Solusi Kepala BIN soal “Cyber-Crime” untuk Terciptanya Keamanan Negara

Wa Ode Zainab ZT dan La Ode Zulfikar Toresano (JAKARTA, www.news.sorotparlemen.com, 4/9/2018) PADA hari Senin, 25 Juni 2018, bertempat di Auditorium Gedung D lantai 8, Kampus A, Universitas Trisakti, Jakarta, berlangsung sidang terbuka promosi doktoral ilmu hukum atas Jenderal Pol. (Purn) Dr. Budi Gunawan, SH, M.Si, Ph.Dyang kini menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Tema disertasinya adalah “Peran Intelijen Negara dalam Mendukung Penegakkan Hukum Terhadap Kejahatan Dunia Maya (Cyber-crime) Guna Terwujudnya Keamanan Negara”; dan hasil sidang memberikan nilai “Summa Cum laude” kepada “promovendus”. Menurut Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr. Ali Gufron Mukti, M.Sc, Ph.D, predikat demikian baru pertama kali diberikan di lingkungan civitas akademika Universitas Trisakti.

Dalam disertasi itu Budi Gunawan (BG) menguraikan soal pemberdayaan peran intelijen, khususnya dalam aspek penegakan hukum cyber-crime, yang hingga saat ini belum berjalan baik atau masih jauh di bawah optimal.

Menurutnya, pemberdayaan tersebut dapat dilakukan melalui strategi pendekatan sistem dan metode yang mengandalkan pemanfaatan teknologi tinggi. Selain itu, perlu mengoptimalkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal, memanfaatkan produk intelijen (di antaranya berupa data/informasi), dan juga keterlibatan langsung dalam penegakan hukum cyber-crime.[1]

https://www.cybersecitalia.it/wp-content/uploads/2018/03/5-cyber-security-threats-to-expect-in-2018_640-2-1.jpg
https://www.cybersecitalia.it/wp-content/uploads/2018/03/5-cyber-security-threats-to-expect-in-2018_640-2-1.jpg

Tinjauan Teoritis Kajian Intelije[2]

Sementara itu, dalam artikel bertajuk “Pemahaman Teori Kolaborasi Intelijen dengan Pendekatan Hermeneutika-Reflektif dalam Penanganan Ancaman Siber” — yang dimuat dalam situs BIN pada Agustus 2018 — BG juga menguraikan masalah yang terkait dengan pemberdayaan peran intelijen seperti termaksud.

Fakta menunjukkan, ancaman siber semakin meningkat dan mengkhawatirkan. Sayangnya, seringkali hal ini tidak disadari; misalnya saja terjadinya penyusupan virus ke dalam sebuah sistem “Teknologi Informasi dan Komunikasi”/TIK (Information and Communication Technologies/ICT).

Oleh karena itu, aspek ancaman siber perlu mendapat perhatian khusus. Terlebih lagi hingga saat ini solusi lebih cenderung hanya mengedepankan pendekatan teknologi (itu pun masih jauh dari optimal).

https://profsleep.info/wp-content/uploads/2018/04/research-paper-on-cyber-security-ft-meade-cybersecurity.jpg
https://profsleep.info/wp-content/uploads/2018/04/research-paper-on-cyber-security-ft-meade-cybersecurity.jpg

***

DALAM pidato sambutan atau orasi ilmiah pengukuhan guru besar “Sekolah Tinggi Intelijen Negara” (STIN) dan dies natalis STIN ke-15 — atau wisuda 117 sarjana S-1 angkatan ke-XI dan 39 mahasiswa pasca sarjana STIN tahun akademik 2017/2018 — yang berlangsung pada hari Selasa, 7 Agustus 2018, di Sentul, Bogor, Jawa Barat, BG menyampaikan bahwa berdasarkan hasil riset, akhir-akhir ini terjadi peningkatan signifikan dan kompleks dalam hal serangan siber. Atas dasar itu, penanganan serangan siber tidak cukup hanya dari aspek teknologi saja, melainkan juga diatasi dari perspektif intelijen yang lebih komprehensif dan dengan pendekatan yang lebih ilmiah.

Menurut BG, salah satu pendekatan ilmiah yang dapat diterapkan adalah dengan menggunakan “Teori Kolaborasi Intelijen dengan Pendekatan Hermeneutika-Reflektif”. Teori ini menyoroti kejutan yang datang dari ancaman siber di dalam suatu sistem tata kelola yang belum memadai. Dan itu hanya dapat diatasi secara optimal melalui interaksi empat faktor penentu kolaborasi penyelenggaraan intelijen, yaitu :

  • Norma dominan;
  • Ambang batas ancaman;
  • Desain institusi dan aktor terdekat (sehingga membentuk kompetensi, komunikasi, dan kontrol); dan
  • Konfigurasi sebagai dimensi kolaborasi dalam ikatan pragmatisme kemanfaatan atau kepentingan bersama, untuk menjamin terciptanya keamanan nasional dalam kondisi yang volatile, uncertain, complex dan ambiguity.
https://www.swordshield.com/wp-content/uploads/2014/11/infographic-cybersecurity.png
https://www.swordshield.com/wp-content/uploads/2014/11/infographic-cybersecurity.png

***

SELANJUTNYA BG memaparkan, di masa mendatang akan banyak muncul aspek penting yang akan mempengaruhi intelijen, di antaranya :

  • Tren dan faktor pemicu ancaman siber;
  • Strategi yang semakin efektif untuk mengantisipasi ancaman;
  • Teori intelijen untuk menjelaskan fenomena ancaman dan merumuskan strategi penanggulangannya; dan
  • Ukuran efektivitas operasi intelijen siber.

Masih menurut BG, teori intelijen yang baik terdiri dari empat tingkat, yakni :

  • Mendeskripsikan kegiatan, organisasi, dan produk intelijen;
  • Menjelaskan dan mengungkap faktor utama dalam strategi dan operasi intelijen;
  • Menjelaskan hubungan sebab-akibat antar faktor utama yang berpengaruh pada efektivitas kegiatan intelijen; dan
  • Memiliki kemampuan prediksi masa depan serta langkah antisipasinya.

Sementara itu, dari perspektif (filsafat) hermeneutika, yang disoroti adalah aspek pemahaman intelijen melalui interpretasi pemaknaan dengan ruang lingkup :

  • Asumsi;
  • Sikap;
  • Perilaku serta aktivitas;
  • Organisasi; dan
  • Produk intelijen siber dalam lingkungan strategis yang dinamis.

Menurut BG, pendekatan hermeneutika-reflektif harus berfokus pada kesatuan ekosistem; dan tidak hanya sekadar terarah pada produk, organisasi, dan kegiatan, melainkan juga pada hasil dari upaya-upaya dan produk-produk perorangan yang mampu memisahkan (memilah) informasi berharga.

BG juga mengatakan, tantangan terbesar dari intelijen di masa mendatang bukan kekurangan informasi, melainkan keterbatasan waktu dan kemampuan untuk memprediksi sifat atau karakteristik informasi yang cepat berubah.

Oleh karena itu, definisi dari intelijen harus diperbaharui melalui pendekatan hermeneutik-reflektif, dan hal ini harus dilakukan agar mampu menjawab persoalan ontologis serta tantangan epistemologis, bahkan juga tuntutan aksiologis intelijen negara, papar BG.

Pada akhir sambutannya, BG menegaskan bahwa penyelenggara intelijen tidak boleh lagi bertindak sendiri-sendiri, tapi harus mengembangkan pola-pola baru dalam bekerjasama dan bersinergi satu sama lain. Diharapkan, seluruh insan intelijen dapat terus mengembangkan diri, khususnya melalui jalur pendidikan, sehingga terwujud insan intelijen yang semakin profesional, handal, dan tangguh. Dalam acara pengukuhan guru besar tersebut, BG juga berpesan untuk terus berpacu dan memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Urgensi penguasaan “Cyber-Security”

Jika Kepala BIN Budi Gunawan menyarankan untuk senantiasa mengembangkan diri melalui jalur akademik dengan lebih berfokus pada aspek teknologi, maka — dalam rangka mendukung implementasi saran tersebut — www.news.sorotparlemen.com (WN-SPC) merekomendasikan tentang urgensi memperkaya khazanah pengetahuan serta kemampuan (skill) di bidang “Cyber-Security”.

Pada kesempatan ini kami tidak akan memberikan penjelasan secara teknis, tapi sekadar informasi bahwa saat ini di dunia ada sertifikasi Cyber-Security bereputasi internasional yang dikeluarkan oleh EC-Council” (https://www.eccouncil.org). Banyak praktisi dan pakar di bidang IT mengambil sertifikasi/ujian keahlian (dalam bidang komputer yang berkaitan dengan aspek “Cyber-Security”) melalui EC-Council itu.

https://cert.eccouncil.org/images/EC-Council-Career-Path.png
https://cert.eccouncil.org/images/EC-Council-Career-Path.png

Di bawah ini kami berikan data mengenai program sertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh EC-Council :

  • Certified Network Defense (CND).
  • Certified Ethical Hacker (CEH).
  • CEH (Practical).
  • Security Analyst.
  • ECSA (Practical).
  • Advanced Penetration Testing (APT).
  • Licensed Penetration Tester (LPT-Master).
  • EC-Council Certified Incident Handler (ECIH).
  • Forensic Investigator.
  • Certified Chief Information Security Officer (CCISO).
  • Certified Network Defense Architect (CNDA).
  • EC-Council Certified Encryption Specialist (ECES).
  • Advanced Network Defence (CAST 614).
  • Certified Secure Computer User (CSCU).
  • Certified Application Security Engineer (CASE) – JAVA.
  • Certified Application Security Engineer (CASE) – .NET.
  • EC-Council Certified Security Specialist (ECSS).
  • EC-Council Disaster Recovery Professional (EDRP).
https://www.amrita.edu/sites/default/files/partner-program-1.jpg
https://www.amrita.edu/sites/default/files/partner-program-1.jpg
 

Pendapat Ahli Intelijen mengenai Warfare [3-4]

Sebagai penutup artikel ini, untuk menjadi bahan kajian ilmiah, mari kita renungkan ungkapan Martin Libicki — seorang analis senior Institut Kajian Strategis pada Research ANDevelopment (RAND Corporation), Amerika Serikat — dalam bukunya yang berjudul What is Information Warfare. Di sana ia menjelaskan bahwa “Information Warfare (atau yang dikenal dengan “Perang Informasi”) bukanlah sebuah teknik perang yang sama seperti perang konvensional pada umumnya, melainkan sangat jauh berbeda, di mana setiap bentuk perang jenis ini melibatkan aspek :

  • Perlindungan;
  • Manipulasi;
  • Pengurangan bentuk; dan
  • Penyekatan informasi (protection, manipulation, degradation, and denial of information).

Selanjutnya, aspek-aspek tersebut meliputi jenis-jenis perang sebagai berikut :

  • Command & Control Warfare.
  • Intelligence-Based Warfare.
  • Electronic Warfare.
  • Psychological Warfare.
  • Hacker Warfare.
  • Economic Information Warfare.
  • Cyber Warfare.

Catatan

Tulisan/artikel di atas semata-mata berupaya menginformasikan atau merekomendasikan kepada para pembaca agar membuka perspektif dalam memahami aspek akademis Cyber-Security; tentu saja tulisan ini didasarkan pada rujukan yang kredibel, dan bukan merupakan rekomendasi dari kalangan bisnis maupun kelompok kepentingan tertentu.

———————————————————————

  • Wa Ode Zainab ZT (Wa Ode Zainab Zilullah Toresano, M.Ud, MA) adalah Tenaga Ahli DPR-RI dan Dosen pada STFI Sadra, Jakarta.

  • Ir. La Ode Zulfikar Toresano adalah Pemimpin Redaksi www.news.sorotparlemen.com; mantan Staf Ahli DPD-RI; mantan Penasehat Akademis pada “Institut Sains dan Teknologi Nasional” (ISTN), Jakarta; dan mantan Dosen pada “Jakarta Engineering School” (JES).

———————————————–

Sumber Rujukan :

  1. http://www.bin.go.id/nasional/detil/459/1/20/07/2018/kepala-bin-raih-doktor-bidang-hukum
  2. http://www.bin.go.id/nasional/detil/460/1/14/08/2018/kepala-bin-pemahaman-teori-kolaborasi-intelijen-pendekatan-hermenetika-refleksif-dalam-penanganan-ancaman-siber
  3. https://www.kompasiana.com/duljonmaster/5528f4256ea834e24f8b45bb/teknologi-informasi-teknologi-intelijen-dalam-organisasi-intel-indonesia
  4. Martin Libicki, What is Information Warfare, (ACTIS NDU, 1995), hal. 7.
  5. https://www.businessnewsdaily.com/10860-ec-council-certification-guide.html
  6. https://www.pcworld.com/article/2100880/hacker-defaces-website-of-it-security-certification-body-eccouncil.html
  7. https://www.centriq.com/blog/10-things-to-know-about-ec-council-ceh-v10
  8. https://www.blackhat.com/html/bh-usa-08/train-bh-usa-08-ec-LPT.html

Sumber Gambar : http://www.bin.go.id/asset/22a6d1b429351e58/galeri/foto/269/17308812965b716f8a7b26a.JPG

Facebook Comments

You May Also Like