Perempuan Lintas Mazhab Bicara Persatuan Umat

konferensiperempuanTeheran, BUTONet 2 — Perempuan merupakan tonggak utama persatuan Islam di dunia. Ini disadari betul Lembaga Sosial Masayarakat (Woman’s Affairs Office / WAO), sebuah lembaga pemberdayaan perempuan internasional yang berbasis di Iran, sehingga diadakanlah forum terbuka bertaraf internasional: World Forum for Proximity of Islamic Schools of Thought (WFPIST), yang mengundang delegasi dari berbagai negara, di mana di sana mereka mengutarakan aneka persoalan dan pandangan tentang perempuan, termasuk ide-ide peran aktif perempuan dalam mewujudkan kemajuan Islam dalam bingkai persatuan umat.

Selama tiga hari, sejak Jum’at (17/1) hingga Ahad (19/1), para tokoh perempuan lintas mazhab — dari berbagai belahan dunia — berkumpul di Teheran. Dalam forum tersebut juga dicarikan berbagai titik temu visi dan misi demi kemanfaatan yang lebih substansial bagi dunia Islam.  Hal yang tak kalah menarik adalah bahwa setiap peserta  berbalut cadur — pakaian berwarna hitam yang menutupi hampir seluruh tubuh — yang merupakan ciri khas budaya Iran, terutama pascarevolusi (Islam).  Dengan cadur, Iran menunjukkan pada dunia bahwa perempuan dapat berkiprah di ranah publik tanpa harus menanggalkan hijab. Realitas ini bertolak belakang dengan fitnah yang dituduhkan Barat, bahwa hijab merenggut kebebasan perempuan.

Tentu saja forum ini dilaksanakan sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah Muhammad Saww (Shalallah  alaihi wa âlihi wassalam); dan memang dirancang bertepatan dengan Wiladat (Milad) Baginda Nabiullah Saww. Salah satu pesan Rasulullah Saww kepada umatnya adalah pentingnya memupuk persaudaran ummat Islam. “Orang-orang Muslim itu ibarat satu tubuh; apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.”

Merujuk hadis ini, persatuan umat merupakan hal esensial yang harus diperjuangkan segenap elemen masyarakat, terutama perempuan.  Dengan tanpa hambatan sekat-sekat dan aneka suku, bangsa, mazhab, ras, warna kulit, bentuk fisik, budaya, dan seterusnya;  tokoh-tokoh perempuan Muslim berinteraksi dalam forum mulia itu, dan ini sekaligus sebagai perwujudan dari salah satu misi kenabian:ukhuwah Islamiyah”.

Persoalan Perempuan Tak Sama

Para peserta forum  sangat menyayangkan upaya pecah-belah persatuan Islam yang dilakukan pihak-pihak yang memusuhi Islam.  Parahnya lagi, justru umat Islam sendiri yang menganggap saudaranya sesama Muslim sebagai musuh dalam selimut. Hal ini semakin diperparah dengan sikap mayoritas umat Islam yang mudah terpengaruh isu-isu  kontra produktif. Bila kondisinya demikian, persatuan umat mustahil bisa  terwujud yang kemudian berimplikasi pada kemandekan Islam. Sebelum melangkah kepada upaya mewujudkan persatuan umat Islam dunia, para tokoh  perempuan sepakat mengawali perjuangan di negara masing-masing.

Forum ini menyadarkan tentang urgensi perjuangan kaum perempuan di dunia Islam. Para peserta terenyuh ketika mendengarkan paparan lugas delegasi Pakistan. “Tanah Pakistan adalah tanahnya para syuhada. Perang sering kali terjadi di sini. Ayah meninggalkan anaknya. Remaja melepaskan masa mudanya. Tinggallah ibu-ibu yang dengan tegar terus berupaya mempertahankan keberlanjutan Pakistan. Hanya dorongan untuk tetap kuatlah yang mereka butuhkan,” ujar delegasi Pakistan itu dengan mata nanar.

Lain lagi dengan Emilia Renita yang menyampaikan nasib perempuan Indonesia. Ia memaparkan bahwa feminisme yang diinjeksikan dunia Barat menjalar masif di Indonesia. “Barat ingin merusak dunia dari segala sisi, salah satunya norma yang dianut perempuan. Emansipasi yang dibawa oleh Barat adalah emansipasi pembebasan. Perempuan, oleh Barat, dibiarkan bebas tanpa batasan norma. Beberapa produknya adalah menjamurnya penayangan film yang menampilkan perempuan telanjang, aktivitas perempuan yang keluar dari  kodratnya, dan rusaknya peran perempuan dalam lembaga keluarga. Semua itu melampaui batas aturan Islami,” ungkap Emilia yang juga adalah salah seorang aktivis pelanjut perjuangan Muthahhari.

Pemaparan di atas hanya sekelumit potret kondisi perempuan Islam yang harus disikapi dengan bijak. Butuh keseriusan mendalam untuk menyelesaikan problematika ini. Pada musim panas tahun lalu, WAO mengadakan WFPIST untuk pertama kalinya. Rencananya, kegiatan ini akan diadakan rutin tiap musim, empat bulan sekali. Forum kedua ini merupakan tindak lanjut untuk merumuskan solusi bagi persoalan yang dihadapi tiap negara.

Sebagai penyelenggara forum Internasional ini, WAO memiliki visi besar, yaitu menyatukan Islam di dunia yang diawali dengan perempuan. Hal itu hampir senada dengan ungkapan peserta dari Suriah pada sesi lain, “Kini bukan saatnya kita mencari perbedaan dan memperuncingnya. Kita semua dalam keadaan menanti kedatangan  Sang Juru Selamat al- Mahdi; kita harus bersatu menyiapkan kedatangan beliau.”

***

SELAIN sesi forum keperempuanan, acara yang diadakan bertepatan dengan suasana maulid Nabi ini, juga ada kegiatan forum internasional lainnya, yaitu Qur’an and Its Role in Islamic Ummah Unity; 27th International Unity Conference. Perwakilan dari banyak negara hadir dalam forum ini, di antaranya dari negara-negara Timur Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan Eropa  serta Afrika.

Tema yang diketengahkan dalam dua forum tersebut adalah “persatuan”. Terkait dengan itu, orasi yang disampaikan delegasi Suriah menyadarkan kita bahwa ancaman persatuan amat nyata. Berita tentang Suriah menempati rating popular. Misalnya, diberitakan secara masif tentang perang antara Sunni dan Syiah, atau pemerintahan Assad dan kelompok oposisi yang berlangsung sengit. “Semua itu bohong. Kadzib akbar!” tegasnya kepada para hadirin. “Media massa telah menipu masyarakat dunia; faktanya, kehidupan Sunni dan Syi’ah di sana damai-damai saja. Bukan saatnya kita melihat perbedaan atau memikirkan kemelut internal negara lain, melainkan memperkuat persatuan umat,” ujarnya lantang hingga hadirin tercengang.

***

PEMERINTAH Iran sangat mengapresiasi kegiatan ini. Terbukti, Wakil Presiden Republik Islam Iran, Eshaq Janghari, memberi sambutan pada awal acara. Sementara pada akhir acara, Presiden Iran, Hassan Rouhani turut hadir. Tentu saja, Ayatullah Iraki, Sekretaris Umum forum tersebut, merupakan salah satu tokoh yang berjasa menyukseskan kegiatan itu. Atas peran beliau lah umat Islam dari berbagai kalangan di dunia, secara terbuka dapat saling berbagi dan bersilaturahim.

Ayatullah Iraki dikenal sebagai tokoh yang dapat menengahi pertikaian, menjadi juru bicara Islam yang mendamaikan, dan diterima oleh berbagai kalangan.

Acara Maulid Nabi Muhammad Saww merupakan acara terbesar bagi umat Islam. “Kami, di Pakistan, menjadikan pekan antara tanggal 12 Rabiul Awal (tanggal kelahiran Rasulullah Muhammad versi Ahlu Sunnah) dan 17 Rabiul Awal (tanggal kelahiran Rasulullah Muhammad  versi Syi’ah) sebagai  Hari Persatuan Islam,” ungkap salah seorang peserta dari Pakistan.

Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, khususnya bagi kaum perempuan. Terlebih lagi, Imam Khomeini mengatakan bahwa kemajuan negara sangat bergantung pada peran perempuan. Fatimah Zahra, salah satu peserta dari Indonesia mengungkapkan tentang “Bagaimana seharusnya perempuan mengambil peran. Jangan sampai mereka melanggar batas kodrat sebagai perempuan yang salah satunya mengemban peran utama dalam keluarga”.

***

Diharapkan WFPIST menjadi momentum untuk mewujudkan persatuan Islam, terutama yang dimotori oleh kaum perempuan.** [Wa Ode Zainab Zilullah Toresano dan Dhiya’an Fathiya Alifah]

Facebook Comments

Topik Tarkait

4 thoughts on “Perempuan Lintas Mazhab Bicara Persatuan Umat

  1. Heya i’m for the first time here. I came across this board and I find It really
    useful & it helped me out much. I hope to give something back
    and aid others like you helped me.

  2. We absolutely love your blog and find nearly all of your post’s to be what precisely I’m looking for.
    Do you offer guest writers to write content for you?
    I wouldn’t mind writing a post or elaborating on a number of the subjects you write about
    here. Again, awesome web log!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

14 − three =