Memperkenalkan Islam Kepada Anak (Bagian-2)

JAKARTA, www.sorotparlemen.com, 22/10/2020 (Penulis Iran : Shaista Yusufali).

Memahami Kedudukan Peribadatan yang dianjurkan.

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Pada usia 7 tahun, kami anjurkan anak-anak kami untuk berpuasa sesuai dengan kemampuan mereka; setengah hari atau kurang lebih. Kami nasehatkan untuk berbuka puasa saat mereka lapar atau haus. Hal ini dimaksudkan agar mereka (melatih diri untuk) terbiasa berpuasa. Oleh karena itu, Anda harus dorong anak-anak (laki-laki) Anda untuk berpuasa mulai usia 9 tahun, dan sarankan untuk segera berbuka puasa kalau mereka haus atau lapar.” (Usul al-Kafi).

Ada banyak bimbingan-bimbingan para Imam Ahlulbayt Rasulullah Muhammad Saww. yang menerangkan perihal mengajari anak dalam peribadatan, dan juga tentang melatih anak-anak untuk melakukan amal-amal dalam usia serta cara tertentu.

Sungguh kita perlu mengamalkan bimbingan tersebut secara serius; namun dalam hal ini anak-anak harus merasa nyaman saat mendirikan shalat dan menjalankan puasa, misalnya, sebelum mereka mencapai usia dewasa.

Kendati demikian, penting untuk disadari bahwa bimbingan-bimbingan seperti itu mengarahkan bahwa setiap orang tua perlu terlebih dahulu meneladankan peribadatan tertentu (seperti shalat dan/atau puasa), sehingga anak akan terkondisikan untuk juga menunaikannya.

Orang tua tidak boleh menganjurkan semua anak harus melakukan amal-amal termaksud pada usia tertentu. Dalam hal ini mereka perlu memperhatikan kemampuan fisik, emosional, dan spiritual anak-anaknya, seraya terus mendorong untuk mendirikan shalat dan melaksanakan puasa.

Di beberapa komunitas kadang kala ada kesungguhan untuk menjalankan peribadatan; sayangnya ada kekeliruan dalam pengamalan oleh anak. Penting sekali disadari bahwa meski orang tua dapat mengajak anak-anak mereka untuk menunaikan ibadah, tetapi tidak tepat menetapkan kewajiban (peribadatan) bagi anak-anak.

Pada kalangan tertentu ditemui adanya pengaturan usia penunaian ibadah-ibadah termaksud. Misalnya, tidak jarang kita dapati orang tua yang begitu bangga memperkenalkan puterinya yang berusia tiga tahun mampu berpuasa sepanjang hari di musim panas. Tentu saja hal seperti ini tidak dianjurkan oleh para Imam Ahlulbayt, di mana anak-anak yang latihan berpuasa harus segera berbuka saat merasa lapar dan/atau haus.

Almarhum Ayatullah Bahjat r.a., salah seorang ulama irfan/tasawuf terbesar di zaman kita, mengatakan, ayahnya menganjurkannya untuk hanya melakukan amal-amal yang wajib, seperti shalat, sesuai dengan kemampuan. Padahal, ia (Ayatullah Bahjat di masa anak-anak) mampu menunaikan amal-amal keagamaan yang levelnya jauh lebih tinggi.

Kadangkala anak kecil memperlihatkan tekad dari dirinya sendiri untuk melaksanakan amal-amal peribadatan. Namun, jika hal itu dibiarkan akan dapat menyebabkan kerugian fisik dan mental yang mungkin tidak segera terlihat dampaknya.

Orang tua dengan anak kecil yang gemar berpuasa, misalnya, bisa meminta anaknya untuk berpuasa pada jam-jam tertentu saja di pagi hari, dan segera berbuka pada siang hari. Kemudian bisa melanjutkan lagi puasanya.

Para Imam Ahlulbayt mendorong anak-anak mereka untuk menjaga keseimbangan dan kesederhanaan (moderasi) dalam beribadah.

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata, “Ketika saya masih muda, saya pernah tekun beribadah. Ayahku kemudian mengatakan, ‘Wahai anakku, kamu dapat melakukan kurang dari ini. Sesungguhnya, bila Allah Swt. ridha dengan hamba-Nya, Dia senang dengan ibadahnya (meski) yang sedikit’.” (Usul al-Kafi). [**]


Diterjemahkan oleh La Ode Zulfikar Toresano (www.sorotparlemen.com/WSPC) dari
http://mahjubah.itfjournals.com/article_781.html

Image Source: http://mahjubah.itfjournals.com/data/mahjubah/coversheet/1337495321.jpg

You May Also Like