Sekilas tentang Masjid Agung Keraton Wolio-Buton dan Wilayah Kesultanan Buton: Perlukah Menghidupkan Kembali (Jasad) Kesultanan Buton?

masjid-agung-keraton-buton1(Pengantar Menjelang Penerbitan Buku “Masjid Agung Keraton Wolio-Buton dan Relasinya Terhadap Sistem Ketatanegaraan  Martabat Tujuh Kesultanan Buton: Sebuah Model Demokrasi Konstitusional Ilahiah”)

Oleh La Ode Zulfikar Toresano (Aba Zul)*

I. Sekilas tentang Masjid Agung Keraton Wolio-Buton (Masjid
Agung 
KWB).

Pada halaman depan situs (laman) ini tertampil gambar Masjid Agung KWB, seperti yang dapat disaksikan hingga kini di dalam kompleks Benteng Keraton Wolio-Buton (Benteng KWB), Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.Masjid Agung KWB  adalah pindahan Masjid Kaliwu-liwuto — masjid pertama di Kesultanan Buton — yang dibangun kembali karena mengalami kerusakan berat. Masjid Kaliwu-liwuto  sendiri terletak di Lelemangura (juga di dalam kompleks Benteng KWB), yang sekarang ini diperkirakan di dekat makam Sultan Murhum atau Sultan Pertama Kesultanan Buton.

Pembangunan Masjid Kaliwu-liwuto  tersebut erat kaitannya dengan transformasi status dari kerajaan (Wolio) ke kesultanan (Buton) yang merupakan proses evolusi spiritual dan kebudayaan (peradaban) di Tanah Wolio/Butûn(i) atau Buton, sehingga terbentuk kebudayaan/peradaban demokratis konstitusional Ilahiah berdasarkan Undang-Undang Dasar “Martabat Tujuh”(1); bukan budaya politik (Buton) “demokratis aristokratis” seperti disebutkan oleh Abdul Rahim Yunus (Yunus, 1995 : 25) atau “demokrasi terbatas” yang dipahami oleh Susanto Zuhdi, dosen Universitas Indonesia (Zuhdi, 2010: 84-85). Sayang sekali kritik saya — dengan, antara lain, menggunakan perspektif teori fungsionalisme struktural — atas pemikiran mereka belum dapat dikemukakan di sini (karena buku saya tentang tema ini sedang disusun).

Evolusi peradaban seperti dimaksudkan di atas diawali dari kedatangan seorang berkebangsaan Arab (Quraisy) — asal Gujarat — keturunan Rasulullah Muhammad Saww. (Shallallahu ‘alaihi wa âlihi wa sallam), bergelar Habib atau Sayyid, yang bernama Abdul Wahid rahimahullah(2) pada tahun  1526  Masehi  (Muharam  933  Hijriah) — ada  juga  yang  menyebut  tahun  1518  dan 1511 — dalam masa pemerintahan Raja Wolio V: Ngujuraja atau Mulae atau Sangia-yi-Gola. Sang Raja sangat terkesan dengan misi yang dibawa oleh ulama besar [yang pernah bermukim di Patani (Thailand  Selatan), Johor, dan  Aceh]  tersebut, yang  juga  adalah murid — sekaligus keponakan — dari Sayyid Ahmad bin Qois Al Aidrus rahimahullah, Imam masjid  di Aceh [pada waktu itu di Aceh sudah berdiri Kerajaan Aceh Darussalam dengan sultannya adalah Alaiddin Ali Mughaiyat Syah (memerintah dalam tahun 1511-1530 Masehi)]. Sehingga tidak lama sejak perjumpaan mereka, Raja Mulae kemudian bersedia diislamkan seraya melengkapi namanya dengan nama Islami“Umar Idgham”.

Beberapa saat setelah itu, Sayyid Abdul Wahid meninggalkan Buton, namun berjanji akan datang kembali. Dalam kurun waktu kepergian Sang Sayyid tersebut, Raja Mulae (Umar Idgham), karena pertimbangan usianya yang sudah tua, menyerahkan kekuasaan kepada menantunya: Timbang-Timbangan atau Lakilaponto  (Lakila), seraya berpesan atau berwasiat agar jika kelak ulama Johor itu datang lagi, ia (Lakilaponto) harus menyambutnya dengan terbuka lebar. Maka, ketika — 15 tahun kemudian — Sayyid Abdul Wahid datang kembali (untuk kedua kalinya) di Kerajaan Wolio pada tahun 1541, langsung disambut dengan upacara kerajaan, bahkan disusul dengan ikrar dua kalimat syahadat oleh Raja Wolio VI, Lakilaponto, yang kemudian kepadanya disematkan nama Islami: “Muhammad Qaimuddin”.

Agaknya, masuknya Lakilaponto atau Halu Oleo (namanya di Konawe) ke dalam agama Islam sangat memberi pengaruh besar bagi tatanan kerajaan dan masyarakat luas. Dengan kata lain, Muhammad Qaimuddin rahimahullah telah meletakkan fondasi reformasi (untuk tidak menyebut “revolusi”) struktural diKerajaan Wolio memasuki tahap transformasi menjadi Kesultanan Buton. Sejak itu berlangsung pesat kegiatan pendidikan agama Islam, terutama aqidah (ilmutawhid), di lingkungan istana dan kalangan pejabat kerajaan (kesultanan), bahkan juga mulai merambah hingga masyarakat umum. Melihat realitas ini, atas saran Sayyid Abdul Wahid, Sapati  (Patih /Mapatih /Mahapatih) La  Maindo rahimahullah — mantan Raja Batauga — berinisiatif mendirikan pusat pendidikan Islam (zawiah), semacam pesantren, di Kaliwu-liwuto.

Antusiasisme rakyat terhadap ajaran/keyakinan/agama baru (Islam) tersebut semakin menjadi arus utama (main stream), sehingga seluruh pemangku kepentingan (stakeholder)aparatur kerajaan, tokoh adat, dan rakyat bersepakat bulat (memufakati) untuk meletakkan fondasi dalam rangka merekontruksi dan mentransformasikan Kerajaan Wolio menjadi sebuah kesultanan seraya melantik Lakilaponto menjadi Sultan I, bergelar Sultan Muhammad Qaimuddin (setelah ia wafat lebih dikenal dengan julukan Sultan Murhum), pada kesultanan yang baru dibentuk itu (yakni “Kesultanan Buton”).

Menurut La Ode Abubakar dan La Ode Bosa, dua sejarawan/budayawan Buton [yang dijadikansebagai narasumber oleh banyak peneliti tentang Butondiantaranya Susanto Zuhdi (sekarang Guru Besar Universitas Indonesia) dan Prof Pim Schoorl (Universitas Leiden, Belanda)], pelantikan tersebut terjadi padatahun 1541 Masehi (1 Syawal 948 Hijriah).

***

PADA babakan selanjutnya, tepatnya pada tahun 1542, zawiah (pesantren) yang disebutkan tadi dimultifungsikan sebagai masjid kesultanan (bernama “Masjid Kaliwu-liwuto), terutama untuk tempat menyelenggarakan Shalat Jum’at dan bermusyawarah. Sayangnya, masjid ini kemudian mengalami kerusakan berat akibat pertempuran antara Kapitalao (Panglima Wilayah Pertahanan: laut dan darat) Langkariy-riy dan Sultan Buton ke-18: Latumparasi atau Muluhiruddin Abdul Rasyid (17111712), padahal sebelumnya sudah ditengahi oleh dua ulama besar atau Habaib/Habib (keturunan Rasulullah Muhammad Saww.), yakni Sayyid Rabba rahimahullah (yang melancarkan diplomasi kepada Kapitalao  atau kalangan pemuda) dan Sayyid Alwi rahimahullah (yang membangun komunikasi soft  politic dengan Sultan). Karena perang tersebut dimenangkan oleh Kapitalao Langkariy-riy dan juga kemudian mendapatkan dukungan dari Sio Limbona, yakni semacam dewan perwakilan (perwalian) rakyat yang beranggotakan sembilan orang Bonto (tokoh masyarakat adat yang juga adalah sebagai menteri), maka Langkariy-riy dilantik menjadi Sultan ke-19 dengan gelar Saqiuddin Darul Alam (1712-1750).

Segera setelah menjabat sebagai Sultan, ia mengkoordinasikan perbaikan/pemindahan Masjid Kaliwu-liwuto di bawah supervisi Sayyid Rabba. Perbaikan masjid tersebut bukan hanya dari segi fisiknya saja, melainkan juga struktur aparat atau kepengurusan serta nilai-nilai (code of conduct) yang menyatu dengannya untuk mengemban fungsinya yang sangat unik, di antaranya sebagai Sara Kidina (terdiri dari Sara Agama dan Sara Hukumu), yakni mitra institusi kesultanan — atau Sara Ogena (Syarâ Besar) — dalam aspek batiniah (esoteric aspect), sehingga Imam masjidnya disebut juga sebagai “Sultan Batiniah”.

Dalam hubungan ini saya siap membangun sebuah argumentasi ilmiah dan kukuh bahwa peran fungsional sebagai Sultan Batiniah itu bukanlah bagian dari “strategi penjinakan” (trapped strategy) atau politisasi struktural dari kelompok kepentingan atau penguasa (the rulling group  atau pressure group) atas Sara Kidina untuk menjamin keamanan, ketertiban, stabilitas, serta terus berputarnya roda pemerintahan (kesultanan). Termasuk kesiapan saya untuk menangkis kemungkinan munculnya tudingan bahwa spiritualitas atau keberagamaan (religiousness) masyarakat Buton terjaga sesuai keinginan negara (kesultananSara Ogena) dengan memperalat (politicking) institusi aparatur  Masjid Agung KWB (Sara Kidina). Juga (kemungkinan) munculnya analisis keliru bahwa jalinan kesatuan partnership antara Sara Kidina dan Sara Ogena  (lembaga kesultanan) merupakan strategi penetrasi ideologi dan program Sara Ogena  terhadap Sara Kidina, selain pemaksaan kehadiran  negara (Sara Ogena) dalam aktivitas aparat Sara Kidina ; pun (tudingan bahwa) peran kepemimpinan Imam Masjid Agung KWB  sebagai Sultan Batiniah  tidak lebih dari sekadar “proyek politik” Sara Ogena — berspektrum tasawuf — yang dengan setia ditopang keberhasilannya oleh seluruh aparat Sara Kidina. Atau juga (kemungkinan) timbulnya analisis serampangan bahwa partnership termaksud dapat dilihat sebagai pengkondisian peran Masjid Agung KWB dalam mendukung kegiatan politik Sara Ogena  yang terbungkus dalam sebuah gerakan keagamaan atau praktik mistik (tarekat/tasawuf).

***

KEMBALI kepada soal bentuk fisik masjid (Masjid Agung KWB). Bentuk fisik tersebut kental dengan simbol-simbol yang tidak semua orang mampu memahaminya; atau dengan kata lain setiap orang akan memberikan pemaknaan yang beragam. Terlebih lagi jika kita mengkaji spektrum filosofis dan batiniah (tasawuf/irfan) dari keberadaan tiang bendera Masjid Agung KWB  yang menjulang sangat tinggi dan mistical hole (pusena tana) yang terletak di belakang mimbar Khatib atau diujung samping kanan kepala Imam tatkala (ia) dalam posisi sujud.

Terkait dengan perbaikan atau pemindahan Masjid Kaliwu-liwuto yang dikoordinasikan oleh Sultan Saqiuddin Dârul Alam rahimahullah — sebagaimana telah disebutkan di depan — perlu diketahui bahwa perbaikan termaksud tidak hanya bermakna simbolis dari sisi fisiknya (arsitekturnya), atau pembagian ruang dan peran di dalamnya, melainkan juga hubungannya dengan masyarakat sekitar dan lembaga kesultanan (Sara Ogena), misalnya melalui berbagai penyelenggaraan upacara: pemilihan dan pelantikan Sultan, penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saww. (Haroana Ôputa), dan lain-lain, dengan puncaknya adalah sebagai penanggung jawab batiniah atas keberlangsungan Sara Ogena.

Kita berasumsi, karena tanggung jawab batiniah masjid atas penyelenggaraan pemerintahan (kesultanan) itulah yang antara lain kemudian mendorong didirikannya sejumlah zawiah di beberapa tempat — dalam Benteng KWB dan letaknya seakan menjadi satelit atau sabuk bagi masjid — dengan maksud agar terjadi pendelegasian peran masjid di bidang penyelenggaraan pendidikan (aktifitas belajar-mengajar) agama dan juga peran-peran tertentu terhadap masyarakat umum, sehingga Sara Kidina   lebih berkonsentrasi pada tugas utamanya sebagai mitra Sara Ogena. Beberapa zawiah tersebut terletak di Lantongau (sebelah Barat), Bârisi Bâluwu (sebelah Utara dan Timur), dan Galampa (sebelah Selatan).

***

DARI  perbincangan dengan sejarawan/budayawan Buton La Ode Bosa (yang juga adalah kakek saya), didapatkan kesimpulan bahwa “Undang-Undang Dasar/Konstitusi Martabat Tujuh” — yang ditandatangani oleh Sapati  La Singga/La Singka (1610 Masehi) sebagai landasan Kesultanan Buton — mengandung elemen utama ajaran tajalli (manifestasi) yang diperkenalkan oleh sufi besar Ibn ‘Arabi rahimahullah (1165-1240 Masehi) dari Andalusia (kini: “Spanyol”) danAbdul Karim al-Jili  rahimahullah (sufi Persia abad ke-14).

Dalam literatur tasawuf/irfan kita dapati bahwa konsep (aliran tasawuf/tarekat filosofis atau irfan teoritis) “Martabat Tujuh“ merupakan pengembangan ajarantajalli, di mana inti ajaran ini adalah bahwa alam semesta adalah manifestasi (tajalli)  Kehadiran Tuhan (Allah Swt.). Atas dasar itu ajaran “Martabat Tujuh” merupakan paham Wahdah al-Wujû(Kesatuan Wujud).

“….. ke manapun kamu menghadap di situlah Wajah Allah.”

(Al -Qur’an 115)

“ Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah.”

(Al -Qur’an 115)

Dengan demikian, paham Wahdah al-Wujûd   tidak sama dengan “Pantheisme” (yang memiliki berbagai variasi dan bentuk, yang salah satunya dalam sejarah filsafat Barat diketahui pencetusnya adalah Spinoza), yang mengajarkan bahwa Alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah Alam. Untuk memahami perbedaan mendasar dari dua paham ini, sebaiknya kita terlebih dahulu mempelajari konsep tawhid teoritis dan tawhid praktis yang dijabarkan dalam empat jenis pengertian Tawhid (Keesaan), yaitu (1) Keesaan Dzat atau Tawhid Dzat; (2) Keesaan Sifat; (3) Keesaan Perbuatan; dan (4) Keesaan Ibadah; di mana kesemuanya merupakan penajaman dari Sabda Rasulullah Muhammad Saww. (yang kemudian dipertegas oleh Saydina Ali karamallahu wajhahu), “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” (Barang siapa mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhan-nya). Sabda Rasulullah Saww. ini dijadikan sebagai alinea pembuka/pertama “Undang-Undang Dasar Martabat Tujuh” Kesultanan Buton. (Penjabaran atas empat jenis pengertian tawhid termaksud, insya Allah, kita akan perbincangkan dalam kesempatan lain).

***

DARI aliran tasawuf (tarekat) Martabat Tujuh  itu, Sultan La Elangi atau Dayânu Ikhsanuddin (Sultan ke-41578-1615) — dengan arahan gurunya, Syarif Muhammad rahimahullah (seorang Sayyid keturunan Rasulullah Muhammad Saww.) — kemudian menerjemahkannya bahwa lembaga kesultanan merupakan manifestasi kekuasaan Allah Swt., di mana institusi Masjid Agung KWB   merupakan ruhnya.

Sejalan dengan tafsir versi La Elangi ini dapat pula kita katakan bahwa lembaga kesultanan (Sara Ogena) dan pranata Masjid Agung KWB atau Sara Kidina  adalah dua tingkat eksistensi yang saling berinteraksi. Pemahaman ini sejalan dengan filsafat “hikmah muta’aliyah” (kearifan puncak) yang diperkenalkan oleh filosof dan metafisikawan besar asal Persia, Mulla Shadra (1571-1640 Masehi) bahwa manusia dan alam semesta adalah dua tingkat eksistensi.

Dalam konteks Buton, pranata kesultanan merupakan representasi dari organisasi manusia (rakyat atau ummah), sedangkan Masjid Agung KWB adalah simbolisasi alam semesta (tempat manusia hidup), dengan pusatnya adalah “alam ghaib”, yakni “tiga maqam atau martabat” (maratib Ilâhi) tertinggi dalam sistem tarekat “Martabat Tujuh” atau Tanazzulat-i-Sittah Ahâdiyah (Martabat ke-7), Wahdah (Martabat ke-6), dan Wâhidiyah (Martabat ke-5), di mana pengamalannya — baik secara ritual maupun muamalah (kemasyarakatan dan kenegaraan/kesultanan) — dinilai sebagai aktualisasi meneladani Mi’raj Rasulullah Muhammad Saww. (dengan menempuh tujuh lapis langit atau tujuh martabat/maqam).

***

ULASAN lebih mendalam atas exoteric aspect (dzahiriah) dan esoteric aspect (bathiniah) dalam Sara Kidina, dan juga relasinya dengan Sara Ogena dalam dua aspek tersebut, insya Allah akan saya jelaskan dalam salah satu buku dari serangkaian (sejumlah) buku tentang Buton — dan pembangunan regional (Indonesia dan ASEAN) — yang sudah mulai saya susun.

 

II. Wilayah Kekuasaan Kesultanan Buton

Dengan “Undang-Undang Dasar/Konstitusi Martabat Tujuh” [yang memadukan paham teosofi atau aliran tarekat “Martabat Tujuh” (“Tanazzulat-i-Sittah”), “Sara Patânguna (“Syarâ yang Empat”), dan “Sifat Dua Puluh”] — masing-masing dalam maknanya secara tersurat maupun batiniah — itulah aparat Kesultanan Buton  (Sara Ogena) dan aparat Masjid Agung KWB  (Sara Kidinabersatu padu mengelola negeri Butûni (Buton) yang wilayah dzahiriah-nya seperti terlihat dalam gambar pada halaman depan (muka) situs atau laman (websiteini.

Keberhasilan atau kemampuan pengelolaan negeri (kesultanan) — yang dilandasi kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual-Ilahiah — memampukan seluruh wilayah Kesultanan Buton  terkelola dengan baik selama ratusan tahun (hingga tahun 1960). Hal terpenting yang patut dikenang dan disyukuri oleh setiap orang Buton adalah bahwa dengan strategi politik (diplomasi) dan kemiliteran yang jitu (yang dibungkus dengan pengandalan “Kekuatan Ghaib/Ilahiah”), Kesultanan Buton dapat keluar (selamat) dari manuver atau tekanan-tekanan militer Kerajaan Gowa (Makassar) dan Kesultanan Ternate. Tentang hal ini, insya Allah, saya akan ulas dalam buku khusus dengan memasukkan kritik saya atas pemikiran Dr Susanto Zuhdi (sekarang Guru Besar Universitas Indonesia) dan Prof Pim Schoorl (Universitas Leiden, Belanda) dalam buku mereka masing-masing “Sejarah Buton yang Terabaikan” (2010) dan “Masyarakat, Sejarah, dan Budaya Buton” (2003).

***

OLEH karenanya sangat pantas bila kita katakan bahwa sakralitas Konstitusi Martabat Tujuh antara lain dapat dilihat dalam bentuk praktik demokrasi konstitusional Ilahiah (atau “kerakyatan yang Ilahiah”) yang berlangsung sejak tahun 1578 (Sultan ke-4; Dayânu Ikhsanuddin) hingga 1960 Masehi (Sultan ke-38:La Ode Fâlihi); dan itu membuktikan bahwa masyarakat (budaya) Buton — dengan dwi-tunggal:  Sara Ogena  dan Sara Kidina  sebagai lokomotifnya — mampu menjaga konsistensi antara Martabat Tujuh   sebagai ide teosofi (teologi dan filsafat) dan Martabat Tujuh   sebagai keharusan normatif serta kenyataan operatif.

***

KAJIAN lebih mendalam soal Masjid Agung KWB, baik dari dimensi epistemologi, ontologi, teologi, politik ketatanegaraan, dan Islamic mistic : Tasawuf (Sunni)atau Irfan (Syiah), sedang saya susun dalam bentuk “buku pertama” dari serangkaian (serial) buku-buku tentang Buton yang saya rencanakan untuk diterbitkan dalam beberapa bahasa: Indonesia, Inggris, dan Arab atau Persia (insya Allah), baik dalam bentuk buku cetak maupun buku digital (e-book); bersyukur bila dalam menjalankan program ini bisa dijalin kerjasama dengan sejumlah lembaga riset dan/atau perguruan tinggi di dunia, misalnya Universitas Leiden (Belanda)dan Universitas Malaya  (Malaysia).

Harus diakui, literatur tentang Buton yang sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia masih sangat sedikit. Apalagi hampir semua buku-buku tersebut ditulis oleh bukan orang Buton, sehingga suasana kebatinan dan logika kultural-mistiknya (religiusitasnya) terasa janggal atau agak aneh, meski kita harus jujur mengapresiasi dan berterimakasih atas upaya para penulisnya, karena (setidaknya) dengan kontribusi mereka, kita — sebagai orang Buton — semakin tertantang berbuat sesuatu untuk keberdayaan Buton (Buton empowerment).

Karena minimnya literatur termaksud, maka saya terpaksa lebih mengandalkan tradisi lisan yang ditransmisikan turun-temurun, selain melalui perbincangan sesama orang Buton. Pengandalan tradisi lisan itu juga yang digunakan oleh banyak peneliti tentang Buton di antaranya Susanto Zuhdi dan Pim Schoorl; di mana yang dijadikan sebagai nara-sumber, antara lain, adalah La Ode Abubakar (oleh Zuhdi) dan La Ode Bosa (oleh Schoorl). Dua sejarawan/budayawan Buton (yang pertama adalah juga Pemimpin Umum Majalah Budaya Buton “Wolio Molagi”) inilah yang juga saya jadikan sebagai sumber utama dalam pemikiran-pemikiran saya tentang sejarah dan kebudayaan Buton, terlebih lagi La Ode Abubakar dan La Ode Bosa masing-masing adalah ayah dan kakek saya.

***

BILA ditanyakan, sebelum terbentuknya Kesultanan Buton, mana yang benar, sebutan Kerajaan Buton (Kerajaan Butun) ataukah Kerajaan Wolio? Jawabannya adalah: keduanya benar. Kerajaan Buton mengacu pada sebuah pulau yang terletak di kawasan timur jazirah tenggara Pulau Sulawesi. Sejak tahun 1365 Masehi pulau ini sudah disebutkan oleh Empu Prapanca (seorang pujangga ternama di Kerajaan Majapahit pada masa kekuasaan Raja “Hayam Wuruk”), dengan sebutan “Butun”, dalam bukunya Negarakartagama (pupuh 14) — juga (sebelumnya) sudah dikenal oleh masyarakat Kerajaan Sriwijaya (Melayu) dalam “Babat Tanah Melayu” — meskipun di pulau ini belum berdiri sebuah kerajaan besar yang wilayah kekuasaannya meliputi seluruh pulau tersebut (dan sekitarnya).

Dengan kata lain, pada waktu itu, di pulau tersebut baru ada kerajaan-kerajaan kecil, antara lain Kerajaan Kamaru dan Kerajaan Batauga;  dan belum berdiri “Kerajaan Buton” (Kerajaan Wolio) yang diprakarsai oleh Mia Patamiana (“Si Empat Orang”: Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, dan Sijawangkati) — yang berasal dari Nusantara bagian Barat: Tanah Melayu/Johor serta Jawa (keturunan Raja Kediri) — dan Dungku Cangia (Kaushing), salah seorang mantan Panglima Dinasti Mongol (di masa kekuasaan Kaisar “Kublai Khan”) yang melakukan pembelotan (desertion) dan lari ke Pulau Butun (Buton) setelah kalah perang dari Raden Wijaya menjelang terbentuknya Kerajaan Majapahit (1293 Masehi) di Tanah Jawa.

***

DENGAN juga mempertimbangkan adanya pemahaman bahwa “Buton” [“Butun(i)] berasal dari kata (Arab) “bathnu” (“pusat” atau “perut”), “buthûn” (“perut-perut”), dan “bathana” (batin) — di samping pemahaman tentang kata “Wolio” yang cukup beragam — maka agaknya mendorong saya untuk merencanakan pembahasan tersendiri mengenai hal ini, terutama dari perspektif logika dan filsafat sejarah.

Atas dasar paparan di atas, nama “Buton” — dalam konteks pembicaraan kita adalah “Kerajaan Buton” — merujuk pada konsep (paradigma pemikiran tentang) kesatuan kerajaan, yang dalam teori kekuasaan modern disebut sebagai wawasan/kesatuan bangsa atau negara kesatuan. Maka, kesimpulan Zuhdi bahwa nama Buton mengacu pada keutuhan pulau [lihat “Sejarah Buton  yang Terabaikan”, halaman 37 (2010) oleh Susanto Zuhdi ], yakni Pulau Buton, patut kita anggap kurang tepat.

Sementara itu, nama “Wolio” — dalam konteks pembicaraan kita adalah “Kerajaan Wolio” — lebih mengacu pada suatu tempat yang baru dirintis (bahasa lokal:“welia” = rintisan) oleh Dungku Cangia dan Mia Patamiana  dengan maksud untuk dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaan yang baru dibentuk, yakni “Kerajaan Wolio” (1332 Masehi), meskipun tujuan utamanya adalah juga untuk mengimplementasikan konsep “kesatuan kerajaan”, yakni mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Butun/Buton (dan sekitarnya).

Pusat pemerintahan (kerajaan) termaksud berbentuk kompleks keraton — yang dalam bahasa Wolio disebut “kota”— di mana setelah bertransformasi menjadi  Kesultanan Buton  juga berfungsi sebagai benteng pertahanan (tepatnya pada masa kekuasaan Sultan ke-6, Ghafûru Wadud: 1632-1645) seluas 401.900 meter bujur sangkar, di atas bukit dengan ketinggian tertentu dan menghadap ke Selat Buton (pelabuhan atau bandar-laut Bau-Bau) sehingga memudahkan pasukan kesultanan mengawasi lalu lintas kapal/perahu.

Kendati demikian, sebenarnya Benteng KWB  sudah mulai dibangun — di sekeliling bekas kompleks keraton Kerajaan Wolio — oleh Sultan ke-3: La Sangajirahimahullah  (juga bergelar Qaimuddin: 1566 – 1570), dua puluh tahun setelah Kerajaan Wolio  bertransformasi menjadi kesultanan (Kesultanan Buton). Namun, karena kesultanan mengalami krisis ekonomi (pembiayaan) — akibat kemarau panjang — maka sultan menghentikan proyek mercusuar tersebut.

Disusul pula sejumlah persoalan besar yang dihadapi oleh dua sultan pasca La Sangaji(3) — yakni Dayânu Ikhsanuddin dan Abdul Wahab — maka nanti pada masa Sultan ke-6: La Buke rahimahullah  (Ghafûru Wadud1632-1645) baru dilanjutkan lagi pembangunan benteng yang terbengkalai itu hingga rampung. Dengan mempertimbangkan situasi keamanan negara (kesultanan) yang sangat rawan, terutama dalam menghadapi manuver militer Kerajaan Gowa dan ancaman bajak laut dari Tobelo (juga Kesultanan Ternate), Sultan La Buke — atas bantuan tokoh pejuang perempuan dan pelayan publik: Wa Ode Wau  rohimahallah — memobilisasi rakyat untuk melanjutkan pembangunan benteng keraton dengan intensitas sangat tinggi. Begitu ambisiusnya Sang Sultan sehingga banyak rakyat yang jatuh sakit akibat kelelahan. Realitas ini mendorong Siolimbona  (semacam dewan perwakilan/perwalian  rakyat yang beranggotakan sembilan orang, yang salah satu tugasnya adalah memilih sultan)  memberikan peringatan keras (somasi) yang mengarah kepada pemasgulan (impeachment) sultan.

Nasib baik bagi Sultan La Buke karena dalam sidang istimewa  Siolimbona   ia mampu membela diri dengan mengajukan argumentasi rasional dan strategis seraya menjanjikan bahwa segera setelah proyek mercusuar [yakni Benteng KWB  dengan tembok berukuran keliling sepanjang 2740 meter, ketebalan 1-2 meter, dan tinggi 2-8 meter, yang dilengkapi dengan 12 pintu gerbang (lawa) serta 16 bastion  atau pos jaga)] rampung, ia akan turun dari takhta alias lengser keprabonDan kemudian terbukti, setelah pembangunan Benteng KWB — yang menurut Guiness of Record pada 2006 dan rekor MURI merupakan benteng terluas di dunia — rampung, Sultan Ghafûru Wadud memenuhi janjinya dengan meletakkan jabatan, lalu menghabiskan hidupnya sebagai rakyat biasa diKampung Kumbewaha, Lasalimu, sebuah tempat di pedalaman Pulau Buton yang berjarak puluhan kilometer dari Benteng KWB.

Dalam hubungan itu, terutama terkait dengan kekaguman saya terhadap kedermawanan Wa Ode Wau (4) dan sifat ksatria Sultan Ghafûru Wadud, (5)maka saya tertawa geli ketika anak saya Wa Ode Zainab Zilullah Toresano mendebat dengan (agak) mendemonstrasikan — setengah pamer — kemampuan filsafatnya [yang diserapnya dari kuliah pasca sarjana di ICAS London (Cabang Jakarta)] untuk mematahkan tuduhan keroyokan candaan dua anak saya lainnya, yang memamerkan model/matriks saintifik yang mereka buat dari disiplin ilmu mereka di Universitas Indonesia [khususnya La Ode Husein ZT (23 tahun) yang mengajar dan meneliti di laboratorium teknik instrumentasi UI], bahwa secara esensial Kesultanan  Buton  itu tidak lebih dari feodalisme berkedok pengamalan tasawuf Martabat Tujuh, ibarat sayur jengkol atau petai cina yang diberi (dicampuri) bumbu rendang sehingga terasa gurih; termasuk konsep “keningratan” kalangan kaomu bangsawan Buton (6) yang tidak jarang sekadar dijadikan sebagai asesori oleh sebagian kalangan yang berkarakter/berwatak feodal.(7)

***

BERDASARKAN penuturan turun-temurun dari para tetua Buton, wilayah Kesultanan Buton  meliputiPulau Buton, Pulau Muna (dan sekitarnya), Pulau Kabaena (dan sekitarnya, termasuk Pulau Sagori dan Pulau Talaga), Pulau Batu Atas (Watuata), Kepulauan Tukang Besi (Wakatobi) dan sekitarnya, Pulau Tikola, Pulau Tobea Besar, Pulau Tobea Kecil, Pulau Makassar, Pulau Kadatua, Pulau Siompu, Pulau Wawonii (Wowoni), Poleang (di daratan Pulau Sulawesi), dan Rumbia (di daratan Pulau Sulawesi).(8)

Karena Kesultanan Buton  adalah sebuah pemerintahan Islam (yang berdasarkan ilmu haqiqah di atas sistem syariah), maka kedudukan manusia dianggap sangat penting, di mana ia sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang tentu saja jauh lebih bernilai dari (sekadar) aset “wilayah” dalam pengertian “ruang”. Dengan kata lain, pemahaman tentang wilayah kekuasaan Kesultanan Buton yang paling utama adalah yang erat kaitannya dengan konsep penduduk atau rakyat (sumber daya manusia/SDM), baru kemudian wilayah dalam pengertian “ruang”. Tetapi, hal ini jangan secara ekstrim dipahami sebagai pengabaian sama sekali tentang pentingnya “ruang”, seperti yang dimaknai oleh Susanto Zuhdi. Dalam bukunya, “Sejarah Buton yang Terabaikan”, Zuhdi menulis, “Bagi kerajaan tradisional seperti Buton, konsep tentang wilayah dapat dipahami tidak dalam arti ruang, tetapi yang penting adalah rakyat …..”. (9) Oleh karena itu, pemahaman Zuhdi patut kita koreksi secara rinci pada kesempatan lain.

***

BISA jadi, dewasa ini sebagian pihak — karena alasan-alasan tertentu (terutama akibat subjektifitas dan egosentrisme) — tidak mengakui bahwa mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah dan kebudayaan/peradaban Kesultanan Buton. Namun, kita harus berbesar hati, bersabar, memaafkan, dan menghargai pengakuan mereka untuk “tidak mengakui” kebenaran atau realitas objektif tersebut, apalagi sikap kita seperti ini merupakan refleksi dari penghargaan atas hak-hak asasi mereka yang mungkin sedang khilaf dengan (bangga) mempraktikkan tradisi “lupa kacang akan kulitnya” atau “habis manis sepah dibuang”.

 

….. maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.”
(Al -Qur’an 15 : 85)

Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.
(Al -Qur’an 16 : 126)

 

Namun, perlu disadari bahwa sejarah/kebudayaan tidaklah statis, melainkan bersifat dinamis. Ia merupakan rangkaian masa lalu, masa kini, dan masa depan;dan bahwa rangkaian demikian memberi peluang bagi terwujudnya sejarah/kebudayaan (Buton) sebagai deposit untuk berselancar di era globalisasi. Dengan kata lain, berselancar dalam kondisi seperti itu bukanlah ibarat berselancar dengan menumpang di atas sabut kelapa.

Peselancar yang mumpuni pastilah tidak memilih media sabut kelapa untuk berselancar di atas gelombang sejarah/kebudayaan yang dahsyat dan bergemuruh, karena hal demikian hanya layak dilakukan oleh para “Peselancar Pengingkar Sejarah/Kebudayaan” yang merendahkan “akal sehat”. Tepatlah pesan profetik:

Sesungguhnya pada kisah-kisah (sejarah) mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Al-Qur’an 12 : 111)

Dan bahwa, bagaimanapun juga, baik dan buruknya, eksistensi serta hakikat diri (terutama para leluhur) kita yang pernah terpapar aura atau spektrum cahaya da’wah Islamiah dan/atau kebudayaaan “kebutonan” — langsung atau tidak langsung — tidak terlepas dari sejarah masa lampau (alias proyeksi dari masa silam), di mana salah satu segmennya yang terpenting adalah proses Islamisasi (da’wah Islamiah) yang dicanangkan oleh para Sultan Buton dengan dukungan para Habib/Habaib/Sayyid (keturunan Rasulullah Muhammad Saww.). Dengan kata lain, mengingkari realitas ini ibarat mengamputasi organ terpenting dalam tubuh kita.

Maka, siapa pun yang mengalami paparan atau terpaan spektrum demikian, hati nurani atau bawah sadarnya secara jujur dan tulus pasti mengakui bahwa ia bukanlah anak haram (bastard) dari sejarah/kebudayaan Kesultanan Buton. Dan bahwa dirinya bukan pula pengingkar nikmat (anugrah) Ilahi itu, sebab — dari perspektif agama — tiada yang lebih nista dari “pengingkaran atas nikmat”.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(Al-Qur’ an 55 : 13)

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (Al-Qur’ an 14 : 5)

 

Relefansi hal ini dengan konteks Indonesia kontemporer tercermin dalam seruan Bung Karno, salah seorang founding  fathers  Republik Indonesia: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah (JAS MERAH)!”, apalagi mengkhianatinya. Karena setiap perbuatan — sekecil apa pun — pasti akan dimintakan pertanggungjawabannya.

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah (partikel subatom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.(Al-Qur’an 99 : 7-8)

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Qur’an 5 : 8)

III. Menghidupkan Kembali (Jasad) Kesultanan Buton?

Masyarakat Kesultanan Masjid Agung Keraton Wolio-Buton”

(MK-MA Keraton Wolio-Butonsebagai Alternatif !!!

…………………………………………………………………………. Mohon maaf, ulasan tentang subjudul ini nanti (insya Allah) disajikan dalam buku cetak dan/atau buku digital (e-book); dan ini sedang saya kerjakan dengan diberi judul:“Sekilas tentang Masjid Agung Keraton Wolio-Buton dan Wilayah Kesultanan Buton: Perlukah Menghidupkan Kembali (Jasad) Kesultanan Buton?” Mohon bersabar!!! (Nanti diumumkan dalam website ini).

IV. Leluhur Sultan Murhum adalah Orang Buton?

…………………………………………………………………………….. Mohon maaf, ulasan tentang subjudul ini nanti (insya Allah) disajikan dalam buku cetak dan/atau buku digital (e-book); dan ini sedang saya kerjakan dengan diberi judul: “Sekilas tentang Masjid Agung Keraton Wolio-Buton dan Wilayah Kesultanan Buton: Perlukah Menghidupkan Kembali (Jasad) Kesultanan Buton?” Mohon bersabar!!! (Nanti diumumkan dalam website ini).

V. “Masyarakat Kesultanan Masjid Agung Keraton Wolio-Buton”

(MK-MA Keraton Wolio-Buton), Syafaat, dan Ziarah Kubur:

Sebuah Gerakan Kebudayaan

……………………………………………………………………………… Mohon maaf, ulasan tentang subjudul ini nanti (insya Allah) disajikan dalam buku cetak dan/atau buku digital (e-book); dan ini sedang saya kerjakan dengan diberi judul:“Sekilas tentang Masjid Agung Keraton Wolio-Buton dan Wilayah Kesultanan Buton: Perlukah Menghidupkan Kembali (Jasad) Kesultanan Buton? Mohon bersabar!!! (Nanti diumumkan dalam website ini).

 

VI. Penutup (“Wolio-Buton Incorporated”)

……………………………………………………………………………….Mohon maaf, ulasan tentang subjudul ini nanti (insya Allah) disajikan dalam buku cetak dan/atau buku digital (e-book); dan ini sedang saya kerjakan dengan diberi judul:Sekilas tentang Masjid Agung Keraton Wolio-Buton dan Wilayah Kesultanan Buton: Perlukah Menghidupkan Kembali (Jasad) Kesultanan Buton?  Mohon bersabar!!! (Nanti diumumkan dalam website ini).

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Jakarta, akhir Oktober 2013

(Aba Zul)

* Penulis adalah Pendiri /Koordinator Umum /Pengelola www.buton-network.com (BUTON Network), www.jurnalparlemenonline.wordpress.com (Jurnal ParlemenO), dan Koordinator  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN), Jakarta. Pernah menjadi Ketua Departemen Politik Hubungan Luar Negeri Masyarakat Indonesia Baru, Jakarta (1998-2002);  instruktur Laboratorium Teknik Metalurgi dan Teknologi Mekanik serta Penasehat Akademis di Institut Sains dan Teknologi Nasional /ISTN, Jakarta (1987-1993); dosen pada Departemen Piping Technology (instalasi perpipaan untuk Oil & Gas), Jakarta Engineering School (1995-2006); dan (alhamdulillah) pernah hanya sebentar (tidak berlama-lamamenjadi Staf Ahli di Parlemen RI (2006). Juga pernah menerjemahkan dan menjadi editor sejumlah buku, di antaranya “Peran Perempuan Parlemen RI” (2007), dan menulis di sejumlah media massa untuk tema-tema politik dan teknologi. Sejak tahun 1983 (berstatus mahasiswa) — hingga sekarang — berpartisipasi memberikan ceramah atau training-training untuk sharing   pengetahuan kepada sejumlah kelompok diskusi kader (di antaranya adalah anggota dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam /HMI), baik yang diselenggarakan secara formal maupun informal, dengan tema-tema di seputar  Perbandingan Ideologi Internasional  dan Strategi & Kebijakan Politik  (Islam, Nasional, Internasional /Barat)  yang saringannya adalah filsafat Ahlulbait dan Pancasila. Untuk yang informal, kontribusi terpenting antara lain didapatkan dari Habib Ali bin Yahya, Habib Omar Hashem, Habib Zainal Abidin Al Muhdhor, Bung Husin HS, dan Bang Zulfan Lindan.

Catatan:

(1)  Martabat Tujuh adalah sebuah konsep atau doktrin teosofi (tasawuf filosofis atau irfan teoritis) yang digagas oleh Muhammad bin Fadhl Allâh al-Burhanpuri  rahimahullah  dan merupakan pengembangan dari ajaran tajalli  (manifestasi) yang diperkenalkan oleh sufi besar Ibn ‘Arabi rahimahullah (1165-1240 Masehi) dari Andalusia (kini: “Spanyol”) dan Abdul Karim al-Jili  rahimahullah (sufi Persia abad ke-14). Tujuh martabat atau maqam  yang dimaksud adalah:AhâdiyahWahdahWâhidiyah‘Âlam al-Arwâh‘Âlam al-MitsâlÂlam al-Ajsâm, dan Âlam  al-Insân  (Insan al-Kamil). Menurut sejarawan/budayawan Buton  La Ode Bosa rahimahullah (Yarona Liya), Martabat Tujuh diperkenalkan di Buton oleh Syarif Muhammad rahimahullah, seorang ulama bergelar Habib/Sayyid keturunan Rasulullah Muhammad Saww. (Shallallahu ‘alaihi wa âlihi wa sallam). Bersama-sama dengan Sultan ke-4: Dayânu Ikhsanuddin rahimahullah  (1578-1615) dan Sapati /Patih La Singga rahimahullah (La Singka/La Sangka), ia mentransformasikan Martabat Tujuh  itu menjadi Undang-Undang Dasar Kesultanan Buton.

(2)   Sayyid Abdul Wahid bin Sayyid Sulaiman (Sultan Johor) bin Sayyid Muhammad Idrus (Sultan Aden) bin Sayyid Umar Muhdhar (dan seterusnya hingga kepada pasangan teladan: Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. (rhadiallahu anhu) dan Sayyidah Fathimah az-Zahra r.a. (radhiallahu anha), yang berpuncak pada Baginda Rasulullah Muhammad Saww.).

(3)   Sultan La Sangaji rahimahullah (Qaimuddin) juga dijuluki sebagai “Sultan Makengkuna”, dari kata “makengkuna” (bahasa Wolio) yang berarti “yang layu” (merujuk pada situasi paceklik pada masa kekuasaan Sang Sultan).

(4)  Terlebih lagi bahwa hakekat gelar Wa Ode dan La Ode — untuk kaum bangsawan — yangdisosialisasikan oleh para Habib/Sayyid (keturunan Rasulullah Muhammad Saww. yang menyebarkan Islam di Buton) adalah agar penyandangnya merendahkan hati untuk menjadi pelayan masyarakat, dan abdi Allah Swt., bukan berbangga diri dan sombong dengan kebangsawanannya. Pada masa lampau kalangan bangsawan (La Ode/Wa Ode) mendapatkan amanah dari masyarakat luas — melalui Siolimbona (Dewan Perwakilan/Perwalian Rakyat) untuk menjadi ?lapis bawah? yang menopang (kepentingan/kehormatan) masyarakat luas. Dalam bersikap mereka harus selalu mengutamakan kesopan-santunan dan ketenangan. Masyarakat umum mengakui mereka sebagai kalangan yang selalu berkreasi dan mengembangkan peradaban/kebudayaan terutama lewat pemikiran-pemikiran metodis dan reflektif serta senantiasa melakukan aktifitas-aktifitas yang berdisiplin. Dan bahwa kedisiplinan di ruang publik yang mereka teladankan merupakan salah satu penanda utama sebuah masyarakat beradab (civil society)Itulah sebabnya (salah satu sebab utama) Kesultanan Buton — yang induknya adalah Kerajaan Wolio atau Kerajaan Buton — mampu bertahan selama ratusan tahun (1332-1960dihitung sejak berdirinya Kerajaan Wolio).

(5)   Dan juga bahwa lebih dari separuh para sultan Buton yang di-impeach (termasuk Sultan ke-8: Mardan Ali rahimahullah  yang dihukum mati dengan digantung) karena mereka tidak kebal hukum, padahal mereka dipilih secara demokratis oleh dewan Siolimbona (yang eksistensinya merupakan hasil permufakatan seluruh rakyat).

(6)   Konsep keningratan atau kebangsawanan Buton adalah konsep tentang nilai-nilai atau tatanan kesusilaan luhur yang dipromosikan/diteladankan oleh para tetua (tokoh adat) Wolio/Buton, Mia Patamiana, Dungku Cangia, para Sultan, dan para Sayyid/Habib di Tanah Buton.

(7)   Maafkan!!! Ini semua hanyalah bagian warming-up dari empat orang anak saya yang memang saya kondisikan untuk senantiasa aktif dalam perdebatan-perdebatan produktif, karena hal yang sama juga saya lakukan bertahun-tahun — sejak tahun 1983 — sebagai pemberi training (untuk tema-tema logika/filsafat ketuhanan atau NDP, perbandingan mazhab Islam, perbandingan ideologi, dan strategi politik) pengkaderan dan/atau peng(k)ajian di lingkunagn HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan sejumlah kelompok diskusi/pengkajian di Jakarta, terutama yang difasilitasi oleh Habib Ali bin Yahya, Habib Zainal Abidin Al-Muhdhor, dan Habib Omar Hashem (yang terakhir ini adalah intelektual dan penulis buku yang sangat produktif dan disegani oleh para pemikir besar seperti Gus Dur dan Prof Nurcholis Madjid).

(8)   Khusus untuk Pulau  Wawonii (Wowoni), Kesultanan Buton  hanya pernah menguasainya dalam kurun waktu tertentu saja. Pulau ini (dan sejumlah pulau kecil di sekitarnya yang tidak tampak di peta) direbut oleh Kerajaan Gowa pada tahun 1634.  Namun, pada Perjanjian Bongaya tahun 1667 (menyusul kekalahan pasukan sekutu Kerajaan Gowa, Tallo, dan Kesultanan Bima — yang juga secara tidak langsung merugikan kolonialis Portugis dan Inggris sebagai pesaing VOC/Belanda — melawan koalisi pasukan Kesultanan Buton, Bugis Bone, Ternate, dan VOC di Selat Buton) semua kekuasaan Gowa/Makassar dilucuti, termasuk kekuasaannya atas Pulau Wawonii. Pada perang di Selat Buton itu Gowa (di bawah pimpinan Karaeng Bonto Marannu, yang ditugaskan oleh Sultan Hasanuddin) mengerahkan pasukan sekutunya sebanyak 20.000 tentara, namun mengalami kekalahan tragis dan sangat banyak yang meninggal; sedangkan sisanya lebih dari  5.000 tentara di tawan di sebuah pulau di depan bandar-laut atau Pelabuhan Bau-Bau/Wolio yang kemudian diabadikan dengan nama Pulau Makassar. (Banyak peneliti Barat, dan juga Prof Susanto Zuhdi, menulis tentang fakta ini. Namun sejarawan di era Pemerintahan Orde Baru yang militeristik mengubur dalam-dalam realitas historis itu dalam Sejarah Nasionalsebuah tragedi bagi dunia akademis).

(9)    Lihat buku “Sejarah Buton yang Terabaikan”, halaman 81 (2010) oleh Susanto Zuhdi.

Facebook Comments

You May Also Like

157 thoughts on “Sekilas tentang Masjid Agung Keraton Wolio-Buton dan Wilayah Kesultanan Buton: Perlukah Menghidupkan Kembali (Jasad) Kesultanan Buton?

  1. Have you ever considered publishing an e-book or guest authoring on other blogs?
    I have a blog centered on the same ideas you discuss and would
    love to have you share some stories/information. I know my viewers would appreciate your work.
    If you’re even remotely interested, feel free to send me
    an e mail.

  2. I’m really enjoying the design and layout of your website.
    It’s a very easy on the eyes which makes it much more enjoyable for
    me to come here and visit more often. Did you hire out a designer to create your theme?
    Exceptional work!

  3. really nice

    This is as a matter of fact established data my friend. you are a dialect right good writer . i lust after to share with you my website as well. tell me what do you believe approximately it

    buy youtube views

    Thankyou again for posting such good content. Cheers

  4. Hello would you mind letting me know which hosting company you’re using?
    I’ve loaded your blog in 3 completely different internet browsers
    and I must say this blog loads a lot faster then most.
    Can you suggest a good web hosting provider at a fair price?
    Thank you, I appreciate it!

  5. Thanks for a marvelous posting! I genuinely enjoyed reading it, you happen to
    be a great author.I will remember to bookmark your blog and may come back someday.
    I want to encourage you continue your great job, have a nice holiday weekend!

  6. Good way of describing, and good piece of writing to get facts concerning my presentation focus, which i am
    going to deliver in school.

  7. Great article! This is the type of info that are supposed to be shared across the internet.
    Shame on the seek engines for not positioning this publish higher!
    Come on over and seek advice from my website . Thanks =)

  8. I will right away snatch your rss feed as I can not find your
    email subscription hyperlink or newsletter
    service. Do you have any? Kindly allow me realize so that I may just
    subscribe. Thanks.

  9. It’s the best time to make some plans for the future and it’s time to
    be happy. I’ve read this post and if I may just I desire to
    counsel you some attention-grabbing things or advice.
    Perhaps you could write next articles relating to this
    article. I desire to learn even more things approximately it!

  10. It’s perfect time to make some plans for the future and it is time to
    be happy. I’ve read this post and if I could I wish to suggest you few interesting things or advice.
    Maybe you could write next articles referring to this article.
    I want to read more things about it!

  11. hey there and thank you for your information – I’ve definitely picked up anything new from right here.
    I did however expertise a few technical points using this web site, since I experienced to reload the site a lot of times
    previous to I could get it to load correctly.
    I had been wondering if your web hosting is OK?
    Not that I’m complaining, but sluggish loading instances times will very frequently affect your placement in google and could damage your
    quality score if advertising and marketing with Adwords.
    Well I’m adding this RSS to my email and can look out for much more of
    your respective fascinating content. Ensure that you update this again soon.

  12. My programmer is trying to convince me to move to .net from
    PHP. I have always disliked the idea because of the
    expenses. But he’s tryiong none the less. I’ve been using WordPress
    on numerous websites for about a year and am anxious about switching to another platform.
    I have heard excellent things about blogengine.net.
    Is there a way I can import all my wordpress posts into
    it? Any help would be really appreciated!

  13. I am really loving the theme/design of your weblog.
    Do you ever run into any browser compatibility problems?
    A handful of my blog visitors have complained about my site not working correctly in Explorer but looks great in Firefox.
    Do you have any recommendations to help fix this issue?

  14. hey there and thank you for your information – I have certainly picked up anything new from right here.
    I did however expertise several technical points
    using this web site, as I experienced to reload
    the website many times previous to I could get it to load properly.

    I had been wondering if your web host is OK? Not that
    I’m complaining, but slow loading instances times will very frequently affect your placement in google and could damage your high quality
    score if advertising and marketing with Adwords. Anyway I’m adding this RSS to
    my email and can look out for much more of your respective
    interesting content. Ensure that you update this again soon.

  15. Yesterday, while I was at work, my sister
    stole my apple ipad and tested to see if it can survive a
    twenty five foot drop, just so she can be a youtube
    sensation. My iPad is now destroyed and she has 83 views.
    I know this is entirely off topic but I had to
    share it with someone!

  16. I’ve been surfing online more than three hours today, yet
    I never found any interesting article like yours.

    It’s pretty worth enough for me. Personally, if all website
    owners and bloggers made good content as you did, the
    web will be much more useful than ever before.

  17. Right here is the perfect site for anybody who wants to
    understand this topic. You understand so much its almost hard to argue
    with you (not that I actually would want to…HaHa).

    You certainly put a fresh spin on a subject that
    has been discussed for years. Great stuff, just wonderful!

  18. My programmer is trying to persuade me to move to .net from PHP.
    I have always disliked the idea because of the expenses.
    But he’s tryiong none the less. I’ve been using WordPress on various websites for about
    a year and am worried about switching to another platform.
    I have heard fantastic things about blogengine.net.
    Is there a way I can transfer all my wordpress posts into
    it? Any kind of help would be greatly appreciated!

  19. It’s appropriate time to make a few plans for the future and it’s time to be
    happy. I have read this publish and if I may I wish to
    recommend you some attention-grabbing things or advice.

    Maybe you can write next articles regarding this article.
    I wish to learn more issues about it!

  20. I simply couldn’t go away your web site prior to suggesting that I extremely enjoyed
    the standard information an individual provide to your guests?
    Is going to be back continuously in order to inspect new posts

  21. Hi, i read your blog occasionally and i own a similar
    one and i was just wondering if you get a lot of spam feedback?
    If so how do you reduce it, any plugin or anything you can advise?
    I get so much lately it’s driving me crazy so any help is very
    much appreciated.

  22. Hi, i read your blog from time to time and i own a similar one and i was just wondering if you get a lot of spam comments?

    If so how do you stop it, any plugin or anything you can recommend?
    I get so much lately it’s driving me mad so any assistance is very much
    appreciated.

  23. Thanks for the diverse tips provided on this blog. I have noticed that many insurance carriers offer clients generous discount rates if they favor to insure many cars with them. A significant variety of households have got several motor vehicles these days, specially those with older teenage youngsters still located at home, as well as the savings on policies can soon begin. So it makes sense to look for a good deal.

  24. Hi, I do think this is an excellent website. I stumbledupon it ;
    ) I may return once again since I saved as a favorite it.
    Money and freedom is the greatest way to change,
    may you be rich and continue to help others.

  25. I’ve been surfing online more than 3 hours lately, but I by no means found any interesting article like yours.
    It’s pretty worth sufficient for me. In my view, if all
    website owners and bloggers made excellent content as you probably did, the web shall be much more useful than ever before.

  26. I have been surfing on-line more than 3 hours as
    of late, but I by no means discovered any interesting article like yours.
    It’s beautiful worth sufficient for me. Personally, if all site owners and bloggers made
    good content material as you probably did, the internet might be a lot more useful than ever before.

  27. It’s perfect time to make some plans for the long run and it’s time to
    be happy. I’ve learn this post and if I may just I wish to counsel you some attention-grabbing issues or suggestions.
    Perhaps you can write next articles relating to this article.
    I desire to read more things approximately it!

  28. I will immediately clutch your rss as I can not in finding your e-mail subscription link or newsletter service.
    Do you have any? Please permit me understand in order that I may subscribe.
    Thanks.

  29. This is really interesting, You are a very skilled blogger.

    I have joined your feed and look forward to seeking more of your
    fantastic post. Also, I have shared your web site
    in my social networks!

  30. Attractive section of content. I just stumbled upon your
    site and in accession capital to assert that I get in fact
    enjoyed account your blog posts. Anyway I’ll be subscribing to your augment and even I achievement you access consistently
    rapidly.

  31. certainly like your website however you need to take a look at the spelling on several of your posts.
    Several of them are rife with spelling issues and I find it very troublesome
    to tell the truth then again I’ll definitely come back again.

  32. Hello There. I found your weblog the use of msn. This is an extremely well written article.
    I will be sure to bookmark it and come back to read extra of your helpful info.
    Thank you for the post. I will certainly return.

  33. Greetings! I’ve been reading your weblog for a while now and finally got the bravery to go ahead and
    give you a shout out from Austin Texas! Just wanted to tell you keep up the excellent work!

  34. Fantastic website you have here but I was wondering if you
    knew of any user discussion forums that cover the same topics talked about in this
    article? I’d really love to be a part of community
    where I can get comments from other knowledgeable individuals that share the same interest.
    If you have any suggestions, please let me know. Cheers!

  35. I’m not that much of a online reader to be honest but your sites really nice, keep it up!

    I’ll go ahead and bookmark your website to come back in the future.
    All the best

  36. Everyone loves what you guys tend to be up too. Such clever work
    and reporting! Keep up the very good works guys I’ve incorporated you guys to our blogroll.

  37. This is very fascinating, You are an overly professional blogger.
    I’ve joined your rss feed and look ahead to looking for extra of
    your fantastic post. Also, I have shared your website in my social networks

  38. I am not sure where you’re getting your info, but great topic.
    I needs to spend some time learning much more or understanding more.
    Thanks for magnificent information I was looking for this information for my mission.

  39. Hmm it looks like your website ate my first comment (it was extremely long) so I guess
    I’ll just sum it up what I had written and say, I’m thoroughly enjoying your blog.
    I as well am an aspiring blog blogger but I’m still new to everything.
    Do you have any suggestions for newbie blog writers?
    I’d really appreciate it.

  40. I do not know if it’s just me or if perhaps everybody else
    experiencing issues with your website. It looks like some of the text on your content are running off the screen. Can somebody else please comment and let
    me know if this is happening to them too? This could be a issue with my
    internet browser because I’ve had this happen before.
    Cheers

  41. It’s perfect time to make some plans for the future and it is time to
    be happy. I’ve read this post and if I could I want to
    suggest you some interesting things or tips. Maybe you can write next articles referring
    to this article. I desire to read more things about it!

  42. Hi there very cool web site!! Guy .. Beautiful
    .. Superb .. I will bookmark your site and take the feeds additionally?
    I’m happy to find a lot of useful info here
    within the post, we need develop more techniques in this regard, thanks for sharing.
    . . . . .

  43. Great post. I was checking continuously this weblog and I am impressed!
    Extremely useful info specifically the closing section 🙂 I
    maintain such info much. I was looking for this particular information for a long
    time. Thank you and good luck.

  44. whoah this weblog is great i really like reading your articles.
    Keep up the good work! You realize, many individuals are searching around for this info, you
    can help them greatly.

  45. I blog frequently and I seriously thank you for
    your information. The article has really peaked
    my interest. I’m going to bookmark your site and keep checking for new information about once per week.
    I subscribed to your Feed as well.

  46. I know this if off topic but I’m looking into starting my own blog and was wondering what
    all is needed to get setup? I’m assuming having a blog like yours would cost a pretty penny?

    I’m not very internet savvy so I’m not 100% sure.

    Any tips or advice would be greatly appreciated.
    Many thanks

  47. Hi there! This is kind of off topic but I need some advice from an established blog.
    Is it very difficult to set up your own blog? I’m not very techincal but
    I can figure things out pretty fast. I’m thinking about creating my own but I’m not sure where to
    start. Do you have any tips or suggestions? Appreciate it

  48. Hey! This is my first comment here so I just wanted to give a quick shout out and tell you I genuinely enjoy reading through
    your articles. Can you recommend any other blogs/websites/forums
    that go over the same subjects? Thank you so much!

  49. My partner and I absolutely love your blog and find most of your post’s to be precisely what I’m
    looking for. Does one offer guest writers to write content in your
    case? I wouldn’t mind publishing a post or elaborating on many of the subjects you write about here.
    Again, awesome web log!

  50. hello!,I love your writing so so much! percentage we be in contact
    extra approximately your post on AOL? I require an expert in this space to unravel my problem.
    May be that’s you! Taking a look ahead to look you.

  51. Hi! This is my first visit to your blog! We are a group of volunteers and starting a new initiative in a community in the same niche.

    Your blog provided us useful information to work
    on. You have done a extraordinary job!

  52. Auto Like, Status Auto Liker, autolike, Photo Auto Liker, Autolike International, Autoliker, Autolike, Photo Liker, Increase Likes, ZFN Liker, autoliker, Auto Liker, Working Auto Liker, auto like, auto liker, Status Liker, Autoliker

  53. I blog frequently and I genuinely thank you for your content.
    This great article has really peaked my interest.

    I will take a note of your website and keep checking for new details about
    once per week. I subscribed to your Feed as well.

  54. Al final, las tres drogas presentan eficacia semejante, quedando a criterio del paciente escoger aquella a la cual se adapte mejor, tomando en cuenta el precio y la posología. Éstos son causados, por ejemplo, por operaciones en la próstata y recto.

  55. Viagra Beziehen Keflex Used For Tonsilitis viagra Can I Purchase Bentyl Pills Ups Cod Only Can You Take Amoxicillin With Tylenol Amoxicillin Dosage For Kittens

  56. Thank you for the auspicious writeup. It in fact was a
    amusement account it. Look advanced to more added agreeable from you!
    However, how could we communicate? natalielise pof

  57. You actually make it appear so easy with your
    presentation but I find this topic to be actually one thing that I feel
    I’d by no means understand. It kind of feels too complex and very extensive for me.
    I am taking a look ahead on your next post, I will attempt to get the hang of it!

  58. Cuando mueves una mano lo haces a petición de tu cerebro, igual que cuando andas, corres, hablas, espías, y todas esas cosas que hacemos a diario. Pero si veo que hay muchas lecturas en cuanto a estos temas.

  59. Hi there to all, the contents present at this website are truly amazing for people knowledge,
    well, keep up the nice work fellows.

  60. I know this if off topic but I’m looking into starting
    my own weblog and was wondering what all is required to get setup?
    I’m assuming having a blog like yours would cost a pretty penny?
    I’m not very internet savvy so I’m not 100% positive. Any recommendations or advice would be
    greatly appreciated. Many thanks

  61. I do not even understand how I ended up right here,
    however I believed this post used to be good.
    I don’t understand who you might be however definitely you are going to a famous blogger in case you are not already.
    Cheers!

  62. Hey there! Do you know if they make any plugins to safeguard against hackers?
    I’m kinda paranoid about losing everything
    I’ve worked hard on. Any suggestions?

  63. I think this is among the most important
    information for me. And i’m glad reading your article.
    But wanna remark on some general things, The website style is great, the articles is really
    nice : D. Good job, cheers

  64. Simply want to say your article is as amazing.
    The clearness for your put up is just nice and that i could assume you are knowledgeable on this subject.
    Well with your permission allow me to seize your feed to keep
    updated with forthcoming post. Thank you one million and
    please continue the rewarding work.

  65. For instance, cardiovascular issues occur more often in the elderly, which may lead to blood flow impairment in the penis and erectile dysfunction.

  66. Prix Levitra Pas Cher Elderly Using Amoxicillin With Diabeties Fluconazole Cheap viagra Cost Of Levitra Where To Purchase Cheapeast Free Shipping Amoxicilina Tab Usa

  67. Finding the cause of your ED will help direct your treatment options. In rare cases, the drug Cialis can cause or increase back pain or aching muscles in the back. When you become aroused, your brain sends chemical messages to the blood vessels in the penis, causing them to dilate or open, allowing blood to flow into the penis. Only take one tablet within a 24-hour period. https://cialis.fun/get-to-know-cialis-better.html

  68. Your doctor can determine if your sexual disorder is caused by an underlying condition that requires treatment. An erection is the result of increased blood flow into your penis. Blood flow is usually stimulated by either sexual thoughts or direct contact with your penis. When a man becomes sexually excited, muscles in their penis relax. Buy cialis online visa. This relaxation allows for increased blood flow through the penile arteries. This blood fills two chambers inside the penis called the corpora cavernosa. As the chambers fill with blood, the penis grows rigid. Erection ends when the muscles contract and the accumulated blood can flow out through the penile veins.

  69. La disfunción eréctil (impotencia) es la incapacidad para conseguir una erección o mantenerla con la suficiente firmeza para tener una relación sexual. Ello no significa que se afecten el apetito sexual ni la capacidad de alcanzar un orgasmo. La edad es, de esta manera, uno de los factores de riesgo más importantes para la disfunción eréctil. https://comprarlevitra.com/

  70. Es de utilización en los hombres que pueden iniciar la erección pero no mantenerla. Esto incluye varias preguntas para saber desde cuándo y bajo qué circunstancias experimenta signos de Disfunción Eréctil. Elegir un tratamiento de DE es una decisión personal. Comprar Levitra con dapoxetina. Acupuntura: Otro tratamiento alternativo para curar la impotencia es la acupuntura, una práctica oriental que se basa en la aplicación de pequeñas agujas donde se encuentran las terminaciones nerviosas, la acupuntura se utiliza para tratar muchas afecciones incluyendo la disfuncion eretil.

  71. Este fue el primer inhibidor selectivo de la fosfodiesterasa de tipo V al que han seguido otros como el tadalafilo y el vardenafilo. La combinación puede disminuir la presión arterial a niveles peligrosos. Si estás preocupado acerca de la disfunción eréctil, conversa con el médico, incluso si te avergüenza. Comprar Viagra generico barato. Esto se consigue al relajar la musculatura lisa, permitiendo la entrada de sangre y la consiguiente erección. Esta patología supone la incapacidad persistente para conseguir o mantener una erección que permita una relación sexual satisfactoria. Pero para estar diagnosticada es necesario que el problema persista en el tiempo y no se trate de un hecho puntual.

  72. The simple reason that Cialis products are enjoying increased popularity is the fact that they offer a man with ED the most freedom when it comes to his sexual life.

Leave a Reply

Your email address will not be published.