Rekonsiliasi Tradisi Islam dan Sains Modern, Mungkinkah?

 

GuessoumJudul Buku   : Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern
Science

Penulis           : Prof. Nidhal Guessoum

Penerbit         : I.B. Tauris

Cetakan          : Pertama, 15 Februari 2011

Tebal               : 416 halaman

Peresensi (Indonesia) dalam situs  SOROT Parlemen  :  Wa Ode Zainab Zilullah Toresano

Pada dekade ini muncul sejumlah ilmuwan Muslim yang berupaya merespons perkembangan sains modern dengan sudut pandang berbeda (beragam), di antaranya Seyyed Hossein Nasr, al-Faruqi, Naquib al-Attas, Ziauddin Sardar, Mehdi Golshani, dan Muhammad Abdus Salam. Salah seorang tokoh kontemporer yang melanjutkan perjuangan mereka adalah Prof. Nidhal Guessoum. Kehadiran Guessoum di kancah diskursus ″Islam dan Sains″ semakin memperkaya pemikiran dalam dunia Islam.

Buku  Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science merupakan  salah satu tulisan Guessoum yang cukup berhasil dalam mendorong rekonsiliasi antara Islam dan Sains Modern. Dalam buku ini tampak upaya Guessoum merespons perkembangan sains modern yang sungguh telah mempengaruhi dunia Islam, tanpa menafikan tradisi Islam itu sendiri. Langkah brilian tersebut tidak hanya disambut baik di kalangan Muslim, melainkan juga  banyak ilmuwan non-Muslim di berbagai belahan dunia. Kendati demikian, tidak sedikit  orang Islam yang menentangnya.

Karya Guessoum tersebut  (“Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science”) memang layak dibaca oleh para pegiat ilmu pengetahuan yang tertarik terhadap isu-isu mengenai relasi antara Islam dan Sains dalam rangka menemukan  perspektif baru yang lebih progresif. Guessoum memaparkan bahwa sikap Islam atas ilmu pengetahuan sangatlah kompleks, terutama dalam memandang applied science, di mana hal itu sangat tergantung pada subjek. Dalam buku  ini ia menyajikan berbagai pandangan para ilmuwan Muslim dalam merespons sains modern dengan mengacu pada hasil penelitian dan pengalamannya.

Sebagai seorang astronom, Guessoum tidak hanya memfokuskan penelitian pada filsafat sains, tapi juga — dengan  berhasil — menyoroti teori-teori sains modern dengan merujuk pada sumber dan tradisi Islam. Ia sungguh menguasai perkembangan sains modern. Realitas ini dikarenakan Guessoum tidak hanya merupakan ahli secara teoritis (teoritisi), melainkan juga praktisi. Lebih dari itu, ia   sangat mengapresiasi upaya-upaya intelektual Muslim dalam menemukan kebenaran ilmiah yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an. Kendati mengafirmasi sains modern, tapi ia  juga melihat kerangka teistik sebagai dasar untuk membangun rasionalitas intrinsik dalam memandang alam semesta. Kerangka brilian yang dibangun professor dari American University of Sharjaini tersebut merupakan upaya pengembangan ilmu pengetahuan yang sejalan dengan keyakinan agama.

***

BUKU ini terdiri dari 416 halaman yang terbagi dalam tiga bagian. Pertama terdiri dari ulasan pokok mengenai Tuhan, al-Qur’an, dan sikap Islam terhadap sains. Sebelum berbicara mengenai sains, Guessoum mengetengahkan pembahasan mendalam tentang prinsip-prinsip Islam dengan mengacu pada  al-Qur’an, tradisi, dan filsafat (yang berkembang di dunia Islam). Dalam bab pertama ia mengulas sejumlah biografi filosof dan ilmuwan Islam sejak abad pertengahan hingga era kontemporer, terutama pandangan mereka yang terkait dengan arahan bagaimana kaum Muslimin seharusnya  merespon sains modern (teori sains dan teknologi).

Biografi  Sayyid.Husein Nasr — seorang filsuf Islam kontemporer — adalah salah satu yang diulas Guessoum. Nasr mengusung  ‘sacred science’  dalam merespon sains modern dengan berpijak pada landasan filsafat perenial. Filsafat sains (filsafat alam dan manusia) Nasr dikenal dengan ‘Tradisional School’ dalam bingkai prinsip tauhid.

Dalam halaman 133 bukunya itu  Guessoum menulis, “Indeed, Nasr notes that modern science, being a secular enterprise, is an anomaly with regard to human history. He remarks that the Western civilization is the first one to construct a science, a knowledge and description of nature that negates the sacred altogether. He makes a causal link between this fact and the problems that have resulted from science and its applications (technology); indeed, Nasr blames modern science in toto for all the ills that can be found in society, from the onslaught on the environment to the ‘debasement’ of man.”

Dalam karya tersebut ia mengajak umat Islam mengakrabi sains modern (ilmu pengetahuan yang dihasilkan di luar Islam) seraya menjauhkan prasangka (buruk) atau curiga terhadap Barat. Upaya rekonsiliasi antara Islam dan sains dalam konteks kekinian perlu dilakukan secara metodologis, yang didasarkan pada basis-basis epistemologis .

Bagian Kedua buku itu mengetengahkan isu-isu kontemporer sains yang diperhadapkan dengan (kondisi umat) Islam. Disini Guessoum membahas bagaimana intelektual Muslim merespons tema kosmologi, teleologi, dan evolusi modern. Menurutnya, dunia Islam perlu merumuskan pertanyaan ilmiah (baca: ″pertanyaan kuantum″) secara serius dan komprehensif. Jika  umat Islam berhasil merumuskannya, mereka akan mampu berdiri tegak mengibarkan bendera kejayaan tanpa ketertutupan diri dari  kelompok-kelompok lainnya  (the others).

Now Muslims may insist that humans were created to worship God, and nature is here to this (physically, emotionally and spiritually) by helping one to at least reflect upon it and perhaps come to know God through it. Muslims may then read these FT and anthropic principle developments and be tempted to see them as confirmation that we are ‘evidently’ at the centre of the universe, and perhaps the universe was indeed created for us. But one must always remember that the purpose of creation is a divine reason, which will largely remain outside our understanding.” (hlm. 270)

Dalam Bagian Ketiga, Guessom membahas berbagai pandangan (proyeksi) tentang Islam dan Sains di masa mendatang serta perkembangan pendidikan di dunia Islam. Ia juga menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang guru dan ilmuwan seraya menyarankan agar para pelajar Muslim memiliki kesadaran mempelajari ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk memahami filsafat ilmu dan sejarah secara komprehensif yang terkait dengan Islam.

I believe that despite many efforts at unearthing and presenting to the public (Muslim and western) the wealth of scientific works that the golden-era Muslim scholars produced, there is still serious ignorance as to what was done exactly. Most of the discourse on the Islamic civilization has remained superficial and ill-informed. Hence, there is a need to teach the (whole) history of science rigorously and vigorously in the general curriculum.” (hlm. 343)

***

DENGAN mempertimbangkan kemanfaatan  bahasan dalam tiga bagian buku tersebut, agaknya buku karya Guessom ini  menjadi penting  untuk dibaca, terutama bagi para  pelajar dan  (calon) intelektual yang ingin memahami secara holistik relasi antara ‘Islam dan Sains’. Terlebih lagi, Guessoum berhasil memaparkan diskursus perihal relasi  Islam dan sains  tanpa terjebak pada reduksionistik. Ia pun berupaya menyajikan hasil penelitiannya secara filosofis dan saintifik dengan merujuk pada perkembangan sejarah  di masa lampau hingga era kontemporer, mulai dari Ibn Rusyd hingga al-Ghazali;  juga dari Iqbal hingga S.H. Nasr.  Singkatnya, Guessom  sukses memaparkan pemikiran para filosof dan intelektual Muslim secara komprehensif, selain  memberikan kritik elegan terhadap pemikiran mereka.

These Muslim intellectuals have identified each other from their previous efforts at addressing issues that arise from the academic practice of science and philosophy. They have seen a growing number of western intellectuals tackle epistemological and metaphysical (fundamental) questions pertaining to science as well as modern issues which press Muslims to reflect on topics like evolution, design, God’s action in the world, the nature of Reality etc. (hlm. 327)

***

HAMPIR dapat dipastikan tidak hanya intelektual Muslim yang dapat mengambil manfaat dari karya Guessom itu, tapi juga kalangan non-Muslim karena Sang Penulis berhasil menambal sejumlah kekurangan pada karya-karya sebelumnya, dalam hal ini khususnya  mengenai relasi antara sains dan agama. Selain itu, buku ini juga benar-benar membuka mata kalangan agamawan, terutama bagi kaum Muslimin; sehingga diharapkan akan bisa menghilangkan kejumudan / stagnasi berpikir dan alergi terhadap ilmu pengetahuan (Barat) atau sains modern. [ ]

_______________________________________________________

Peresensi adalah mahasiswi Pasca Sarjana (filsafat Islam)  ICAS Paramadina, Jakarta  (cabang dari ICAS London).  Pernah mengikuti serangkaian kuliah Prof. Nidhal Guessoum yang diselenggarakan di Kuala Lumpur dan Paris. Sejak awal 2015 berbagi mengabdikan diri sebagai Wakil Pemimpin Radaksi www.sorotparlemen.com.

Facebook Comments

Topik Tarkait

One thought on “Rekonsiliasi Tradisi Islam dan Sains Modern, Mungkinkah?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

7 + 18 =