MUI Terbitkan Buku Penyesatan Syi’ah?

AUDIENCEBUTONet 2, CILEBUT (BOGOR) — Di tengah semaraknya perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di berbagai tempat, segelintir orang  — pada Selasa (14/1) di Masjid al-Muhajirin, Cilebut, Bogor — menyelenggarakan acara bedah buku yang intinya memecah belah persatuan umat (bangsa) dan menebarkan permusuhan di negara yang berdasarkan Pancasila ini.

Buku yang dimaksud, dan diklaim sebagai Panduan MUI Pusat itu, adalah “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia” (MMPSI), yang sejak November 2013 disebarkan dengan gencar secara gratis di berbagai masjid seraya ditopang publikasi lewat jejaring sosial. Tentu saja kebenaran bahwa MUI menerbitkan buku panduan tersebut masih perlu dibuktikan, sebab dalam iklim demokratis kini tidak jarang orang memancing di air keruh dengan mengatasnamakan pihak lain.

Menurut jadwal, acara dimulai pada jam.09.00, tetapi  molor  sekitar satu jam. Dilihat dari jumlah pesertanya yang sekitar 150 orang, acara tersebut dapat dianggap sukses, meski cenderung homogen terutama didominasi mereka yang beridentitas  khas  bercelana cingkrang dengan jenggot lebat.

Tidak seperti lazimnya acara-cara serupa, event  ini bernuansa tegang, dengan indikasinya yang menonjol:  pembawa acara mengawalinya dengan membacakan peraturan , di mana para peserta diminta  tidak meliput, merekam, atau mengambil gambar sepanjang acara berlangsung. Kemudian, pada sesi tanya jawab, hanya dibolehkan menulis pertanyaan di kertas.  Ada agenda apa di balik pengkondisian demikian? Jika benar bedah buku tersebut dimaksudkan untuk membina masyarakat, khususnya keluarga, agar selamat dari ajaran Syi’ah — seperti diungkapkan Ustadz Trisugianto dalam kata sambutannya selaku Ketua DKM sekaligus mewakili Panitia — bukankah  “pemasungan akal sehat”, alih-alih “membina” masyarakat, malah berpotensi “membinasakan” masyarakat.

Dengan pamer kejumudan berpikir demikian, bukankah akan mendorong orang untuk berpikir lebih kritis soal siapa yang mendanai penerbitan buku-buku dan aneka propaganda pecah belah mereka?  Jangan salahkan bila kemudian orang “menduga” adakah  benang merah antara agenda mereka dengan jaringan kerja  internasional yang terkait —langsung atau tidak langsung — dengan pertemuan Kepala Intelijen negara Arab tertentu dan Kepala Intelijen Israel di Geneva, Swiss, akhir November 2013, seperti dikutib The Jerusalem Post (juga baca  Kompas, 11/12/2013), yang benihnya telah ditebarkan sejak 3 Januari 1919 di Paris antara Putera Mahkota negara Arab tertentu dan Ketua Organisasi Zionis Dunia yang melahirkan kesepakatan sembilan pasal (Kompas, 11/12/2013).

***

TENTU saja, siapapun yang mengoptimalkan kebebasan berpikirnya (yang bertanggung jawab), insya Allah, akan mampu menjawab semua tudingan Ustadz Jazuli, Lc (narasumber di Radio RODJA), sebagai pembicara pertama dalam acara tersebut, mulai dari Syi’ah sebagai  golongan yang tidak selamat,  membawa misi mensyiahkan seluruh dunia, selalu berpihak kepada kaum kafir (dengan mencontohkan kasus pembantaian di Suriah saat ini),  hingga ulasan subjektif tentangAbdullah bin Saba, Al-Kulaini, Mirza Husein bin Muhammad, dan Imam Khomeini yang  dilengkapi dengan sumpah serapah “Laknatullah” tatkala (Ustadz Jazuli) mengucapkan nama-nama tersebut.

Mereka, yang jernih berpikir, juga akan dengan mudahnya mementahkan tuduhan Ustadz Irfan Hilmi, Lc (yang mengaku dari MUI Pusat) — sebagai pembicara kedua yang membedah buku secara lebih khusus — bahwa ribuan santri Indonesia  yang dikirim ke Iran kerjanya hanya makan, minum, dan tidur. Mereka tidak belajar, melainkan hanya dicuci otak. Sepulang dari sana, mereka menyebarkan paham Syiah dan akan menjadi bom waktu karena bermaksud  mendirikan Negara Syiah (di Indonesia). Juga tudingannya terhadap sejumlah tokoh — yang sangat dihormati  di negeri ini  sebagai cendekiawan/ilmuwan dan pejuang kemanusiaan — sebagai misionaris Syi’ah yang harus diwaspadai.

***

SUNGGUH, tudingan seperti di atas merupakan daur ulang dari tudingan-tudingan naïf — terhadap Syiah — sejak awal tahun 80-an. Bahkan Dr (Habib) O Hashem — cendekiawan yang dihormati oleh Mohammad Natsir, Gus Dur, dan Nurkholish Madjid — sudah menerbitkan beberapa buku yang menjawab semua tudingan miring berspektrum fitnah terhadap Syiah seraya mempersilahkan berdiskusi dengan pihak-pihak yang mengkafirkan Syiah dalam Seminar Nasional Sehari Tentang Syiah di Masjid Istiqlal pada 21 September 1997, tapi tidak diresponi. Adilkah menghakimi Syiah secara  in  absentia?

Gus Dur pun pernah mengatakan kalau Syiah dilarang dia yang akan maju membela pada baris terdepan, dan bahwa secara kultural, NU itu adalah Syiah.  Cak Nur juga menyatakan bahwa tudingan Syiah memiliki Qur’an khusus sama sekali tidak berdasar (apalagi Allah sendiri yang akan menjaga Al-Qur’an).

***

SEDIKIT  tentang konflik di Suriah saat ini, bagi yang cerdas mengamati sepak terjang  Front Al-Nushrah dan  ISIL (milisi Negara Islam di Irak dan Suriah) yang memerangi Pemerintahan Suriah, pasti akan menemukan fakta bahwa mereka memiliki keterkaitan erat dengan Al-Qaeda, organisasi yang dibentuk oleh badan intelijen negara-negara Arab tertentu  atas sponsor Amerika Serikat.  Tepatlah apa yang dikatakan Prof Syafii Maarif  dalam diskusi di  Indonesia Lawyers Club (ILC) awal Januari tahun ini bahwa Al-Qaeda dan Thaliban adalah bentukan AS, dan beliau sangat menyesalkan umat Islam yang masih saja mau terus dibodohi dan diadudomba.

 ***

KEMBALI  ke  klaim bahwa  buku MMPSI diterbitkan oleh MUI Pusat. Situs Abna.ir  mengutip hasil investigasi  lppimakassar.net  terhadap narasumber dari MUI Pusat yang mengungkapkan sejumlah fakta.  Pertama, buku tersebut  bukan hasil kajian tim yang dibentuk secara resmi oleh MUI Pusat. Hampir semua isi buku merupakan kumpulan “Catatan” sekelompok orang yang menamakan dirinya MIUMI, di mana sebagian pengurusnya juga menjadi pengurus MUI Pusat.

Kedua, karena menganggap respons MUI Pusat “sangat lambat” mengeluarkan fatwa sesat terhadap Syi’ah, maka sekelompok  orang di MUI Pusat menerbitkan kumpulan “Catatan” dari MIUMI  itu  dalam bentuk  buku  MMPSI dengan diberi logo dan nama MUI Pusat.

Ketiga, buku tersebut diterbitkan tanpa sepengetahuan pengurus inti MUI Pusat.

***

FAKTA  lain adalah seperti diungkapkan Habib Agus Abu Bakar al-Habsyi bahwa menurut  KH  Dr. M Hidayat, sebagai anggota DSN-MUI, tidak ada satu pun  keputusan resmi dari MUI  tentang fatwa yang tidak diketahuinya. Sehingga, aneh bila masyarakat menerima buku Panduan MUI tentang Penyimpangan Syi’ah, sedangkan anggota DSN-MUI tidak pernah menerbitkannya. “MUI itu dananya terbatas. Tak mungkin bisa menyelenggarakan banyak acara ceramah sambil bagi-bagi buku gratis,” kata KH Dr. M Hidayat. Ia menambahkan, bila ada paham sesat, MUI menerbitkan fatwa yang hanya terdiri dari 2 hingga 3 halaman.

Singkat ulasan, bagi yang tidak hendak terus dibodohi dan dihina akal sehat serta  hati nuraninya melalui propaganda naïf seperti tercermin dalam isi buku caci maki atas Syiah itu, silahkan kunjungi  Website resmi MUI;  dan tatap dengan mata belalak, apakah di sana tercantum buku MMPSI itu?(Situs resmi MUI://mui.or.id/mui/category/produk-mui/buku/buku-terbitan-mui). (Wa Ode Zainab ZT/ Abdul Hakim/liputanislam.com)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + two =