Randy, Ahlul Bait, dan Kesabaran tanpa Batas

beribadahSaat duduk di kelas 2 SMA, Randy tergerak hatinya mencari Sang Pencipta, “Penyebab segala wujud” (dzâhir wal bâthin); dan ia mulai dengan belajar tentang sosok yang sering disebut sebagai utusan-Nya, Rasulullah Muhammad Saw.

Bersamaan dengan itu ia juga mulai mempertanyakan kebenaran agama melalui sejumlah kalangan, mulai dari para Ustadz (yang dalam pengajian mereka sering dibahas berbagai aspek ibadah ritual), kelompok orang santun dan ramah (yang selalu mempraktikkan pola hidup kebersamaan/berjamaah atau solidaritas dalam berbagai hal), hingga mereka yang terkesan piawai dalam strategi politik dan berorganisasi.

Tidak berhenti di situ, Randy terus menapaki pencarian dengan sering menyambangi toko-toko buku bercorak keislaman, dan suatu ketika di sana ia temukan satu buku yang isinya memperkenalkan tentang pentingnya menghargai keragaman atau pluralitas (beda dengan “pluralisme”), khususnya di internal agama Islam sendiri atau kaum Muslimin. Tentu saja pemahaman baru — yang dipaparkan secara argumentatif — dalam buku itu menggugah Randy seakan berada di simpang jalan (at the cross road), mau kemana lagi mengarahkan langkah ke arah “kebenaran” (meskipun ia menyadari bahwa persepsi tentang “kebenaran” bersifat “relatif”).

Di tengah kebimbangan berkesadaran itu, satu-satunya yang Randy lazimkan — sambil melatih kesabaran — adalah terus memanjatkan doa (yang acap diiringi tetesan-tetesan air mata) agar ia dipertemukan dengan kebenaran hakiki dari-Nya, bukan kebenaran yang ia persepsikan dan banggakan secara subjektif, yang nyaris bak sejenis berhala.

Beruntung, Randy kemudian berkenalan dengan seorang anak muda (sebut saja bernama Salman al-Butûni) yang kebetulan juga sedang belajar menjalani pengembaraan intelektual dan ruhani. Melalui Salman — yang kemudian menjadi sahabatnya — ini ia mengenali makna keterbukaan, tenggang rasa, progresifitas, dan kerendahan hati. Satu ucapan yang menarik dari Salman — yang sedikit pun tidak bertampang agamis — itu adalah, “hanya dengan kerendahan hati (dan membudikreatifkan optimisme atau prasangka baik/husnudzan) dan terus ber-Shalawat (kepada Rasulullah Muhammad Saww dan Keluarga Suci/Ahlul Bait beliau) serta senantiasa berdoa kepada Allh Swt, niscaya Nurullah dapat bermanifestasi (tajalli) dalam qalbu hamba-Nya. Dan bahwa Nurullah itu sangat penting untuk menjadi suluh dalam pengembaraan/berkiprah di dunia yang fana ini.

Dari Salman itu lah Randy mengenal ajaran Keluarga Suci (Ahlul Bait) Rasulullah Muhammad Saww (Shallalahu ‘alaihi wa âlihi wa sallam) — seperti dimaksudkan dalam al-Qur’an Surah 33 ayat 33 — yang juga menjadi rujukan dari para Imam fiqh dalam mazhab Ahlu Sunnah, yaitu Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Hanbali, dan Imam Syafi’i (Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru langsung kepada Imam Ja’far As-Sadiq, salah seorang Imam mazhab Ahlul Bait; sedangkan Imam Syafi’i menjadi murid Imam Malik).

Betapa tercengangnya Randy, mazhab Ahlul Bait yang selama ini dicitrakan secara keliru — sejak masa kekuasaan Bani Umayyah, Abbasiyah, dan hingga kini — justru memancarkan realitas sebaliknya. Bahkan argumentasi-argumentasi yang dibangun oleh Salman itu lebih banyak merujuk pada kitab-kitab Sunni sendiri. Menariknya lagi, Salman sama sekali tidak berpretensi menggiring atau mendoktrin untuk beralih mempraktikkan cara peribadatan Imam Ja’far, sebab selama Imam Ja’far mendidik murid-muridnya (salah satunya adalah Abu Hanifah), tidak pernah ada anjuran untuk menanggalkan cara peribadatan mereka.

Suatu ketika Salman mengajak Randy bertandang ke rumahnya di bilangan Jakarta Selatan; sebuah rumah mungil sederhana yang nyaris dipenuhi buku dan hanya ada sedikit perabot/perlengkapan sebagaimana lazimnya terdapat dalam setiap rumah tangga. Salman memperkenalkan Ayahnya (Abi Salman/Absal) kepada Randy. Tanpa diduga, Absal ternyata seorang mantan aktifis dan mentor untuk pengkaderan gerakan-gerakan mahasiswa.

Mulailah Randy terlibat obrolan rutin bernuansa keilmuan dengan Absal, namun entah kenapa, saat Randy mengutarakan keinginannya untuk berguru secara khusus menimba ilmu, Absal malah menganjurkan untuk mencari guru lain yang lebih berkompoten (capable) dari beliau seraya menyarankan agar rajin mengaji dan banyak membaca dengan dimulai mengenali sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad Saww beserta Ahlul Bait beliau (dimulai dari Sayyidah Fâthimah, Saydina ‘Ali, Saydina Hasan, dan Saydina Husein).

Penolakan diplomatis itu tentu saja mengecewakan Randy, namun ia selalu teringat dengan pesan Absal, “Bersyabarlah, insya Allah nanti pada saat yang tepat Allah akan mempertemukan dengan seorang “teman atau sahabat untuk berbagi (sharing)”. Pesan ini terus melekat dalam benak Randy, dan merupakan penyemangat baginya untuk terus mencari sosok pembimbing yang ia dambakan.

Hingga beberapa tahun kemudian, Randy belum juga menemukan sosok yang pas dengan suasana kebatinannya untuk dijadikan pembimbing atau sahabat sharing. Sehingga, kendati ia sudah disibukkan dengan urusan pekerjaan dan membina keluarga, tetap saja ada perasaan mengganjal untuk terus bisa menemukan kesempatan belajar dari sosok yang diidamkan itu, meskipun sudah cukup lumayan buku-buku yang dibacanya. Anehnya, dari sekian banyak guru/Ustadz yang didatangi, sosok Absal tetap saja dimasukkan Randy dalam proposal hidupnya, seraya terus berdoa agar Allah berkenan mempertemukannya lagi dengan beliau (Absal) untuk maksud menimba ilmu.

Sungguh Allah Maha Pengabul doa; akhirnya Randy dipertemukan kembali dengan Absal. Kali ini beliau langsung mengiyakan tatkala Randy meminta kesediaan beliau menularkan ilmu dan pengalaman hidupnya, meskipun ia (Absal) sendiri mengatakan tidak ada yang patut diteladani darinya, karena ia sendiri merasa semakin sering tergelincir dari jalan pendakian (sayr wa suluk) menuju Dzat Yang Baqâ. Tentu saja hal ini merupakan kenikmatan dari-Nya (fabiay ‘âla irabbikuma tukazziban, nikmat mana lagi yang engkau dustakan !!!)

Alhamdulillah, kini Randy bisa terus bersilaturahim dengan Absal, mengobrol santai dengan gaya beliau yang nyentrik, terkadang sambil nongkrong di warung makan sederhana, tetapi tak lupa selalu saja membahas berbagai hal, termasuk menyoroti kembali artikel-artikel yang ditulisnya — tentang problem-problem mutakhir (termasuk political and economic current issues) — dari perspektif kebangsaan dan ajaran Baginda Rasulullah Muhammmad Saww dan Ahlul Bait beliau.

Pengalaman hidup tersebut mengingatkan Randy akan aksioma/premis baku bahwa “hanya Allah jua Perencana Yang Maha Teliti”. “Innamâ amruhû idzâ arâda syay an ayyaqûla lahu kun fayakûn“, sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia (Allah) menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka jadilah ia (QS 36 : 82). Allahuma shalli ala Muhammad wa âli Muhammad !!! [**]

________________________

Hisyam (Bekasi, 8/9/2015).

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

nineteen + 13 =