Peneliti Iran Memelopori Pembuatan Mobil Tanpa Supir

mobil-tanpa-supirTEHERAN (ISNA) — Ahmad Rad, seorang Profesor asal Iran pada  Fakultas Rekayasa Sistem Mekatronik Simon Fraser University  (SFU), Kanada, sedang merampungkan penelitian tentang mobil tanpa supir dan sistem bantuan lanjutan untuk supir.

“Sejak  Karl Benz menciptakan mobil modern pada tahun 1880-an, banyak  orang mengemudikan mobil pada  jalan-jalan di  seluruh dunia. Sehingga, mungkin penamaan  ‘otomobil’ (automobile) adalah keliru,” ujar Rad saat diwawancarai  di Laboratorium Sistem Cerdas dan Otonom (Autonomous and Intelligent Systems Laboratory), kampus Central City  SFU.

Apa yang kita saksikan sekarang, tambah Rad, adalah terjadinya pergeseran paradigma, di mana dalam hubungan itu mobil yang selama ini kita kenal, secara bertahap akan bertranformasi menjadi (semacam) “robot otonom”. Di situ tugas supir akan berubah dari mengemudikan  menjadi sekadar mengawasi  mobil.

Prof Rad dan Mehran Shirazi  (yang disebutkan terakhir adalah seorang  mahasiswa program PhD asal Iran) memperlihatkan simulator kemudi  yang ada  pada salah satu pojok laboratorium.  Simulator tersebut  terdiri  dari  kursi mobil  dengan kemudi, dasbor, dan — sebagai pengganti kaca depan — tiga layar datar yang menampilkan (gambar) jalan.  Sedangkan dua kamera inframerah terpasang pada dasbor menghadap ke arah  pengemudi.

Prof Rad menjelaskan, kamera dilengkapi sebuah “mata penjejak” (tracker  eye) yang dapat melihat atau melacak sebagaimana yang dapat dilakukan oleh pengemudi. Sistem ini juga dapat mendeteksi apakah supir mengirimkan pesan berupa teks, (kondisi) mabuk, atau mengantuk.

Tim peneliti yang dipimpin Prof Rad itu menggunakan kacamata  Fatal Vision  dalam  mengsimulasikan gangguan yang berkaitan dengan konsentrasi tertentu untuk alkohol di dalam darah. Rad memprediksi bahwa di masa datang mobil otomatik ini akan dapat mengambil alih aktifitas supir yang (tiba-tiba) mengalami kekacauan pikiran, dan juga dapat menepi (memarkirkan diri secara otomatis);  atau (mobil tersebut) dengan sendirinya kembali ke rumah bila pengemudinya merasa kurang fit.

“Selama ini memang hanya orang  (manusia) yang bisa mengemudikan mobil. Tetapi, setelah kita menyaksikan manusia dapat saling berkomunikasi atau mengirimkan gambar dan teks melalui ponsel, maka peran manusia mengemudikan mobil akan bisa tergantikan oleh perangkat tertentu. Atau, dalam kasus-kasus buruk, jika perangkat (pada mobil) tersebut dapat memantau bahwa si supir mengalami mabuk, misalnya, maka ia  (perangkat termaksud) akan  dapat mengendalikan mobil tersebut,” kata Rad.

Menurut Rad dan Shirazi, mobil masa depan akan melengkapi  tracker  eye  dengan kamera yang menghadap ke depan.  Kamera ini akan mendeteksi penyeberang jalan dan rambu-rambu jalan (juga objek-objek lainnya).

“Pada banyak kondisi, seorang pengemudi/supir bisa saja abai melihat rambu-rambu. Dalam keadaan demikian  tracker  eye  akan mendeteksi apakah pengemudi tersebut telah melihat rambu atau tidak, dan hal itu terhubung ke sistem (batas) kecepatan dan peringatan lainnya. Jika tidak, dengan sendirinya mobil akan mendeteksi rambu-rambu dan segera menginformasikannya kepada pengemudi bahwa ada rambu yang terabaikan (dilanggar),” papar  Shirazi.

Prof Rad  menambahkan, sebagai alternatif, mobil  memberi tanda peringatan kepada si supir agar mematuhi rambu/tanda berhenti atau tetap melaju di bawah batas kecepatan tertentu.

Ia juga mengatakan, sistem tracker  eye  seperti itu sudah dapat diproduksi untuk dipasangkan di mobil-mobil mewah pada 5 hingga 10 tahun mendatang. Namun, ia menambahkan, setelah software-nya lulus uji kehandalan, maka sistem ini perlu pula  dipasangkan pada setiap mobil jenis apa pun karena akan dapat mengurangi kecelakaan (tabrakan).

“Selain itu  juga dirancang sabuk pengaman (seat belt) dengan tingkat keselamatan tinggi. Ini didasarkan pertimbangan bahwa banyak orang  yang mengabaikan pemakaian seat belt. Nantinya, penggunaan  seat belt  itu menjadi  sangat penting pada setiap mobil, mulai dari yang harganya murah hingga mahal,” ujar  Rad.

Sementara itu untuk mobil yang sepenuhnya tanpa supir, Prof Rad memperkirakan akan banyak digunakan pada 20 tahun mendatang. Ia mengatakan, kita tidak boleh meremehkan tantangan untuk mengembangkan  “kecerdasan buatan” (artificial  intelligence)  yang sangat diperlukan untuk pembuatan mobil  yang  dapat mengendalikan dirinya sendiri (self-driving  cars).

“Mengemudi  memang terkait dengan banyak hal, dan merupakan proses pembuatan keputusan berjenjang (berlapis-lapis),” ujar Raid. Pembuatan keputusan tersebut, lanjutnya, adalah tantangan tersendiri. Bahwa penempatan sensor pada mobil dan pengambilan informasi memang cukup penting. Tetapi, bagaimana menerjemahkan data menjadi sebuah keputusan, sungguh menjadi kunci terpenting dan menciptakan tantangan  tersendiri  dalam perencanaan mobil yang benar-benar otonom.

Dengan menggunakan  headset, Shirazi menambahkan, pengemudi dapat memerintahkan melalui pikiran, kapan  akan mengerem, belok kiri, belok kanan, dan sebagainya. “Hasil  penelitian ini akan memungkinkan seseorang mengemudikan mobil tanpa menyentuh stir dan pedal,” demikian Shirazi.

Prof Rad menegaskan, patut dicatat, neuroheadset   tersebut  sangat invasif, dan bahwa sistem itu dapat  digunakan oleh para penyandang cacat yang selama ini tidak memungkinkan  mengendarai  mobil.[**]

______________________

Diterjemahkan dan diedit dari  http: //isna.org (Sabtu, 12/9/2015) oleh La Ode Zulfikar Toresano (www.sorotparlemen.com, Ahad, 4/10/2015).

Facebook Comments

You May Also Like