Unjuk Rasa Massal Anti-Pemerintah di Thailand

JAKARTA, www.sorotparlemen.com, 14/10/2020 — Hari ini (Rabu, 14/10) ribuan pengunjuk rasa turun ke sejumlah jalan di ibu kota Thailand, Bangkok. Demonstrasi tersebut bergerak ke pusat aktifitas pemerintahan dengan menyerukan perombakan kabinet dan menuntut agar Perdana Menteri Prayuth Chan-o-cha mundur dari jabatan.

Sumber Video: Press-TV.

Foto 1 (Demonstrasi anti-pemerintah di Bangkok. Foto : Reuters).

Awalnya para demonstran berkumpul di Monumen Demokrasi (MD), Bangkok, yang selama berbulan-bulan dijadikan tempat berkumpul untuk memprotes kebijakan pemerintah. Para demonstran itu mengacungkan tiga jari sebagai simbol protes.

“Lenyapkan kediktatoran! Tegakkan demokrasi!” pekik para demonstran seraya bernyayi saat bergerak dari MD menuju rumah jabatan Perdana Menteri. Unjuk rasa kali ini merupakan rangkaian dari protes yang sudah berlangsung selama tiga bulan.

Sehari sebelumnya (13/10), tidak jauh dari MD, sekelompok royalis pendukung pemerintah dan monarki juga melakukan aksi kumpul-kumpul.

https://cdn.presstv.com/Photo/2020/10/14/811ad03b-ab3c-41f6-a2c7-158c604d7ab7.jpg
Foto 2 (Demonstrasi anti-pemerintah di Bangkok. Foto : Reuters).

Meski singkat, tetapi sempat terjadi bentrokan fisik di antara dua kubu yang sama-sama mengenakan balutan warna kuning kerajaan. Beruntung polisi segera melerai.

Bentrokan jalanan seperti itu sungguh memprihatinkan, terlebih lagi karena ia berulang hampir satu dekade terakhir, sejak sebelum kudeta tahun 2014.

https://cdn.presstv.com/Photo/2020/10/14/62d64df6-7afa-4d5a-80e4-7b4fac27d179.jpg

Foto 3 (Demonstran anti-pemerintah bentrok dengan sekelompok royalis. Foto : Reuters).

Pemimpin kelompok royalis Buddha Issara menyatakan, pengunjuk rasa boleh menuntut penerapan demokrasi, tetapi tidak boleh menuntut reformasi monarki.

“Mereka tidak boleh mengusik sistem monarki,” ujarnya. “Kami tidak bisa menerima ejekan atau sekadar mengacungkan tiga atau empat jari, bahkan saat kami berada dalam iring-iringan mobil.”

Tetapi, Anon Nampa, pemimpin demonstran, menyatakan, mereka memprotes “untuk mereformasi institusi/sistem demi perbaikan bangsa (negara)”.

Ia menyerukan, “waspada dengan kemungkinan munculnya provokasi, hindarilah bentrokan fisik!”

“Kami tidak ingin bentrok dengan siapa pun (atau pihak mana pun),” tambahnya.

Pengunjuk rasa menyerukan pembubaran pemerintahan Prayuth, lakukan amandemen konstitusi yang telah membuat pemimpin kudeta itu mempertahankan kekuasaannya dalam pemilihan tahun lalu, kemudian akhiri pembungkaman atas para pengkritik dan kelompok oposisi.

Pada hari Selasa kemarin (13/10), pengunjuk rasa meneriakkan protes seraya memberikan salam hormat dengan mengacungkan tiga jari kepada Raja Maha Vajiralongkorn, yang berada dalam konvoi kendaraan. Sebuah kesempatan yang jarang terjadi.

https://cdn.presstv.com/Photo/2020/9/19/47e4a08e-e51a-4452-96e8-5d7fa5d480dd.jpg

Foto 4 (Pengunjuk rasa inginkan Perdana Menteri segera meletakkan jabatan. “Ganyang feodalisme; jayalah rakyat!” Demikian antara lain slogan yang diteriakkan oleh para pemrotes).

Demonstrasi tersebut dikawal oleh 15.000 polisi, dan pada hari Selasa (13/10) diamankan 21 orang untuk kemudian didakwa dengan undang-undang ketertiban umum.

Pada siang harinya (Selasa, 13/10) terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dengan polisi, karena polisi mencoba menghalau para demonstran yang tetap berada di MD dan juga menyingkirkan objek-objek barikade yang mereka (demonstran) pasang.

Juru bicara pemerintah, Anucha Burapachaisri, mengatakan, polisi berusaha semaksimal mungkin menghindari terjadinya bentrokan.

Pada demontrasi terbesar ini, puluhan ribu orang berkumpul di Bangkok sejak 19 September dengan menyerukan agar Perdana Menteri segera mundur.

Perisitiwa tersebut, yang diadakan terkait dengan peringatan kudeta militer tahun 2006 atas Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, sungguh merupakan momentum untuk membangun demokrasi dan mereformasi sistem monarki yang demikian mengakar.

Demontrasi pada hari Rabu (14/10) itu juga dalam rangka memperingati ulang tahun ke-47 aksi mahasiswa (14 Oktober 1973) dalam melawan kediktatoran militer, di mana pada saat itu ada 77 orang yang gugur. [**]


Diterjemahkan oleh La Ode Zulfikar Toresano (www.sorotparlemen.com/WSPC) dari https://www.presstv.com/Detail/2020/10/14/636359/Mass-anti-government-rally-kicks-off-in-Thailand

Images Sources:

https://cdn.presstv.com/Photo/2020/10/14/811ad03b-ab3c-41f6-a2c7-158c604d7ab7.jpg
https://cdn.presstv.com/Photo/2020/10/14/62d64df6-7afa-4d5a-80e4-7b4fac27d179.jpg
https://cdn.presstv.com/Photo/2020/9/19/47e4a08e-e51a-4452-96e8-5d7fa5d480dd.jpg
Facebook Comments

You May Also Like