Memperkenalkan Islam Kepada Anak (Bagian-3)

JAKARTA, www.sorotparlemen.com, 30/10/2020 (Penulis Iran : Shaista
Yusufali).

Mengajar Anak Secara Bertahap
Imam Ja’far Sadiq a.s. mengatakan, “Ketika seorang anak mencapai usia tiga tahun, ajari dia mengucapkan kalimah ‘Lâ Ilâha Illallah’ sebanyak tujuh kali. Kemudian biarkan ia tumbuh hingga usia tiga tahun tujuh bulan dan dua puluh hari. Pada usia ini ajari ia mengucapkan kalimah ‘Muhammadurrasulullah’ sebanyak tujuh kali, dan kemudian biarkan ia berkembang bebas. Saat berusia lima tahun, ajarilah melakukan ‘sujud’; dan pada usia enam tahun, perkenalkan ia dengan praktik ‘ruku’, ‘sujud’, dan bagian-bagian lainnya mengenai ‘shalat’.” (Wasail al-Shia).

Dari nasehat Imam Ja’far itu kita dapatkan sejumlah pemahaman, di antaranya bahwa kita harus memperkenalkan agama kepada anak-anak sejak usia dini. Bahkan sejak belajar merangkak, keyakinan mereka tentang Allah Swt. sudah dapat dibangkitkan. Saat mereka tumbuh-berkembang dan memperlihatkan minat (rasa ingin tahu), kita dapat mengajak mereka untuk bergabung melakukan wudhu, shalat, dan puasa. Tetapi, semua itu harus dilakukan secara bertahap, dan tidak menganjurkan mereka melakukan banyak praktik peribadatan dan dengan terlalu cepat (sekaligus), yang potensial akan membuat mereka menjadi bosan.

Rasulullah Muhammad Saww. bersabda, ”Jangan menjadi seperti kuda yang ditunggangi; karena dipaksa kecepatannya, ia tak mampu mencapai tujuan dan tak ada (manfaat) kekuatan yang tersisa untuk penunggangnya.” (Usul al-Kafi).

Kelemahlembutan dalam Pendidikan

Terakhir; adalah merupakan tantangan bagi kita orang tua mengajari anak-anak untuk shalat dan puasa dengan cara-cara yang menyenangkan dan santai. Tentu kita menginginkan anak-anak mengakrabi tempat-tempat ibadah dan aneka aktifitas keagamaan.

Bila kita kasar dalam cara-cara pengajaran, kurang sabar, atau memaksa anak-anak saat mereka belum siap, maka akan menimbulkan trauma bagi mereka; mungkin hal itu akan terbawa hingga dewasa dan bahkan bisa mempengaruhi keyakinan keagamaan mereka. Dalam hal ini kita bisa menggunakan cerita-cerita untuk menyemangati anak, memberikan contoh-contoh sejumlah figur/tokoh, dan menerapkan metode kreatif seperti yang dipakai pada sekolah Islam tertentu dengan dimulai dari (pembentukan) “Shalat Club” (Kelompok Shalat) dalam rangka meningkatkan minat untuk mendirikan shalat di kalangan para pelajar.

Rasulullah Muhammad Saww. bersabda, “Islam merupakan agama yang mudah, dan untuk menjadi seorang agamis tidak sulit.

Mari kita berdoa kepada Allah Swt., semoga kita semua dianugrahi kebijaksanaan dan kekuatan dalam membesarkan anak-anak, sehingga mereka akan memiliki cinta untuk keimanan mereka dan menunjukkan minat serta semangat dalam beribadah, terutama menunaikan shalat dan puasa; bukan saja di masa anak-anak, tetapi juga terus berlanjut hingga dewasa (akhir hayat).

Semoga kita menjadi pengikut yang sesungguhnya dari Ahlulbayt Rasulullah Muhammad Saww. dan bukan termasuk dua kelompok yang disebutkan dalam “Salawat Sha’ban”: “Mereka yang (lancang) mendahului mereka (Rasulullah Muhammad Saww. dan Ahlulbayt beliau) akan tersesat, dan mereka yang tertinggal (jauh) di belakang mereka akan hancur.” [**]


Diterjemahkan oleh La Ode Zulfikar Toresano (www.sorotparlemen.com/WSPC) dari
http://mahjubah.itfjournals.com/article_781.html

You May Also Like