Peran Hegemonik Sains atas Agama?

TauhidSainsJudul Buku        : Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang Agama dan Sains

Judul Asli           : Tawhid and Science: Islamic Perspective on Religion and Science

Penulis                 : Dr Osman Bakar

Penerjemah        : Yuliani Liputo dan MS Nasrullah

Penerbit               : Pustaka Hidayah

Cetakan                : Pertama, November 2008

Tebal                     : 484 halaman

Peresensi            : Wa Ode Zainab Zilullah Toresano (resensi yang dibuat oleh Wa Ode
ini merupakan resensi yang pernah dimuat dalam harian KOMPAS pada tahun 2008).

Eksistensi agama telah terancam. Betulkah? Klaim tersebut muncul seiring dengan perambahan peran hegemonik sains (baca: “Sains Barat” atau “Sains Modern”) yang mengakibatkan agama terisolasi — bak pengidap penyakit kusta —seraya gencar mempromosikan “sekularisme”.

Melalui sekularisme, agama ditempatkan dalam ranah yang berbeda dengan sains. Dan bahwa dengan mengacu pada prinsip logika, apa pun yang mengandung perbedaan mustahil bisa dirujukkan. Tentu saja, pandangan sekularistik itu bertentangan dengan sains dalam perspektif Islam, yangmeyakini bahwa penciptaan alam bukanlah tanpa tujuan dan perencanaan organisasional. Itulah sebabnya sains — dalam Islam —tak dapat dipisahkan (apalagi saling diperhadapkan) dari agama karena keduanya berasal dari sumber yang sama: “Allah Robbul ‘Alamin”.

Dengan kata lain, sains bisa berfungsi sebagai pintu gerbang untuk memahami agama, dan sebaliknya relung-relung sains hanya bisa didalami secara utuh dan bermartabat lewat pintu agama; dan bahwa optimalisasi keduanya kelak mengantarkan kepada peneguhan “tawhid”.

Kendati demikian, tidak dipungkiri bahwa di antara para saintis modern telah ada yang berhasil meneguk kejernihan air persenyawaan sains dan spiritualitas (agama). Tengoklah misalnya Fritjof Capra dan Garv Zukav melalui karya-karya prestisius mereka, berturut-turut: The Tao of Physics dan The Dancing Wuli Masters.

Dari sekian banyak penelitian para saintis Barat ada kesan kuat bahwa sains kurang mampu berfungsi sebagai sarana untuk memahami jalan pikiran Tuhan. Fisika kuantum (yang mengakui sekian banyak parameter yang “tidak bisa diukur”), misalnya, melalui pendekatan probabilitas peristiwa yang dianutnya, tidak mampu secara optimal mengungkap makna “kebenaran”, padahal semua itu eksis dan nyata.

Di sisi lain, sejumlah sains Islam justru telah berhasil menjadi jembatan penghubung antara Tuhan dan alam semestaseraya memadukan antara objektivitas dan subjektifitas. Ini dimungkinkan karena sains Islam memberikan penekanan pada aspek “metafisika”, di mana ada pemahaman bahwa alam semestamenghamparkan sekian banyak probabilitas yang memandu menuju “Tuhan”.

Sekilas tentang Buku

Dr Osman, penulis buku Tauhid dan Sains, adalah salah seorang saintis Muslim Malaysia yang telah gencar mempromosikan relasiantara sains dan tauhid — yang kemudian mengabsahkan istilah “sains Islam” — seraya memfokuskan diri pada kajian Islam non-orientalis perspektif “fundamentalis” (yang menekankan tentang pentingnya umat Islam menguasai sains dan teknologi Barat).

Buku monumental ini terdiri dari 11 babyang intinya menekankan pada relasi antara sains dan tauhid.Dari seluruh bab, tentu saja saya harus menilainya secara kontekstual sesuai dengan kebutuhan urgen masyarakat luas di Indonesia.

Dalam hubungan itu, bagi saya, pembahasan paling menarik terdapat pada bab 2 dan 4 karena — selain bisa dijadikan titik tolak untuk memudahkan pengembaraan ke bab-bab lainnya — sangat membantu dalam membuat proyeksi konstributif, terutama untuk penguatan demokrasi, hak-hak asasi manusia (HAM), dan kesetaraan (equality).

“Relasi antara Kosmologi dan Penguatan Demokrasi, HAM, dan Kesetaraan”

Dengan menunjuk salah satu penemuan paling penting dari karya-karya Profesor Hussein Nasr tentang sains Islam, Dr Osman Bakar menyatakan bahwa tidak ada satu metode pun — yang digunakan dalam sains — yang mengenyampingkan metode-metode lainnya (Bab 2, hal. 85). Sejumlah ilmuwan profesional, terutama fisikawan, dari R Oppenheimer dan E Schrodinger hingga Fritjof Capra, telah berpaling pada doktrin-doktrin Timur dengan harapan menemukan solusi bagi beberapa dilema dan masalah yang ditemui di ujung perbatasan fisika modern (Bab 2, hal 85 dan 86), meski demikian tidak lantas berarti bahwa perbedaan fundamental antara konsepsi Islam dan konsepsi modern tentang metodologi sains telah lenyap. Ini terutama disebabkan karena metode ilmiah dalam sains modern (Barat) memiliki perbedaan epistemologi yang mendasar dibandingkan dengan metode ilmiah dalam sains Islam, demikian pula dengan proses kreatif masing-masing.

Intinya, metode ilmiah dalam sains Barat telah menafsirkan pluralitas metodologi sebagai sejenis anarkisme intelektual, meski ia memiliki suatu nilai sendiri dalam lingkup skema epistemologis dan dalam kemajuan perkembangan ilmiah. Tapi, persoalan metodologi — dalam sains Islam — secara konseptual tidak dapat dipisahkan dengan tujuan akhir kognisi manusia yang ada kaitannya dengan persoalan tujuan ruhaniah manusia, dan itu berarti harus ada pendasaran pada gagasan Keesaan (tauhid) yang berasal dari pandangan Al-Qur’an tentang Realitas dan kedudukan dalam Realitas itu (hal. 88 dan 89).

Oleh karenanya, dalam sains Islam, semua metode yang beraneka ragam itudianggap sebagai jalan yang sah untuk mengetahui alam dalam bidang penerapannya masing-masing. Artinya, metode-metode ini dipandang tidak saling berlawanan, tetapi justru saling melengkapi untuk mewujudkan tujuan akhir sains Islam, yakni “Kesatuan Alam”, yang mana tujuan itu sendiri berasal dari dua sumber: Wahyu dan Intuisi intelektual.

Menurut penulis, dalam perspektif sains Islam, berbicara tentang metodologi pertama-tama adalah memahami manusia yang merupakan kutub subjektif pengetahuan (subjek yang mengetahui). Dan karena manusia memiliki berbagai tingkat kesadaran, maka kutub subjektif itu bersifat hierarkis (hal. 91).

Sementara itu, Alam Semesta, yang merupakan kutub objektif pengetahuan (objek yang dapat diketahui) juga bersifat hierarkis karena Alam Semesta memiliki beberapa tingkat wujud atau eksistensi (hal. 92).

Atas dasar ini, sains Islam menganggap seluruh “kosmos” menjadi perhatiannya sehingga ia memiliki kekayaan kualitatif dan realitas yang jauh lebih besar daripada sains modern, meski sains modern dengan sombong mengklaim diri sebagai semesta yang tidak berbatas. Padahal satu-satunya realitas yang diperhatikan dalam sains modern hanyalah realitas Cartesian yang telah direduksi menjadi pikiran dan materi, dan dipandang sebagai dua substansi yang sepenuhnya berbeda dan terpisah (hal. 93).

Penulis berpendapatbahwa “dunia empiris” dan “non-empiris” menyatu lewat jembatan “kosmologi” yang kesemuanya dikendalikan oleh Sang Organisatoris Maha Agung. Kosmos membentuk kesatuan karena harus memanifestasikan Tuhan (hal. 68), yang kemudian menjustifikasi Keesaan Allah(“Kemanapun engkau menghadapkan wajahmu, di situ ada Wajah Tuhan” — Al-Qur’an). Sebagai konsekuensinya harus ada pengukuhan kebenaran sentral yang menerima realitas objektif kesatuan alam semesta (Wahdatul Wujud — tentu saja jangan naïf dipersamakan dengan doktrin “pantheisme”). Singkatnya, sains Islam memandang bahwa realitas tidak hanya terbatas pada hal-hal fisik yang dapat diobservasi, dan bahwa seluruh kosmos memperlihatkan kekayaan kualitatif dan realitas yang memiliki satu substansi, yakni “Tuhan”.

Menurut penulis,“kosmologi” dapat berfungsi sebagai sarana untuk memahami “kosmos tradisional” (yakni seluruh tatanan ciptaan Tuhan), yang terdiri dari tiga keadaan fundamental: keadaan materiel (bendawi), psikis (animistik), dan spiritual (malakuti).

Secara hierarkis, tingkat realitas (“Keberadaan”) selanjutnya yang lebih tinggi adalah Sifat-sifat Ilahiah (alamlahut), yang dapat dipersamakan dengan Prinsip Kreatif (Wujud) atau Prinsip Ontologis dari keseluruhan kosmos, di mana keberadaan paling tinggi adalah “Esensi Ilahi” (adz-Dzat atau derajat “hahut”) yang merupakan Prinsip yang “tak dapat disifati” atau“Wujud Tak Tergapai”, dan oleh karena itu “Absolut Murni”.

Kendati demikian, bagi saya, bila penulis mempromosikan pentingnya menempatkan “kosmologi” untuk menjembatani dua alam, seharusnya ia juga memberikan contoh aplikasi ilmu praktis dari cabang “kosmologi”. Bukankah Imam Ja’far As-Shadiq ra telah mengajarkan ilmu-ilmu esoterik yang sangat bermanfaat dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya “numerology” dan “pengobatan supranatural” (dengan kekuatan doa / “amalan-amalan” tertentu)?

Sebenarnya, dengan menjadikan Profesor Husein Nasher sebagai sumber utama rujukan tulisannya, penulis akan mudah mendalami aneka cabang “kosmologi” itu, sehingga akan memperkuat pembahasannya. Mengapa? Karena Profesor Nasher pernah berguru langsung pada Allamah Thabatabai yang notabene mendalami betul “kosmologi” itu.

Sedikit kekuranganlain dari buku ini adalah bahwa terdapat kesan penulisnya mencampuradukkan pemahaman sains Kristen dan sains modern (Barat). Padahal sebagaimana dicatat dalam kitab-kitab sejarah, inkuisisi terhadap kebebasan berpikir memang pernah terjadi secara masif dan massal di Barat, di mana pelakunya adalah kalangan ilmuwan agamis. Bukankah inkuisisi tersebut antara lain juga dilakukan demi untuk membela pelestarian ilmu yang mereka klaim sebagai kebenaran? Kasus Imanuel Velikovsky, teman sejawat Albert Einstein, yang diadili oleh American Academy for the Advancement of Science merupakan salah satu contoh terbaik.

Terlepas dari itu, secara umum, buku ini sangat patut dibaca, apalagi belum ada penulis dalam negeri yang mengulas tentang “kosmologi” berspektrum “mistik ilmiah”, padahal ia (mistik ilmiah) sangat diperlukan dalam kajian komprehensif di bidang apa pun. Menurut saya, dari sini kelak kita akan mengenal aspek kerangkapan (the couple existence) dari metodologi sains Islam itu sekaligus memperlihatkan kekeliruan metodologi sains modern. Dalam fisika modern, misalnya, logika gagal memberikan jawaban ketika tiba pada persoalan sifat dasar cahaya: “tak terputus” dan “terputus sekaligus”, di mana maksudnya adalah bahwa ia (cahaya) memiliki sifat sebagai “gelombang” dan “materi” (partikel yang memiliki efek “photoelectric”). Bukankah itu sebuah paradoks dalam fisika modern? Bukankah hal itu mengindikasikan bahwa dua eksperimen yang tidak cacat metodologis, dan juga yang menggunakan objek penelitian yang sama, bisa menghasilkan fakta berbeda?

Lagi pula, sistem fisika tidak semata dibangun dalam observasi empiris, bahkan ada yang hanya berakar pada rasio (deduksi logis), seperti yang dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles. Bukankah tanpa deduksi logis, tidak mungkin ada sains?

Seandainya objek-objek dan kejadian di dunia serampangan belaka (chaotic system)dan tidak teratur (lihat “Uncertainty Theory” yang dicetuskan oleh fisikawan Heyssen Berg), maka pengaturan partikular mereka masih misterius. Tetapi, fakta menunjukkan bahwa sisi-sisi kontingen dari dunia juga tertata atau terpola — meski cukup kompleks — penuh makna mendalam dan meyakinkan. Adakah pengatur segala kompleksitas itu?

Buku ini besar sekali kontribusinya dalam membantu kita untuk memahami proses tajalli (manifestasi) Allah SWT yang terwujud dalam ciptaan-ciptaan-Nya. Maka, “kosmologi” yang diperkenalkan oleh penulis mungkin layak kita analogikan sebagai tempat “berlangsungnya evolusi dinamis” yang mentransformasikan input- data dari alam malakuti menjadi output-data di alam fisik (dunia nyata). Bukankah, hingga kini, dalam sains modern (eksperimental) pun, misalnya, belum juga dapat dipahami bagaimana rangkaian operasi-operasi abstrak dalam “komputer” dapat menangkap realitas fisik yang diambil dari suatu rangkaian input-bit [setiap bit informasi merupakan representasi dari bilangan “satu” atau bilangan “nol”, yang merupakan formulasi simbolis (dalam bentuk bilangan-bilangan) paling tepat bagi mesin komputer] dan merubahnya menjadi rangkaian output-bit?

Atas dasar itu tidak berlebihan jika kita katakan, lewat buku ini, penulis telah memberikan inspirasi untuk menerawang ke pemahaman tentang sistem kerja “komputer universal”yang dapat memberikan kontribusi signifikan bagi “kebertauhidan”.

Jika penulis telah memperkenalkan pendekatan metodologi berkarakter plural, maka seharusnya kesemuanya itu bisa diproyeksikan dalam layar lebar demokrasi yang terus kita perjuangkan penguatannya. Dan bukankah perjuangan yang memanfaatkan pendekatan metodologi pluralistik itu menyiratkan penghargaan atas hak-hak orang lain (HAM), yang kemudian akan menciptakan “kesetaraan” (equality) dalam berbagai aspek kehidupan?[ ]

______________________

 Saat ini (Januari 2015) peresensi adalah mahasiswi Pasca Sarjana (filsafat Islam) ICAS Paramadina, Jakarta (cabang dari ICAS London). Pernah mengikuti serangkaian kuliah Prof Nidhal Guessoum yang diselenggarakan di Paris dan Kuala Lumpur. Sejak awal 2015 berbagi mengabdikan diri sebagai Wakil Pemimpin Redaksi www.sorotparlemen.com.

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

six + 20 =