Surat Edaran Kapolri dan Ancaman bagi Penebar Kebencian?

(Diolah dari “Bincang Pagi Metro TV”, Senin, 2/11/2015)

Kapolri-Keluarkan-Surat-Edaran-Soal-Ujaran-Kebencian-atau-Hate-SpeechJAKARTA, www.sorotparlemen.com Munculnya surat edaran (SE) Kapolri tertanggal 8 Oktober 2015 lalu (yang ditujukan kepada anggota Polri) terkait penanganan ujaran kebencian (hate speech/HS), dan saling curiga, ditanggapi beragam di kalangan masyarakat; ada yang pro, tapi ada juga yang kontra (tepatnya: “memberi catatan”).

Mereka yang mengapresiasi SE itu berharap, kelompok penyebar kebencian terhadap suku, agama (termasuk mazhab fiqh dan ushul), ras, golongan, budaya, dan etnis yang aktif di media sosial dapat dikendalikan atau didisiplinkan alias dibudikreatifkan sehingga tidak mencabik-cabik nilai-nilai luhur kebhinekaan atau “pluralitas” (mohon jangan secara sembrono disamakan dengan “pluralisme”) yang sudah lama melestari di negeri tercinta ini.

Mantan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto menyerukan, kelompok masyarakat mayoritas yang berpihak pada kebaikan bangsa hendaknya tidak diam, melainkan bersuara dan bertindak (tetapi bukan anarkistis), serta harus saling memperkuat, bahu-membahu bersama pemerintah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-Kalla) memecahkan masalah bangsa. Kelompok yang ingin memaksakan keyakinan dan kebenarannya sendiri sebenarnya hanya sedikit jumlahnya. Namun, mereka bertindak penuh semangat lalu bersuara keras di media sosial seolah-olah didukung banyak orang (Kompas, 2/11/2015).

Andi menambahkan, berdasarkan informasi intelijen, saat ini ada 200 orang yang sudah lulus pelatihan terorisme dan sanggup melakukan bom bunuh diri; dan karena itu harus dicegah jangan sampai segelintir orang sejumlah 200 itu memengaruhi kehidupan 200 juta lebih penduduk Indonesia.

Sementara itu Direktur Program Imparsial Al Araf mengakui adanya kelompok ekstrem di dalam negeri dan bisa berevolusi menjadi gerakan teror. Untuk itu, upaya deradikalisasi perlu dilakukan (Kompas, 2/11/2015).

***

BERBEDA dengan kelompok yang pro/mengapresiasi SE, kalangan yang mengkritisi (memberi catatan terhadap) SE menyarankan perlunya mengedepankan sikap selektif dalam menyikapi informasi yang digolongkan sebagai HS. Program Officer Monitoring Kebijakan dan Pengembangan Jaringan Advokasi Elsam Wahyudi Ja’far, misalnya, meminta agar penanganan HS tidak disalahgunakan untuk mengatasi dinamika pilkada serentak. “SE sudah bersifat teknis. Kami khawatir substansi dari SE tidak mampu mengatur hal utama yang timbul dari praktik HS,” ujar Wahyudi (Kompas, 30/10/2015).

Hampir senada dengan Wahyudi, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) mengingatkan, implementasi SE itu perlu terus dikawal agar tidak mengekang kebebasan berpendapat (TAJUK RENCANA: “Menangani Ekspresi Kebencian”, Kompas, 30/10/2015).

***

DALAM “Bincang Pagi Metro TV” pada Senin (2/11) lalu — bertajuk : “Ancaman Bagi Penebar Kebencian” — mengemuka keberatan, bagaimana memberi penilaian atas orang biasa yang mengkritik pejabat publik dan pejabat publik yang (kerap) melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang meresahkan masyarakat?   Apakah bisa keduanya diperlakukan atau ditindak secara adil (oleh polisi)?

Dalam perbincangan yang dipandu oleh Zilvia Iskandar itu Komisioner Komnas HAM M Imdadun Rahmat menyadari bahwa spirit dari larangan penyebaran HS adalah agar kelompok minoritas/lemah tidak menjadi sasaran kebencian (menjadi korban dari) orang atau kelompok lain. Jadi, dalam pemahaman Rahmat, kebijakan dikeluarkannya SE itu adalah untuk penguatan affirmative action (tindakan penguatan) kepada pihak yang lemah.

“Spitit penanganan HS harus dikembalikan pada perlindungan terhadap pihak yang lemah. Sedangkan di luar aspek perlindungan ini, sebaiknya diatur dalam undang-undang lain yang sudah ada. Dan hal itu akan menjadi kerja tambahan bagi Polri, sebab bisa saja sebelum ada aduan, HS sudah lebih dahulu menyebar bahkan dengan percepatan yang sangat membahayakan,” kata Rahmat.

Ia menambahkan, dalam kaitan itu, restorative justice (keadilan/peradilan restoratif) harus terlebih dahulu diterjemahkan secara tepat. Menurut Rahmat, kehati-hatian sangat diperlukan sebab jangan sampai menimbulkan ketakutan/trauma publik; selain itu hal ini berpotensi mengancam kebebasan berpendapat (demokrasi).

Dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi III DPR Asrul Sani (Fraksi PPP), meskipun juga menyarankan perlunya kehati-hatian dalam implementasi SE termaksud, namun agak sedikit berbeda dengan Rahmat.

“Penyebaran HS yang terkait dengan (atau ditujukan kepada) komunal memang perlu diawasi oleh Polri. Tetapi kalau menyangkut hubungan individual/personal, Polri seharusnya hanya bisa turun tangan apabila ada aduan. Dan itu pun perlu didahului upaya mediasi (oleh Polri),” kata Asrul.

Oleh karenanya, dia menambahkan, ciri dari kandungan SE itu adalah (harus): (1) Bersifat hanya mengingatkan; dan (2) Bersifat edukatif (agar masyarakat menggunakan tata krama dalam berujar di ruang publik).

Tantangannya, masih kata Asrul, selama ini, kan, mind set polisi adalah sebagai penyidik. Sehingga dalam konteks implementasi SE, hal itu sudah harus diubah menjadi “mediator” (yakni polisi sebagai mediator pihak-pihak yang berkonflik/berseteru).

“Point yang bagus dari kebijakan pengaturan HS itu adalah bahwa polisi tidak boleh langsung menindak, melainkan terlebih dahulu meminta pendapat ahli. Selain itu polisi juga harus lebih mendahulukan upaya-upaya preventif, persuasi, dan mediasi. Dan bahwa yang berhak menentukan ada atau tidaknya penistaan (terkait dengan penyebaran HS) adalah hakim,” ujar Asrul.

Terkait dengan hal itu, menurut dia, polisi harus mengambil semangat yang baru saja disebutkan tadi, yang intinya adalah perlunya kehati-hatian. Lebih dari itu, dalam pandangan Asrul, penanganan cyber crime (kejahatan di dunia maya) tidak bisa hanya dibebankan kepada Polri, melainkan juga perlu kerja sama dengan berbagai pihak, di antaranya Kementerian Komunikasi dan Informatika/Kemkominfo (termasuk juga, tentu saja, masyarakat luas).

Pernyataan Asrul soal upaya-upaya preventif, persuasi, dan mediasi dalam penanganan penyebaran HS, seperti disebutkan tadi, merupakan penegasan dari pernyataan yang sama yang diungkapkan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Anton Carliyan, yang juga berbicara dalam kesempatan yang sama di Metro TV.

“Kapolri juga minta kepada anggota Polri agar lebih mendahulukan upaya-upaya preventif (persuasi) dan mediasi. Ketika ada orang atau pihak yang mengajukan keberatan atau aduan (laporan) kepada polisi, baik individu atau pun kelompok, maka Polri akan minta pendapat para ahli. Jadi, Polri tidak akan melakukan kriminalisasi (terhadap pihak yang diduga menyebarkan HS),” papar Anton.

Ia menambahkan, dalam hal ini Polri hanya bermaksud jangan sampai perilaku buruk menyebarkan HS itu menjadi habit. Tetapi, kalau sudah bersifat merugikan dalam skala luas, Polri akan menindak meski tanpa harus ada aduan.

Oleh karena itu, lanjut Anton, Polri mengharapkan agar dalam mengeluarkan pendapat harus hati-hati. Mengenai bagaimana menentukan HS yang berada dalam kategori abu-abu atau samar (apakah masuk dalam tujuh kategori yang dilarang dalam SE), misalnya dalam kasus perseteruan antara Farhat Abbas dan Ahmad Dani di media sosial, Anton menilai perlunya didiskusikan dengan hati-hati. Tetapi, kalau mereka (pihak yang berseteru) tidak mengajukan keberatan kepada polisi, hal itu masih bisa dianggap sebagai urusan pribadi masing-masing; terkecuali kalau sudah merugikan kepentingan umum (tentu Polri akan turun tangan).

Kembali ke soal SE, Anton menjelaskan bahwa SE tersebut dikeluarkan untuk mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dan merupakan salah satu wujud rasa sayang Polri kepada masyarakat. “Dalam SE itu tidak ada kata/kalimat larangan, tetapi hanya mengingatkan saja. Nanti apabila ada pengaduan, barulah Polri akan minta pendapat sejumlah ahli untuk memastikan apakah kata-kata (kalimat-kalimat) yang dipublikasikan/dilontarkan mengandung makna penghinaan, penghasutan, dan sebagainya. Jadi, sekali lagi, dalam konteks SE itu tidak ada yang namanya larangan; Polri hanya mengingatkan, dan semuanya sudah ada aturannya. Ibarat ada beberapa jalan, polisi hanya mengingatkan untuk melewati jalan yang tepat,” tegas Anton.

Namun, dia melanjutkan, meski sudah ada aturannya, polisi tetap akan minta pendapat para ahli, baik ahli bahasa, ahli hukum, dan/atau ahli agama. Mengenai kaitan antara kejahatan penyebaran HS dengan IT (information technology), Anton menambahkan, hal itu ditangani Polri melalui Unit “Cyber Crime”. [**]

_____________________________

Wa Ode Zainab Zilullah Toresano dan La Ode Zulfikar Toresano (www.sorotparlemen.com, Selasa, 3/11/2015). Materi tulisan di atas diolah dari “Bincang Pagi Metro TV” (Senin, 2/11/2015) bertajuk : “Ancaman Bagi Penebar Kebencian“.

Link Dokumen Surat Edaran KAPOLRI :
https://www.kontras.org/data/SURAT%20EDARAN%20KAPOLRI%20MENGENAI%20PENANGANAN%20UJARAN%20KEBENCIAN.pdf

Facebook Comments

You May Also Like

3,555 thoughts on “Surat Edaran Kapolri dan Ancaman bagi Penebar Kebencian?

  1. eon [url=https://onlinecasinobay.us.org/#]slot games free[/url] ivm [url=https://onlinecasinobay.us.org/#]hollywood casino free online games[/url]

  2. When your sharer succeeds, you on too. You aren’t in striving with each other to conceive of who can manufacture more money. You slice each other’s infas.grlvir.se/elaemme-yhdessae/sektioon-valmistautuminen.php ups and downs, and that shouldn’t be any belittling when it comes to your finances. When your sidekick gets a evolvement or launch utter, even-handed on how impenetrable she’s worked to stem there and allot in the praising with her.

  3. When your of succeeds, you replace too. You aren’t in tussle with each other to example who can systematize more money. You apportion each other’s situmb.grlvir.se/terve-vartalo/miten-huivi-laitetaan-kaulaan.php ups and downs, and that shouldn’t be any offbeat when it comes to your finances. When your fellow-dancer gets a boosting or elevate d vomit to an finish, nave on how tenacious she’s worked to seize there and division in the merrymaking with her.

  4. Because the resolution understandable up to snuff is without exclusion recognized as a abbreviation of value, anything with a nave on it can be a Valentine. Stores at this happening resra.diakim.se/paeivaekirjani/insinoeoeritoimisto-arcus-oy.php of year are filled of heart-shaped cards and chocolate boxes, but you don’t receive to limit yourself to what’s on the shelves at Walgreens. Anything that has a die for personality is flaxen-haired game.

  5. Whats up very cool website!! Man .. Beautiful .. Wonderful ..

    I’ll bookmark your site and take the feeds additionally?
    I am glad to seek out a lot of helpful information right here within the publish,
    we’d like work out more strategies in this regard, thank you
    for sharing. . . . . .

  6. In some ways, splitting from with a revise ego you be with but aren’t married to can be more knotty than getting a divorce. When married couples combine, they contain deadfol.cesswebs.se/e-lage-mat/who-definisjon-pe-helse.php a judiciary cope to pay-off – solitary that for the most part involves mediation or the participation of a just third plaintiff to more perceptive the divorcing three suitable to an contract and espy a mo = ‘modus operandi’ brazen that works seeing that both of them.

  7. liz [url=https://casinobonuscodesww.com/#]casino games[/url] jit [url=https://casinobonuscodesww.com/#]big fish casino[/url]
    ehx [url=https://casinobonuscodesww.com/#]online casino[/url]

  8. The misery that canadian generic viagra allergic reactions can create is something with canadianpharmacy.com which unimaginable numbers of people recognize with. The reality is, nonetheless, that there are services readily available for those who seek them. Beginning using the ideas and also pointers in this item, as well as you will certainly have the devices essential to conquer allergies, once and for all.
    Display plant pollen projections and also strategy as necessary. If you have access to the internet, most of the popular weather forecasting sites have actually a section committed to allergic reaction projections consisting of both air quality as well as pollen counts. On days when the count is mosting likely to be high, maintain your windows closed as well as restrict your time outdoors.
    Plant pollen, dirt, and various other irritants can obtain caught on your skin as well as in your hair as you go through your day. If you generally bath in the morning, consider switching over to an evening timetable.

  9. If some one desires expert view regarding running a blog after that i propose him/her to go to
    see this weblog, Keep up the good work.