Semarak Maulid Nabi di Yogyakarta

GrebegMauludBUTONet 2, Jakarta—Setiap 12 Rabi’ul Awwal, umat Islam di seluruh dunia memeringati Maulid Nabi Muhammad Saw. Tradisi ini konon diprakarsai oleh pejuang Islam Shalahuddin al-Ayyubi pada abad ke-11M,  yang juga dijadikan sebagai momentum mobilisasi mujahidin Islam dari berbagai penjuru untuk melawan Tentara Salib. Dari sini Shalahuddin berupaya mengkontekstualisasikan Hari Kelahiran Nabi Muhammad itu, sehingga kemudian perayaannya bermakna secara sosio-kultural bagi umat Islam di seluruh dunia dari masa ke masa.

Karena sifatnya yang kontekstual, tidak heran bila hingga kini perayaan Maulid di berbagai belahan dunia acap kali berbalut kebudayaan lokal. Tidak terkecuali  tradisi Maulid di Indonesia;  salah satunya adalah tradisi Gerebeg Maulid Nabi atau Upacara Sekaten di Yogjakarta.  Sekaten  — yang konon berasal dari kata “ Syahadatain” — merupakan acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw. yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabi’ul awal tahun Hijrah). Acara puncaknya ditandai dengan Grebeg Muludan pada tanggal 12 (bertepatan dengan hari kelahiran Rasul), yang disimbolisasikan dengan Gunungan sebagai  hajat dalem atau sedekah berupa sesajian berbentuk tumpeng besar yang terbuat dari aneka makanan, antara lain beras ketan, telur, dan berbagai  buah serta sayuran  yang ditata  menyerupai  gunung.

Sejak pagi hari, Selasa (14/1/2014), ribuan warga Yogjakarta  berbondong datang memadati halaman Mesjid Besar Kauman dan Alun-alun Utara Keraton. Dari tahun ke tahun warga semakin antusias menghadiri Gerebeg Maulid. Padahal tradisi ini sudah lama diselenggarakan  pihak Keraton. Bahkan pesertanya tidak saja berasal dari Yogjakarta, melainkan juga dari luar daerah. Salah satunya adalah Sri (32) yang datang dari Wonogiri, Jawa Tengah. “Saya memang rutin datang ke Keraton setiap Maulid Nabi, biar dapat berkah,” ujar Sri bersemangat.

Mayoritas masyarakat yang datang berkeyakinan bahwa Gunungan yang dikeluarkan Keraton Yogjakarta mendatangkan berkat bagi penerimanya. Atas dasar itulah masyarakat antusias memperebutkan Gunungan dalam tradisi Gerebeg Maulid Nabi itu. Namun, ada juga masyarakat yang tidak memiliki tujuan religius untuk mendapatkan berkah.  Mereka hanya berupaya turut serta dalam pelestarian budaya yang diwariskan turun-temurun itu. “Saya datang ke sini karena Grebeg Maulid sudah ada sejak nenek-moyang, jadi janggal jika melewatkan tradisi ini,” ungkap Paino (54) yang datang dari Purworejo, Jateng.

Hal yang sama diungkapkan  Edi (27) asal Sulawesi yang sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta . “Saya tidak tahu pasti mengapa Gerebeg Maulid Nabi dilaksanakan, tapi saya bersama teman-teman menikmati acara ini karena seru, terlebih saat memperebutkan Gunungan, sangat memacu adrenalin,” ungkapnya.  Dalam memperebutkan Gunungan itu  tidak sedikit yang pingsan karena  terhimpit.  Kendati demikian, peristiwa itu tidak menyurutkan masyarakat untuk tetap berjuang mendapatkan secuil Gunungan yang (konon) membawa berkah.

Pada penyelengaraan Grebek Maulud kali ini terdapat tujuh  gunungan yang  disedekahkan, lima gunungan berupa gunungan Putri, Kakung, Darat, Gepak, dan Pawuhan yang akan dibawa ke Masjid Gede Kauman. Dan  dua gunungan lainnya merupakan gunungan Kakung yang  masing-masing dibawa ke Puro Pakualaman dan Kepatihan.

***

PERINGATAN  Gerebeg Maulud hanyalah salah satu ritual  perayaan kelahiran Nabi Muhammad Saw (Maulid) dalam kebudayaan Indonesia. Namun, Maulid telah dianggap sebagai ritual wajib bagi mayoritas Muslim di negeri yang multikultural ini. Dan bahwa perayaan Maulid itu merupakan salah satu wujud kecintaan umat Islam kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. yang termanifestaskan dalam beragam ekspresi budaya lokal. Hal ini beralasan karena Islam di Indonesia merupakan agama cinta-kasih yang disebarkan dengan langkah damai, tanpa menafikan budaya dan tradisi di Nusantara.

Memang, Muslim di negeri ini terus melestarikan tradisi nenek-moyang mereka. Namun, kehadiran Islam menjadikan mereka memiliki pandangan tauhid (monoeisme). Para penyebar Islam di Nusantara menunjukkan bahwa Islam adalah agama cinta-kasih yang bisa hidup damai dengan budaya lokal. Ini mirip dengan strategi dakwah Nabi Muhammad Saw. — di tengah masyarakat Arab jahiliyah — yang tanpa meminggirkan budaya setempat, karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang berbudaya.  Rasulullah Saw. justru menjadikan Islam sangat akrab dengan kebudayaan lokal, tanpa mengorbakan nilai-nilai absolut ajaran Islam itu sendiri.

Sayangnya, perayaan Maulid Nabi masih saja menuai pro-kontra yang tak kunjung usai. Kalangan takfiri di Indonesia, misalnya, terus mengumandangkan tudingan bahwa perayaan Maulid Nabi itu sebagai perbuatan bid’ah.  Padahal, Wakil Menteri Agama (Wamenag), Prof  Dr Nasaruddin Umar MA, pada tausyiahnya dalam peringatan Maulid tahun lalu di Mesjid Raya at-Taqwa, Cirebon, Minggu (5/2/2013) mengingatkan umat Islam agar waspada dengan upaya sekelompok orang yang ingin memecah persatuan umat dengan menyebutkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad sebagai perbuatan bid’ah.

Yananto Sulaimansyah,misalnya, dalam sebuah artikel di muslim.or.id memaparkan bahwa hukum Maulid adalah  bid’ah. Maulid adalah sebuah perayaan rutin (‘ied) yang tidak memiliki landasan sama sekali dalam agama sehingga tergolong perbuatan baru yang diada-adakan (baca : bid’ah). Inilah alasan pokok mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah.  Yananto menambahkan bahwa Maulid adalah perkara baru dalam agama yang tidak ada dasarnya sama sekali, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata : “hadits ini hasan shahih”).

Bahkan, kaum takfiri tak hanya berhenti pada upaya membid’ahkan tradisi Maulid Nabi yang sudah mengakar di Indonesia, tapi juga mengarah pada “peng-kafiran”. Di antara mereka ada yang merujuk perkataan Imam As-Suyuthi, “Termasuk ke dalam perbuatan bid’ah yang mungkar adalah: menyerupai orang kafir dan menyamai mereka dalam hari raya mereka dan perayaan mereka yang terlaknat sebagaimana yang dilakukan banyak orang awam dari kaum muslimin yang turut serta dalam perayaan orang nasrani pada Khamis al Baydhdan lainnya. (Al Amru bil Ittiba’,hal. 141, dinukil dari ‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 80).

Memang, Nabi Muhammad Saw. tidak pernah berpesan untuk merayakan kelahirannya, maka tradisi maulid tidak bisa dikatakan  masyru (disyariatkan). Tetapi juga tidak bisa dikatakan berlawanan dengan syari’at. Dalam hubungan ini muncul pertanyaan, apakah semua perbuatan baik yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.harus dilarang dan dianggap  bid’ah?  Lalu, bagaimana dengan kodifikasi al-Qur’an yang dilakukan sepeninggal Rasulullah, apakah itu juga bid’ah? Menurut Quraish Shihab, pada acara tausyiah di Metro TV (14/1/2014), Nabi Muhammad merayakan Maulid dengan berpuasa pada hari kelahiran beliau.  Abu Qatadah al-Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah ketika ditanya mengapa berpuasa pada hari Senin, beliau menjawab bahwa hari ini aku dilahirkan dan itulah hari saat aku diangkat menjadi Rasul. Hadis ini terdapat pula dalam Kitab Muslim dan al-Hisyam.

Argumentasi lain yang mengafirmasi Maulid Nabi adalah pandangan para ulama Sunni dan Syi’ah,  yang sepakat bahwa bid’ah  itu hanya terbatas pada ibadah madhah  saja, bukan dalam urusan muamalah  (masalah sosial kemasyarakatan). Mayoritas para ulama tersebut berpandangan bahwa seremonial Maulid diletakkan di luar kerangka  ritual ibadah yang diatur dalam  fiqh;  sehingga, peringatan Maulid Nabi tidak bisa dihukumi  (apalagi dihakimi) “bid’ah”.

Lagipula, mayoritas umat Islam di berbagai penjuru dunia sepakat bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad  Saw merupakan bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap beliau sebagai pembawa risalah kenabian dari Allah Swt. Terlebih lagi kedudukan Rasulullah Saw. sangat istimewa dibandingkan dengan manusia lainnya, meski manusia agung tersebut tetap merupakan manusia biasa. Hal itu termaktub dalam salah satu ayat al-Qur’an: Katakanlah: “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu, bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah kalian  istiqomah  pada jalan yang menuju kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6).

***

FENOMENA  Gerebeg Maulid di Yogjakarta tersebut merupakan salah satu cara masyarakat bersuka cita dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad Saw. Ajaran Islam yang berkembang di Indonesia memiliki ciri khas dibandingkan dengan berbagai negara Muslim lainnya. Islam di Indonesia bersifat  akomodatif, sehingga mudah berkompromi dalam pergumulannya dengan kebudayaan lokal. Irisan antara keduanya (baca: Islam dan Budaya Indonesia) menghasilkan dialektika yang menampilkan wajah Islam yang khas:  “Islam Nusantara”.

***

SELAIN  Gerebeg Maulid (Sekaten), masih banyak tradisi perayaan Maulid lainnya di berbagai penjuru Nusantara yang terus melelestari dan makin semarak.  Salah satunya adalah  Maludhu  atau  Haroana Oputa (Haroana Sultani) di Pulau Buton (dulunya adalah Kesultanan Buton).  Bahkan, Haroana Oputa  — yang diperkenalkan oleh para Habib atau Sayyid sejak abad ke-16 — ini lebih kental dengan dimensi ritual bernuansa syariat-tasawufnya, di mana pusat penyelenggaraannya adalah Masjid Agung Keraton Wolio-Buton dengan aparaturnya yang masih mempraktikkan tradisi spiritual pada masa awal penyebaran Islam di Buton.

***

BILA mau jujur realitas kultural seperti Peringatan Maulid itulah yang antara lain   membuat Islam berkembang pesat di Indonesia dan tampil ramah menyejukkan: rahmatan lil ‘alamin. Dalam hubungan ini patut direnungkan ucapan Cak Nun: “Kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan Orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia. (wz dan nf)

Facebook Comments

Topik Tarkait

One thought on “Semarak Maulid Nabi di Yogyakarta

  1. Does your website have a contact page? I’m having problems locating it but,
    I’d like to shoot you an e-mail. I’ve got some creative ideas for your blog you might be interested in hearing.
    Either way, great site and I look forward to seeing it
    grow over time.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two + 12 =