Memperkenalkan Islam Kepada Anak (Bagian-1)

JAKARTA, www.sorotparlemen.com, 22/10/2020 (Penulis Iran : Shaista Yusufali) — Apakah kita menanamkan cinta kepada Allah Swt. di hati anak anak? Membesarkan anak-anak sedemikian rupa, dengan keikhlasan dan cinta kasih, hingga mereka terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan oleh Sang Pencipta adalah merupakan tanggungjawab dan kewajiban bagi setiap orang tua Muslim; namun seringkali kita tidak tahu bagaimana memulainya.

Dalam artikel ini izinkan saya berbagi beberapa prinsip dasar yang diambil dari tradisi Ahlulbayt (keluarga suci) Rasulullah Muhammad Saww. tentang “Wajibât” (kewajiban-kewajiban dalam agama), terutama shalat dan puasa, untuk anak-anak.

Memperkenalkan Tuhan dan Islam : Tanggung Jawab Setiap Orang Tua Muslim

Imam Ali Zainal Abidin a.s. mengatakan bahwa di antara hak-hak anak terhadap orang tuanya adalah : “Menunjukkannya menyembah Tuhan dan membantunya untuk menaati-Nya.” Setiap anak dilahirkan dengan kecenderungan alami atau fitrah menyembah Tuhan dan mengibadati-Nya. Sebagai orang tua, tanggungjawab kita antara lain menyediakan lingkungan yang sehat dan bebas, yang memungkinkan kecenderungan kecenderungan alami tersebut berkembang seraya melindungi mereka dari aneka pengaruh yang akan menghalangi kecenderungan atau keinginan mereka untuk beribadah.

Dalam dunia yang semakin materialistik, kita melihat betapa banyak orang tua memprioritas keberhasilan duniawi bagi anak-anak mereka. Bersyukur, para orang tua Muslim menyadari bahwa meski keberhasilan akademis dan finansial (material) memang penting, tetapi keyakinan keagamaan (aqidah) dan amal anak-anak mereka akan mampu menjamin kesuksesan yang abadi.

Pada sebuah kesempatan Rasulullah Muhammad Saww. mengatakan kepada para sahabatnya, “Celakalah anak-anak di akhir zaman nanti, akibat perilaku orang tua mereka.” Ketika beliau ditanya, apakah hal ini karena orang tua mereka tidak beriman (kafir), beliau menjawab, “Tidak; ia lebih disebabkan karena orang tua mereka yang beriman itu tidak mengajarkan perilaku-perilaku yang diwajibkan agama kepada mereka (anak), dan kalaupun anak berinisiatif mempelajari kewajiban-kewajiban dalam agama, orang tua mereka justru mencegahnya/menghalanginya.” (Mustadrak al-Wasail).

Mengajar dengan Keteladanan

“Ajaklah beragama dengan selain lidahmu.” Prinsip pertama yang patut disadari saat memperkenalkan praktik-praktik atau amaliah keagamaan kepada anak adalah dengan mengamalkan atau mencontohkan langsung hal yang kita anjurkan. Anak-anak, terutama anak kecil, pertama kali belajar melalui penglihatan (pengamatan), bukan dengan mendengar.

Ketika orang tua berusaha untuk shalat tepat waktu, apakah saat sedang bekerja, berada di tempat perbelanjaan, berlibur, di pertemuan sosial, dan lain-lain, tentu hal itu akan jauh lebih bermakna bagi seorang anak ketimbang sekadar menyuruhnya (untuk shalat). Lagipula, perilaku orang tua dalam lingkungan keluarga (di rumah) akan memiliki dampak mendalam dalam benak dan perasaan anak.

Jika mereka (anak) melihat perilaku orang tua meningkat kualitasnya saat berpuasa, misalnya, mereka kemudian akan menyadari kekuatan/kesakralan bulan Ramadhan. Sebaliknya, jika mereka menyaksikan orang tuanya sering menganjurkan beribadah, tetapi suka bergosip, temperamental, dan berperilaku tidak baik, misalnya; maka mereka niscaya akan menilai orang tua mereka mempraktikkan kemunafikan seraya berkesimpulan bahwa perilaku yang menyimpang dari Islam adalah pengabaian atas pengamalan peribadatan (keagamaan). [**]


Diterjemahkan oleh La Ode Zulfikar Toresano (www.sorotparlemen.com/WSPC) dari http://mahjubah.itfjournals.com/article_781.html

Image Source: http://mahjubah.itfjournals.com/data/mahjubah/coversheet/1337495321.jpg

You May Also Like