Menyambung Kembali Hubungan Leluhur Masyarakat Ambon dan Buton

Oleh La Ode Abu Bakar

butonKetika saya berada di Jakarta (1999, Redaksi), sejumlah putera Ambon di sana menghubungi saya seraya meminta untuk menjelaskan lebih rinci soal hubungan leluhur antara orang Buton dan orang Ambon (Maluku), merujuk pada wawancara saya yang ditayangkan stasiun televisi RCTI dan TVRI pada tanggal 21 dan 22 Maret 1999. Agaknya, mereka sangat terkesan terhadap wawancara tersebut dan dengan antusias hendak mencari jalan penyelesaian atas putusnya hubungan tali persaudaraan antara masyarakat Buton dan Ambon setelah peristiwa “Kerusuhan Ambon” atau “Konflik Ambon”.

Lalu, dalam kesempatan pertemuan saya dengan mereka, saya katakan bahwa antara saya (masyarakat Buton) dan mereka (masyarakat Ambon/Maluku) pasti memiliki kesamaan pendapat dan itikad baik (tulus) untuk menjalin kembali tali persaudaraan yang terputus itu, terutama melalui pendekatan sosio-historis karena akan dapat mengungkapkan hubungan erat leluhur kedua belah pihak.

Sejujurnya, kita akui bahwa “Kerusuhan Ambon” telah mencabik-cabik rasa kemanusiaan, sehingga adalah kewajiban semua pihak untuk membangun kembali keutuhan dan persaudaraan seperti semula, sejak berabad-abad lampau. Sebagaimana diketahui, sejak beberapa abad silam, persaudaraan masyarakat Buton dengan masyarakat Ambon khususnya, dan Maluku umumnya (termasuk Maluku Utara sekarang — Redaksi), telah terjalin baik dan harmonis. Hubungan yang akrab itu terpatri dalam lubuk hati kedua belah pihak.

Untuk memenuhi harapan saudara-saudara kami dari Ambon itu, saya jelaskan beberapa hal penting: (1) Asal-muasal nama “Kepulauan Tukang Besi” (yang dulu masuk dalam wilayah Kesultanan Buton dan kemudian Kabupaten Buton, sebelum terbentuknya Kabupaten Wakatobi — Redaksi); (2) Puteri Raja Banda-Elat yang mengungsi di Pulau Wangi-Wangi [salah satu pulau (terbesar) dalam gugus “Kepulauan Tukang Besi” atau “Liwutompasi” yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara — Redaksi]; dan (3) Keberadaan sejumlah orang Ambon di Buton saat ini.

Asal Nama Kepulauan Tukang Besi

Realitas historis mengungkapkan bahwa pada abad ke-17 lampau, kapal VOC (Belanda) pernah berlabuh di pantai Pulau Wangi-Wangi dengan menurunkan 360 orang tawanan yang merupakan pengikut Raja Hitu — di Maluku — bernama “Tulukabessi”. Para tawanan itu adalah pejuang yang melawan VOC tatkala memusnahkan pohon rempah-rempah (terutama cengkeh dan pala) masyarakat, terkait dengan kebijakan “Hongi Tochten” yang dipaksakan oleh VOC.

Salah satu tempat penurunan para tawanan di Pulau Wangi-Wangi itu, oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama: “Patuno”, yang berasal dari kata  “patuhu-ano” (bahasa lokal), yang artinya adalah “tempat penurunan”, yakni penurunan para tawanan termaksud. (Tempat penurunan para tawanan tersebut diabadikan dalam sebuah nama desa: “Desa Patuno”, yang hingga kini masih ada — Redaksi). Adapun Raja Tulukabessi, oleh Belanda diasingkan di Batavia (Pulau Jawa).

Menurut penuturan turun-temurun para tetua Buton, suatu ketika para tawanan itu mengalami kehabisan perbekalan, yang kemudian mengakibatkan pemberontakan, di mana banyak serdadu Belanda dibunuh. Oleh penduduk setempat, persitiwa tersebut dilaporkan kepada Sultan Buton, sehingga dibuatlah kebijakan penyebaran para tawanan itu ke beberapa pulau di sekitarnya (semuanya masih dalam gugus Liwutompasi, yang kemudian dikenal dengan Kepulauan Tukang Besi — Redaksi), yakni Pulau Kaledupa (tepatnya di Wantoramata), Pulau Tomia (di Lagole), dan Pulau Binongko (di Palahidu).

Sebagai akibat dari kebijakan pemencaran para tawanan pengikut Raja Tulukabessi di empat pulau tersebut, maka sejak saat itulah gugus kepulauan — yang terletak di sebelah timur Pulau Buton — tersebut dijuluki “Pulau-Pulau Tuka Besi” (merujuk pada cara rakyat Buton melafalkan nama “Tulukabessi”). Pulau-pulau ini kemudian oleh Belanda dirubah dengan nama: “Tukang Besi Eilanden” atau “Pulau-Pulau Tukang Besi”.

Jelaslah, hadirnya para tawanan dari Ambon (Maluku) tersebut telah memunculkan nama baru (alternatif) bagi Liwutompasi, yakni “Pulau-Pulau Tukang Besi”, yang diangkat dari nama Raja Hitu: “Tulukabessi”, di mana ia (Raja Hitu) sebelumnya telah menjalin persahabatan akrab dengan “Negeri Buton (Butun)”. (Lihat “Catatan Redaksi BUTONet 2”).

Salah seorang tawanan yang menetap di Pulau Tomia adalah tokoh yang dikenal sebagai  Kapita Patipelo (Kapitan Patipelohi). Tokoh ini dikenal arif, dan sebagai penghormatan, masyarakat setempat memberinya gelar “Sangia-yi-Komba-Komba” [Yang Mulia di “Komba-Komba” (sebuah nama tempat di Pulau Tomia — Redaksi)]. Kapita Patipelo juga menikah dengan seorang puteri Tomia, yang kemudian memiliki dua anaknya: Wa Singku Jalima dan Wa Singku Ndea.

Wa Singku Jalima dinikahi oleh Ince Sulaeman, seorang ulama penyebar agama Islam di Pulau Tomia. Sejak itu pula Kapita Patipelo pindah agama, dari Nasrani ke Islam. Dan makam beliau hingga kini senantiasa diziarahi penduduk setempat.

Tokoh lain yang juga tawanan dari Ambon (pengikut Raja Tulukabessi), yang diasingkan di Pulau Binongko adalah Kapita Waloindi.  Tokoh ini dikenal sebagai pendekar sakti, sehingga dalam pergaulannya dengan penduduk setempat ia sangat dihormati.

***

DARI uraian di atas, kita terkesan, betapa baik hubungan para tawanan dari Ambon (Maluku) itu dengan masyarakat Buton di masa silam. Mereka saling menghormati dan hidup tolong-menolong yang didasari semangat persaudaraan yang tulus. Rakyat Buton sangat menghargai para tawanan tersebut yang justru dipandang sebagai pejuang-pejuang yang mempertahankan haknya, meskipun oleh VOC dianggap sebagai pemberontak.

Menurut riwayat, para tawanan yang tidak kembali lagi ke negeri asalnya (Ambon/Maluku) dan memilih untuk menetap di “Pulau-Pulau Tukang Besi”— karena tidak senang dengan VOC — meninggalkan pesan kepada keturunannya agar sering-sering berlayar ke Maluku memperkenalkan diri kepada keluarga mereka di sana, sehingga keluarga yang ada di Maluku mengetahui bahwa para tawanan itu memiliki keturunan di Buton. Mereka juga berpesan agar anak cucu mereka berminat untuk kembali menetap dan menikahi puteri-puteri Maluku agar hubungan Buton dengan Ambon/Maluku tetap terjalin, dan tidak terputus.

Banyaknya warga Buton yang tersebar menetap di berbagai pulau di Maluku, terutama di Pulau Ambon, merupakan bukti bahwa pesan para leluhur itu diwujudkan oleh para keturunannya, sehingga meski Buton dan Maluku dipisahkan oleh lautan, namun terkesan amat dekat. Realitas tersebut bisa saja merefleksikan bahwa ada kesan banyak penduduk Buton mengetahui bahwa asal leluhur mereka ada yang berasal dari Ambon (Maluku).

Menurut sebuah sumber, warga Maluku yang menggunakan  fam(marga) PelamoniaLewerisaRumatomiaKilitay, dan banyak lagi lainnya, adalah berasal dari anak cucu para tawanan Ambon (Maluku) yang diasingkan di “Kepulauan Tukang Besi” itu.

***

KALAU dihubungkan dengan “Kerusuhan Ambon” yang menyedihkan dan mengerikan itu — di mana warga Buton di Kota Ambon dibenci — maka hati kecil kita pasti menggugat: “Begitukah perlakuan mereka, jika di masa lampau masyarakat Buton memberikan air susu kepada para tawanan Ambon (Maluku), lalu mereka kini membalasnya dengan suguhan air tuba kepada orang Buton?” Pastilah orang Ambon yang berbuat demikian hanyalah mereka yang tidak pernah memahami sejarah leluhurnya, dan tidak mengerti hakekat balas budi; juga kurang mengapresiasi kontribusi masyarakat Buton yang ada di Ambon (Maluku). Bukankah selama ini, nelayan, pemikul bakul, buruh pelabuhan, penjaja ikan, pedagang pasar, penyapu jalanan, tukang becak, tukang ojek — dan lain-lain profesi yang halal, meski sebagian orang menganggapnya hina — di Kota Ambon, diperankan oleh orang-orang Buton?

Puteri Raja Banda-Elat Mengungsi di Pulau Wangi-Wangi (Wakatobi)

Ada lagi riwayat yang masih segar dalam benak sebagian masyarakat Buton, khususnya di Pulau Wangi-Wangi (sekarang sudah menjadi Kabupaten Wakatobi, bukan lagi Kabupaten Buton), meski peristiwa itu terjadi sekitar 5 (lima) abad lampau.

Dikisahkan, tokoh perempuan yang oleh masyarakat Wangi-Wangi dikenal sebagai “Wa Surubaenda” adalah berasal dari Kerajaan Banda-Elat (Maluku), yang juga adalah puteri Raja Banda Elat. Ia mengungsi meninggalkan negerinya bersama sejumlah besar pengikutnya karena menghindari pertumpahan darah perebutan kekuasaan menyusul kematian ayahandanya (Raja Banda Elat). Setelah beberapa hari berlayar, armada mereka menabrak karang (di wilayah karang “Koromaho”) dan akhirnya terdampar di Pulau Koba (Pulau Wangi-Wangi sekarang). Di pulau ini mereka diberi pertolongan oleh penduduk setempat dan kemudian menetap di sana secara harmonis.

Pada babakan selanjutnya, atas kesepakatan penduduk setempat, Wasurubaenda dinobatkan sebagai Raja (Ratu) — di Pulau Koba itu — setelah bersedia menikah dengan pemuda lokal yang kemudian dikaruniai 4 (empat) orang anak, berturut-turut bernama Gangsalangi, Wasurubontongi, Gangsauri, dan Patimalela. Mereka semuanya menjadi raja-raja kecil dengan wilayah kekuasaan masing-masing di Pulau Oroho, Koba Mandati Tonga, Tindoi, dan Pulau Kapota.

Karena keturunan Wasurubaenda mengetahui ada hubungan leluhurnya dengan penduduk di Banda, Ambon, Saparua, Haruku, Seram Gorom, Tual, dan lain-lain, maka tidak mengherankan bila banyak warga Buton lalu hidup menetap di berbagai pulau (semua terletak di Maluku — Redaksi) tersebut, apalagi masyarakat Buton sejak dahulu terkenal sebagai pelayar-pelayar ulung, dan seringkali berlayar ke Maluku, bahkan banyak menikah dengan penduduk di sana.

Oleh karena itu, kebiasaan masyarakat Buton merantau ke Maluku pada dasarnya adalah karena adanya pertalian leluhur. Dan bahwa keberadaan mereka di Ambon (Maluku) justru untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan Ambon/Maluku.

Keberadaan Orang Ambon di Buton Saat Ini

Dewasa ini banyak orang Ambon (Maluku) merasa betah tinggal di Buton dan tidak berminat lagi pulang menetap di daerah asal mereka. Ini antara lain karena anak cucu mereka telah menyatu dengan penduduk setempat dan menjalani kehidupan di Buton sudah dianggap seperti juga hidup di Ambon (Maluku).

Di antara mereka yang merasa nyaman tinggal di Buton antara lain keluarga yang ber-fam (marga) RisambessiManuhutuManuputiTeteleptaBerhitu, PikauliBremer, TanasaleNanlohiSiloy, dan  Sahertian (masih ada lagi lainnya).  Ketika terjadi kerusuhan di Ambon beberapa saat lalu, mereka gelisah dan cemas, khawatir orang Buton melakukan gerakan balas dendam. Namun itu semua tidak terjadi karena orang Buton — dalam hidupnya — tidak terbiasa memendam perasaan dendam. Itu terjadi karena mereka ditempa oleh falsafah hidup “Bhinci-Bhinciki Kuli” (Cubit-Mencubit Kulit) yang bermakna: “Pandai Memahami Perasaan” (orang lain). Dari falsafah inilah terbangun “Sara pata anguna” (empat pilar bermasyarakat): (1) poangka-angkataka (saling mengangkat derajat sesama atau membangun kepedulian sosial); (2) poma-mâsiaka (saling menyayangi dalam suatu ikatan yang kokoh dan tulus); (3) popia-piara (saling menjaga perasaan dan mengembangkan sikap saling memelihara); dan (4) pomae-maeka (saling segan dan menjaga kehormatan sesama atau menjunjung tinggi hak asasi manusia dan supremasi hukum/adat/kontrak sosial).

Masyarakat Ambon (Maluku) di Buton telah menghayati betul falsafah hidup masyarakat Buton itu dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, apalagi secara  implicit  hal itu identik dengan pesan para tetua mereka: “Ale Rasa, Beta Rasa”; juga prinsip hidup “Pela Gandong” yang intinya menekankan pentingnya menciptakan kerukukanan hidup dengan didasari tolong-menolong tanpa mempersoalkan perbedaan agama, etnis, dan status sosial.

***

DEMIKIANLAH penjelasan yang saya utarakan kepada putera-putera Ambon ketika saya berada di Jakarta beberapa saat lalu. Tentu saja itu semua didasari harapan agar dengan memahami sejarah tentang hubungan leluhur kita (masyarakat Ambon/Maluku dan Buton), maka mata-rantai yang terputus — terutama akibat dari “Kerusuhan Ambon” — itu bisa disambung kembali secara erat sebagaimana yang telah terbukti dipatrikan oleh para leluhur kita di masa lampau.[*]

*  * Penulis adalah budayawan dan sejarawan Buton yang banyak dijadikan sebagai nara sumber oleh para peneliti tentang Kebudayaan Buton, baik dalam negeri maupun luar negeri; selain sebagai Pemimpin Umum Majalah Budaya Buton “Wolio Molagi” dan Ketua Umum Yayasan Pelestarian Budaya Wolio Buton. [Artikel ini dikutib dan diedit kembali oleh La Ode Zulfikar Toresano (Pemimpin Radaksi BUTONet 2) — putera La Ode Abubakar — dari Majalah Budaya Buton “Wolio Molagi” Edisi II, Tahun I, Mei 1999].  Mengenai sekilas silsilah pengabdian kesejarahan keluarga Penulis — sebagai keturunan Sultan Murhum (Halu Oleo) — dalam menegakkan nilai-nilai kerifan lokal  Kesultanan Buton  atau melayani masyarakat (dengan kerendahan hati dan kehidupan bersahaja) dapat dilihat pada bagian awal artikel: “Ciri-Ciri Pemimpin yang Baik” (juga ditampilkan dalam subfitur “Kebudayaan” dalam web ini).

***

Catatan Redaksi  BUTONet 2

Ada dugaan kuat, tempat pengasingan para tawanan Maluku di Pulau Wangi-Wangi (Wanci) — seperti dikemukakan di atas — merupakan hasil kompromi antara VOC (Belanda) dan Raja Tulukabessi. Bukankah bisa jadi, Raja Tulukabessi menganggap Pulau Wangi-Wangi — yang berada dalam wilayah Kesultanan Buton dan masih dalam radius “Laut Banda”— sebagai tempat yang paling layak dibanding tempat-tempat pengasingan di daerah lain, atas dasar jalinan persahabatan Raja-Raja Maluku dengan para Sultan Buton jauh sebelumnya? (lihat antara lain subjudul: “Puteri Raja Banda-Elat Mengungsi di Pulau Wangi-Wangi” dalam artikeldi atas).

Selain itu, bukankah — ada kemungkinan — dengan melihat asal para tawanan itu pulalah, maka Sultan Buton berkenan menerima mereka? Sebagaimana diketahui dalam kurun waktu tertentu Sultan Buton juga melancarkan pembendungan imperialisme Belanda (VOC), yang antara lain tercermin dalam perang gerilya, melawan Belanda, yang dilancarkan oleh Sultan Buton ke-20: Himayatuddin Muhammad Saidi (1751-1763) — lebih dikenal dengan julukan “Oputa Yikô” — dengan mengambil tempat Gunung Siontapina sebagai Markas Besar (Mabes) pasukannya (Angkatan Darat dan Angkatan Laut). Atas dasar asumsi ini pulalah mudah dipahami mengapa Sultan Buton membiarkan penamaan gugus pulau-pulau tersebut sebagai “Pulau-Pulau Tuka Besi” (bisa jadi ini merupakan nama kenangan “Persahabatan” untuk Raja Tulukabessi), dan (Sultan) tidak pernah melarang rakyatnya menyebut nama ini untuk empat gugus pulau termaksud — Redaksi BUTONet 2. [*]

Facebook Comments

Topik Tarkait

One thought on “Menyambung Kembali Hubungan Leluhur Masyarakat Ambon dan Buton

  1. YOU ARE INTERESTED IN 5G ?

    5G HUB is the premier online educating and tutoring library featuring everything about 5G!

    Take a tour and explore our unparalleled, extensive archives to access reliable information and products about the latest 5G technology.

    SEE Featured 5G Products here: https://zeep.ly/Eb3IQ

Leave a Reply

Your email address will not be published.

thirteen − 9 =