Puncak Kefasihan Sayyidina Ali: Membincang Kitab Nahj al-Balaghah

SEMINARICASBUTONet 2, Jakarta ­­­— Islam merupakan agama yang menghargai tinta ulama. Hal itu tercermin dari sabda Rasulullah saw: “Pada hari kiamat akan ditimbang tinta ulama dengan darah para syuhada, maka tinta ulama lebih berat daripada darah para syuhada.” (Al-Akbar 2: 272). Begitu banyak karya para ulama (pemikir Islam) yang masyhur, seperti ‘Ihya Ulumuddin’ karya Imam Al-Ghazali, ‘As-Syifa’ karya Ibn Sina, ‘Madinah al-Fadhilah’ karya Al-Farabi, ‘Masnawi’ karya Jalaluddin Rumi, dll.

Selain karya-karya monumental tersebut, terdapat kitab komprehensif yang layak dikaji oleh umat Islam, yakni Nahj al-Balaghah.

ICAS (Islamic College for Advanced Studies) – Jakarta secara rutin menyelenggarakan Seminar Nasional Studi Teks Filsafat dan Tasawuf setiap Jum’at siang. Pada pekan ini (10/1/2014), pihak kampus menjadwalkan studi teks kitab Nahj al-Balaghah. Kitab ini merupakan kumpulan khotbah, surat dan ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang disusun oleh Sayyid Radhi. Salah satu pembicara pada pertemuan terakhir ini adalah Ayatullah Mohammad Hussein Zangganeh.

Ulama yang bersahaja itu mengetengahkan dua pembahasan, yaitu mengenai sosok Ali dan Kitab Nahj al-Balaghah. Menurut Guru Besar Universitas Mashad tersebut, Imam Ali merupakan manifestasi nama Tuhan di muka bumi. “Sifat-sifat Allah tergambarkan pada alam semesta, seperti keagungan Allah yang termanifestasi pada keagungan alam. Selain itu, Sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang termanifestasi pada sosok Ibu. Nah, salah satu sifat (asma) Tuhan juga termanifestasi pada sosok Ali,” ujarnya. Bahkan, Rasulullah bersabda: Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.

Selain hadits Rasulullah mengenai sosok agung Ali, Ayatullah Zangganeh juga mengungkapkan pandangan berbagai tokoh. “Imam Syafi’i menyatakan: Wahai Ali, keagunganmu di depan musuh-musuhmu tidak pernah diungkapkan. Tapi, keagunganmu diakui oleh semesta alam. Kemudian, Kahlil Gibran (penyair Lebanon) berkata: Aku tidak mengetahui ada manusia yang lahir melampaui zamannya, selain Ali, Muawiyyah mengakui bahwa orang yang paling mulia  setelah Nabi Muhammad adalah Imam Ali. Kita ibarat bumi, sementara diri Ali seperti langit,” ujarnya.

Pernyataan para tokoh tentang Ali semakin mengukuhkan keutamaan keponakan Rasulullah SAW tersebut. Lebih lanjut, Ayatullah menekankan keutamaan Ali pada perjuangan menegakkan keadilan dan kebebasan. “Ali adalah sosok yang selalu menegakkan keadilan, sehingga sampai pada kesyahidan. Selain itu, ia juga memperjuangkan kebebasan, dengan itu pula ia sampai pada kesyahidan,” ucap ulama yang memahami filsafat dan irfan itu.

Berkenaan dengan Kitab Nahj al-Balaghah, Ayatullah Zangganeh menilai karya ini sebagai mukjizat Ali. “Kitab Nahj al-Balaghah berisi perkataan Imam Ali yang merupakan puncak kefasihan, baik dari segi bahasa maupun kandungan makna. Kitab ini memiliki mukjizat yang luar biasa dalam setiap dimensinya,” ujarnya.

Kitab ini berisi beragam topik esensial, meliputi metafisika, teologi, kenabian, imamah, fiqih, tafsir, hadits, etika, filsafat, sosial, sejarah, politik, administrasi, sains, retorika, puisi, literatur, dll. Ayatullah memandang bahwa salah satu pembahasan penting pada Nahj al-Balaghah terkait dengan Irfan.

Salah satu pernyataan Imam Ali terkait dengan ibadah: Wahai Tuhanku, Aku mengabdi pada-Mu bukan karena takut. Tetapi, aku mengabdi pada-Mu kerena cinta. Menurut Ayatullah Zangganeh, hadits tersebut menunjukkan bahwa puncak ibadah para arif berlandaskan pada cinta.

Dalam pandangannya, sungguh buta mata yang tidak mampu menyaksikan Tuhan-Nya. Ayatullah membacakan salah satu syair Persia: “Duhai Tuhanku, aku ingin menyaksikan diri-Mu, tapi betapa sedihnya ketika Engkau menolakku,” bacanya dengan syahdu. Sementara Imam Ali berkata: Aku tidak menyembah sesuatu yang tidak aku lihat. “Lagipula, bagaimana mungkin kita menyaksikan sesuatu, sementara Tuhan selalu bersama kita?” tanya Ayatullah. Selain tentang ibadah, Imam Ali juga mengulas tentang kematian. Imam Ali mengatakan: Kerinduanku pada kematian melebihi kerinduan bayi terhadap susu ibunya.

 

Bahkan, menurut Imam Shalat Jum’at  di Mashad tersebut, keyakinan Ali terhadap Tuhan layak diteladani oleh para arif. Imam Ali menyatakan: Jika tersingkap tirai-tirai yang menjadi hijab antara Tuhan dengan diriku, sungguh tak akan menambah keyakinanku terhadap-Nya. Pernyataan itu dilontarkan Ali karena ia sudah sampai pada derajat tinggi dalam maqom spiritual. Ayatullah Zangganeh mengungkapkan bahwa Imam Ali juga membahas mengenai Wahdat al-Wujud (Kesatuan Wujud) pada kitab Nahj al-Balaghah. Tapi, kita membutuhkan pembahasan mendalam yang memerlukan waktu dan konsentrasi yang cukup.

Atas dasar itu, Ayyatullah Zangganeh mengajak kita untuk menggali sosok Imam Ali dan membaca serius kitab Nahj al-Balaghah. “Memang sulit untuk mencapai tingkatan seperti Imam Ali, tapi setidaknya kita dapat mengikuti jalan ketakwaan dan wara’ dengan mempelajari pribadi dan kehidupan Imam pada kitab Nahj al-Balaghah ini,” ujarnya sambil mengakhiri pembicaraan.  (Wa Ode Zainab ZT)

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seventeen − three =