Menanti Jokowi Mengganti Menteri

(Resume dan olahan “Bincang Pagi Metro TV”, Rabu, 29/7/2015)

053658400_1414490340-jokowi-kabinet-aji-141028JAKARTA, www.sorotparlemen.com — “Isu soal reshuffle atau penyegaran alias penggantian menteri dalam  kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah sekitar tiga bulan terakhir diwacanakan. Dan yang paling banyak menyuarakannya adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), para pengamat, dan orang-orang partai politik (parpol). Presiden Jokowi justru hanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan wartawan. Itu pun sambil bercanda,” kata pengamat politik Yunarto Wijaya dalam acara Bincang Pagi di Metro TV (Rabu, 29/7). Begitu lamanya isu tersebut bersilewaran atau bergentayangan, maka masuk akal bila — dalam acara yang sama — Yendri Susanto, anggota DPR dari Partai Amanat Nasional/PAN, sampai seakan tidak sabar lagi seraya mengatakan, “kalau bisa reshuffle terjadi paling lambat Agustus ini, sebab nanti menjadi basi momentumnya”.

Yendri mungkin benar karena yang dikhawatirkan sebagian kalangan bukan saja momentumnya akan menjadi basi, tapi juga berpeluang dijadikan permainan bola liar oleh kelompok tertentu. Salah satu indikasinya, kini kencang beredar desas-desus (sassus) bahwa Koalisi Merah Putih (KMP) akan merapat ke Jokowi dalam rangka  reshuffle  kabinet.

Padahal, reshuffle justru bisa menjadi sebuah kebutuhan yang dapat dimanfaatkan oleh Jokowi untuk memperkuat soliditas kabinetnya dan untuk memperkukuh dukungan di parlemen. Maka, wajar apa yang disarankan Zulfan Lindan (anggota DPR dari Fraksi NasDem) — yang berbicara lewat telepon dalam Bincang Pagi  itu — bahwa  reshuffle jangan sampai dijadikan sekadar gosip atau wacana politik. “Jangan seperti di masa pemerintahan Presiden SBY dulu, yang terlalu banyak bertaburan isu reshuffle, tapi tidak kunjung  terealisir,” tandas Zulfan yang juga adalah salah satu ketua di jajaran DPP Partai NasDem. Ia mencontohkan, terlepas pro-kontra soal (mendiang) Presiden Soeharto, tapi — terkait dengan hal itu — pola yang diterapkannya patut ditiru; tanpa banyak publikasi, tiba-tiba ada menteri yang diganti.

Maka, kalau — dalam isu  reshuffle  itu — Yendri menyitir ungkapan, “Tidak ada asap kalau tidak ada api”, dari mana  asal api “reshuffle“?  Apakah dari ketersiratan contoh yang diberikan Zulfan barusan mengindikasikan adanya perbedaan sumber api dari yang ditunjukkan oleh Yunarto di awal tulisan ini?  Untuk menjawabnya diperlukan analisis politik tersendiri.

Namun, yang jelas, mengamati  gonjang-ganjing pemerintahan Jokowi akhir-akhir ini, Yunarto menyarankan perlunya penataan ulang koalisi parpol, dan itu berarti  perlu ada kompensasi politik. Tentu saja penataan ulang koalisi tersebut  kemudian  bisa juga berlanjut hingga  kepada  reshuffle  kabinet.

Kendati demikian, bagi Yunarto, reshuffle kabinet beda dengan tata ulang kabinet,  karena ia  (reshuffle) adalah hal biasa yang dimaksudkan untuk sekadar memperbaiki kinerja pemerintahan, bukan dalam konteks untuk  kompromi politik.

Oleh karena itu tepat sekali apa yang dimaksudkan Zulfan, bahwa reshuffle  tidak ada hubungannya dengan penjatahan kapling menteri-menteri  dalam kabinet untuk parpol-parpol tertentu. “Partai apa pun bisa diajak oleh Jokowi dalam kabinetnya, termasuk untuk terlibat di lembaga-lembaga pemerintahan lainnya. Seandainya semua menteri direkrut dari KMP, hal itu tidak masalah, asalkan bisa memajukan bangsa,” tandas Zulfan dengan masih tetap bersemangat seperti saat menjadi Ketua PB HMI dan wartawan  dulu.

Pasalnya, masih menurut Zulfan, koalisi atau perkubuan kadang hanya terjadi di tingkat atas, tapi belum tentu di level bawah, misalnya pada  tingkat anggota DPR.  “Saya, misalnya, dalam menyikapi isu-isu tertentu, kadang lebih klop dengan anggota DPR dari parpol-parpol yang tergabung dalam KMP ketimbang sesama anggota Koalisi Indonesia Hebat (KIH),” urai Zulfan yang disambut derai tawa Yendri  dan Yunarto.

***

KEMBALI  kepada soal  reshuffle, hampir senada dengan Zulfan, Yendri mengatakan bahwa presiden harus menunjuk menteri yang tepat, jangan tersandera kepentingan-kepentingan sempit. Selain itu, semua menteri (nanti) harus hanya taat kepada presiden, bukan lagi kepada pimpinan parpolnya.

Namun, harapan demikian cukup dilematis, kata Zulfan, karena saat mau memilih/mengangkat menteri, presiden harus terlebih dahulu meminta masukan (rekomendasi) dari  ketua partai. Akibatnya, loyalitas menteri yang terpilih dengan mekanisme/sistem seperti itu lebih tertuju kepada ketua partai yang merekomendasikannya.

Oleh karena itu, solusinya, menurut Zulfan, seharusnya presiden langsung saja memilih kader-kader (yang dinilainya) terbaik dari parpol mana pun, dan baru kemudian minta izin kepada ketua partai setelah menganggap tepat pilihannya. Dengan begitu, Zulfan menambahkan, loyalitas terkondisikan hanya akan tertuju kepada presiden. “Kalau sistemnya masih seperti sekarang, jangan salahkan jika loyalitas lebih ditujukan kepada ketua umum partai,” tandas  Zulfan.

Usulan  Zulfan itu mendapat pujian dan apresiasi dari Yunarto. “Kalau ada 10 orang saja yang berpikiran seperti Bang Zulfan, sangat baik sekali untuk penataan sistem politik kita, dan saya berharap ide ini mencerminkan sikap Partai NasDem,” harap Yunarto. Dengan begitu, masih menurut Yunarto, calon (menteri) yang dipilih adalah yang memiliki profesionalitas, dan orang itu bisa berasal dari kader partai.

***

SEAKAN hendak mempertahankan konsistensi atas usulannya tadi, Zulfan menyatakan, Partai NasDem mempersilahkan kepada Presiden Jokowi untuk menilai apakah sejauh ini kader-kader NasDem — yang duduk di kabinet — berkinerja baik (memuaskan) atau tidak, bermasalah atau tidak.  Seandainya dinilai tidak layak lagi, kata Zulfan, presiden bisa menggunakan hak prerogatifnya untuk mencopot menteri yang dimaksud, karena bagi NasDem, jika menterinya berkinerja buruk, bukan hanya rakyat yang akan dikorbankan, tapi juga partai akan terkena imbasnya.  Maka, menurut Zulfan, seandainya wacana reshuffle itu benar ada dalam benak presiden, ia (presiden) sudah bisa mulai melihat/menimbang menteri-menteri  mana  yang harus  diganti  atau dirotasi.

Dan hal itu, tambah Zulfan lagi, tidak akan mengganggu hubungan partai-partai dalam KIH, karena  koalisi  dimaksudkan untuk mengusung/mendukung pemerintahan Presiden Jokowi. “Malah, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menganjurkan bahwa meski kader Nasdem duduk di kabinet, tapi  harus  tetap  kritis  terhadap pemerintahan,” demikian Zulfan.

***

TIDAK seperti Zulfan yang terkesan pasrah, Yendri seakan memberikan kesan tersirat bahwa PAN mengharapkan kadernya untuk bisa duduk di kabinet. Setidaknya itulah yang dapat kita tangkap dari pernyataan Yendri, “Kita tunggu apakah PAN diajak atau tidak untuk duduk di kabinet, dan untuk hal itu PAN cukup banyak memiliki kader. Namun, keputusan yang objektif kita serahkan kepada Presiden Jokowi. PAN memiliki mekanisme internal tersendiri, apakah menerima atau menolak untuk  ikut  dalam kabinet yang akan  di-reshuffle”.

Dengan cerdas Yendri membungkus pernyataannya itu dengan kemasan yang menampilkan PAN sebagai partai yang nasionalistik. “Isu reshuffle menunjukkan kecintaan kami kepada negeri ini. Kalau PAN kencang meneriakkan reshuffle bukan berarti berambisi untuk memasukkan kadernya dalam kabinet, melainkan lebih didorong kecintaan kepada bangsa. PAN memberikan masukan-masukan yang argumentatif terkait dengan wacana reshuffle itu,” begitu Yendri berargumen.  Menurut dia, kalau tidak ada reshuffle, maka momentum untuk megembalikan kepercayaan rakyat akan semakin  anjlok  di  tengah kondisinya  yang menurun seperti saat ini.

***

DARI  perbicangan yang ditayangkan Metro TV dalam acara “Bincang Pagi” itu (Rabu, 29/7) dapat ditarik  resultan (resultante) bahwa reshuffle kabinet memang perlu dilakukan agar pemerintahan mampu menciptakan akselerasi  di berbagai bidang.  Namun, hal itu harus dilakukan dengan berdasarkan evaluasi cermat, yang menurut Yunarto dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor, yang disimbolkan dengan 3C, yakni : (1) Competency/capability; (2) Chemistry; dan (3) Coalition.

Yunarto menambahkan, faktor “competency” harus menjadi pertimbangan utama dalam melakukan reshuffle, dan faktor ini  harus  mendasari dua faktor  lainnya. Faktor chemistry, misalnya, tidak boleh dominan karena bila itu terjadi, berarti pertimbangan akan lebih mengandalkan perasaan.

Jika dari hasil evaluasi/penelitian cermat, akselerasi harus difokuskan pada bidang ekonomi, maka kemungkinan besar  reshuffle hanya akan terjadi  untuk  menteri-menteri  di bidang ekonomi saja.  Namun, jika  lemahnya  kinerja  ekonomi  kabinet yang dipermasalahkan, mungkin ada kelompok-kelompok yang  mengajukan  keberatan, bukankah kondisi ekonomi nasional  yang  terpuruk  saat ini  adalah resultan dari kondisi  perekonomian  “global”  (yang memang sedang menurun)  dan  “dalam  negeri”?  [**]

_____________________________

Wa Ode Zainab Zilullah Toresano dan La Ode Zulfikar Toresano (www.sorotparlemen.com, Kamis, 30/7/2015). Materi tulisan di atas  diolah dari  “Bincang Pagi  Metro TV”  (Rabu, 29/7/2015)  bertajuk : “Menanti Jokowi Mengganti Menteri“.

Facebook Comments

You May Also Like

30 thoughts on “Menanti Jokowi Mengganti Menteri

  1. When PDE5 is temporarily blocked by these medicines, it can’t break down the erection producing cGMP, so an erection can be achieved and maintained.

  2. Esto no sólo reducirá los problemas de erección, sino también promueve la intimidad en la relación. Algunos medicamentos antidepresivos causan disfunción eréctil.

  3. Viagra Et Cialis Prix Buy Propecia Online Reviews Vardenafil India Bay Pastillas Cialis Y Alcohol Cheap Real Fluoxetine Best Buy Progesterone In Internet

  4. Great write-up, I¦m normal visitor of one¦s web site, maintain up the excellent operate, and It’s going to be a regular visitor for a long time.

  5. Because penile vascular surgery is not recommended for aging males who have failed oral PDE5 inhibitors, ICI or IU therapies, implants are the next step for these patients. It’s important to move past any shame or embarrassment associated with erectile dysfunction. It’s of great value to have the first shot in the doctor’s office before doing this on your own. https://cialis.fun/get-to-know-cialis-better.html

  6. Most of the time, the side effects from sildenafil stop in three to five hours as the drug stops being effective as an ED treatment. Sildenafil can also potentially lead to more serious side effects, particularly in people with heart conditions or those who take other prescription medication. Buy cialis online france.

  7. Pero la disfunción eréctil no es necesariamente una parte inevitable del proceso de envejecimiento. Si bien la disfunción eréctil es un problema profundamente personal, no es algo que deba sufrir solo. La culpa y la vergüenza son sentimientos que comúnmente están relacionados con problemas de salud mental, como la depresión. Problemas persistentes para tener una erección. En muchos casos, se necesita un poco de prueba y error. Tradicionalmente los urólogos, quienes se especializan en problemas de las vías urinarias, han tratado la DE; sin embargo, los urólogos sólo son responsables del 25 % de las menciones de Viagra en 1999… https://comprarlevitra.com/

  8. Onde comprar Viagra generico mais barato. Dentro de la pareja también pueden darse estos problemas por motivos varios. Generalmente, la disfunción eréctil se corrige cuando se elimina o se controla la causa que la está produciendo. También hay que tener en cuenta que este problema está muy relacionado con la mente, con lo cual la persona que lo sufra varias veces suele sentir una presión añadida y tenderá a repetir el episodio por miedo y nervios ante que vuelva a sucederle.

  9. Imágenes guiadas: esta práctica consiste en calmar tu mente y ralentizar tu respiración mientras creas imágenes pacíficas en tu cabeza. En algunos casos el interrogatorio y la exploración física pueden ser suficientes para establecer un diagnóstico disfunciГіn erГ©ctil que es. Comprar Levitra en farmacia. El principal síntoma es sin duda la falta de erección o de una erección correcta para poder mantener un coito exitoso, pero a éste, se le suman otros sintomas de impotencia que puedes o no sufrirlos y te ayudarán a identificar tu problema y la intensidad del mismo.

  10. In a normal man, this PDE5 works in conjunction with cGMP to ensure proper blood flow to the organ when there is a sufficient level of sexual stimulation. However, when the balance between these two substances becomes upset, the PDE5 can begin to lower the amounts of blood that make it to the penis. This is where the main component of Cialis, called Tadalafil, comes in. – http://cialis.fun/

  11. In a normal man, this PDE5 works in conjunction with cGMP to ensure proper blood flow to the organ when there is a sufficient level of sexual stimulation. However, when the balance between these two substances becomes upset, the PDE5 can begin to lower the amounts of blood that make it to the penis. This is where the main component of Cialis, called Tadalafil, comes in.

Leave a Reply

Your email address will not be published.