Salah Satu Pelajaran Awal Menghidupi Keluarga

Oleh Hisyam Ramadhani

indexxxxxxDani  yang  bekerja pada  bagian  marketing  sebuah lembaga bahasa Inggris berniat  banting stir ke jalur bisnis. Hal itu ia mulai wujudkan dengan mengundurkan diri dari lembaga tersebut setelah “bermusyawarah” dengan istri tercinta yang baru saja dinikahinya.

Bisnis di bidang pendidikan kemudian dibangun bersama teman-teman sevisi. Sayangnya, bisnis ini tidak bertahan lama karena banyak ditemui kendala, terutama soal ketidaksepahaman  yang sulit dirujukkan (mudharatnya lebih besar dari manfaatnya).

Dalam perkembangan selanjutnya, Dani memulai bisnis lain dengan  mengembangkan  kursus  milik  pamannya  di Bekasi.  Karena tempatnya  kurang  strategis, dan terbatasnya pendanaan, kursus ini sulit berkembang. Tetapi  ia  tak  putus  asa, meski sempat meneteskan air mata dan minta maaf di  depan  sang  istri  yang sedang  mengandung  anak  pertama  dari  buah  cinta  mereka.

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Dani kemudian  mencari  pekerjaan  tambahan  menjadi  marketing  untuk program SMS  massal yang ditawarkan kepada sekolah-sekolah. Ternyata langkah ini pun sangat sulit, sementara ia harus mendapatkan penghasilan. Terlebih lagi untuk memberi pasokan gizi bagi  janin yang ada dalam rahim sang istri.

Alhamdulillah, di tengah himpitan ekonomi, Sang Mertua memberi bantuan pendanaan  dengan menggadaikan perhiasan emas. Dimulailah usaha baru penjualan tahu dengan menggunakan gerobak.  Ternyata, usaha ini juga tidak mudah, malah merugi.

Namun, Dani tidak putus asa, dan terus berusaha. Tanpa diduga, ia menemukan status  BBM  seseorang yang berkiprah dalam  pelatihan  internet  marketing.  Di sana ditawarkan aktivitas  yang bisa meraup penghasilan sekitar Rp 10 juta per  bulan.

Sejak saat itu  Dani  menjadi  “penjual  buku”  pada suatu publisher buku. Dengan mengandalkan kekuatan mental (tempaan) dari pengalaman-pengalaman pahit sebelumnya (termasuk juga kejujuran dan teknik berkomunikasi/silaturahim/muamalah) dan konsep  marketing  yang didanai  oleh  leader/manajemen  publisher  tersebut  bisa diraup keuntungan jutaan rupiah.

Penjualan ini terus dipergencar dengan membangun tim penjualan, yang kemudian mampu  menjadikan Dani sebagai top salesman pada publisher tersebut; bahkan sering  mendapatkan  reward   jalan-jalan (tour) keluar  negeri  untuk memperkaya dan mengasah pengalaman hidup.

Bagi  Dani, tak pernah terlintas putus berharap kepada Allah Swt. Ia meyakini, doa ikhlas dari orang-orang terdekat sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilannya. Tentu saja sabar,  tawakal, dan semangat  juang — yang diiringi  Shalawat  kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta Keluarga Suci beliau — agar selalu memberikan yang terbaik buat keluarga menjadi pendorong bagi Dani untuk  meraih keberhasilan dan keberkahan.  Dan, satu hal lagi, “doa” — yang juga disertai  Shalalawat — sangat penting untuk mendorong semua yang disebutkan tadi;  yakni doa yang selalu dipanjatkan atas dasar motif (niat) bukan untuk kepentingan pribadi semata, melainkan juga untuk  kedua orang tua, keluarga, dan sesama (terutama kaum tertindas, mustadh’afin); terlebih  lagi  problem  yang  menerpa kita semua — akibat  limbah dari makhluk yang bernama “globalisasi” alias “gombalisasi” — kian kompleks dan bertali-temali.[**]

Facebook Comments

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two × five =