Penghambat Utama Pengungkapan Sebuah Peradaban (Termasuk “Peradaban Buton”)

La Ode Zulfikar Toresano (JAKARTA, www.sorotparlemen.com, 19/2/2021) Satu-satunya yang lebih berbahaya daripada ketidaktahuan adalah kesombongan.” (Albert Einstein)

Ungkapan Einstein ini perlu kita renungkan dalam upaya membuka tabir khazanah sebuah “Peradaban”, tidak terkecuali “Peradaban Buton”.

Sebuah peradaban tidak berada dalam ruang vakum dan bukan steril dari perjalanan “sang waktu”/”tempo”. Karenanya, ia niscaya memiliki konektivitas dengan peradaban atau sejarah-sejarah lainnya di berbagai tempat.

“Peradaban Buton” (PB), misalnya, tentu terkait dengan peradaban atau sejarah-sejarah di Nusantara, bahkan sejumlah tempat di dunia.

Di antara sekian banyak objek sejarah yang bisa kita temukan hubungannya dengan PB adalah eksistensi sejumlah kerajaan dan/atau kesultanan di Aceh, yang berpangkal dari “Kesultanan Pereulak/Perlak” (abad ke-9).

Berikut ini kami berikan beberapa “link”-nya :

ADA juga yang menyebut “Kesultanan Perlak” (840 – 1292 M) sebagai “Kerajaan Syiah Gurindam 12 Perlak”. Bila terma “Gurindam 12” itu benar melekat pada nama “Kerajaan Syiah Perlak”, maka adalah absah bila kemudian kita kaitkan dengan jumlah 12 (dua belas) Imam pelanjut misi Kerasulan Muhammad Saww. (Shallallahu ‘alaihi wa âlihi wassalam), yang diyakini kalangan Syiah Imamiah (Syiah Ja’fariah/Syi’ah Itsna ‘Asyari) sebagai bagian dari “ushuluddin” atau pokok-pokok agama; dan sebenarnya ini juga disebutkan dalam sejumlah kitab Ahlusunnah, di antaranya “Alu’lu wal Marjan” (HR Bukhari – tentang “12 Khalifah”) dan “Shahih Muslim Jilid IV, Bab Imamah” (HR Muslim — tentang “12 Amir”).

Relasi dengan Peradaban Buton

Dengan mempertimbangkan sejumlah fakta/data antropologi “Peradaban Buton”, salah-satunya adalah dokumen historis bahwa guru Sayyid Abdul Wahid r.a. (penganjur Islam di Buton pada awal abad ke-16) adalah seorang Sayyid/Habib yang menjabat sebagai Imam Masjid Pasai (Aceh), maka terma “Gurindam 12” itu bisa kita elaborasi secara semiotika yang terkait dengan ajaran Ahlulbait atau Keluarga Suci Rasulullah Saww. (QS 33 : 33) untuk konteks “Benteng Keraton Wolio” (benteng terluas di dunia, peninggalan “Kesultanan Buton”), di mana jumlah “lawa” atau “pintu gerbang”-nya adalah 12 (dua belas). Dan objek-objek lainnya, dalam kebudayaan Buton, juga cukup banyak yang bisa dimaknai dalam konteks ajaran Ahlulbayt tersebut.

Tentu saja untuk memahami eksistensi dan hakikat “Benteng Keraton Wolio” tidak cukup dilihat dari perspektif semiotika dan hermeunetik (tinjauan filsafat), yang terkait erat dengan dinamika pergolakan atau rivalitas politik keagamaan di level lokal maupun Nusantara pada kurun waktu termaksud. Lebih menukik dari itu, perlu tinjauan epistemologi, ontologi, dan ajaran mistik Syiah : “Irfan” (atau dalam khazanah Ahlusunnah dikenal sebagai “Tasawuf”).

SAYA mendapatkan narasi tutur tentang Sayyid Abdul Wahid r.a. (dan relasinya dengan Aceh) dari budayawan/sejarawan Buton, La Ode Bosa (Aba Bosa : “Yarona Liya”). Beliau juga adalah seorang “ulama tariqah” dan sering menjadi narasumber sejumlah peneliti, di antaranya adalah Pim School (Prof School) dari Leiden, Belanda.

Aba Bosa adalah keturunan generasi ke-8 Sultan Buton ke-19 : Zakiuddin Dârul ‘Alam/Oputa Sangia/Oputa Manuru (pendiri “Masjid Agung Keraton Wolio”, dan juga kakak ipar dari Habib/Sayyid Rabba Alaydrus atau “Sayyidi Raba”).

PERADABAN/Kebudayaan Buton memang sangat kental dengan “nilai-nilai Ahlulbayt Rasulullah Saww.” Dan nilai-nilai ini menyatu dengan praktik atau amaliah keberislaman Mazhab Ahlusunnah (Syafi’i) di Buton, juga di Nusantara. Tidak heran bila mantan Ketua Umum “Pengurus Besar Nahdlatul Ulama”/PBNU Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) mengatakan, “NU adalah Syiah minus Imamah”.  (MISYKAT – NU adalah Golongan Syiah yang Minus Imamah).

Kendati mencintai dan mengamalkan nilai-nilai Ahlulbayt, Kesultanan Buton memiliki kekhasan praktik Mazhab Syafi’i yang agak berbeda dengan mayoritas penganut Mazhab Syafi’i di Nusantara, misalnya kalangan Nahdliyin (Nahdlatul Ulama/NU). Dan tentang hal ini memang menarik untuk diulas lebih dalam.

DOKUMEN-dokumen historis (versi Sunni maupun Syiah) menunjukkan bahwa para pengikut Ahlulbayt menderita persekusi sejak wafatnya Rasulullah Saww., dan mencapai puncaknya dengan terbunuhnya (syahidnya) cucu kesayangan Rasulullah Saww., Sayyidina Husein a.s., di Padang Karbala (Irak) oleh penguasa Bani Umayyah (Yazid bin Muawiyah) yang sangat tiran/bengis.

Kezaliman tersebut terus berlanjut, dan kemudian pada masa kekuasaan Dinasti (Bani) Abbasiah banyak pengikut Ahlulbayt yang hijrah ke berbagai tempat di dunia; di antaranya ke Nusantara, termasuk Indonesia. [Nah, mengenai bagaimana “sebagian” mereka kemudian bermetamorfosis dari penganut mazhab fiqh Ja’fari (Syiah) menjadi Syafi’iah (Ahlusunnah), ini yang perlu diulas pada kesempatan terpisah].

DALAM dunia kontemporer, propaganda atau fitnah terhadap pengikut Ahlulbayt dilakukan semakin canggih dan terorganisir rapih. Itu bisa berupa fisik (misalnya menggunakan media cetak) maupun non-fisik (media digital/medsos). Tidak heran bila kini semakin intens berlangsung “fitnah keji atas Syiah dan Iran” oleh berbagai jenis media Zionis (serangan dari eksternal) dan Salafi-Wahabi (serangan dari internal).

Berbagai dokumen atau data mengungkapkan bahwa ajaran Wahabi adalah produk Yahudi distortif. (Lihat “CATATAN A”). Dan bahwa kini negara-negara Wahabi semakin gencar menjalin hubungan diplomatik dengan Israel (Zionis). Padahal, publik tahu betul bahwa agenda utama Israel adalah mewujudkan terbentuknya “Israel Raya” (The Great Israel) menyusul pencaplokan  “Masjid Al-Aqsa” di Palestina.

SEMENTARA itu, Iran tampil pada garda terdepan melawan konspirasi Zionis dan negara-negara Wahabi seraya mendukung penuh “para pejuang Palestina” yang bermazhab Ahlusunnah. (Lihat “CATATAN B”).

Anehnya (dan lucunya), semua propaganda/fitnah gerombolan Zionis dan Salafi-Wahabi itu hanya berani dilakukan dengan cara koar-koar di atas mimbar dan dunia maya (medsos); tidak dilakukan melalui debat ilmiah atau paparan/sanggahan argumentatif, terutama “dalam bentuk buku”.

Faktanya, hingga saat ini belum ada buku sanggahan ilmiah atas dua buku : “Buku Putih Syiah” (silahkan cari edisi “e-book”-nya) dan “Syiah Menurut Syiah”. (lihat “CATATAN C”).

Kalau para pemfitnah yakin dengan kebenaran fitnahan (objek dagangan) mereka, silahkan disanggah 2 (dua) buku yang dipublikasikan sejak beberapa tahun itu; tentu saja secara ilmiah, bukan “kacangan” alias “ecek-ecek”, dan juga dalam bentuk “buku”.

Oleh-karena itu, dalam atmosfir yang penuh fitnah (hoax) seperti saat ini, kita perlu memupuk dan mengembangkan budaya “tabayyun” (konfirmasi) atau “check and re-check”, sebagaimana dianjurkan dalam Al-Qur’an (QS 4 : 94 dan QS 49 : 6).

Ribuan buku terkait dengan “perbandingan mazhab dalam Islam” cukup banyak tersedia (dalam bahasa Arab, Inggris, Persia, dan Indonesia). Masalahnya, apakah kita punya semangat “IQRA”? [Iqra bismirRabik, bacalah dengan nama Tuhan-mu (Allah Swt.)!!! Bukan dengan selain-Nya]. [ ]

——————————————————–

CATATAN  A :

  1. Sejarawan Ini Sebut Wahabi Bagian dari Sekte Yahudi (dutaislam.com)
  2. Islam Wahabi Produk Konspirasi Yahudi (arrahmahnews.com)
  3. Asal Usul Terbentuknya WAHABI Serta Konsep Konspirasi dari YAHUDI. – YouTube
  4. WAHABI Konspirasi Yahudi Untuk Menghancurkan Islam – YouTube
  5. WAHABI BUATAN YAHUDI – YouTube (Juga tentang testimoni Hillary Clinton).

CATATAN B :

  1. Kenapa Iran Selalu Teguh Mendukung Palestina? – MaulaTV Channel – YouTube
  2. Hanya Iran yang Berani Terang-terangan Dukung Palestina – MaulaTV Channel – YouTube
  3. Majelis Ulama Palestina: “Iran Akan Menang Karena Mendukung Palestina” – MaulaTV Channel – YouTube
  4. Iran tidak Pernah Lelah Membantu Palestina – MaulaTV Channel – YouTube
  5. Kami Wajib Berterima Kasih Kepada Iran – MaulaTV Channel – YouTube

CATATAN  C :Syiah Menurut Syiah (E-Book) – Ahlulbait Indonesia

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 14 =