Roger Waters: George W Bush Kurang Waras?

en.wikipedia.orgOh George! Oh George! Pendidikan Texas pasti membuat kamu kurang waras sejak kecil.”  Demikian sepenggal lirik lagu  leaving Beirut  yang dilantunkan Roger Waters dalam konser  The  Dark Side  of the Moon di Hongkong (China), 15 Februari (2007) lalu, seperti dilaporkan Budiarto Shambazy dalam  harian Kompas (21 / 2 / 2006).

Selain Presiden Amerika Serikat (AS), George W Bush, Waters juga mengkritik Perdana Menteri (PM) Inggris, Tony Blair, “Jangan atas nama saya, Tony, Anda pemimpin perang yang hebat / Teror tetap teror, tergantung siapa yang mengartikannya / Kini kita semua seperti Genghis Khan, Anak Paman Sam.”

Yang membuat kita tersenyum simpul karena — pada konser tersebut — setiap kali Waters melantunkan lirik-lirik anti Presiden AS George W Bush dan PM Inggris Tony Blair,  yang dihiasi film pendek, strip komik, atau boneka babi raksasa yang terbang kemana-mana, hadirin berteriak dan bertepuk tangan tanda setuju. Dan saat Waters menyanyikan  The  Fletche, di monitor raksasa terpampang foto tiga “teroris” internasional, yakni Osama bin Laden, Bush, dan Blair. Ini suatu pendidikan politik yang sangat berharga tentang kekonyolan AS dan Inggris yang menyerbu Irak.

***

DULU, ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kita diajarkan tentang Texas yang dihuni cow-boys  dan para pengusaha perminyakan. Maka, orang segera mengaitkan siapa pun yang berasal atau dibesarkan di Texas dengan perilaku  cow-boys  yang sembrono atau ugal-ugalan dengan pistolnya, atau pengusaha minyak yang serakah terus mencari ladang-ladang minyak baru di berbagai belahan bumi. Kalau para Abang minyak di negeri kita (dulu) keluar masuk gang dengan “kucuran peluh” untuk menjajakan minyak tanah, maka para borjuiz (lumpen  borjuasi) perminyakan dari Texas itu sering  “memeras keringat” rakyat di daerah-daerah yang mereka jadikan sebagai tambang (minyak). Tengok saja kezaliman mereka meng-kadali  (mencurangi) kontrak bagi hasil untuk proyek-proyek tersebut.

***

KARENA Roger Waters memberikan julukan tambahan “kurang waras” bagi anak Texas yang bernama George W  Bush itu, semakin  mahfum-lah kita menyaksikan situasi dunia terus dalam kondisi gawat darurat dan kecemasan kolektif. Anehnya, masih juga ada sekelompok orang yang menganggap diri waras (terpelajar) mengidolakannya sebagai tuan besar  dan  dipatuhi  berbagai  usulannya  tanpa reserve, seperti  mentaati advis dukun  pelet. George W Bush mereka dandani dengan gincu (lip-sticknorak yang bernama“ soft power”. Kita harus dukung (sami’na wa ato’na) program soft power-nya Mr Bush karena ia akan membawa kesejahteraan  lahir  (dan bathin)  alias  baldhatun tayyibatun wa  Amerika ghafur, begitu mantra yang mereka rapalkan bahkan tatkala  nangkring  (duduk jongkok) di toilet.  Seakan-akan, di dunia ini, tanpa Amerika Serikat (AS), hidup kita akan menjadi najis atau gembel berkurap. Padahal, Iran, Suriah, Venezuela, Bolivia, dan Paraguay mampu menunjukkan bahwa justru mereka bisa eksis tanpa germo yang bernama (pemerintahan) AS itu.   Lalu, apakah para pemuja Mr  Bush itu layak disebut  “abnormal  plus”?

Kendati demikian, dari perspektif teori komunikasi, orang — apalagi politisi atau pemimpin — yang “kurang waras” (politisi atau pemimpin abnormal) pastilah memiliki penggemar karena sugesti yang terus-menerus diinjeksikan media massa yang konon sengaja ada yang dibayar. Dan rekayasa pencitraan (impression  management) seperti itu lebih  marketable untuk aneka obyek atau kejadian yang abnormal. Semakin abnormal suatu obyek atau kejadian yang akan diberitakan, makin tinggi nilai beritanya.  Tengoklah berita-berita atau aneka liputan khusus di layar kaca kita.  Maka, benarlah apa yang dinyatakan oleh Charles A. Dana (1882), “When a dog bites a man that is not news, but when a man bites a dog that is a news” (jika seekor anjing menggigit seseorang itu bukan berita, tapi kalau seseorang menggigit seekor anjing itu baru berita).

Dari perspektif budaya Jawa mungkin aktor-aktor abnormal itulah yang akan terus eksis dan menjadi pelakon utama teatrikal di zaman  edan (gila) seperti saat ini. Sebagaimana diketahui, dalam zaman edan, semua serba terbalik. Yang berkapasitas calo  memaksakan diri jadi politisi, tukang catut berlagak pengusaha, tukang intip bertingkah sok  pengamat, pelanggar undang-undang  belagu kayak  perumus undang-undang, yang hobinya mempertontonkan aurat di kamar-kamar hotel  sok beradab menggunakan pakaian  perlente di mimbar-mimbar atau rapat-rapat khusus, yang bermental  kerupuk  petantang-petenteng  bak jagoan tengik, yang berperilaku seperti buaya darat berlagak  kayak  moralis, yang celana dalamnya dijejali hulu ledak nuklir malah menuding pihak lain menyembunyikan senjata nuklir, yang berperilaku cow-boy berlagak ala penegak demokrasi atau HAM, dan seterusnya.  Singkatnya, semua serba terbalik, karena makhluk-makhluk aneh itu hidupnya seperti martabak yang suka dibolak-balik.

Lalu, pantaskah pengurusan bumi ini kita serahkan kepada mereka? Jawabannya silahkan simpan di kantong masing-masing atau dibarter dengan “martabak” di  “tahun  babi”  yang  dingin  ini  (karena  banyak banjir), meski Waters telah lebih dulu membarterkannya dengan menampilkan secara simbolis boneka “babi raksasa” tatkala ia melantunkan lirik-lirik yang anti Presiden AS George W Bush dan PM Inggris Tony Blair. [**]

________________________________

La Ode Zulfikar Toresano (Aba Zul) adalah Koordinator Umum  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN)  dan sejak  Maret 2014  belajar mengabdi sebagai  Pemimpin Redaksi  BUTONet 2.  Artikel ini pernah  dimuat  dalam  Jurnal  Parlemen  Online (Jurnal ParlemenO) / 2007.

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen − eight =