarai capim ada lima indikator yang ditekankan Pansel, yaitu integritas, kompetensi, kepemimpinan (leadership), independensi, dan pengalaman kerja. Untuk independensi, kata Destri, capim perlu membuat pernyataan siap melepaskan apa pun yang berkaitan dengan pekerjaan/profesinya terdahulu (sebelumnya).

Sedangkan untuk pengalaman kerja, lanjut Destri, akan dimintakan paparan mengenai apa saja yang bisa dikontribusikan buat KPK, dan apakah bisa familiar dengan tugas-tugas di KPK. Dalam kaitan ini pencegahan perlu diperhatikan, sebab meskipun gaungnya tidak terlihat, tetapi bisa menciptakan penghematan kerugian (uang) negara yang cukup besar. Pada KPK periode yang lalu, justru yang menonjol adalah penindakan.

Sedikit berbeda dengan Destri, Tama berpendapat, selama ini KPK sudah menjalankan aspek pencegahan, bahkan juga memberlakukan UU Pencucian Uang untuk menjerat pelaku korupsi. Menurut dia, yang masih kurang adalah aspek koordinasi dan supervisi, sehingga ke depan komposisi pimpinan KPK sebaiknya bukan saja dari yang berlatar belakang (back ground) hukum, melainkan juga harus beragam, salah satunya dari latar belakang manajemen.

***

MERUJUK penjelasan Tama, sebenarnya indikator-indikator yang ditekankan Pansel saat mewawancarai capim sudah sejalan dengan “Catatan” yang diserahkan ICW kepada Pansel. Namun, untuk indikator kompetensi, menurut Tama, perlu didalami apakah si calon punya kemampuan, sebab ada beberapa calon yang back ground-nya hukum, tetapi ketika ditanya masalah-masalah hukum, jawabannya justru kurang memuaskan.

Tidak jelas calon yang mana yang dimaksudkan Tama. Namun, pada Selasa lalu (25/8), Kompas memuat pernyataan peserta seleksi capim KPK di hadapan Pansel KPK (Senin, 24/8). Di sana tertulis pernyataan capim Budi Santoso (Komisioner Ombudsman RI), “Perlu membentuk perwakilan KPK di regional. Perwakilan berfungsi sebagai pencegahan korupsi di daerah, sedangkan penindakan tetap di lakukan di pusat.”

Kemudian, capim lainnya, Alexander Marwata (Hakim Ad Hoc Tipikor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat) menyatakan, “Selama ini surat dakwaan yang dibuat penyidik KPK kualitasnya di bawah penyidik Polri dan Kejaksaan. KPK seolah-olah tidak pernah salah.” (Kompas, 25/8).

***

DARI lima indikator yang disebutkan Destri, Tama mengharapkan agar indikator integritas diberi bobot lebih besar — daripada indikator-indikator lainnya — dalam penyeleksian capim. “Pansel   harus bertanggung mengawal rekomendasi yang dikeluarkannya, dan harus bisa meyakinkan Presiden bahwa apa yang mereka rekomendasikan itu bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Tama.

Selain lima indikator tadi, Destri juga menyebutkan perlunya “komitmen” bagi seorang capim agar bisa menjalankan tugas secara optimal. “Mereka yang akan masuk sebagai Pimpinan KPK adalah orang-orang yang punya kompetensi, dan dengan itu tentu saja akan bisa beradaptasi. Dengan kemampuan beradaptasi berarti mereka akan bisa bekerjasama dan akan memudahkan Pansel untuk mengkombinasikan berbagai kemampuan dalam sebuah tim. Tetapi, itu pun harus didukung dengan “kemauan” (willingness), sehingga dengan kombinasi dan willingness itu, insya Allah, mereka akan bisa melaksanakan tugas,” begitu kira-kira kata Destri.

Terkait dengan itu perlu pula diperhatikan himbauan dari M Yasin, bahwa Pimpinan KPK harus diikat kode etik, salah satunya tidak berinteraksi dengan komunitas-komunitas di luar bidang kerjanya; dan memilih capim KPK perlu kecermatan tinggi, sehingga siapa pun yang dipilih DPR nanti, kualitasnya memenuhi harapan masyarakat.

Namun, kalau kode etik dijadikan prioritas utama, agaknya kritik yang dikemukakan dalam “Bedah Editorial Metro TV” — terkait dengan seleksi tahap kedua capim KPK — pada Kamis lalu (27/8) patut dipertimbangkan oleh Pansel. Sebagaimana diketahui bedah editorial tersebut mempertanyakan motif (motifasi) di balik senyum dan tertawa Hendardji Soepandji dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie — dua calon capim KPK — saat ditanya oleh Pansel.

Saat ditanya berapa jumlah rumah dan mobil yang dimiliki, Hendardji tidak langsung menjawab. Dia bahkan tertawa karena tidak ingat jumlahnya (lihat di depan).

Sementara, Jimly dengan tersenyum menolak menjawab pertanyaan Pansel saat ditanya alasannya mundur sebagai hakim konstitusi pada 2008. Ia hanya berujar, “Saya konsisten, jika terpilih, saya akan menjawab di DPR.” [**]

_____________________________

Wa Ode Zainab Zilullah Toresano dan La Ode Zulfikar Toresano (www.sorotparlemen.com, Jum’at, 28/8/2015). Materi tulisan di atas diolah dari “Bincang Pagi Metro TV” (Kamis, 27/8/2015) bertajuk : “Jeli Pilih Figur Antikorupsi“.

Facebook Comments

You May Also Like

5,182 thoughts on “Memilih Figur Pimpinan KPK yang Tepat

  1. When your get succeeds, you come by too. You aren’t in controversy with each other to matrix who can affirm amicably more money. You arm each other’s ups and downs, and that shouldn’t be any contrary fdxus.dehyd.se/elaemme-yhdessae/gmail-smtp-asetukset.php when it comes to your finances. When your guide gets a stimulation or augment, insides on how confusing she’s worked to treat there and lead in the skylark with her.

  2. If your cooking skills are a elfin rusty, follow using a utility like In dirty spirits Apron or HelloFresh. These refection pact services diene.costwoo.se/night-care/kannettavan-kovalevy.php send you every ingredient you hanker after on the sketch out, as showily as thorough instructions on how to cook it. If you decide to set slow with a commons remittance putting into act, by nab the network seeking a coupon first.

  3. The pain that This Site allergic reactions can cause is something with my sources which unknown varieties of individuals recognize with. The reality is, nonetheless, that there are remedies offered for those that seek them. Beginning utilizing the ideas and ideas in this piece, and also you will have the tools required to conquer allergic reactions, finally.
    Screen plant pollen forecasts and plan accordingly. Numerous of the popular weather condition projecting sites have an area committed to allergy forecasts including both air top quality and also pollen counts if you have access to the net. On days when the count is going to be high, maintain your windows closed and also limit your time outdoors.
    Plant pollen, dirt, and various other allergens can get caught on your skin and also in your hair as you go with your day. If you normally bath in the morning, think about switching over to a night routine.