Wacana Koalisi dan Capres-Cawapres di Seputar Partai Amanat Nasional / PAN (Seri 2)

Oleh BUTONet 2

PANKaderProf Asep Warlan Yusuf (Pengamat Politik Universitas Parahyangan, Bandung):

Pertemuan antara Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum DPP Partai Hanura Wiranto — dua hari yang lalu di kediaman Wiranto — sangat mungkin berujung pada koalisi kedua partai. Tapi, untuk menduetkan Prabowo-Wiranto, tidak mungkin terjadi.

Menduetkan capres-cawapres yang dua-duanya dari tentara agak susah. Resistensi dan penolakannya akan besar. Akan banyak black campaign juga.

Jadi, andaipun berkoalisi, cawapres bukan Wiranto. Apalagi, penggabungan Gerindra-Hanura belum cukup untuk mengajukan capres-cawapres. Untuk mengusung Prabowo sebagai capres mungkin akan dicari dari dua partai lain yang saat ini didekati Gerindra, yaitu PAN dan PPP.

Wiranto juga akan sangat menerima skenario itu. Wiranto juga sadar diri. Apalagi partainya cuma meraih 5 persen suara. Dia mungkin hanya ingin tampil untuk mendorong, tidak untuk maju cawapres (Rakyat Merdeka Online, Sabtu, 26/4/2014).

____________________________________________________________ 

Hatta Rajasa [Ketua Umum PAN]:

Bisa saja ada pembentukan poros alternatif (koalisi partai-partai politik), seperti yang diusulkan Pak SBY (Ketua Umum Partai Demokrat), dan natinya memunculkan tokoh baru (Kompas, 29/4/2014).

____________________________________________________________

Sjarifuddin Hasan (Ketua Harian Partai Demokrat):

Sampai sekarang Partai Demokrat masih menjalin komunikasi politik. Keputusan berkoalisi atau tidak, kemudian partai-partai mana yang akan diajak berkoalisi, sepenuhnya menjadi keputusan Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Jadi jangankan memilih orang untuk dijadikan capres atau cawapres, memilih mitra koalisi saja masih dalam penggodokan. Kalau sekarang ini berkembang isu duet nama capres dan cawapres yang bakal diusung Partai Demokrat, semua itu jangan-jangan hanya bikinan media. [Ini merupakan bantahan Sjarifuddin atas isu yang berkembang bahwa Partai Demokrat akan membentuk poros baru dengan mengusung capres Mahfud MD (PKB) dan cawapres Hatta Rajasa (PAN)] — Kompas, 30/4/2014.

____________________________________________________________ 

Suhardi [Ketua Umum DPP Partai Gerindra;Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta itu]:

Dalam waktu dekat ini bakal ada sebuah kabar baik terkait koalisi. Kelihatannya sudah tampak semakin bagus, kedekatannya sudah sangat tinggi.

Petinggi Partai Gerindra secara intensif melakukan diskusi dengan PKS dan PAN. Hanya saja, hingga kini belum ada langkah pembicaraan terkait posisi calon wakil presiden (cawapres). Meski PKS berpeluang menyodorkan Anis Matta dan PAN memiliki Hatta Rajasa, pendamping Prabowo akan diputuskan bersama.

Saya sangat yakin banyak partai yang akan merapat ke Gerindra. Selain PKS dan PAN, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Hanura, serta Partai Golkar juga masih bisa bergabung. Karena itu, figur cawapres yang diusung nantinya merupakan pilihan bersama mitra koalisi.

Pertemuan sudah sangat sering, dari berbagai level. Belum bicara soal cawapres.

Kami tidak khawatir dengan peluang pencapresan Prabowo karena masih ada waktu. Kami tidak akan terburu-buru untuk mendaftarkan diri ke KPU. Kami juga tidak khawatir dengan wacana poros keempat yang digawangi Partai Demokrat. Menurut kami, partai yang disebut bakal merapat ke Demokrat memiliki kedekatan dengan Gerindra.

Atas dasar itu, kami yakin tiket pendaftaran Prabowo tidak akan terancam. Kalaupun gagal menggandeng banyak partai, koalisi dengan satu partai juga sudah lebih dari memenuhi persyaratan. PAN saja sudah cukup, PKS cukup, apalagi kedua-duanya dari segi kursi. Saya optimistis (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 02/5/2014).

____________________________________________________________________

Fadli Zon (Wakil Ketua Umum Partai Gerindra):

Saya sangat yakin, peluang Partai Gerindra menggandeng tiga partai politik (parpol) berbasis massa Islam itu dapat terwujud. Ini semuanya proses. Pembicaraan itu (soal peluang Partai Gerindra menggandeng tiga parpol berbasis massa Islam: PAN, PKS, dan PPP untuk berkoalisi) berlangsung setiap hari. Jadi, tidak harus selalu diberitakan.

Partai Gerindra tidak sedang tersandera lantaran belum memenuhi persyaratan 20 persen kursi DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Proses pendekatan terus dikomunikasikan untuk mencapai kesepakatan resmi. Karena itu, salah besar kalau sejumlah pengamat menilai Gerindra tersandera karena tidak ada parpol lain yang mendekat.

Tiga parpol berbasis massa Islam juga tidak sedang memposisikan diri dalam artian jual mahal. Kami menghormati setiap mekanisme internal calon mitra koalisi sebelum mengambil keputusan. Karena itu, kami tidak melihat ada upaya bagi PKS, PAN, dan PPP untuk berpaling.

Bahkan, proses penjajakan bisa dilanjutkan untuk menggandeng Partai Golkar dan Partai Hanura. Sama PPP kita saja tetap optimis. PAN, PKS juga lah. Rencana ada tiga parpol yang kita usahakan bicara finalisasi itu (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 02/5/2014).

____________________________________________________________ 

Hatta Rajasa (Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional / PAN):

PAN telah berkomunikasi dengan Partai Gerindra. Komunikasi dengan Partai Gerindra jalan, komunikasi dengan PDI-P juga tetap jalan, tapi komunikasi yang intens dengan Gerindra. Semuanya masih sedang dalam proses. Yang jelas, komunikasi kami intesif, tapi bentuknya nanti saja (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 03/5/2014).
__________________________________________________________________

Hatta Rajasa / Ketua Umum DPP PAN (Dalam seminar yang juga dihadiri Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa dan Kepala Badan Standarisasi Nasional Prof Bambang Prasetyo, Hatta menyampaikan pentingnya sentuhan teknologi dalam perekonomian):

Ke depan, sentuhan teknologi dalam perekonomian sangat penting, karena itu saya dukung Unair (Universitas Airlangga) dalam mengembangkan inovasi. Teknologi itu kata kunci dalam strategi ke depan.

Contohnya dengan sentuhan teknologi membuat bahan mentah memiliki nilai tambah hingga 3-4 kali lipat. Karena itu, saya hentikan ekspor bahan mentah, di antaranya bauksit dari Kalimantan dan Sumatera yang selama ini dieskpor ke China. Ternyata di China justru digarap insinyur dan dijual lagi dengan harga berlipat-lipat.

Oleh karena itu, ekspor bahan mentah bauksit ke China dihentikan, lalu “proses sendiri” itu pun dikembangkan bukan hanya pada bauksit, melainkan juga nikel, bijih besi, karet, dan sebagainya.

Ada tekanan dari banyak negara yang memprotes kita, tapi kita konsisten, karena kalau kita biarkan ekspor bahan mentah, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa.

Selain teknologi, hal lain yang juga penting adalah pengembangan infrastruktur dan upaya menekan ongkos logistik dari 14,08 persen ke 10 persen pada 2015 dan akhirnya tinggal 7 persen. Negara-negara tetangga kita sudah mencapai 7-10 persen. Caranya nanti akan kita dirikan depo-depo logistik di provinsi terdekat dan pusat-pusat pertumbuhan di beberapa provinsi, seperti industri gas di Papua (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 03/5/2014).

Catatan :

Dalam kesempatan seminar itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga meluncurkan program Edukasi Kewirausahaan Perempuan yang melibatkan Unair (Universitas Airlangga), Muslimat NU (Nahdlatul Ulama), dan Kementerian Perekonomian.

____________________________________________________________

Facebook Comments

Topik Tarkait

One thought on “Wacana Koalisi dan Capres-Cawapres di Seputar Partai Amanat Nasional / PAN (Seri 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

18 − 5 =