Rekonstruksi Peradaban Wolio dan Silsilah Keluarga Tapi-Tapi Kesultanan Buton : Dari Ratu Wa Khâ Khâ/Raja ke-1 Kerajaan Wolio (isteri Raden Sri Bhatara) hingga Wa Ode Zainab ZT

Oleh : Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano)^ dengan Fasilitator : Wa Ode Yani Haerani.

  • ^ = Lihat “Lampiran” nomor 1 pada bagian akhir tulisan ini.

  • Masa kekuasaan Ratu Wa Khâ Khâ : 1332 – 1350.

  • Wa Ode Zainab ZT (lahir di Jakarta : 12 November 1988) = Wa Ode Zainab Zilullah Toresano, M.Ud, MA [(binti La Ode Zulfikar Toresano bin La Ode Abubakar, anak dari Wa Ode Aisyah binti La Ode Abdul Majid/Yarona Lasalimu) ATAU (binti La Ode Zulfikar Toresano, anak dari Wa Ode Hasimah binti La Ode Muhammad Said bin La Ode Abdul Majid/Yarona Lasalimu)].

  • Keluarga “Tapi-Tapi” yang dimaksud adalah dari jalur ibunda La Ode Abubakar (Wa Ode Aisyah binti La Ode Abdul Majid/Yarona Lasalimu) dan ayahanda Wa Ode Hasimah (isteri La Ode Abubakar), yakni La Ode Muhammad Said bin La Ode Abdul Majid/Yarona Lasalimu. Tapi-Tapi adalah salah satu kelompok keluarga besar atau pilar/tiang (bahasa Wolio : “Pale”) bangsawan “kaomu” dari tiga tiang penopang kekuasaan eksekutif yang tergabung dalam institusi sosial-politik-kemasyarakatan Kamboru-Mboru Talu Palena” [“Tumpuan Tiga Tiang/Pilar”, yakni tiga pilar (kekuasaan eksekutif) yang menyatu dan saling menopang] dalam Kesultanan Buton. Tiga kelompok kaomu (bangsawan lapis pertama) itu adalah : (1) Tapi-Tapi (keturunan La Singka/La Singga); (2) Kumbewaha (keturunan La Bula); dan (3) Tanailandu (keturunan La Elangi). ƟƟƟ Para pemangku adat yang tergabung dalam dewan yang beranggotakan sembilan tokoh adat (Dewan “Siolimbona”) dari bangsawan “walaka” (bangsawan lapis kedua), sebagai representasi kekuasaan legislatif, berijtihad mencari calon terbaik masing-masing dari tiga kelompok bangsawan “kaomu” untuk dididik atau dikader sebagai calon pemimpin eksekutif (Sultan), dan kemudian dikonstatasikan atau dipilih melalui mekanisme demokratis/musyawarah dalam dewan termaksud (Dewan “Siolimbona”). ƟƟƟ Status adat untuk bangsawan “kaomu” adalah “Anak yang dimuliakan”; sedangkan untuk bangsawan “walaka” (lapis kedua) adalah “Orangtua yang dihormati”.

  • Karena ayahanda dari La Ode Abubakar (La Ode Bosa bin La Ode Taru/Yarona Liya) adalah dari keluarga “Kumbewaha”, maka silsilah Wa Ode Zainab ZT juga ada dalam versi keluarga “Kumbewaha”. (Lihat silsilahnya).

  1. Daftar Materi :
  • Pengantar.
  • Wa Ode Zainab ZT, perempuan muda multi-etnik : Buton, Jawa, Mongol, Wakatobi, Batauga, Bugis, Muna, Selayar, Kulisusu, Kamaru, Tiworo, Konawe, Mawasangka, Lakudo, Bani Hashim (Quraisy), dll. Dengan pendekatan lintas keilmuan, nilai-nilai yang terkandung dalam keragaman potensial ini bisa diterjemahkan menjadi aksi-aksi konkret untuk memperkuat peradaban Buton, peneguhan kesatuan bangsa, dan solidaritas kemanusiaan. (Lihat juga “Rekonstruksi Peradaban Wolio dan Silsilah Keluarga Kumbewaha Kesultanan Buton”).

  • Panduan Silsilah.

  • Silsilah Wa Ode Zainab ZT.

  • Penjelasan.

  1. Pengantar :
    1. Salah satu syarat utama dari sebuah masyarakat yang kuat adalah memiliki konsepsi tentang tindakan yang historis. Tidak heran bila Bung Karno mengingatkan, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”. Bahkan sepertiga isi Al-Qur’an adalah tentang “sejarah”. Bagian paling elementer dari sejarah, sekaligus merupakan pembeda antara manusia dan hewan, adalah “silsilah”. Hewan tidak pernah mempersoalkan (tidak mau tahu) asal-usul atau silsilahnya. Materi pelajaran sejarah yang anti kemanusiaan (kolonialistik/neokolonialistik) pun bisa jadi sengaja dirancang untuk mengabaikan soal “silsilah”, karena di sana antara lain terkandung kekuatan terpadu yang menggerakkan solidaritas (tentu saja yang konstruktif). Model pelajaran (kurikulum) sejarah yang eksploitatif seperti itu dijejali dengan (hafalan tentang) ceceran data tanggal, bulan, dan tahun yang sangat membosankan. Tapi, menyoroti soal silsilah, mungkin muncul sinisme, bukankah kita semua berasal dari Nabi Adam a.s., sehingga apa perlunya “silsilah”, yang hanya akan menciptakan pengkotakan dalam masyarakat, bahkan kebanggaan semu (narcissism) seperti dipertontonkan bangsa iblis (QS 2 : 30)? Terhadap keberatan seperti ini kita khawatir bisa jadi akan berkembang menjadi gugatan lanjut, mengapa Tuhan memberikan hak istimewa (berupa Imamah) kepada keturunan Nabi Ibrahim a.s. (QS 2 : 124), dan menciptakan manusia dalam keanekaragaman ketegoris : genetika, kebangsaan, kesukuan, dan lain-lain (QS 49 : 13)? Karena sebuah suku dan bangsa yang beradab niscaya memiliki “peradaban”, maka untuk konteks Buton/Wolio, (untuk sementara) peradaban yang dimaksud cukup dibatasi mulai pada masa pembentukan “Kerajaan Wolio”, yakni di masa pemerintahan Ratu ke-1 : Wa Khâ Khâ (dihitung dari tahun 1332). Jika setiap orang Buton bisa merangkai (mengurutkan) silsilahnya hingga ke pribadi atau individu-individu yang hidup di masa kekuasaan Ratu Wa Khâ Khâ, kemudian mengetahui apa yang telah diperbuat/dilakukan oleh individu-individu tersebut (termasuk interaksi sosial mereka), bukankah gabungan dari kesemuanya akan menampilkan sebuah bangunan peradaban Buton/Wolio yang besar dan indah, bahkan potensial menjadi pemicu untuk membentuk peradaban Buton/Wolio yang gemilang di masa mendatang? “Sesungguhnya pada kisah-kisah (sejarah-sejarah) mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”. (QS 12 : 111). “Kami (Allah) akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami dari yang terbentang di horizon (semesta) ini dan dari jiwa mereka sendiri, sehingga tahulah mereka akan kebenaran itu”. (QS 41 : 53). Data-data sejarah pembentuk peradaban (masa lalu dan mendatang) yang tersebar dalam demikian banyak garis silsilah itu penting menjadi bagian dari khazanah pedoman niat dan tindakan kita agar diridhai Allah Swt., bukan mendapatkan murka-Nya, seperti diingatkan pada ayat berikut : “Mereka tidak mengikuti apa-apa kecuali persangkaan (tanpa dukungan data sejarah yang otentik) dan hasrat mereka”. (QS 53 : 23).

    2. Pembuatan silsilah Wa Ode Zainab ZT ini diharapkan bisa memicu orang-orang Buton untuk membuat hal yang sama, sehingga dari sekian banyak garis atau benang-benang silsilah itu kelak (diharapkan) dapat terbentuk kain tenunan peradaban yang mampu melindungi masyarakat Buton (yakni “Masyarakat Peradaban Buton” yang tidak dibatasi oleh sekat ruang dan waktu) dari pengaruh cuaca zaman yang eksesif (termasuk di dalamnya adalah fitnah dan manipulasi data historis), bahkan menutupi aurat peradaban kemanusiaan orang Buton yang paling substansial (hakiki Ilahiah). Buton/Wolio patut bersyukur karena ia memiliki peradaban besar yang indikatornya jelas, baik dari aspek : (a) ideofak/ide atau nilai dasar; (b) sosiofak/amal ritus atau upacara (praktik) adat serta keagamaan; dan (c) artefak/simbol-simbol kultural dan keagamaan. ƟƟƟ Dengan kata lain, signal kebesaran peradaban Buton/Wolio nan cemerlang itu sangat jelas, baik berupa warisan “tangible” (benda) maupun “intangible” (tak benda). Masyarakat Buton tidak seperti kerumunan “masyarakat tertentu”, misalnya, yang mengklaim punya peradaban padahal sesungguhnya (nyaris) tidak punya peradaban (untuk tidak menyebut “berkebiadaban” atau “masyarakat biadab”); atau kalaupun terpaksa memenuhi persyaratan untuk disebut berperadaban, tapi peradaban yang dimaksud (nyaris) adalah “peradaban tanpa aurat” alias “peradaban porno”. ƟƟƟ Dari perspektif outward looking, pembuatan silsilah itu juga penting untuk menangkal munculnya “perang intelektual” (gaswul fikri), sebab bukan tidak mungkin akan keluar gerombolan orang — dari lubang-lubang persembunyian — yang pola kerjanya mirip (serupa tapi tak sama) dengan kalangan orientalis; merusak kebudayaan serta peradaban Timur (dan Islam). Perlu diwaspadai banyak isu atau propaganda (bagian dari strategi) yang potensial mereka lontarkan secara intensif untuk merusak peradaban Buton, antara lain, yang dikemas dalam gagasan bahwa : (1) UUD/Konstitusi “Martabat Tujuh” (1610) itu dibuat atas intervensi VOC untuk memecah belah kerajaan-kerajaan di kawasan; dan (2) Sebelum berdirinya Kesultanan Buton, yang ada adalah “Kerajaan Melai” (dengan rajanya adalah Raja Mulae); sehingga Kerajaan Buton/Wolio itu tidak ada, sebab nama “Buton” adalah pemberian VOC; ƟƟƟ Diperlukan buku-buku tersendiri (dengan tinjauan sejarah komparatif dan epistemologi-ontologi kebudayaan Ilahiah) untuk menghentikan propaganda ala neoimperialis seperti itu. Tapi sekadar pemula (intellectual warming up), kita mau tanya kepada mereka : (a) Apakah kalian tidak meyakini kebenaran hakekat Qur’ani dari ilmu “Martabat Tujuh” (tanazzulat i sittah), sehingga meragukan peranan Syarif Muhammad (Habib/Sayyid Muhammad), keturunan Rasulullah Muhammad Saww, dalam meletakkan ilmu tersebut (yang di situ terkandung nilai-nilai demokrasi Ilahiah serta HAM) dan mengawasi penerapannya sebagai UUD (di) Kesultanan Buton? Apakah kalian meragukan otentitas keulamaan seorang Habib seperti beliau (Syarif Muhammad), yang tentu saja tersinari cahaya Ilahiah seperti dimaksudkan dalam QS 2 : 124 dan QS 33 : 33 (dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an dan dalil-dalil naqli lainnya)? Atau jangan-jangan kalian tidak memahami apa itu “Wahdatul al-Wujud” yang diajarkan Rasulullah Saww, dan malah menalarinya secara serampangan seperti kalangan tertentu yang miskin literatur komparatif, bahkan memfitnahnya sebagai praktik bid’ah alias kurafat? (b) Belum cukupkah bukti artefak/manuskrip Negakretagama (yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365) dan banyak kitab/serat beraksara Arab-Wolio pegon, yang menyebut-nyebut eksistensi Butun/Buton/Wolio (sebelum terbentuknya “Kesultanan Buton”), sehingga kalian terus ngotot mengingkari fakta-fakta otentik itu? Bisakah kalian tunjukkan manuskrip kuno yang menerangkan tentang eksistensi “Kerajaan Melai”, yang kalian maksudkan sebagai embrio lahirnya Kesultanan Buton, atau juga yang tertulis dalam literatur Nusantara dan dunia? Jika kalian beranalogi, kata “melai” (dalam sebutan “Kerajaan Melai”) mirip dengan nama rajanya, yakni “Raja Mulae”, kita perlu ingatkan agar berhati-hati, sebab yang pertama kali bangga/takabur menggunakan ilmu “ultra-analogi”/”analogi ekstrim” (“ilmu mencocok-cocokan” atau “ilmu cocokologi”) adalah syaitan, yakni saat menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam a.s. dengan alasan analogis/cocokologi bahwa dirinya (syaitan) diciptakan dari api, sedangkan Adam a.s. hanya diciptakan dari tanah (yang menurutnya lebih hina) — QS 7 : 12. Bagi orang Buton, sama halnya dengan Lantongau, “Melai” hanyalah tempat di dalam benteng Keraton Wolio di mana didirikan Zâwiah (semacam pesantren) untuk menyelenggarakan pendidikan agama. Atau juga nama salah-satu jabatan menteri (bonto), yakni “Bontona Melai”, dalam struktur pemerintahan Kesultanan Buton (Sara Wolio). Belum juga puaskah kalian dengan bukti-bukti ideofak dan sosiafak (yang bertebaran di sepanjang benang merah sejarah) tentang eksistensi Kerajaan Wolio/Buton sebelum terbentuknya “Kesultanan Buton”? Kita ingatkan, kalangan orientalis pun — yang demikian canggih menggunakan metodologi untuk melakukan rekayasa ilmu atau menghadirkan fakta-fakta palsu — terbukti gagal total (alias “gatot”); lalu apakah kalian hendak meniru kenaifan atau kecerobohan yang sama? Daripada menyibukkan diri menebar fitnah (yang notabene dinistakan oleh agama karena lebih sadis daripada “pembantaian”), bukankah lebih baik kalian berdiam saja karena “diam itu adalah emas”? ƟƟƟ Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mencurigai — apalagi dibumbui sinisme — pembuatan silsilah seperti ini. Bagi kami sederhana saja; sebagai hamba Allah Swt., kami terus belajar untuk tidak meremehkan/merendahkan apalagi merampas hak-hak makhluk Allah Swt., terutama manusia sebagai makhluk termulia. Kalaupun juga hati kami digoda oleh perasaan benci, semoga disadarkan dengan firman Allah, “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QS 5 : 8).

    3. Pembuatan silsilah seperti ini juga penting untuk mencegah “kemungkinan” munculnya fitnah atau pendistorsian data genealogi (keturunan) oleh pihak-pihak tertentu demi mewujudkan motif atau kepentingan khusus, seperti kepentingan melampiaskan dendam pribadi/keluarga/golongan/kelompok, menjegal lawan politik, menggarap bisnis pragmatis-oportunis, dan lain-lain. Untuk menjegal lawan politik, misalnya, si pemfitnah menyebarkan tulisan atau berita manipulatif/fiktif bahwa (keluarga) calon pemimpin tertentu adalah keturunan ………………… (dengan konotasi kurang baik atau negatif), di mana pembuatan berita tersebut hanya didasarkan pada rekaan atau “ilmu mencocok-cocokan” (cocokologi), atau juga mengambil sumber dari pihak yang kurang/tidak kredibel (musuh atau bukan keluarga besar yang otoritatif dari orang yang diberitakan). Salah satu contohnya, tulisan yang menuding tokoh tertentu adalah keturunan etnis X hanya karena berkulit putih, bertubuh tinggi, dan bermata belo. Padahal ciri-ciri fisik seperti ini bukan khas etnis X, melainkan banyak etnis (bangsa) lainnya. Model fitnah (berspektrum politik) lainnya, misalnya, diberitakan si Fulan adalah keturunan bangsa …………. yang diperkuat dengan pengakuan penyebar berita bahwa ia sudah mewawancarai beberapa orang tetangga si Fulan dan juga sejumlah orang di daerahnya. ƟƟƟ Jika tradisi pembuatan data silsilah sudah terbangun, tentu masyarakat mudah memeriksa kebenaran berita-berita seperti ini. Namun, bersamaan dengan itu masyarakat juga perlu mengembangkan tradisi berpikir kritis/logis. Misalnya, untuk berita seperti tadi, langsung saja nalari, mengapa pembuat berita harus memprioritaskan untuk bertanya kepada tetangga atau orang yang sedaerah dengan si Fulan, padahal bukan tidak mungkin yang ditanyai punya masalah dengan si Fulan? Bukankah lebih baik jika pertanyaan ditujukan langsung kepada si Fulan atau keluarga besarnya yang otoritatif (relefan)? Tidakkah si pembuat berita tahu ayat Allah tentang tabayyun (cross-check), ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS 49 : 6). ƟƟƟ Satu contoh lagi, yakni tentang potensi fitnah di bidang bisnis yang terkait dengan manipulasi data silsilah. Seiring dengan meningkatnya kegiatan investasi di bidang ekonomi, bisa jadi di kalangan masyarakat akan beredar aneka model data silsilah hasil rekayasa (DSHR) — yang dibuat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab (antara lain para spekulan) — yang dimaksudkan antara lain untuk memudahkan pembelian/pembebasan tanah-tanah milik masyarakat (termasuk tanah-tanah adat), terutama di daerah-daerah terpencil. Dalam hal ini mungkin saja, dengan berbekal DSHR, para spekulan akan meyakinkan masyarakat bahwa leluhur mereka ada hubungan kekerabatan. Parahnya lagi bila si spekulan sesumbar bahwa DSHR itu dibuat dengan merujuk pada manuskrip klasik/kuno (bahkan ada yang ditulis di lembaran-lembaran daun) yang menggunakan aksara/bahasa adat tertentu. Untuk mengatasi jurus tipu-tipu (penipuan) seperti ini, sama dengan sebelumnya, selain perlunya setiap keluarga besar memiliki data silsilah yang valid, masyarakat juga perlu disarani untuk memuliakan penggunaan nalar/logika. Maka, untuk kasus demikian, masyarakat perlu diberi tahu agar si spekulan ditanyai : (a) Bisakah kami dapatkan copy (soft file) manuskrip kuno termaksud untuk dimintakan bantuan penerjemahan pada institusi-institusi yang berkompoten, atau minimal pada perguruan tinggi yang relefan; (b) Jika tokoh atau individu yang dimaksud dalam data silsilah hidup pada abad ke-19, misalnya, apa perlunya penulisan di atas daun mengingat pada masa tersebut sudah banyak (diproduksi) kertas?

    4. Jika budaya penulisan silsilah (tentu saja yang logis, akurat, dan bisa diverifikasi) sudah terbangun, dan masih juga muncul model-model fitnah atau rekayasa keji seperti disebutkan pada butir 3 di atas, maka masyarakat bisa langsung tanya kepada pembuat/penyebar berita palsu itu (apalagi kalau dia mengaku sebagai orang Buton) : “Kalau Anda sendiri, apakah punya data silsilah keluarga?” Jika dia tidak bisa tunjukkan data silsilah keluarganya, tanyakan lagi, “Kok Anda mengurusi/mempersoalkan silsilah orang lain sementara Anda sendiri tidak punya garis leluhur yang jelas; apakah Anda tidak takut dengan ayat Allah : ‘Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan (mengurusi) apa-apa yang tiada kamu kerjakan’ (QS 61 : 3)?”

    5. Di atas semua itu, setiap orang Buton yang membuat data silsilah harus didukung data akurat, tidak asal klaim, yang bisa jadi akan membuat para leluhur mereka bersedih di alam baqa sana. Dengan kata lain, hindari kebiasaan mengaku-ngaku sebagai keturunan sosok tertentu. Jangan jual akhirat hanya untuk kepentingan pragmatis-oportunistik duniawi, seperti perilakunya kaum munafik (QS 9 : 101).

    6. Keluarga-keluarga besar bangsawan kaomu (status adat : “Anak yang dimuliakan”) “Kamboru-Mboru Talu Palena” [Tiga Pilar (kekuasaan eksekutif) yang Menyatu dan Saling Menopang] — yakni Tapi-Tapi, Kumbewaha, dan Tanailandu — dan juga bangsawan walaka (status adat : “Orangtua yang dihormati”), sebagai pilar kekuasaan legislatif, mulai sekarang perlu memikirkan untuk menyekolahkan sebagian anak-anak mereka pada bidang-bidang studi sejarah, antropologi, dan filsafat Islam untuk mengawal dan mengembangkan peradaban Buton dan mencegah berkembangnya aneka fitnah yang ditujukan kepadanya.

    7. Pembuatan data silsilah Wa Ode Zainab ZT ini dibuat dengan merujuk pada “Diagram Besar tentang Silsilah Kamboru-Mboru Talupalena/KMT” yang dipegang oleh keluarga besar La Ode Abubakar. Tentu saja keluarga-keluarga besar KMT lainnya, dan juga kalangan “Walaka”, menyimpan dengan baik data/diagram silsilah, di mana semuanya bisa saling menguatkan. Dengan demikian diharapkan institusi sosial tradisional dalam masyarakat Buton tidak mengalami penurunan peran dan kewibawaannya; di samping terhindar dari kooptasi pihak-pihak tertentu yang menjadikannya sebagai alat untuk mempertahankan “vested interest”.

    8. Selain itu, ketersediaan bank data silsilah orang Buton dapat memperjelas peta jalan (road map) untuk merekonstruksi kearifan/tradisi lokal “Sara Pata Anguna” (Empat Dasar Hukum) : (a) Pomae-maeka (saling segan antar-sesama anggota masyarakat atau saling memahami jati/hakikat diri); (b) Popia-piara (saling memelihara/melindungi antar-sesama anggota masyarakat); (c) Pomâ-mâsiaka (saling menyayangi antar-sesama anggota masyarakat); dan (d) Poangka-angkataka (saling menghormati/memuliakan atau menjunjung tinggi loyalitas antar-sesama anggota masyarakat). ƟƟƟ Empat dasar hukum tersebut merangkum kegotong-royongan (kebersamaan), kesederhanaan, kreativitas, tenggang rasa, kasih sayang, dan seterusnya (aneka etos konstruktif dan produktif). Pada kesempatan lain, insya Allah, kami akan analisis perspektif epistemologi-ontologi atas “Sara Pata Anguna” ini.

C. Wa Ode Zainab ZT, Perempuan Muda Multi-Etnik :

Dalam penjelasan mengenai data silsilah Wa Ode Zainab ZT (lihat “F. Penjelasan”) terlihat saling keterkaitan genealogis dan/atau struktur kekerabatan Wa Ode Zainab ZT dalam lingkup yang sangat luas, yakni bukan saja pada daerah-daerah di Sultra, melainkan juga lebih dari itu [Bugis, Jawa, dan Bani Hasyim/Quraisy (lihat juga “Silsilah Keluarga Kumbewaha Kesultanan Buton”)].

D. Panduan Silsilah :

  • Masa kekuasaan Kerajaan Wolio (KW) : 1332 – 1537/1541.
  • Masa kekuasaan Kesultanan Buton (KB) : 1537/1541 – 1960.

  • Ratu = Raja.

  • Raja Wolio = Raja Butun = Raja Buton (Raja Kerajaan Wolio/Buton).

  • Semua gelar “Ratu” atau “Raja” yang ditulis dalam silsilah ini adalah jabatan tertinggi dalam Kerajaan Wolio, terkecuali bila nama kerajaannya disebutkan. Misalnya : Raja Batauga, yang berarti raja di Kerajaan Batauga. Atau Raja Muna, yang berarti raja di Kerajaan Muna/Wuna.

  • Raja Manguntu adalah anak Bhanca Patola (bergelar “Bhatara Guru”), Raja ke-3. Jadi bukan berarti Manguntu adalah seorang raja.

  • Semua gelar “Sultan” yang ditulis dalam silsilah ini adalah jabatan tertinggi dalam Kesultanan Buton.

  • Sapati = Mahapatih (Perdana Menteri) = Kepala Pemerintahan = Panglima Tertinggi Angkatan Perang Kesultanan.

  • Semua Sapati yang ditulis dalam silsilah ini menjabat dalam Kesultanan Buton (KB), terkecuali Manjawari yang menjabat dalam Kerajaan Wolio.

    • Sapati Manjawari = Sapati KW Manjawari.

Manjawari adalah mantan Raja Selayar yang diangkat oleh Raja Mulae (Raja ke-5 KW) menjadi Sapati di KW setelah Timbang-Timbangan/Lakilaponto (anak Sugi Manuru, Raja Muna ke-6 : 1501 – 1517) membunuh La Bolontio, pemimpin bajak laut Tobelo. Pemberian jabatan Sapati kepada Manjawari itu merupakan yang pertama kalinya di KW.

  • Dalam struktur Undang-Undang Dasar/UUD (Konstitusi) Kesultanan Buton yang ditandatangani pengesahannya oleh Sapati La Singka/La Singga pada tahun 1610 : “Martabat Tujuh”, ada dua kategori jabatan : (1) Pada alam atau martabat Ketuhanan/”Maratib Ilâhi”; dan (2) Pada martabat kehambaan (alam semesta)/”Maratib Kawni”.

  • Jabatan yang termasuk dalam ”Maratib Ilâhi” adalah “Sultan” (alam/martabat “ahadiah”), “Sapati”/Perdana Menteri (martabat “wahdah”), dan “Kenepulu”/Qadhi (martabat “wâhidiah”). Sedangkan untuk ”Maratib Kawni” adalah “Kapitalao”/Panglima wilayah pertahanan (alam “arwah”), “Bonto Ogena”/Menteri Besar/Menteri Koordinator (alam “mitsal”), “Bonto Siolimbona”/Dewan menteri yang beranggotakan sembilan orang (alam “Ajsam”), dan “Lakina atau Parabela”/Pemimpin daerah atau Ketua adat lokal (alam “Insan”).

  • Kenepulu = Menteri Kehakiman/Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (tugasnya antara lain adalah menegakkan hukum dan menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang berkaitan dengan masyarakat).

  • Jabatan Kenepulu baru ada setelah pengesahan “UUD Martabat Tujuh”.

  • Kapitalao/Kapitaraja = Head of public security (Jawa : Temenggung). Jadi, Kapitalao kurang tepat bila diterjemahkan sebagai “Kapitan Laut” (Admiral/Laksamana), sebab tugas atau tanggung jawab/kewenangannya mencakup keamanan wilayah atau matra laut dan darat. Kapitalao dijabat oleh 2 (dua) orang : Kapitalao Matanaeyo (Kapitalao Wilayah Timur) dan Kapitalao Sukanaeyo (Kapitalao Wilayah Barat). Dengan demikian, mungkin Kapitalao dapat juga dimaknai sebagai “Panglima Wilayah Pertahanan” atau “Panglima Armada Pertahanan”.

  • Jabatan Kapitalao baru ada setelah pengesahan “UUD Martabat Tujuh”.

  • Barata = Wilayah otonomi. ƟƟƟ Ada empat wilayah otonomi (masing-masing dipimpin oleh seorang dengan jabatan Lakina), yaitu : (1) Barata Wuna/Muna; (2) Barata Kahedupa/Kaledupa; (3) Barata Kulisusu; dan (4) Barata Tiworo.

  • Lakina = Raja di wilayah otonomi (di Barata); Pemimpin atau penguasa di wilayah otonomi; Pemegang otoritas atau Wali Amanah di wilayah otonomi.

  • Kadie = Daerah otonomi. ƟƟƟ Selain Sultan, Sapati, Kenepulu, Kapitalao (2 orang), Bonto Ogena/Menteri Besar/Menteri Koordinator (2 orang), dan Lakina Barata, institusi pemerintahan pusat (Sara Wolio) juga dilengkapi 72 jabatan (yang memimpin 72 kadie, di mana semua pejabat/pemimpin ini diawasi dan dikoordinasikan oleh dua Bonto Ogena), yaitu : 30 Menteri (Bonto), 40 Bobato (juga disebut “Lakina”), dan 2 lainnya merupakan jabatan simbolis yang menandakan satu pimpinan pemerintahan dari bangsawan “kaomu” dan yang satu lagi dari “walaka”. Dengan demikian, secara hierarki, Menteri (Bonto) dan Bobato/Lakina berada pada level yang setara.

  • 30 Menteri (Bonto) yang dimaksud terdiri dari : 9 Menteri Utama (Siolimbona), 11 Menteri Dalam (Bonto yi Nunca), dan 8 Menteri “Lencina Kancawari”.

  • Bobato/Lakina = Raja di daerah otonomi (di Kadie); Pemimpin atau penguasa di daerah otonomi; Pemegang otoritas atau Wali Amanah di daerah otonomi [jadi “kadie” harus dibedakan dari barata”, yang kita terjemahkan sebagai “wilayah otonomi”]. Area kekuasaan (protektorat) kadie tidak berada di bawah area kekuasaan barata. Dengan kata lain, protektorat dari kedua institusi ini berbeda. Penyelenggaraan pemerintahan pada kadie dan barata didasarkan pada prinsip-prinsip musyawarah atau “demokrasi Islam” (dengan tentu saja memberi ruang lebar berperannya “nilai-nilai budaya atau adat-istiadat” — QS 49 : 13).

  • Jabatan “Lakina” baru dikuatkan dalam struktur pemerintahan Kesultanan Buton (Sara Wolio) setelah pengesahan “UUD Martabat Tujuh” (1610). Dengan kata lain, sebelum ada UUD ini, sudah ada institusi Lakina (termasuk juga “Parabela”). Keduanya inherent (embedded) dalam tubuh masyarakat tradisional di Buton (Wolio). ƟƟƟ Sekadar tambahan, jabatan “Parabela” (Kepala Adat) yang ada dalam kadie berada di bawah kepemimpinan “Bobato/Lakina” atau “Bonto”.

  • Menurut La Ode Abubakar dan La Ode Bosa (keduanya adalah sejarawan dan budayawan Buton), dari semua (40 atau 41) Bobato/Lakina, Lakina Liya (pemimpin Kadie Liya) menduduki tempat terkemuka. Pendapat ini juga diperkuat oleh La Ode Manarfa bin La Ode Fâlihi (Sultan Buton ke-38). Bahkan Kadie Liya (di Wakatobi) diberi tugas khusus oleh Kesultanan Buton untuk mengamati (mensupervisi) dan melaporkan sepakterjang atau kinerja Barata Kaledupa. Liya punya pasukan khusus yang terdiri dari satu kompi; sedangkan Kaledupa punya dua kompi. Kualitas dari pasukan tersebut sama dengan pasukan di Keraton Wolio. [Lihat Pim Schoorl dalam buku “Masyarakat, Sejarah, dan Budaya Buton” (2003), hal. 96]. Liya juga punya benteng pertahanan yang kuat dan kokoh dengan konstruksi mirip Benteng Keraton Wolio (benteng terluas di dunia). Satu hal lagi, sejarah Liya dapat ditelusuri dari kisah Sipanjonga yang datang di Pulau Buton dengan mengawal Puteri Wa Khâ Khâ, yang kemudian dinobatkan menjadi Raja/Ratu ke-1 Kerajaan Wolio. (Sekilas tentang Sipanjonga dapat dilihat pada “Lampiran” Nomor 2 , bagian akhir tulisan ini. Tapi, sejarah mengenai hubungan dia dengan Liya tidak akan dibicarakan di sini). ƟƟƟ Semua Lakina Liya/Mo’ori Liya/Meantu’u Liya (yang ke-1 adalah La Djilabu : 1542 – 1588) telah memberikan kontribusi yang bermakna bagi keberjayaan Kesultanan Buton, tapi yang paling dapat dirasakan jejak-jejak warisannya adalah La Talo-Talo/Lakueru (Lakina Liya ke-7 : 1674 – 1694), La Ode Taru (Lakina Liya ke-29 : 1916 – 194..), dan La Ode Bosa (Lakina Liya ke-30 : 194.. – ….). Sejarah Buton mengabadikan bahwa bersama Sapati Bâluwu (La Ode Arfani) dan La Ode Isbati/Kasawari (Lakina Kaledupa ke-1), La Talo-Talo memimpin perang dahsyat di Selat Buton melawan koalisi pasukan Kerajaan Gowa (yang pada waktu itu sultannya adalah Hasanuddin), Tallo, dan Bima, yang berakhir dengan kekalahan koalisi Gowa, padahal jumlah pasukan mereka sangat besar, yakni “dua puluh ribu” orang [lihat buku “Sejarah Buton yang Terabaikan” (oleh Susanto Zuhdi) dan “Masyarakat, Sejarah, dan Budaya Buton” (oleh Pim Schoorl)]. Tiga serangkai/tritunggal (triumvirate) itu juga menjadi delegasi Kesultanan Buton ke Gowa untuk mempercepat dan menuntaskan penandatanganan “Perjanjian Bongaya” (1668). ƟƟƟ Sementara itu, La Ode Taru adalah pejuang yang ikhlas datang seorang diri ke Kendari (menentang penjajahan Jepang) dan terbunuh di sana (insya Allah menjadi syuhada) demi untuk membela masyarakat Liya (Buton) dari penindasan tentara Jepang. Sejumlah orang menyaksikan, ia dengan paksa dikuburkan hidup-hidup di kota Kendari Lama/Gunung Jati, setelah upaya-upaya pembunuhan dengan aneka jenis senjata (termasuk membenamkannya ke dasar laut dalam keadaan ia berada dalam peti besi) tidak berhasil. Apakah peristiwa ini disebut karamah (kejadian-kejadian supranatural yang muncul dari para kekasih Allah atau Waliullah), yang seakan mengikuti jejak Nabiullah Ibrahim a.s. yang selamat dari api? Hanya Allah yang tahu; setiap kali orang mengkonfirmasikan kisah-kisah heroik (karamah) tersebut kepada anaknya (La Ode Bosa) dan cucunya (La Ode Abubakar), keduanya hanya terdiam. Paling hanya menjawab : Wa Allah a’lam bi al-shawab, hanya Allah yang tahu (mungkin mereka khawatir terjerumus kepada ketakaburan dan pengkultusan kepada leluhur). Selain itu La Ode Taru juga mewariskan ilmu-ilmu tasawuf dan ketatanegaraan kepada keturunannya (yang kemudian disebarkan kepada masyarakat luas). Sedangkan La Ode Bosa (Aba Bosa), kontribusinya terhadap sejarah dan kebudayaan Buton tak perlu diragukan. Banyak peneliti menjadikan beliau sebagai narasumber, salah satunya adalah Pim Schoorl (Universitas Leiden); termasuk juga putera dan cucunya, yakni La Ode Abubakar/Aba Ode (sejarawan dan budayawan Buton) dan La Ode Zulfikar Toresano (Aba Zul).

  • Mohon maaf, wewenang dan tanggungjawab masing-masing jabatan dalam struktur pemerintahan Kesultanan Buton (Sara Wolio) tidak dibicarakan pada kesempatan yang sangat terbatas ini.

  • Yarona = Mantan pejabat.

  • Yarona Kaedupa (Yarona Lakina Kahedupa) = Mantan Raja atau Penguasa (di) Kaledupa.

  • Sabandara = Syahbandar, penguasa pelabuhan (chief in port).

  • Syarif”/”Syarifah” = “Sayyid”/”Sayyidah” = “Habib”/”Hababa”/”Habiba” adalah gelar atau panggilan untuk keturunan Sayyidina Ali r.a. (suami dari Sayyidah Fâthimah Azzahra r.a. binti Rasulullah Muhammad Saww).

  • r.a. = Radhiallahu ‘anhu = Ridho Allah selalu ada padanya (untuk laki-laki).

  • r.a. = Radhiallahu ‘anha = Ridho Allah selalu ada padanya (untuk perempuan).

  • Saww = Shallallahu ‘alaihi wa âlihi [Semoga Allah melimpahkan keselamatan kepadanya (Rasulullah Muhammad) dan keluarganya].

  • (+ ….) = Menikah dengan ….

  • —> = Punya anak kandung bernama (bergelar).

  • ..> = Keturunannya (langsung) beberapa generasi.

  • —>> = Punya pelanjut (bukan anak kandung) bernama/bergelar.

  • ……………. = Isian yang sedang diusahakan.

E. Silsilah Wa Ode Zainab ZT :

Wa Khâ Khâ/Ratu ke-1 (+ Raden Sri Bhatara/Sibatara) —> Bulawa Mbona/Ratu ke-2.

Bulawa Mbona (+ La Bâ Luwu) —> Bhanca Patola (Bhatara Guru)/Raja ke-3.

Bhatara Guru (+ Waelencugi) —> Raja Manguntu (Raja = Nama orang, bukan jabatan).

Raja Manguntu (+ Wa Silalanggi) —> Lakatutura.

Lakatutura (+ Wa Dataguna) —> La Maindo/Raja Batauga (Raja Kerajaan Batauga).

La Maindo (+ Wa Banaka binti Sapati Manjawari) —> La Kabaura.

La Kabaura (+ Wa Bunganila) —> La Singga (La Singka)/Sapati.

La Singga (+ Syarifah Wa Didia yi Doda binti Sayyid/Habib Abdul Wahid) —> La Nisuru/Sapati Mokolelena.

La Nisuru (+ Wa Ode Tandawani) —> La Ode Manimpa/Sapati yi Kapolangku.

La Ode Manimpa (+ Wa Ode Manggara) —> ………….. /Lakina Waale-ale.

…………../Lakina Waale-ale (+ …………..) —> ………….. /Kapitalao Lakudo ke-1.

………….. /Kapitalao Lakudo ke-1 (+ ………….. /Balu yi Gu) —> La Ode Masalamu/Alimuddin/Oputa Lakina Sora Wolio/Sultan ke-25.

La Ode Masalamu (+ Wa Ode Bawine) —> La Ode Sidu/Sapati.

La Ode Sidu (+Wa Ode Aulia) —> La Ode Muhammad Sâlihi/Lakina Kaedupa/Moko Lojina.

La Ode Muhammad Sâlihi (+ Wa Ode Tantu) —> La Ode Muhammad Asyikin/Oputa Antara Maedhani/Sultan ke-33.

La Ode Muhammad Asyikin (+ …………..) —> La Ode Santaonga/Yarona Wakorumba.

La Ode Santaonga (+ …………..) —> La Ode Muhammad Hanafie/Kapitalao yi Loji/(saudara lain ibu dari La Ode Halim, Bupati Buton ke-1).

La Ode Muhammad Sâlihi/Lakina Kaedupa/Moko Lojina (+ …………..) —> La Ode Abdul Halim/Yarona Wangentu ke-1.

La Ode Abdul Halim (+ Wa Ode Safa) —> La Ode Abu Bakar/Yarona Wangentu ke-2.

La Ode Abu Bakar (+ Wa Ode Rahama) —> La Ode Abdul Majid/Yarona Lasalimu.

La Ode Abdul Majid (+ Wa Munifa) —> Wa Ode Aisyah (Ibunda dari La Ode Abubakar bin La Ode Bosa).

La Ode Abdul Majid (+ Wa Munifa) —> La Ode Muhammad Said [ayahanda dari Wa Ode Hasimah (isteri La Ode Abubakar bin La Ode Bosa)].

Wa Ode Aisyah binti La Ode Abdul Majid + La Ode Bosa bin La Ode Taru —> button

La Ode Abubakar bin La Ode Bosa+ Wa Ode Hasimah  binti La Ode Muhammad Said —> button (Aba Zul)

La Ode Zulfikar Toresano bin La Ode Abubakar + Citrawati Trisaparini —> Wa Ode Zainab ZT (Wa Ode Zainab Zilullah Toresano, M.Ud, MA).

A + B —> C

F. Penjelasan :

1. (1). Wa Khâ Khâ.

  • Wa Khâ Khâ adalah Ratu/Raja ke-1 Kerajaan Wolio (1332 – 1350). Kerajaan ini merupakan cikal bakal Kesultanan Buton, yang berdiri pada tahun 1537/1541.

  • Menurut La Ode Abubakar (budayawan dan sejarawan Buton), ayah Wa Khâ Khâ adalah Khubilai Khan (anak Genghis Khan/Jengis Khan), Kaisar ke-1 Dinasti Yuan (Mongol) di Tiongkok, yang mulai berkuasa pada tahun 1260 dan meninggal tahun 1294; sedangkan ibunya adalah “Raden Ratna Kesari” [oleh para tetua di Buton disebut dengan aksen Ra-atana Sari Radenggalu i Daha (maksudnya : Ratna Sari Raden Ayu di Kerajaan Kadari/Kediri/Singhasari yang berpusat di Daha)], anak Jayakatwang (Raja Kerajaan Kediri/Kadiri/Singhasari). Jayakatwang memulai karir politiknya saat menggantikan ayahnya, Sastrajaya, menjadi adipati atau bupati Kadiri/Daha (bagian dari Kerajaan Singhasari) pada tahun 1271. (Selanjutnya lihat “Lampiran” nomor 2 pada bagian akhir tulisan ini).

(2). Raden Sri Bhatara (Sibatara).

  • Raden Sri Bhatara (Sibatara) adalah suami Ratu Wa Khâ Khâ. Ia adalah seorang bangsawan dari Kerajaan Majapahit. Menurut La Ode Abubakar, budayawan dan sejarawan Buton, beberapa tahun setelah berdirinya Kerajaan Wolio (1332), rombongan Sibatara tiba di Pulau Buton. Bangsawan ini dikawal oleh Simalui dan Sitamanajo. “Besar kemungkinan kedatangan Sibatara merupakan respons atas berdirinya Kerajaan Wolio, yang tentu saja tidak dikehendaki oleh Kerajaan Majapahit (pada waktu itu rajanya adalah Tribhuwana Wijayatunggadewi/Sri Gitarja : 1328 – 1350) atau hendak menempatkan Kerajaan Wolio sebagai vasal dari Kerajaan Majapahit,” ujar La Ode Abubakar. Bagi saya, saat itu Sibatara menjalankan peran sebagai “duta keliling” Kerajaan Majapahit, mirip dengan muhibah keliling dunia yang pernah dilakukan Marco Polo (saudagar dari Venesia/Italia), pada abad ke-13, sebagai utusan Kaisar Khubilai Khan (Dinasti Yuan/Mongol di Tiongkok). Dalam hubungan itu, hal yang menarik, lanjut La Ode Abukar, tim perunding dari kedua belah pihak (Wolio dan Majapahit) diam-diam menyepakati untuk menikahkan Sibatara dengan Ratu Wa Khâ Khâ. Maka terjadilah pernikahan, di mana usia Wa Khâ Khâ sekitar 38 tahun sedangkan Sibatara adalah 20 tahun. Pernikahan mereka melahirkan tujuh orang puteri, dan yang paling tua bernama Bulawa Mbona. Ia kemudian menjadi ratu atau raja Kerajaan Wolio yang ke-2. Menurut catatan kami, Raden Sri Bhatara berkerabat dengan Raden Jutubun dan Raden Lailan Mangrani (Puteri Lasem). Lailan Mangrani ini menjadi Raja/Ratu ke-1 Kerajaan Bone. ƟƟƟ Jauh sebelum pernikahan Sibatara dengan Ratu Wa Khâ Khâ, sudah berlangsung pernikahan Sipanjonga (juga adalah pengawal Wa Khâ Khâ datang ke Pulau Buton) dengan Sabanang, saudara perempuan Simalui, yang kemudian melahirkan anak laki-laki bernama Betoambari. Ia merupakan salah seorang yang merekayasa terjadinya perjodohan Sibatara dengan Ratu Wa Khâ Khâ. Betoambari kemudian menikahi puteri Kerajaan Kamaru (di bagian timur Pulau Buton), sehingga semakin luas pengaruh Kerajaan Wolio. (Selanjutnya, silahkan elaborasi dari artikel atau tulisan-tulisan La Ode Abubakar; juga dari sumber-sumber lainnya).

(3). Bulawa Mbona.

  • Bulawa Mbona adalah puteri tertua dari tujuh perempuan bersaudara dari pernikahan Raden Sri Bhatara (Sibatara) dengan Ratu Wa Khâ Khâ.

  • Bulawa Mbona adalah Ratu/Raja ke-2 Kerajaan Wolio (1350 – 1411). Ia dinikahi oleh La Bâluwu, seorang bangsawan dari Kerajaan Luwu. Setelah meninggal, ia digantikan oleh puteranya yang bernama Bhanca Patola (bergelar : Bhatara Guru).

2. (1). La Bâluwu.

  • La Bâluwu adalah anak dari pasangan Sangia Riarana/Bontona Bâluwu (bangsawan dari Kerajaan Luwu) dan Wa Kunta.

  • La Bâluwu menikahi Bulawa Mbona, yang melahirkan Bhanca Patola (kemudian bergelar Bhatara Guru setelah menjadi Raja Wolio ke-3).

(2). Bhatara Guru.

  • Bhatara Guru adalah Raja ke-3 Kerajaan Wolio (1411-1460). Bhatara Guru adalah (nama) gelar bagi Bhanca Patola setelah menjadi raja. Ia memiliki beberapa isteri : (a) Waelancugi (anak dari Dungku Cangia/Dungku Cang Yang/La Piykore); (b) Putri Mawasangka.

  • Bhanca Patola/ Bhatara Guru adalah anak dari hasil pernikahan La Bâluwu dengan Bulawa Mbona.

  • Pernikahan Bhataraguru dengan Putri Mawasangka melahirkan Kiyjula. Kiyjula kemudian menikahi Wa Randea, dan dari sini lahirlah Watubapala. Watubapala dinikahi oleh Sugi Manuru (Raja Muna ke-6 : 1501 – 1517). Dari pernikahan ini lahirlah Timbang-Timbangan (Buton)/Lakilaponto (Muna)/Latolaki atau Haluoleo (Konawe); atau juga yang kemudian lebih dikenal dengan nama “Murhum”.

  • Jadi, Lakilaponto/Murhum adalah cucu dari : (a) Kiyjula bin Bhatara Guru (Raja Wolio/Buton ke-3); dan (b) Sugi Manuru (Raja Muna ke-6).

  • Wa Randea adalah anak dari pasangan Raja Tiworo dan Wa Sitai/Waserao (anak Raja Konawe).

  • Menurut La Ode Abubakar bin La Ode Bosa, sejarawan dan budayawan Buton, kisah tokoh Dungku Cangia dapat dirunut sebagai berikut : Menurut riwayat turun-temurun (di Wolio/Buton), tak lama setelah komunitas yang dipimpin Sawerigading (bangsawan dari Kerajaan Luwu) bermukim di Lowu-Lowu [suatu desa di seberang Pelabuhan Murhum (Bau-Bau) sekarang], mendarat sekelompok orang (berjumlah ratusan) di pantai Wasuemba, Wabula (sebelah timur Buton Selatan). Rupanya pendaratan tersebut bersifat darurat karena armada perahu mereka diterjang ombak dan angin dahsyat di pantai yang penuh hamparan karang itu. Masyarakat Wabula kemudian mengenali mereka sebagai sisa-sisa lasykar Mongol yang melakukan desersi pasca kekalahan dari pasukan Raden Wijaya di Tanah Jawa (Jawadwipa). Sejarah dunia dan nasional mencatat, Khubilai Khan, Kaisar Mongol Dinasti Yuan di Tiongkok, pernah mengirim pasukan ke Pulau Jawa untuk menghukum Raja Kertanagara (Kerajaan Singhasari) karena memotong kuping utusannya (yang bernama Men Shi/Meng-qi/Meng Chi). Tapi, ternyata, saat armada pasukan Mongol itu tiba di Jawa, kerajaan Singhasari telah runtuh. Kendati demikian pengaruh kekuasaan Singhasari hendak dilanjutkan oleh Raden Wijaya. Karena strategi cerdasnya, pasukan Mongol — di bawah pimpinan tiga panglima : Shi Pi/Shi bi (bangsa Mongol), Ike Mese (bangsa Uyghur), dan Kau Hsing/Gaoxing (bangsa Tiongkok) — berhasil ditumpas, dan kemudian Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit pada tahun 1293. Sejarah mencatat, salah satu panglima itu (yakni yang bernama Kau Hsing) melakukan desersi dan tidak kembali ke Tiongkok. ƟƟƟ Dari fakta-fakta yang diungkapkan penduduk Wasuemba/Wabula, kita menduga kuat bahwa pemimpin kaum pendatang, yang dimuliakan oleh penduduk setempat, tersebut tiada lain adalah Kau Hsing. Para tetua di Wabula menuturkan, ciri-ciri dari pemimpin para pendatang yang berkulit kuning itu adalah ksatria, sangat cerdas/kreatif, sakti (memiliki semacam ketangkasan bela diri dan menunggang kuda), dan selalu menggunakan instrumen gendang/tambur dalam upacara-upacara kebesaran (adat). Dan karena ciri ini pula, ia diberi julukan : Dungku Cangia” (“dungku” = “sungku”, yang berarti “padat” atau “optimal/maksimal”; sedangkan “cangia” = “Sang Hyang”, berarti “Yang Mulia”). Karena Dungku Cangia memiliki kecerdasan sosial yang tinggi — pandai beradaptasi dan memikat hati masyarakat — maka kemanapun ia berkunjung senantiasa mendapat simpati. Selain itu, sikap kepeloporan dan kepemimpinannya (terutama jasanya membantu membebaskan Kerajaan Kaesabu, Kerajaan Batukara, dan Kerajaan Tobe-Tobe dari tekanan Kerajaan Batauga) membuat penduduk dari tiga kerajaan tersebut bersepakat mengangkat Dungku Cangia menjadi raja mereka dengan meleburkan tiga kerajaan ini menjadi “Kerajaan Tobe-Tobe”. Tentu saja pendirian kerajaan baru tersebut juga setelah memperhitungkan berbagai hal secara matang, termasuk melakukan lobi dengan raja-raja serta para pemuka adat/masyarakat; misalnya terkait dengan soal penentuan pusat kekuasaan atau kerajaan. ƟƟƟ Pada masa Dungku Cangia berkuasa sebagai Raja Kerajaan Tobe-Tobe ada rombongan pendatang (berjumlah ratusan orang) dari Melayu/Tanah Jawa yang tiba di pantai (bandar) Kalampa, bagian dari Kerajaan Tobe-Tobe. Rombongan itu dipimpin oleh seorang tokoh, yang dalam tradisi lisan orang Wolio/Buton dikenal dengan nama “Sipandonga” (Sipanjonga) dan “Sijawangkati”. Di antara rombongan — yang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak — itu ada seorang puteri (gadis muda-belia) yang sangat mereka muliakan. Sebagai Raja Tobe-Tobe, Dungku Cangia menyambut hormat kedatangan rombongan tersebut. Terjadilah pertemuan yang mengejutkan karena sebenarnya Dungku Cangia inilah yang dicari-cari oleh Sipanjonga dan Sijawangkati. Pertemuan ketiganya segera dimanfaatkan oleh Dungku Cangia mempresentasikan gagasan briliannya untuk mendirikan kerajaan baru yang mempersatukan seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Buton. Ia begitu optimis dengan gagasannya, terlebih lagi karena usulannya agar puteri yang dimuliakan oleh rombongan tersebut diangkat sebagai raja/ratu bagi kerajaan baru yang akan didirikan itu. Setelah dimusyawarahkan dengan sejumlah raja yang ada di Pulau Buton, termasuk Raja Kerajaan Batauga dan Raja Kerajaan Kamaru, kemudian disepakati bahwa puteri mulia yang diperkenalkan dengan nama Wa Khâ Khâ itulah yang akan diangkat menjadi ratu untuk kerajaan baru yang dimaksud. ƟƟƟ Dalam perkembangan selanjutnya ternyata diperlukan waktu hampir 30 tahun untuk mewujudkan berdirinya kerajaan yang baru itu. Dan nama yang dipilih adalah “Kerajaan Wolio” (dari kata “welia”, yang artinya “rintisan”, yakni terkait dengan lahan yang dirintis menjadi lapangan tempat pelaksanaan upacara pelantikan Wa Khâ Khâ sebagai Ratu/Raja Kerajaan Wolio). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inisiator berdirinya Kerajaan Wolio adalah Dungku Cangia, mantan panglima Dinasti Yuan (Kekaisaran Mongol di Tiongkok). (Diolah dari artikel “Pemahaman tentang Sejarah yang Bernama Wolio – Butûni” oleh La Ode Abubakar — Majalah Budaya Buton “Wolio Molagi”; Edisi Perdana, Maret 1999). (Sejarah mengenai sosok Dungku Cangia ini masih perlu direkonstruksi atau dielaborasi).

  • Mengenai tokoh Dungku Cangia juga dapat dilihat pada bagian F.1.(1).

3.(1). Waelencugi.

  • Waelencugi adalah anak Dungku Cangia dari isteri bernama Wa Julan, seorang bangsawan Kerajaan Majapahit. (Masih perlu dielaborasi).

  • Anak-anak dari pasangan Bhatara Guru dan Waelancugi adalah : Tuan Raden (Tua Rade), Tuan Maruju, dan Raja Manguntu (kata “Raja” di sini adalah “nama orang”, bukan “jabatan tertinggi dalam kerajaan”).

(2). Tua Rade.

Tua Rade (Tuan Raden) adalah Raja Wolio ke-4 (1450-1511). Ia tidak punya keturunan (anak).

(3). Tuan Maruju menikah dengan Watalubanguna, anak Raja Tobe-Tobe. Dari pernikahan ini lahir Raja Mulae (Raja Wolio ke-5 : 1511 – 1538).

(4). Raja Mulae.

  • Raja Mulae menikah dengan : (a) Wa Poasa; (b) Putri Tobungku; dan (c) Wa Randima.

  • Dari pernikahan Raja Mulae dengan Wa Poasa lahir Wa Tampaidongi (Boroko Malanga). Gadis ini dinikahi oleh Lakilaponto (anaknya Sugi Manuru, Raja Muna ke-6 : 1501 – 1517), yang kemudian menjadi Raja Wolio ke-6 : 1491 – 1537 [lalu menjadi Sultan Buton ke-1 (1537/1541 -1545), setelah Kerajaan Wolio bertransformasi menjadi Kesultanan Buton].

(5). Timbang-Timbangan (Lakilaponto).

  • Timbang-Timbangan (Buton)/Lakilaponto (Muna)/Latolaki atau Haluoleo (Konawe)/Sultan Kaimuddin atau Sultan Murhum (Sultan Buton ke-1) adalah anak pasangan Sugi Manuru dan Watubapala.

  • Watubapala adalah anak dari pasangan Kiyjula dan Wa Randea.

  • Jadi, Lakilaponto/Murhum adalah cucu Kiyjula bin Bhatara Guru (Raja Wolio/Buton ke-3).

  • Kiyjula adalah anak dari pernikahan Bhatara Guru dengan Putri Mawasangka.

  • Wa Randea adalah anak dari pasangan Raja Tiworo dan Wa Sitao/Waserao. Sedangkan Wa Sitao adalah anak Raja Konawe.

  • Lakilaponto/Murhum punya sejumlah isteri : (a) Watampaidongi/Boroko Malanga (tidak punya anak); (b) Putri Kalautoa (anaknya : La Tumparasi/Sultan Buton ke-2); (c) Putri Selayar (anaknya : La Sangaji/Sultan Buton ke-3); (d) Karamagana (anaknya : Sangia yi Rape); dan (e) Wa Sameka (anaknya : “Paramasuni” dan “Wabunganila”).

  • Sangia yi Rape menikah dengan ……., dan dari sini lahir dua orang anak : (a) La Ode Ali (Sangia yi Wambulu); dan (b) ………….. (Lakina Tolandona).

  • Paramasuni dinikahi oleh La Siridatu bin La Maindo/Raja Batauga [bin Lakututura bin Raja Manguntu bin Bhatara Guru (Raja Wolio ke-3)]. Sedangkan Wabunganila dinikahi oleh La Kabaura bin La Maindo/Raja Batauga [bin Lakututura bin Raja Manguntu bin Bhatara Guru (Raja Wolio ke-3)].

(6). Raja Manguntu.

Raja Manguntu bin Bhatara Guru menikah dengan Wa Silalanggi bin Raja Tobe-Tobe (saudara kandung dari Watalubanguna, isteri Tuan Maruju), dan dari sini lahirlah La Kututura.

4. Lakatutura.

Lakututura bin Raja Manguntu menikahi Wadatiguna; yang kemudian melahirkan anak bernama La Maindo/Raja Batauga.

5. (1). La Maindo.

  • La Maindo/Raja Batauga menikahi Wa Banaka binti Sapati Manjawari/Rampegau (mantan Raja Selayar), yang kemudian melahirkan dua orang anak : (a) La Siridatu; dan (b) La Kabaura,

  • Manjawari (Opu Manjawari) adalah Raja Selayar yang berjasa membantu Lakilaponto dalam membunuh La Bolontio (pemimpin bajak laut dari Tobelo). Atas jasanya itu ia kemudian dinobatkan sebagai Sapati (Mahapatih/Perdana Menteri) di Kerajaan Wolio/Buton.

  • Keturunan La Maindo merupakan cikal bakal “Kamboru-Mboru Talu Palena”, yakni tiga kelompok/faksi bangsawan kaomu : “Tapi-Tapi” (klan : La Singka/La Singga bin La Kabaura bin La Maindo), “Kumbewaha” (klan : La Bula bin La Kabaura bin La Maindo), dan “Tanailandu” (klan : La Elangi/Dayânu Ikhsanuddin/Sultan ke-4 bin La Siridatu bin La Maindo). Jadi semua atau 3 (tiga) klan bangsawan kaomu adalah keturunan Raja Batauga La Maindo bin Lakututura bin Raja Manguntu bin Bhatara Guru (Raja ke-3 Kerajaan Wolio) bin La Bâluwu (Bulawambona : Raja/Ratu ke-2 Kerajaan Wolio) bin Sri Bhatara (Wa Kâ Kâ : Raja/Ratu ke-1 Kerajaan Wolio).

6. (1). La Siridatu.

  • La Siridatu bin La Maindo menikahi Paramasuni binti Timbang-Timbangan dan kemudian punya anak bernama La Elangi/Sultan ke-4 : Dayânu Ikhsanuddin. Anak-anak dari pasangan La Siridatu dan Paramasuni adalah La Rajangkati/Sangia yi Laholu [anaknya menjadi Sultan ke-9 : Malik Sirullah/La Awu (1654 – 1664)] dan La Elangi (menjadi Sultan Buton ke-4 : 1597 – 1631). Dari La Elangi ini lah berkembang kaomu “Tanailandu”. Dengan kata lain, meskipun ada satu sultan, yakni Sultan ke-9 (Malik Sirullah), yang merupakan anak La Rajangkati, tapi ia (La Rajangkati) tidak dimasukkan sebagai pendiri atau pucuk pimpinan kaomu Tanailandu.

  • Dayânu Ikhsanuddin/La Elangi (Sultan Buton ke-4) adalah seorang negarawan, konstitusionalis, ulama, ahli strategi perang, dan patriot sejati. Bersama Sapati La Singka/La Singga, ia berinisiatif membuat “Martabat Tujuh sebagai UUD atau konstitutsi Kesultanan Buton, dengan dibimbing oleh seorang ulama besar keturunan Rasulullah Muhammad Saww/Sayyidina ‘Ali r.a., Syarif Muhammad. Dalam UUD tersebut diatur pembagian atau pemisahan kekuasaan antara kelompok bangsawan kaomu dan walaka, di mana yang disebutkan pertama diamanati tugas dan tanggung jawab urusan pemerintahan (tepatnya : “eksekutif”), sedangkan yang kedua adalah urusan legislatif. Kelompok kaomu dibagi lagi ke dalam tiga penopang (yang tergabung dalam pranata “Kamboru-Mboru Talu Palena”), yaitu : Tapi-Tapi, Kumbewaha, dan Tanailandu (lihat di depan). La Elangi punya sejumlah isteri, dua di antaranya adalah : (1) Syarifah Hibba binti Sayyid Abdul Wahid; (2) …………… (puteri Kulisusu) , yang punya anak bernama La Ode-Ode (Lakina Kulisusu); dan La Ode-Ode punya anak bernama Wa Ode Kotanda.

(2). La Kabaura.

  • La Kabaura bin La Maindo menikah dengan beberapa orang : (a) Wa Bunganila binti Timbang-Timbangan; (b) PUTRI ARUMPONE (bangsawan dari Kerajaan Bone), dan (c) ………… (bangsawan Ternate).

  • Pernikahan La Kabaura dengan ………….. (puteri bangsawan Ternate) dikaruniai anak bernama La Ode Ali (kelak menjadi Kapitalao).

  • Dari pernikahan La Kabaura dengan PUTRI ARUMPONE kemudian melahirkan “La Potto Bune” (Arung Tana Tennga La Pottobune)/”La Maddaremmeng”. La Potto Bune menikah dengan ……………. Selanjutnya, ia menjadi Sabandara/Syahbandar Soppeng, lalu Raja Bone ke-13 : La Maddaremmeng Matinro’e Ri Bukaka. Pernikahan ini dikarunia anak bernama Arung Palakka/La Tenri Tata/La Tenritta (Buton : La Tôndu). Arung Palakka (Aru Palaka) kemudian menikahi Daeng Talale.

  • Dari pernikahan La Kabaura (bin La Maindo) dengan Wa Bunganila binti Timbang-Timbangan (Lakilaponto) melahirkan anak :

(a). La Singka/La Singga (pendiri/pucuk dari Kaomu Tapi-Tapi). Ia adalah suami dari Syarifa Wa Didia yi Doda binti Sayyid Abdul Wahid (keturunan Rasulullah Saww. yang pertama kali menyebarkan Islam di Buton). Sedangkan isteri Sayyid Abdul Wahid adalah (ibunda dari Syarifa Wa Didia) adalah Wa Ode Solor.

(b). La Bula (pendiri/pucuk dari Kaomu Kumbewaha).

Catatan:

Meskipun La Ode Ali juga adalah anak dari La Kabaura, tetapi ia tidak termasuk sebagai pendiri KAOMU “Kamboru-mboru Talu Palena”.

7. (1). Wa Bunganila (binti Lakilaponto) adalah isteri La Kabaura bin La Maindo.

(2). La Singka (La Singga)/Sapati.

  • La Singka menjabat Sapati pada masa pemerintahan Sultan ke-4 Dayânu Ikhsanuddin. Ia menikah dengan puteri Sayyid/Habib Abdul Wahid (yang isterinya adalah Wa Ode Solor), yang bernama Syarifah Wa Didia yi Doda.

  • Pada tahun 1610, yakni saat menjabat sebagai “Sapati”, La Singga menandatangani pengesahan “Konstitusi Martabat Tujuh” (konstitusi Kesultanan Buton), dengan arahan dari Syarif Muhammad (keturunan Rasulullah Muhammad Saww), di masa kekuasaan Sultan Dayânu Ikhsanuddin/La Elangi (Sultan ke-4 : 1578 – 1615).

8. (1). Syarifah Wa Didia yi Doda binti Sayyid/Habib Abdul Wahid.

Mengenai Syarifah Wa Didia yi Doda masih perlu diteliti apakah ada nama lain beliau, sebab nama ini terkesan adalah “nama panggilan”, bukan nama asli. Bahkan sebagian orang Buton lebih mengenalnya dengan sebutan Nyai (yakni Nyai Wa Didia yi Doda).

(2). Sayyid/Habib Abdul Wahid.

  • Sayyid Abdul Wahid adalah keturunan Rasulullah Muhammad Saww (Sayyidina ‘Ali r.a.) yang datang di Buton mengislamkan Raja Mulae/Raja Kerajaan Wolio yang ke-5 (Umar Idgham) dan Sultan Murhum (Sultan Buton yang ke-1).

  • Dari pernikahannya dengan Wa Ode Solor/Wa Ode Solo, Sayyid Abdul Wahid dikarunia anak-anak : (1) Sayyid Jamaluddin/Imam Malanga/Lebe La Pangulu/Lebe Pangulu; (2) Sayyid Abdul Rasyid/Lebe yi Dawwa; (3) Syarifah Wa Didia yi Doda; dan (4) Syarifah Hibba. ƟƟƟ Dari mereka inilah (Islamisasi Gelombang Pertama) berkembang keturunan Rasulullah Muhammad Saww di Tanah Wolio/Buton; belum lagi jika dilihat pada Gelombang Kedua, Gelombang Ketiga, dan Gelombang Keempat. Pada “Gelombang Ketiga”, misalnya, kita temui salah satu sosok bernama La Ode ‘Arabu al-Butûni, anak dari Sayyid/Habib Rabba Alaydrus (Sayyid Rabba/Saydi Raba adalah menantu dari Sultan ke-19 : Saqiuddin Darul ‘Alam/Oputa Sangia). Ia tidak menggunakan gelar Sayyid/Habib, melainkan La Ode, karena hal ini merupakan persyaratan untuk bisa berkonstatasi dalam jabatan di Kesultanan Buton (La Ode ‘Arabu al-Butûni menjabat sebagai Kenepulu). Sekadar tambahan, sebagian Sayyid/Habib yang berkiprah dalam institusi Sara Kidina (aparatur Masjid Agung Keraton Wolio) tidak menggunakan gelar La Ode (ada yang bergelar Moji, Lebe, dsb; tapi tidak semua Moji atau Lebe adalah keturunan Rasulullah Muhammad Saww.).

  • Syarifah Hibba dinikahi oleh Sultan ke-4 (Dayânu Ikhsanuddin), dan dari pernikahan ini lahirlah La Balawo; yang kemudian menjadi Sultan ke-5 (Sultan Abdul Wahab) : 1631 – 1632.

(3). La Nisuru/Sapati Mokolelena.

Sapati La Nisuru bin La Singga (La Singka) juga digelari Sapati Mokawana Lelena (Sapati Mokolelena).

9. (1). Wa Ode Tandawani dinikahi oleh Sapati La Nisuru, dan dari sini lahir La Ode Manimpa dan Wa Ode Pangka. Wa Ode Pangka (Tapi-Tapi) kemudian menikah dengan La Ode Arfani/Sapati Bâluwu (Kumbewaha), yang melahirkan anak bernama La Dini/Oputa Kabumbu Malanga/Sultan ke-14 (1697 – 1704).

(2). La Ode Manimpa/Sapati Kapolangku.

  • La Ode Manimpa menikah dengan dua orang perempuan : (a) Wa Ode Waja; dan (b) Wa Ode Manggara.

  • Wa Ode Waja melahirkan anak bernama La Rabaenga/Saiful Rijâli/Sultan ke-15 (1702; hanya menjabat selama 7 hari).

10. (1). Pernikahan La Ode Manimpa dengan Wa Ode Manggara melahirkan anak bernama ………….. (Lakina Waale-ale).

(2). Lakina Waale-ale menikah dengan ………….., yang melahirkan dua orang anak : (a) Abdul Ghafur/Mahyuddin/Sultan ke-26 (1791 – 1799); dan (b) ………….. (Kapitalao Lakudo ke-1).

11. Kapitalao Lakudo ke-1 menikah dengan ………….. (dengan julukan : “Balu yi Gu”), yang kemudian melahirkan anak bernama La Masalumu/Alimuddin/Oputa Lakina Sora Wolio/Sultan ke-25 (1788 – 1791).

12. (1). Apakah Balu yi Gu adalah warga lokal (Lakudo) ataukah dari Wolio, masih perlu diselidiki.

(2). La Ode Masalamu/Alimuddin/Sultan ke-25 (1788 – 1791).

  • La Ode Masalamu menikah dengan Wa Ode Bawine (Wine), dan dari sini lahir empat orang anak : (a) La Deni/La Dani/Oputa yi Bâ Luwu/Muhammad Anharuddin/Sultan ke-28 (1822 – 1823); (b) La Sidu/Sapati; (c) La Ode Tobelo; dan (d) Balaboa.

  • Anak perempuan Sultan Anharuddin/Sultan ke-28 (Tapi-Tapi) dinikahi, sebagai permaisuri, oleh Muhammad Idrus Kaimuddin/Moko Bâdhiana/Sultan ke-29 : 1824 – 1851 (Kumbewaha).

  • La Tobelo menikahi ………….., dan dari sini lahirlah La Jâfa. Sedangkan La Jâfa menikah dengan Mâ Muslima, yang melahirkan La Amiri. Selanjutnya, La Amiri menikahi ………….., dan kemudian lahirlah Muhammad Ali /Oputa yi Dalana Uwe/Sultan ke-35 (1918 – 1921).

  • Balaboa adalah seorang ulama tasawuf/Irfan; di antara ilmu Irfan (mistik Islam) yang diajarkannya adalah ilmu “Kambotuna Mate”/Ilmu Ma’rifat tentang Ajal (tentang hal ini, insya Allah, kita beri pengenalan pada kesempatan lain).

13. La Ode Sidu/La Sidu/Sapati menikah dengan Wa Ode Aulia.

14. (1). Wa Ode Aulia melahirkan anak bernama La Ode Muhammad Sâlihi.

(2). La Ode Muhammad Sâlihi/Lakina Kaedupa/Moko Lojina.

  • La Ode Muhammad Sâlihi bin La Sidu menikahi dengan beberapa orang perempuan : (a) Wa Ode Tantu; (b) …………..; dan (c) …………..

  • Dari isteri yang dimaksudkan pada huruf (b) lahir anak bernama La Ode Abdul Halim (Yarona Wangentu ke-1). Jadi La Ode Abdul Halim (Yarona Wangentu ke-1) adalah saudara bukan seibu dari Sultan La Ode Muhammad Asyikin/Sultan ke-33.

  • La Ode Abdul Halim (Yarona Wangentu ke-1) menikah dengan Wa Ode Safa dan mempunyai empat orang anak : (a) La Ode Abu Bakar (Yarona Wangentu ke-2); (b) La Ode Umara; (c) La Ode Usman; dan (d) La Ode Ali.

  • La Ode Umara menikah dengan Wa Ode Adja, yang kemudian melahirkan anak bernama La Ode Dange.

  • La Ode Dange menikah dengan Wa Ode Ubo melahirkan anak bernama Wa Ode Ena (Ibunda dari La Ode Hambali di Loji).

  • Wa Ode Ubo adalah anak dari La Ode Zaha (Wakili Kapitalao Kapala Mawasangka Yi Kabumbu) bin La Ode Galibu bin La Ode Ismail/La Ode Maki (Kapitalao Kamaru) bin …………../Kapitalao Waale-Ale bin La Jampi/Galampa Batu/Kaimuddin/Sultan ke-24 : 1763 – 1788 (Kumbewaha).

  • La Jampi (Sultan ke-24) menikah dengan Wa Ode Imama binti Langkariri/Saqiuddin Dâru ‘Alam/Oputa Yi Sangia/Oputa Manuru/Sultan ke-19 (1712 – 1750).

  • Jadi, Wa Ode Ena (isteri dari La Ode Mbeli bin La Ode Taru/Yarona Liya Mancuana) adalah keturunan ke-7 dari Oputa yi Sangia/Sultan ke-19 (dari jalur Ibu : Wa Ode Ubo), yang membangun kembali Masjid Agung Keraton Wolio bersama menantunya : Sayyid/Habib Rabba Alaydrus.

  • Salah seorang anak Langkariri bernama Hamim/Saqiyuddin/Sultan ke-21 (1752 – 1759).

  • Selain punya anak …………../Kapitalao Waale-Ale, La Jampi/Sultan ke-24 juga punya anak lain bernama La Ode Badaru/Dayânu Israruddin/Sultan ke-27 (1799 – 1822). La Ode Badaru merupakan ayah dari Muhammad Idrus Kaimuddin/Ko Badhiana/Sultan ke-29 (1824 – 1851).

  1. A. La Ode Muhammad Sâlihi/Yarona Kaedupa/Moko Lojina.

  • La Ode Muhammad Sâlihi punya beberapa isteri, dan dari semuanya lahir sebelas orang anak. Satu isteri melahirkan La Ode Muhammad Asyikin/Adîlil Rakhim/Oputa Antara Maedhani/Sultan ke-33 : 1906 – 1911. Dan dari isteri lainnya lahir La Ode Abdul Halim/Yarona Wangentu ke-1.

  • Pada awal karirnya, La Ode Muhammad Asyikin menjabat sebagai Lakina Wali di Binongko, kemudian setelah berjasa menaklukan perlawanan La Cadi dari Muna beliau diangkat sebagai Sabandara (Syahbandar), setelah itu Kapitalao, Sapati, dan terakhir Sultan.

  • Isteri-isteri La Ode Muhammad Asyikin di Binongko adalah :

(a). Wa Sawaru (anak : La Ode Santaonga/Yarona Wakorumba; La Ode Alusu/Yarona Bumbu; La Ode Ado/Yarona Lolibu; dan Wa Ode Mazida/Yarona Kenepulu Bawine).

(b). Wa Ode Sampolawa (anak : Wa Ode Aisyah).

(c). Wa Ode Sia bin La Ode Panji (asal Liya). Anaknya adalah La Ode Makiki (Hanafi Antara Maedhani). Sedangkan La Ode Makiki adalah ayah dari La Ode Saga (La Ode Muhammad Saleh), Wa Ode Husuria, dan Wa Ode Masiara.

  • Anak-anak lainnya dari La Ode Muhammad Asyikin (yang ada di Binongko) adalah

(a). La Ode Paisu/Kolaki Samalamu (cucu-cucu antara lain : La Ode Abdul Rajab).

(b). Wa Ode Sunggu.

(c). La Ode Potemba/Yarona Wasintalalo (kakek dari antara lain: Wa Ode Gayatri).

(d). La Ode Belo.

(e). La Ode Ali Badaru.

(f). La Ode Ali Jahidin.

(g). La Ode Paraa.

(h). La Ode Basa.

  • La Ode Santaonga punya dua isteri : (a) ………….. (yang di Binongko) ; dan (b) Ina-Ina (yang di Kaledupa).

  • Dari isteri yang di Binongko lahir La Ode Muhammad Hanafie (Kapitalao Yi Loji), sedangkan dari Ina-Ina (Kaledupa) lahir La Ode Abdul Halim (Bupati Buton ke-1), La Ode Hasyim, Wa Ode Ziada, Wa Ode Ombu, dan Wa Wona.

  • Turunan La Ode Muhammad Asyikin di Tomia antara lain adalah La Ode Dange (Yarona Timu).

  1. B. La Ode Abdul Halim/Yarona Wangentu ke-1.

La Ode Abdul Halim (bin La Ode Muhammad Sâlihi/Yarona Kaedupa/Moko Lojina) punya isteri bernama Wa Ode Safa, yang kemudian lahirlah beberapa anak : La Ode Abu Bakar/Yarona Wangentu ke-2 (Lakina Kondowa), La Ode Umar, La Ode Usman, dan La Ode Ali.

17. B. (1). LaOde Abu Bakar/Yarona Wangentu ke-2.

La Ode Abu Bakar menikahi Wa Ode Rahama, dan dari sini lahirlah : La Ode Abdul Majid (Yarona Lasalimu), La Ode Abdul Azis (Yarona Kalende), dan Wa Ode Ȃdhi (tidak punya anak).

(2). La Ode Abdul Majid/Yarona Lasalimu.

  • La Ode Abdul Majid menikah dengan Wa Munîfa, yang kemudian melahirkan beberapa anak, antara lain : La Ode Muhammad Said dan Wa Ode ‘Aisyah.

  • Ia (La Ode Abdul Majid) adalah ulama tasawuf dan ahli ketatanegaraan. Sahabat-sahabat akrabnya adalah La Ode Taru (Lakina Liya) dan Sultan ke-37 (La Ode Hâmidi). Keakraban La Ode Taru dan La Ode Abdul Majid dibuktikan dengan menjodohkan anak-anak mereka, yaitu La Ode Bosa dengan Wa Ode Aisyah. Demikian pula hubungan antara La Ode Hâmidi dengan La Ode Abdul Majid, yang lebih dari sekadar sahabat biasa. La Ode Bosa mengatakan, seringkali mereka terlibat pembicaraan serius dan akrab dalam membahas (bertukar pikiran mengenai) berbagai hal. Dan dalam pembiacaraan itu tidak jarang La Ode Bosa juga turut diajak oleh La Ode Abdul Majid. [Selain sebagai menantu, La Ode Bosa juga adalah salah seorang kader kultural (dan keagamaan) dari La Ode Abdul Majid].

  1. B. Wa Ode Aisyah.
  • Wa Ode Aisyah dinikahi oleh La Ode Bosa (Aba Bosa/Aba Tua), dan dari sini lahirlah beberapa anak, antara lain, La Ode Abubakar (Aba Ode/Aba yi Kandari).

  • Dalam ukuran tertentu, Wa Ode Aisyah mengikuti jejak Tokoh Perempuan Buton, Wa Ode Wau (yang berjasa menopang pembiayaan untuk pembuatan Benteng Keraton Wolio, benteng terluas di dunia). Ia (Wa Ode Aisyah) telah menyumbangkan seluruh tanah miliknya di Bau-Bau untuk kepentingan publik, di antaranya untuk gedung “SMA Manuru” dan “TK Manuru” (di bawah naungan “Yayasan Manuru”), kompleks pekuburan/makam, dan tempat hunian para pelajar [di antara para pelajar tersebut adalah Ir. Hugua, mantan Bupati Wakatobi (Ketua PDI-P, Provinsi Sultra)].

18. C. La Ode Muhammad Said.

  • La Ode Muhammad Said menikahi Wa Ode Anda, dan dari sini lahirlah beberapa anak, antara lain, Wa Ode Hasimah.

  • La Ode Muhammad Said adalah kakak kandung dari Wa Ode Aisyah. Sama dengan adiknya (Wa Ode Aisyah), beliau juga adalah sosok yang berjiwa sosial. Tanah miliknya juga disumbangkan untuk kepentingan publik, di antaranya buat makam dan tempat hunian pelajar.

  1. B. (1). La Ode Bosa/Lakina Liya ke – 30 (194… – ….).

Kontribusi La Ode Bosa (Aba Bosa) bin La Ode Taru — keturunan kedelapan dari Sultan ke-19 : Saqiuddin Dârul ‘Alam/Oputa yi Sangia (pendiri Masjid Keraton Wolio) — terhadap sejarah dan kebudayaan Buton tak perlu diragukan. Banyak peneliti menjadikan beliau sebagai narasumber, salah satunya adalah Pim Schoorl (Universitas Leiden); termasuk juga putera dan cucunya, yakni La Ode Abubakar/Aba Ode (sejarawan dan budayawan Buton) dan La Ode Zulfikar Toresano/Aba Zul (pemerhati sejarah dan kebudayaan Buton).

(2). La Ode Taru/Lakina Liya ke – 29 (1916 – 194…).

La Ode Taru — keturunan kesembilan dari Sapati Bâluwu (La Ode Arfani) — adalah pejuang yang ikhlas datang seorang diri ke Kendari dan terbunuh di sana (insya Allah menjadi syuhada) demi untuk membela masyarakat Liya (Buton) dari penindasan tentara Jepang. Sejumlah orang menyaksikan, ia dengan paksa dikuburkan hidup-hidup di kota Kendari Lama/Gunung Jati, setelah upaya-upaya pembunuhan dengan aneka jenis senjata (termasuk membenamkannya ke dasar laut dalam keadaan ia berada dalam peti besi) tidak berhasil. Apakah peristiwa ini disebut karamah (kejadian-kejadian supranatural yang muncul dari para kekasih Allah atau Waliullah), yang seakan mengikuti jejak Nabiullah Ibrahim a.s. yang selamat dari api? Hanya Allah yang tahu; setiap kali orang mengkonfirmasikan kisah-kisah heroik (karamah) tersebut kepada anaknya (La Ode Bosa) dan cucunya (La Ode Abubakar), keduanya hanya terdiam. Paling hanya menjawab : Wa Allah a’lam bi al-shawab, hanya Allah yang tahu (mungkin mereka khawatir terjerumus kepada ketakaburan dan pengkultusan kepada leluhur). Selain itu La Ode Taru [yang dari jalur ibunya (bernama Wa Ȏde/Wa Oodhe) merupakan keturunan kedelapan dari Sultan ke-20 dan ke-23 : Himayatuddin/Oputa yi Kô] juga mewariskan ilmu-ilmu tasawuf dan ketatanegaraan kepada keturunannya (yang kemudian disebarkan kepada masyarakat luas).

(3). La Ode Abubakar.

  • La Ode Abubakar (Aba Ode/Aba yi Kandari) menikah dengan Wa Ode Hasima, yang kemudian melahirkan anak, antara lain, La Ode Zulfikar Toresano (Aba Zul).

  • Sejak menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin/Unhas (akhir tahun ’50-an), bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam HIPPMIB (Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia Buton) di Makassar, La Ode Abubakar giat memperjuangkan aneka kemaslahatan publik, di antaranya turut terlibat berjuang mendirikan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Bahkan, saat kesusahan hidupnya agak teratasi — yakni bekerja di PN Aneka Bhakti, Makassar [atasannya pada waktu itu adalah Bapak Syamsuddin, ayahanda dari Letjen (Purn.) Syafri Syamsuddin, mantan Pangdam Jaya] — rumahnya menjadi tempat kumpul anggota HIPPMIB.

  • Menjelang paruh kedua tahun ’60-an, La Ode Abubakar hijrah ke kampung halaman (Buton) untuk membangun/mengembangkan daerah, di antaranya bersama Bupati Kasim (alumni UGM berprestasi yang pernah menjadi delegasi Indonesia ke AS) turut memfasilitasi berdirinya 4 (empat) perguruan tinggi di Bau-Bau. Sayangnya, karya monumental tersebut dibubarkan atau dipindahkan, dan hanya menyisakan satu yakni IAIN Cabang Alauddin (Universitas Sultra, sebagai cikal bakal Unhalu, dipindahkan ke Kendari). Padahal, jika institusi/kegiatan pendidikan tersebut tidak digusur, niscaya Bau-Bau menjadi kota pendidikan terbesar di Indonesia bagian timur, setelah Makassar.

  • Pada paruh kedua dekade ’70-an (menjelang tahun 1980), konsep pengembangan “Pelayaran Rakyat” (motorisasi perahu-perahu layar) di Sultra — khususnya di Pulau Buton dan Kepulauan Wakatobi — mulai diperjuangkan oleh La Ode Abubakar, tokoh masyarakat adat dan sejarawan Buton, yang juga adalah keturunan ke sembilan dari Sultan Buton ke-19 : Saqiuddin Dârul ‘Alam (yang mendirikan kembali Masjid Agung Keraton Wolio-Buton; dan bersama menantunya, Habib/Sayyid Rabba Alaydrus, melancarkan dakwah Islamisasi Gelombang III di seluruh belahan tenggara Sulawesi). Saat itu, dalam kunjungannya di Bau-Bau, Ibu Kota Kabupaten Buton (jauh sebelum Kabupaten Buton di pecah menjadi beberapa kabupaten dan kota), Menteri Perhubungan Prof. Dr. Emil Salim meminta waktu khusus untuk berbicara dengan La Ode Abubakar (di rumah jabatan Bupati Buton Arifin Sugianto) soal pengembangan potensi pelayaran rakyat. Tentu saja La Ode Abubakar — yang juga adalah salah seorang pendiri Provinsi Sulawesi Tenggara (dengan perjuangan yang dimulai sejak menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Unhas) — tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga itu dengan memperjuangkan sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat Buton (dan Sultra). Alhamdulillah, beberapa usulannya diresponi positif oleh Menhub yang kemudian ditindaklanjuti dengan pemberian kredit mesin-mesin kapal laut kepada masyarakat Buton. Tidak itu saja, usulan La Ode Abubakar untuk mengembangkan pelabuhan Bau-Bau (sebelum bernama Pelabuhan Murhum) — yang di masa itu masih berkonstruksi kayu — juga kemudian membuahkan hasil dibangunnya pelabuhan tersebut dengan konstruksi beton bertulang.

  • Pada awal tahun 1999, bersama sejumlah rekan (sebagian adalah budayawan dan sejarawan Buton), La Ode Abubakar merintis pembuatan/penerbitan Majalah Budaya Buton “Wolio Molagi”. Dan pada Maret 1999 terbitlah edisi perdananya. Pemimpin Umum dan Penanggungjawab majalah ini adalah La Ode Abubakar.

  • Mengenai silsilah La Ode Abubakar dari jalur Kumbewaha, silahkan lihat “Rekonstruksi Peradaban Wolio dan Silsilah Keluarga Kumbewaha Kesultanan Buton”.

20. B. La Ode Zulfikar Toresano/Aba Zul.

(Lihat “Lampiran” nomor 1 pada bagian akhir tulisan ini).

  1. B. (1). Citrawati Trisaparini (asal Jawa Tengah).

Citrawati Trisaparini adalah ibu rumah tangga yang mantan wartawan/wartawati. Kini aktif dalam kegiatan sosial bersama suaminya, La Ode Zulfikar Toresano (Aba Zul).

(2). Wa Ode Zainab ZT (Wa Ode Zainab Zilullah Toresano, M.Ud, MA) — selanjutnya lihat CV (Curriculum Vitae).

6666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666666

Lampiran

1. La Ode Zulfikar Toresano (LZT) adalah seorang insinyur mesin (dengan spesialisasi “Metalurgi Mekanis”), mantan penasehat akademis di ISTN/Institut Sains dan Teknologi Nasional (Jakarta), pernah menjadi dosen di “Jakarta Engineering School” (JES), dan mantan Staf Ahli DPD-RI. Setahun sejak menjadi anggota HMI/Himpunan Mahasiswa Islam, Jakarta (1982), ia mulai aktif sebagai “Pemateri” (trainer) dalam “Latihan Dasar Kepemimpinan” (LDK) untuk subjek “Nilai Dasar Perjuangan”/NDP (Filsafat Ketuhanan) di lingkungan HMI; juga untuk pelatihan tingkat advance (HMI) dengan subjek : “Strategi-Taktik dalam Perjuangan Politik” dan “Perbandingan Ideologi Dunia”. Pada paruh awal dekade 80’-an, ia pun terlibat aktif dalam “Kelompok Diskusi Rawamangun” (yang dikawal oleh Habib Omar Hashem Assegaf) dan “Kelompok Diskusi Srengseng Indah” (yang dikawal oleh Habib Zainal Abidin al-Muhdhor). Kemudian, mulai paruh terakhir dekade 80’-an, LZT juga memperluas pelibatan diri dalam “Komunitas Pejaten”/KP (yang dibimbing oleh Habib Ali bin Yahya) dan “Kelompok Diskusi Cikoko-Tebet” (bersama Zulfan Lindan, mantan Ketua PB-HMI). Lalu, pada paruh awal dekade 90’-an, Habib O. Hashem mengajaknya (bersama sejumlah aktivis HMI dan alumni HMI) mendirikan “Masyarakat Indonesia Baru”/MIB. Pada KP dan MIB, LZT diminta untuk membantu memimpin kelompok diskusi, di samping bertindak sebagai pemateri untuk diskusi-diskusi bertema “Strategi Perjuangan Politik” dan “Perbandingan Ideologi & Mazhab”. KP dan MIB turut berkontribusi dalam menumbangkan rezim despotik Orde Baru, terutama karena banyak anggotanya yang terlibat aktif dalam aksi-aksi lapangan yang merupakan bagian dari peran mereka sebagai tokoh mahasiswa pada sejumlah organisasi kemahasiswaan. Saat ini LZT memimpin www.sorotparlemen.com dan menulis tema-tema “kebudayaan Buton” sebagai sebuah komitmen untuk penguatan peradaban Buton umumnya dan meneruskan misi kebudayaan yang telah dijalankan oleh ayahnya (La Ode Abubakar/Aba Ode, salah seorang pencetus lahirnya Majalah Budaya Buton “Wolio Molagi”).

2. Menurut La Ode Abubakar bin La Ode Bosa (keduanya adalah budayawan dan sejarawan Buton),*) ayah Wa Khâ Khâ adalah Khubilai Khan (anak Genghis Khan/Jengis Khan), Kaisar ke-1 Dinasti Yuan (Mongol) di Tiongkok, yang mulai berkuasa pada tahun 1260 dan meninggal tahun 1294; sedangkan ibunya adalah “Raden Ratna Kesari” [oleh para tetua di Buton disebut dengan aksen Ra-atana Sari Radenggalu i Daha (maksudnya : Ratna Sari Raden Ayu di Kerajaan Kadari/Kediri/Singhasari yang berpusat di Daha)], anak Jayakatwang (Raja Kerajaan Kediri/Kadiri/Singhasari). Jayakatwang memulai karir politiknya saat menggantikan ayahnya, Sastrajaya, menjadi adipati atau bupati Kadiri/Daha (bagian dari Kerajaan Singhasari) pada tahun 1271. ƟƟƟ SEBAGAIMANA dicatat dalam sejarah Nusantara, pusat Kerajaan Kadiri/Kediri/Panjalu (1045-1222) adalah di Daha, yakni di sekitar Kota Kediri sekarang. Pada akhir November 1042, Raja Airlangga membagi wilayah Kerajaan Kadiri kepada dua putranya : Sri Samarawijaya (Kerajaan Panjalu, dengan ibu kotanya adalah Daha) dan Mapanji Garasakan (Kerajaan Janggala, dengan ibukotanya di Kahuripan). Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya (1135 – 1157), Kerajaan Panjalu berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala. Pada masa itulah Kerajaan Panjalu mengalami kejayaan pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Pada tahun 1222, terjadi perselisihan di Kerajaan Panjalu/Kadiri antara Raja Kertajaya dan kaum brahmana (agamawan/rohaniwan). Kaum brahmana minta perlindungan kepada Ken Arok, penguasa (akuwu) Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga sedang mengatur strategi untuk memerdekakan Tumapel dari Kerajaan Kadiri. ƟƟƟ SETELAH terlibat perang, Tumapel mengalahkan Kadiri, dan berdirilah “Kerajaan Singhasari”. Kadiri kemudian menjadi bagian atau vasal dari kekuasaan Kerajaan Singhasari (1222 – 1292). Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya, sebagai adipati/bupati Kadiri (Daha). Pada tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya, Sastrajaya. Lalu, pada tahun 1271 Jayakatwang menggantikan ayahnya, Sastrajaya. Dengan kata lain, sebagai adipati/bupati Kadiri (Daha), Jayakatwang harus tunduk kepada Kerajaan Singhasari, yang pada waktu itu rajanya adalah Kertanegara (mulai berkuasa pada tahun 1268). ƟƟƟ MASIH menurut La Ode Abubakar, dalam hubungan ini, sebagai penguasa kerajaan besar, ada tiga kebijakan penting yang dilakukan oleh Raja Kertanagara (meninggal : 1292) : (1) Menegakkan kedigdayaan Kerajaan Singhasari sebagai kerajaan terkuat di Tanah Jawa; (2) Menyatakan sikap politiknya kepada Kaisar Dinasti Yuan Khubilai Khan (di Tiongkok), bahwa Kerajaan Singhasari tidak akan pernah tunduk di bawah kepemimpinannya, yang mengklaim diri sebagai super-power dunia pada masa itu. Dan hal ini ia pertegas dengan mengirim balik Meng Chi (“Men Shi” atau “Meng-qi”), utusan khusus Khubilai Khan, setelah mukanya disayat-sayat dan kupingnya dipotong. Akibatnya, kaisar Mongol itu marah besar seraya bertekad menghancurkan Raja Kertanegara/Jawa; dan (3) Melakukan ekspedisi Pamalayu (Sansekerta : “tidak melepaskan Malayu” atau “perang melawan Malayu”), 12751286, terhadap Kerajaan Melayu di Dharmasraya (setelah melemahnya Kerajaan Sriwijaya akibat serangan pasukan Rajendra Chola dari Koromandel, India, pada tahun 1025), di Pulau Sumatera. ƟƟƟ SEJARAH mencatat, ekspedisi (Pamalayu) yang dipimpin oleh Kebo Anabrang itu bertujuan untuk menundukkan Swarnnabhumi, Raja Kerajaan Melayu/Dharmasraya, secara baik-baik. Namun, tujuan tersebut mengalami perubahan karena raja Swarnnabhumi melakukan perlawanan, kendati kemudian pasukan Singhasari memenangkan pertempuran. Pendapat lain menyebutkan, Ekspedisi Pamalayu dirancang untuk membendung serbuan pasukan Mongol yang mengancam untuk melakukan penyerbuan ke Asia Tenggara/Jawadwipa; sehingga masuknya pasukan Khubilai Khan itu harus didahului dengan menguasai Sumatera. Juga disebutkan bahwa kendati ekspedisi tersebut berakhir pada tahun 1286, tapi pasukan Pamalayu yang berangkat tahun 1275 itu baru kembali ke Jawa sepuluh hari setelah kekalahan tentara Mongol (1294) dari pasukan Raden Wijaya di Tanah Jawa. Sumber lain menyebutkan, pasukan Pamalayu tiba kembali di Jawa pada tanggal 3 Mei 1293 (sedangkan pasukan Mongol dipaksa hengkang dari Tanah Jawa oleh Raden Wijaya pada tanggal 23 April 1293). ƟƟƟ Setelah Kerajaan Melayu di Dharmasraya (rajanya Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa) ditaklukkan oleh Kerajaan Singhasari, maka pada tahun 1286 Kertanagara mengirim Arca Amoghapasa (sebagai hadiah) untuk ditempatkan di Dharmasraya. Arca ini diantarkan langsung oleh sejumlah pejabat penting Singhasari, salah satunya adalah Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrahma/Adwayawarman (menjabat sebagai “Rakryan Mahamantri”, jabatan ini tingkat tinggi dalam Kerajaan Singhasari). Sebagai balasannya, Raja Melayu menghadiahkan dua putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak, untuk dinikahkan dengan Raja Kertanagara di Singhasari. Tapi karena Kertanegara telah dibunuh oleh Jayakatwang/1292 [dan setahun kemudian Jayakatwang dibunuh oleh Raden Wijaya/pasukan Mongol (1293)], maka sebagai ahli waris Kertanagara, Raden Wijaya menikahi Dara Petak, sedangkan Dara Jingga dinikahi oleh Adwayawarman. Dari Dara Petak lahirlah Jayanagara (Raja ke-2 Majapahit), sedangkan Dara Jingga melahirkan Adityawarman (perhatikan : Mirip dengan nama bapaknya), yang kemudian menjadi raja di Malayapura (Sumatera). ƟƟƟ KEMBALI ke soal Kerajaan Singhasari (di bawah Raja Kertanagara), rupanya Jayakatwang masih menyimpan dendam karena Kertajaya (leluhurnya) dikalahkan oleh Ken Arok. Ia kemudian melakukan kudeta (tahun 1292) terhadap Kerajaan Singhasari, bahkan membunuh Raja Kertanegara (1292). Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Kadiri (pusatnya di Daha), atau menjadi Raja “Kerajaan Singhasari yang baru”(versi Kadiri/Daha), namun hanya bertahan satu tahun karena kemudian terjadi serangan yang dilancarkan oleh aliansi pasukan Mongol dan pasukan Raden Wijaya (menantu Kertanegara). Dalam serangan itu, pasukan Mongol/Tar-Tar (yang berjumlah 20 ribu) dipimpin oleh tiga panglima : Shih Pi (Shi bi), Ike Mese, dan Kau Hsing (Gaoshing). Hanya Kau Hsing yang berdarah China/Tiongkok; sedangkan Shih Pih dan Ike Mese, masing-masing berdarah Mongol dan Uyghur (pedalaman Tiongkok). Mengenai jumlah pasukan, ada literatur yang menulis sekitar 30.000 orang. Agaknya kita sependapat dengan jumlah ini sebab dalam undang-undang kemiliteran yang disusun oleh Jengis Khan (yang terus dipertahankan oleh Khubilai Khan) disebutkan bahwa apabila disusun kekuatan sebesar sepuluh ribu tentara, maka harus diangkat satu panglima; dan jika dari jumlah total pasukan terdapat dua atau orang komandan/panglima, maka di antara mereka harus diangkat seorang sebagai “Panglima Tertinggi”. Pasukan, yang dibawa oleh seribu kapal dengan perbekalan 40.000 perak batangan, tersebut berangkat dari pelabuhan Chuan-chou (Fukien), pada tahun 1292, menuju Pulau Jawa dengan waktu tempuh selama satu tahun dan singgah di beberapa tempat; terakhir mendarat di Pulau Belitung (Sumatra) pada bulan Januari tahun 1293. Di sini mereka menyiapkan serangan ke Jawa dengan target selama kira-kira satu bulan. Shih Pi dan Ike Mese mengumpulkan pasukan dari tiga provinsi: Fukien, Kiangsi, dan Hukuang. Sedangkan Kau Hsing bertanggung jawab menyiapkan perbekalan dan kapal (logistik). Pelayaran melelahkan itu melemahkan pasukan Mongol karena harus ombaknya besar. Banyak prajurit yang sakit karena sebagian tidak terbiasa melakukan pelayaran. Di Belitung mereka menebang pohon untuk membuat perahu (boats) berukuran kecil agar mudah masuk ke sungai-sungai sempit di Pulau Jawa. Pada bulan kedua tahun itu Ike Mese — bersama 500 tentara — berlayar ke Jawa dengan menggunakan 10 kapal untuk membuka jalan bagi bala tentara Mongol yang dipimpin oleh Shih Pi (sebagai “Panglima Tertinggi”). Sebelum memasuki Tuban (Jawa Timur), mereka singgah di Pulau Karimunjawa sebagai langkah persiapan. Selanjutnya, saat berada di Tuban, mereka mendengar kabar bahwa Raja Kertanagara telah tewas dibunuh oleh Jayakatwang. Karena tujuan utama perintah Khubilai Khan adalah menaklukkan Jawa, maka meskipun Kertanagara telah tewas (1292), tapi rencana semula harus tetap dilaksanakan. Ike Mese kemudian menggerakkan separuh dari jumlah seluruh pasukan (10.000 orang) dengan melalui darat menuju Singhasari/Daha, tapi sebelumnya ia sudah melancarkan operasi intelijen, di antaranya membina kerja sama dengan penguasa-penguasa lokal yang tidak setia kepada Jayakatwang. Pada tahun 1513 pun Daha menjadi ibu kota Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Bhatara Wijaya. Dengan kata lain, kebesaran imperium kerajaan di Tanah Jawa identik dengan nama “Daha”. Masuk akal bila para leluhur Buton sering menceritakan anak-anak mereka tentang sejarah para bangsawan Daha, di antaranya Ra-atana Sari Radenggalu i Daha(Ratna Sari Raden Ayu di Kerajaan Kadari/Kediri yang berpusat di Daha)]. Ketersehoran nama “Daha” baru redup setelah penguasa Kesultanan Demak, Sultan Trenggana, mengalahkan Kerajaan Majapahit (dengan rajanya adalah Ratu Dyah Ranawijaya) pada tahun 1527. Sejak saat itu nama “Kediri” menjadi lebih terkenal daripada “Daha”. Berdasarkan peta daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit dan peta Provinsi Jawa Timur, didapatkan gambaran bahwa Kota Daha terletak di sekitar “Pare-Kandangan”, Kabupaten Kediri (Jawa Timur) saat ini. ƟƟƟ DARI paparan tadi, menurut saya, alasan pengiriman bala tantara Mongol (Tar-Tar) adalah sebagai respons ketersinggungan atas perlakuan Raja Kertanegara yang mencederai wajah serta memotong kuping Meng Chi (kemudian disuruh pulang) saat diutus oleh Kaisar Khubilai Khan agar Kerajaan Singhasari tunduk di bawah kekuasaan Dinasti Yuan (Mongol), harus dipandang sebagai hal yang sekunder (alasan sekunder). Mengapa? Sebagaimana telah saya kemukakan sebelumnya, “alasan utama” Khubilai Khan adalah hendak menguasai dunia, termasuk menundukkan Kerajaan Singhasari (Pulau Jawa) yang pada masa itu terbesar di Nusantara (Asia Tenggara). Alasan utama ini juga diperkuat oleh fakta bahwa pasukan Khubilai Khan kemudian juga tetap memerangi pasukan Jayakatwang, padahal Jayakatwang lah yang membunuh Kertanagara (orang yang justru dicari oleh pasukan Khubilai Khan). Fakta lain, dalam kitab Pararaton disebutkan, kedatangan pasukan Mongol merupakan upaya adipati/bupati Madura, Aria Wiraraja, yang mengundang tentara Khubilai Khan ke Tanah Jawa untuk menumbangkan Daha (Jayakatwang). Aria Wiraraja berjanji kepada raja Mongol bahwa ia akan mempersembahkan seorang puteri cantik sebagai tanda persahabatan, dan menyatakan kesetiaan kepada Khubilai Khan, bila Daha dapat ditundukkan. Surat kepada Kaisar Mongol disampaikan melalui jasa pedagang Tiongkok yang kapalnya sedang merapat di Jawa (Pitono, 1965: 44). ƟƟƟ PERISTIWA penyerbuan pasukan Khubilai Khan ke Jawa itu dituliskan dalam sejumlah sumber di Tiongkok dan merupakan sejarah kehancuran Kerajaan Singhasari serta munculnya Kerajaan Majapahit, di antaranya buku nomor 162 dari masa pemerintahan Dinasti Yuan yang sudah diterjemahkan oleh W.P. Groeneveldt berjudul Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources (1963). Dengan dilengkapi sumber-sumber lain (termasuk juga kutiban dari kitab “Yuan-shi”), kita dapat buatkan catatan : (1) Untuk menghancurkan Jayakatwang (Singhasari), Raden Wijaya memfasilitasi berbagai keperluan pasukan Mongol, misalnya memberi kebebasan menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang ada di bawah kekuasaannya, dan bahkan memberikan panduan untuk menuju Daha, ibu kota Singhasari. Ia juga memberikan peta wilayah Singhasari untuk kepentingan penyusunan strategi perang; (2) Peperangan dahsyat terjadi pada hari ke-15, di mana pasukan Mongol (yang dilengkapi meriam; pada waktu itu jenis alutsista ini tergolong langka di dunia) yang berbasis di muara Kali Mas bergabung dengan lasykar Raden Wijaya dan berhasil mengalahkan pasukan Singhasari. Sisa pasukan Singhasari melarikan diri ke Daha, ibukota Singhasari, tapi terus dikejar dan pada hari ke-19, Daha diserang bertubi-tubi meski Jayakatwang dilindungi 10.000 orang pasukan. Akhirnya, Jayakatwang menyerah. Seluruh anggota keluarga (berikut anak-anak mereka) dan pejabat tinggi kerajaan ditahan oleh pasukan Mongol; (3) Sebulan kemudian setelah penaklukan itu, Shi-Pi dan Ike Mese mengizinkan Raden Wijaya kembali ke daerahnya (Majapahit), untuk menyiapkan upeti serta surat-surat penyerahan diri, dengan meminta pengawalan 200 tentara Mongol tanpa senjata; padahal hal ini tidak disetujui Kau Hsing (Gaoxing). Prajurit-prajurit pengawal itu kemudian dibunuh oleh Raden Wijaya. Selanjutnya, ia (Raden Wijaya) mengerahkan pasukan yang lebih besar untuk menyerbu pasukan Mongol yang sedang mabuk-mabukan merayakan kemenangan. Serangan dadakan itu membuat pasukan Mongol lari kocar-kacir; dan sisanya lari ke pesisir utara. Disebutkan, Shih Pi dan Kau Hsing sempat terpisah dari pasukannya, tapi kemudian bertemu di pesisir utara. Dari sini mereka kembali ke Tiongkok (dengan membawa tawanan para bangsawan Singhasari) dan mendarat di Chuan-chou setelah menempuh pelayaran selama 68 hari. Pertanyaan kita, kemana Ike Mese yang berdarah Uyghur (pedalaman Tiongkok) itu? Disebutkan, sebelum pasukan Shih Pi dan Kau Hsing angkat jangkar kembali ke Tiongkok, terlebih dahulu menghukum mati Jayakatwang dan puteranya sebagai ungkapan rasa kesal atas ‘pemberontakan’ Raden Wijaya. Tapi, kitab/serat Pararaton memberikan keterangan berbeda, bahwa Jayakatwang mati dibunuh oleh Raden Wijaya. Agaknya, fakta dalam Pararaton ini perlu kita pertimbangkan kebenarannya karena bahkan Ronggolawe pun kemudian dibunuh oleh Raden Wijaya pasca kemenangan tersebut, padahal Ronggolawe adalah panglimanya sendiri (panglima yang diangkat oleh Raden Wijaya) yang telah berjasa memerangi Jayakatwang dan membantu pasukan Mongol; (4) Terkait dengan hukuman atas kekalahan pasukan Mongol itu, ada literatur yang menulis bahwa hanya Shih Pi yang dihukum oleh Khubilai Khan (dengan 70 kali cambukan, dan menyita sepertiga harta kekayaannya). Tapi, literatur lain, versi Tiongkok, menyatakan bahwa Ike Mese dan Shih Pi dihukum 70 kali cambukan dan sepertiga harta kekayaannya disita. Sedangkan Kau Hsing (Gaoxing) mengalami nasib yang berbeda, dia malah mendapat hadiah 50 tael emas karena melindungi pasukan dari kehancuran total. [Man, John (2007), “Kublai Khan: The Mongol king who remade China”, London: Bantam Books, page 281, ISBN 0553817183]. Kita patut mempertanyakan keabsahan fakta ini, sebab ada kesan bahwa di situ dibangun imajinasi tentang panglima-panglima Tiongkok yang “senantiasa kompak” dan berani menghadap (bersikap kesatria) untuk mempertanggungjawabkan/melaporkan kesalahan. Dalam hubungan itu perlu dicermati fakta yang telah kami kemukakan sebelumnya bahwa Shi-Pi dan Ike Mese mengizinkan Raden Wijaya kembali ke daerahnya (Majapahit), dengan meminta pengawalan 200 tentara Mongol tanpa senjata, yang kemudian ia (Raden Wijaya) bunuh; sedangkan Kau Hsing (Gaoxing) menentangnya. Nah, di sini terlihat adanya pandangan, sikap, dan kebijakan yang berbeda antara Shi-Pi dan Ike Mese di satu pihak dan Kau Hsing dipihak lain. Meskipun ketiganya niscaya meyakini bahwa dalam undang-undang kemiliteran Dinasti Yuan (Pasukan Mongol) juga ada doktrin bahwa dalam peperangan tidak satu pun yang diperkenankan melarikan diri (dan bila ketentuan ini dilanggar, maka kepada yang bersangkutan harus dibunuh), tapi mungkin saja Shi-Pi dan Ike Mese masih menaruh harapan bahwa dengan suara mayoritas (dua lawan satu suara) dan argumentasi yang mereka bangun, ada peluang mempersalahkan Kau Hsing dan melunakkan keputusan/sanksi dari Khubilai Khan atas keduanya. Bisa jadi pertimbangan ini lah yang membuat Shi-Pi dan Ike Mese nekad untuk kembali menghadap ke Tiongkok; terlebih lagi mereka juga membawa tawanan yang terdiri dari para pejabat Kerajaan Singhasari dan bangsawan dari keluarga Jayakatwang, di mana di antaranya ada anak gadis dan seorang putera Jayakatwang, yang diharapkan menjadi penebus kesalahan mereka (Shi-Pi dan Ike Mese). Agaknya, keduanya memahami betul bahwa Khubilai Khan senang bertukar hadiah berupa perempuan/gadis, apalagi berdarah bangsawan. Ia (Khubilai Khan) pernah menghadiahkan Ratu Kokachin (gadis cantik Tiongkok) kepada Raja Persia, Arghun (1284 – 1291). Di sisi lain, Kau Hsing pasti menyadari betul bahwa meskipun di balik sosok militeristik Khubilai Khan terkandung kepekaan perasaan, yakni selalu membalas budi orang-orang yang pernah berjasa kepadanya [misalnya : Marco Polo (anak saudagar dari Venesia/Italia) pernah dijadikan sebagai Duta Kekaisaran Khubilai Khan yang diutus ke berbagai tempat di dunia], tapi penegakkan disiplin militer pasti akan dilaksanakan; artinya Kau Hsing tentu meyakini bahwa jika ia kembali, maka ia harus siap dieksekusi/dibunuh. Terlebih lagi peluang untuk membela diri pasti tipis, karena Shi-Pi dan Ike Mese potensial berbeda pandangan atau kebijakan dengannya. Atas dasar paparan ini kita patut mempertanyakan keabsahan fakta sejarah versi Tiongkok — dan para kolaborator/pelestarinya (sadar maupun tidak sadar) — bahwa semua (ketiga) panglima Dinasti Yuan itu kembali ke Tiongkok. Kejanggalan yang menyembul, selain ada kesan mempertontonkan “kekompakan” dari ketiga panglima itu, juga terlihat pesan “kemanusiaan” dalam narasi tersebut, di mana begitu halus dan pemaafnya Khubilai Khan meski harus melanggar aturan militer, yakni dengan hanya menetapkan hukuman cambuk dan membayar denda material. ƟƟƟ DALAM hubungan itu bukankah sejarah yang subjektif (disubjektifkan) hanya memberi ruang bagi pandangan dari penganut kebudayaan dominan (dalam hal ini adalah kebudayan Tiongkok pasca-Dinasti Yuan)? Bukankah sejarah dengan model demikian terjebak dalam “tafsir hegemonik”, yang memarginalkan keseimbangan informasi; dan oleh karenanya meniscayakan “ketunggalan” lewat rekayasa tertentu? Oleh karenanya, terkait dengan ini, agaknya kita patut mempertimbangkan kekuatan argumentasi atau pendapat yang dikemukakan budayawan dan sejarawan Buton La Ode Abubakar, bahwa sosok “Dungku Cangia”, yang mempromosikan dan memperjuangkan berdirinya “Kerajaan Wolio (Buton)”, tiada lain adalah Panglima Kau Hsing yang terdampar di Pulau Buton pasca-kekalahan penyerbuan pasukan Mongol di Tanah Jawa. Menurut dia (La Ode Abubakar), di antara para tawanan keluarga Jayakatwang yang dibawa ke Tiongkok oleh dua panglima Dinasti Yuan ada Ratna Kesari dan seorang adik laki-lakinya (keduanya adalah anak raja Kerajaan Singhasari/Daha, Jayakatwang). Hal yang menarik, masih kata La Ode Abubakar, para tawanan ini bukan saja tidak dihukum, malah diperlakukan dengan baik; mungkin sebagai wujud rasa terima kasih Khubilai Khan atas kontribusi Jayakatwang dalam membunuh Raja Kertanagara, sosok yang pernah mempermalukan Dinasti Yuan. “Ratna Kesari dinikahi oleh Khubilai Khan, dan tidak lama setelah itu hamil. Tapi karena pada tahun 1294 Khubilai Khan mangkat, dan kemudian terjadi pelemahan kepemimpinan (tujuh) kaisar pelanjut Khubilai Khan, serta rivalitas di internal kekaisaran [yang mengakibatkan tersingkirnya para pendukung setia (ideologi/perjuangan) Khubilai Khan], maka ia (Ratna Kesari) dan keluarganya memutuskan untuk kembali ke Nusantara atau Tanah Jawadwipa,” urai La Ode Abubakar yang akrab disapa dengan sebutan Aba Ode atau Aba yi Kandari itu. Lebih lanjut, ia memaparkan, diduga kuat Ratna Kesari melahirkan dalam pelayarannya itu; dan yang menyedihkan, ia meninggal. Bersyukur, sang bayi bisa diselamatkan dan kemudian dirawat oleh adik laki-laki Ratna Kesari, yang juga turut dalam pelayaran tersebut. Bayi inilah yang kemudian tiba di Buton (setelah tinggal beberapa lama di Jawa) dan di sini dijuluki dengan nama Wa Khâ Khâ. ƟƟƟ SEMENTARA itu, La Ode Bosa (Lakina Liya : 194… – …….), juga sejarawan dan budayawan Buton, menambahkan bahwa kedatangan puteri Wa Khâ Khâ di Buton dikawal oleh Sijawangkati dan Sipanjonga (Sipandonga). “Patut disimak, ada kemiripan nama “Sijawangkati” dengan “Jayakatwang/Jayawangkat” (Raja Singasari/Daha),” tandas La Ode Bosa. Kita menilai penegasan ini cukup analitis karena sebagai komparasi, Adityawarman — sepupu Raja ke-2 Majapahit : “Jayanegara” — juga mirip dengan nama bapaknya : “Adwayawarman”, petinggi Kerajaan Singhasari yang menikah dengan Dara Jingga sebagai persembahan Raja Melayu paska Ekspedisi Pamalayu (di Sumatera) yang dilancarkan oleh Raja Kerajaan Singhasari, Kertanagara. Atas dasar itu, kata La Ode Bosa, masuk akal bila Wa Khâ Khâ dipelihara, dibesarkan, dan dikawal oleh pamannya : “Sijawangkati”. ƟƟƟ KALAU tadi disebutkan bahwa menyusul mangkatnya Khubilai Khan (1294), para bangsawan Jawa (Singhasari/Daha) di Tiongkok kembali ke Nusantara/Jawa, maka ikhwal tidak betahnya mereka menetap di Jawa — dan kemudian harus minggat meninggalkan pulau ini, La Ode Abubakar memberi penjelasan, bahwa para bangsawan Singhasari/Daha itu merasakan ketidaknyamanan akibat kegiatan operasi telik sandi (intelijen) Kerajaan Majapahit, yang pada waktu itu (1294) rajanya adalah Raden Wijaya, sosok yang diduga kuat membunuh Jayakatwang (1293), ayah dan raja mereka. “Karena khawatir, (setelah beberapa lama berada di Jawa) mereka memutuskan untuk berlayar menuju pulau lain yang dianggap aman. Informasi yang mereka dapatkan dari para pedagang rempah-rempah dari Kepulauan Maluku, bahwa sejumlah lasykar Mongol — yang melarikan diri akibat serbuan mendadak pasukan Raden Wijaya (1293) — menetap di Pulau Buton. Terlebih lagi disebutkan bahwa sisa-sisa pasukan Mongol itu memegang peran dalam kehidupan masyarakat setempat,” urai La Ode Abubakar. Maka, berlayarlah mereka ke Nusantara bagian timur dan singgah di hampir setiap pulau yang dijumpai, antara lain Pulau Selayar. ƟƟƟ Uraian La Ode Abubakar itu perlu kita beri catatan bahwa bisa jadi informasi yang didapatkan oleh rombongan keluarga Jayakatwang bukan saja dari para pedagang rempah-rempah, tetapi juga dari masyarakat Daha/Jawa mengingat berdasarkan catatan sejarah, jauh sebelumnya daerah-daerah di kawasan Nusantara bagian timur sudah sangat aktif berhubungan dengan Kerajaan Kadiri. H.J. Van Den Berg menyebutkan daerah-daerah yang dimaksud adalah Timor, Sulawesi Tenggara, dan Maluku (Ternate). Agaknya kajian Berg kurang serius, sebab seandainya saja ia mau bersabar membolak-balik literatur di perpustakaan Leiden, misalnya, niscaya dia tidak akan bilang “Sulawesi Tenggara”, melainkan “Buton” (juga tinjauan dari aspek geostrategis). ƟƟƟ KEMBALI ke uraian La Ode Abubakar, saat tiba di Pulau Buton, rombongan bangsawan Jawa (Singhasari/Daha) tersebut berlabuh di bandar/pelabuhan Kalampa, Kerajaan Tobe-Tobe. Kebetulan rajanya adalah “Dungku Cangia” atau “Kau Hsing” [lihat F.2.(2)], mantan salah seorang panglima pasukan Mongol yang lari kocar-kacir akibat serbuan mendadak pasukan Raden Wijaya di Tanah Jawa [soal mengapa sosok termaksud dijuluki Dungku Cangia”, silahkan lihat F.2(3)]. Pada waktu itu kerajaan-kerajaan di Pulau Buton (bahkan sampai dengan tahun 1332, yakni saat terbentuknya “Kerajaan Wolio”) adalah : (a) Kerajaan Batauga, K Wawoangi, dan K Lapandewa (di kawasan selatan); (b) Kerajaan Batukara, K Tobe-Tobe, dan K Kaesabu (di kawasan barat); (c) Kerajaan Todanga, K Tumada, dan K Lambelu (di kawasan utara); dan (d) Kerajaan Wolowa, K Kumbewaha (Ambuau), dan K Kambowa (di kawasan timur). ƟƟƟ Berdasarkan penuturan para leluhur Buton, kata La Ode Abubakar, kedatangan rombongan tersebut sungguh menggemparkan penduduk negeri (lipu) Tobe-Tobe. Sebagai raja, Dungku Cangia” memerintahkan aparat teliksandi (intelijen) untuk mencermati aktivitas para pendatang asing tersebut. Tidak lama setelah itu diselenggarakan peretemuan antara Sijawangkati dan Sipanjonga di satu pihak dengan Dungku Cangia di pihak lain. Mereka kemudian memperkenalkan identitas masing-masing untuk saling mengenal, meski kedua tokoh eksodus dari Tiongkok itu (Sijawangkati dan Sipanjonga) sudah menduga bahwa sosok yang ada di hadapan mereka adalah Panglima Kau Hsing yang dahulu (1293) menyerang kerajaan mereka (Singhasari di Daha). Sebaliknya, Dungku Cangia juga menduga kuat bahwa Sijawangkati adalah seorang pangeran, anak Jayakatwang (raja Singhasari/Daha). Ketika Dungku Cangia tahu bahwa puteri yang dikawal dan sangat dihormati oleh seluruh rombongan pendatang itu adalah anak Khubilai Khan, maka ia beserta segenap rakyat memberi penyambutan dengan penuh suka cita dan rasa hormat yang tinggi. Pertemuan ketiga tokoh ini segera dimanfaatkan oleh Dungku Cangia mempresentasikan gagasan briliannya untuk mendirikan kerajaan baru yang mempersatukan seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Buton. Ia begitu optimis dengan gagasannya, terlebih lagi karena usulannya agar puteri yang dimuliakan oleh rombongan tersebut diangkat sebagai raja/ratu bagi kerajaan baru yang akan didirikan. Setelah dimusyawarahkan dengan sejumlah raja yang ada di Pulau Buton, termasuk Raja Kerajaan Batauga dan Raja Kerajaan Kamaru (sebagai dua kerajaan terbesar di Pulau Buton), kemudian disepakati bahwa puteri mulia yang diperkenalkan dengan nama Wa Khâ Khâ itulah yang akan diangkat menjadi ratu untuk kerajaan baru yang dimaksud. ƟƟƟ DALAM perkembangan selanjutnya ternyata diperlukan waktu hampir 30 tahun untuk mewujudkan berdirinya kerajaan yang baru itu. Dan nama yang dipilih adalah “Kerajaan Wolio” (dari kata “welia”, yang artinya “rintisan”, yakni terkait dengan lahan yang dirintis menjadi lapangan tempat pelaksanaan upacara pelantikan Wa Khâ Khâ sebagai Ratu/Raja Kerajaan Wolio). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inisiator berdirinya Kerajaan Wolio adalah Dungku Cangia, mantan panglima perang Dinasti Yuan (Kekaisaran Mongol di Tiongkok). Dengan nama “wolio” itulah penduduk setempat menyebut dan lebih mengenali negeri kerajaan yang baru berdiri tersebut. Sebaliknya, para pedagang di Nusantara lebih mengenal kerajaan di Pulau Buton tersebut dengan nama “Kerajaan Butun (Buton)”, karena nama “Butun” yang disematkan pada pulau tersebut sudah lebih dahulu dikenal sebelum “Kerajaan Wolio” berdiri. Misalnya, masyarakat di Kerajaan Majapahit dan Tanah Melayu/Sriwijaya menyebut pulau di bagian tenggara Pulau Sulawesi itu dengan nama “Pulau Butun” [lihat kitab “Negarakretagama” yang ditulis oleh Mpu Prapanca (1365) Pupuh 14 dan “Babat Tanah Melayu”]. Mengenai tokoh Dungku Cangia juga dapat dilihat pada bagian F.2.(2).

—————————————————————————

*) Keduanya (La Ode Abubakar dan La Ode Bosa) sering dijadikan sebagai narasumber tentang sejarah dan kebudayaan Buton oleh sejumlah peneliti dan mahasiswa, di antaranya : Pim Scoorl (Universitas Leiden, Belanda), Susanto Zuhdi (Universitas Indonesia), dan Hiroko Yamaguchi (Universitas Hitotsubashi, Jepang ).

Facebook Comments

You May Also Like