Wacana Koalisi dan Capres-Cawapres di Seputar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan / PDI-P (Seri 3)

Oleh BUTONet 2

jokowimegawatiSaiful Mujani Research & Consulting / SMRC:

Pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Mahfud MD lebih unggul dibandingkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla jika berhadapan dengan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa atau Prabowo-Ahmad Heriawan.

Pasangan Jokowi-Mahfud (47,6 persen) dan Prabowo-Hatta (27,4 persen), sedangkan Jokowi-JK (46,1) dan Prabowo-Hatta (28,5). Sementara itu, Jokowi-Mahfud (52,8) dan Prabowo-Ahmad Heriawan (32,8), Jokowi-JK (52,4) dan Prabowo-Ahmad Heriawan (32,4) Kompas, Jakarta, 5/5/2014.

Catatan:

Data-data di atas merupakan hasil survey SMRC, yang dipaparkan pada hari Minggu, 4 Mei 2014.

_____________________________________________________________________

Marwan Ja’far (Ketua DPP PKB):

Ada beberapa pesan penting untuk Jokowi dari KH Munif Zuhri(Ketua Dewan Syuro PKB)— saat Jokowi datang bersilaturahim ke KH Munif di Ponpes Giri Kusumo, Mranggen, Kabupaten Demak — bahwajika Pak Jokowi terpilih sebagai presiden nanti, kami minta menjaga ekonomi Indonesia supaya tidak berciri liberal. Ekonomi pasar jangan sampai mendominasi supaya tercipta kemakmuran rakyat.

Juga, semoga Pak Jokowi mampu meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa jika terpilih. Selain soal ekonomi, KH Munif, di antaranya mengamanatkan perlunya menyejahterakan tentara dan polisi, termasuk para veteran. Kemudian, supaya calon wakil presiden adalah tokoh yang kuat dalam penegakan hak asasi manusia dan hukum (Kompas, Jakarta, 5/5/2014).

_______________________________________________________________

KH Maimoen Zubair (Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan / PPP):

Menjaga keberagaman menjadi penting karena itu fondasi untuk menjaga keutuhan bangsa. Nasionalisme dan agama harus bersinergi. Tempatkan nilai-nilai agama dan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jaga keberagamaan, jaga hak pilih seseorang meyakini agama tertentu, jaga kehormatan manusia, jaga keturunan (regenerasi) bangsa Indonesia agar selalu peduli kerukunan (Kompas, Jakarta, 5/5/2014)..

Catatan:

Amanat tersebut disampaikan oleh KH Maimoen kepada Joko Widodo (Jokowi) apabila terpilih menjadi presiden. Jokowi datang bersilaturahim kepada KH Maimoen di Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pada Minggu, 4 April. Kunjungan itu merupakan salah satu rangkaian perjalanan Jokowi ke tokoh-tokoh Islam di Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

______________________________________________________________

KH Munif Zuhri (Ketua Dewan Syuro PKB):

(Jika Pak Jokowi terpilih sebagai presiden nanti) Kami minta menjaga ekonomi Indonesia supaya tidak berciri liberal. Ekonomi pasar jangan sampai mendominasi supaya tercipta kemakmuran rakyat.

Semoga Pak Jokowi mampu meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa jika terpilih (Kompas, Jakarta, 5/5/2014).

______________________________________________________________

Ari Dwipayana (Pengamat Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta):

Saya kira itu langkah cerdas (yakni keputusan Jokowi mengangkat Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa sebagai Juru Bicara Tim Kampanye Jokowi). Khofifah termasuk salah satu jaringan penentu dalam jejaring politik yang ada saat ini, seperti para kiai dan tokoh berpengaruh di kalangan Nahdliyin (Kompas, Jakarta, 5/5/2014).

______________________________________________________________

Yuddy Chrisnandi (Ketua DPP Partai Hanura):

Yang saya tahu, Wiranto sudah bertemu Ical (Aburizal Bakrie) dua kali, dan dari PDI-P sudah dua kali juga, yang satu dengan Jokowi dan satu lagi dengan Tjahjo Kumolo (Sekretaris Jenderal PDI-P).

Meski demikian, Hanura belum menjatuhkan putusan mengenai dukungan capres ataupun koalisi untuk pemilu presiden. Wiranto tidak ingin memutuskan sendiri sehingga harus dibicarakan terlebih dahulu di internal partai.

Keputusan mengundang jajaran pengurus dan pimpinan di daerah untuk mengikuti Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Hanura yang akan digelar hari Selasa (6/5) di Jakarta, agar ada kkesamaan sikap untuk pemilu presiden mendatang. Hanura secara kelembagaan dan Wirano sebagai ketua umum tidak ingin memunculkan keputusan yang tak sejalan dengan aspirasi dari daerah, yang justru berpotensi menimbulkan perpecahan.

Partai pemenang pemilu adalah PDI-P dan hingga saat ini capres yang berpeluang besar terpilih adalah Jokowi. Selain berpeluang besar terpilih, Jokowi sudah hamper pasti memilih cawapres, tidak seperti capres lainnya yang belum jelas pendampingnya siapa.

Dengan dasar semua itu, baik untuk masa depan Hanura jika berkoalisi dengan PDI-P dan mendukung Jokowi sebagai capres pada pemilu (pilpres) mendatang (KOMPAS, Jakarta, 5/5/2014).

______________________________________________________________

Lucius Karus (Pengamat Politik dari Forum Pemantau Parlemen Indonesia / Formappi):

Wacana menduetkan Puan Maharani dengan Joko Widodo bisa menjadi alternatif di antara nama-nama kandidat calon wakil presiden lainnya dari PDI-P.

Jika PDI-P nantinya memutuskan mengusung pasangan capres-cawapres dari internal partai, maka pasangan Jokowi-Puan Maharani bisa menjadi terobosan.

Jika Jokowi diduetkan dengan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDI Perjuangan Puan Maharani, maka pasangan tersebut merupakan gabungan dari dua karakter berbeda. Kelebihannya, pemilih yang pro kepada perubahan direpresentasikan melalui figur Jokowi dan sebaliknya pemilih tradisional yang merupakan pengagum Bung Karno direpresentasikan melalui figur Puan Maharani.

Pemilih tradisional ini masih memiliki memori kuat terhadap Bung Karno maupun ajarannya

Kelompok pemilih tradiosional ini masih suka dengan romantisme masa lalu dan jumlahnya cukup signifikan. Namun, dalam mengemas pasangan Jokowi-Puan ini harus dibingkai dalam strategi yang tepat sebagai pasangan inklusif untuk menarik simpati rakyat sebanyak mungkin.

Sebaliknya, jika persepsi yang muncul di publik adalah pasangan eksklusif, maka PDI-P dan pasangan capres-cawapres akan menjadi musuh bersama.

Jika hal ini sampai terjadi akan menjadi blunder bagi PDI-P karena partai pemenang pemilu itu belum tentu bisa meyakinkan partai yang menjadi mitra koalisinya. Padahal, PDI-P tanpa berkoalisi, tidak bisa mengusung pasangan capres-cawapres sendiri karena perolehan suaranya tidak memenuhi persyaratan “presidential threshold” (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 6/5/2014).

______________________________________________________________

Yunarto Wijaya (Pengamat Politik dari Charta Politika):
Nama calon pendamping Jokowi memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan. Di antara yang pas mendampingi Jokowi adalah Samad (Abraham Samad).

Kalau saya melihat sosok Jokowi dan Abraham Samad itu positif karena dianggap representatif dari tokoh yang berintegritas dan bersih. Mereka berdua juga tak punya masa lalu yang mencoreng nama mereka.

Kepribadian yang bersih memang melekat pada kedua tokoh itu. Ditinjau dari sisi integritas, Samad tidak perlu diragukan lagi.

Hal itu berbeda dengan JK yang memiliki beberapa catatan sebagai akibat berlatar belakang pengusaha. Mereka juga sama-sama tokoh muda. Dia bersih hingga jadi ketua KPK (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 6/5/2014).

Catatan :

Ketua KPK Abraham Samad tidak sengaja bertemu dengan capres PDI-P Jokowi di ruang VVIP Bandara Adi Sucipto, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akhir pekan lalu.

Isu Abraham Samad maju sebagai pendamping Jokowi pun mulai berembus. Nama Samad dinilai berpotensi mendampingi Jokowi di luar kandidat lain, seperti Jusuf Kalla, Mahfud MD, dan Ryamizard Ryacudu.
______________________________________________________________

Marwan Ja’far (Ketua DPP PKB; Ketua Fraksi PKB di DPR):

Secara de facto (faktual), kami (PKB dan PDI-P) sudah berkoalisi, tetapi secara de jure (hukum tertulis) belum karena tanda tangan juga belum. Kami akan bicarakan hal-hal teknis soal platform bersama dan detail format koalisi (Kompas, 6/5/2014).

______________________________________________________________

Joko Widodo / Jokowi (Calon Presiden dari PDI-P):

Tim (kampanye pemenangan presiden) sebentar lagi akan terbentuk. Kan gabungan, ada partai. Partai kan ada PDI Perjuangan, NasDem dan mungkin nanti tambah. Lalu ada relawan.

Kita tidak memiliki target tanggal berapa kampanye nasional itu harus dibentuk. Pembentukan tim kampanye nasional masih menunggu siapa cawapres yang akan terpilih. Wapresnya saja belum.

Belum ada keputusan mengenai siapa yang nantinya menjadi ketua tim kampanye pemenangan pemilu. [Seperti diberitakan TEMPO.CO (7/5/2014), mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono akan menjadi tim pemenangan pemilu presiden — Redaksi BUTONet 2]. Ketua tim kampanye nasional harus memiliki kemampuan organisasi yang baik. Bisa mengelola organisasi, tahu manajemen organisasi. Yang penting itu, dia harus bisa mengendalikan organisasi dalam waktu yang sangat pendek yaitu tiga bulan ini. Tim ketua kampanye nasional harus bisa mengendalikan tim relawan, tim cawapres, dan tim partai. Jadi tidak mudah untuk mengorganisasikan (TEMPO.CO, Jakarta, 7/5/2014).

Catatan :

Ketika ditanyai wartawan, apakah (Jokowi) pernah menemui Hendropriyono, Jokowi tidak membantah atau pun mengiyakan. Ia malah balik bertanya,”Untuk urusan apa?” seraya tersenyum.

Jokowi menyatakan hal di atas di Balai Kota Jakarta pada Selasa, 6 Mei 2014.
______________________________________________________________________

Joko Widodo / Jokowi (Calon Presiden dari PDI-P):

Latar belakang suku sebenarnya bukan menjadi faktor penentu dalam penentuan cawapres saya. Namanya tinggal diumumkan. Antara tanggal 9 sampai 14 Mei (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 7/5/2014).

Catatan :

Calon presiden dari PDI-P Joko Widodo (Jokowi) memberi isyarat bahwa calon wakil presidennya bakal berasal dari luar Pulau Jawa. Hal itu dia isyaratkan saat ditanya wartawan tentang calon wakil presiden yang akan mendampinginnya. “Saya dari mana?,” tanya Jokowi pada awak media. “Dari Solo, Jawa Tengah, Pak,” jawab para wartawan. “Ya, itu berarti dari luar (Jawa),” timpal Jokowi.

Namun, saat dikonfirmasi apakah sosok yang dimaksud adalah Jusuf Kalla, yang berasal dari Sulawesi, Jokowi hanya tertawa.

Nama mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla memang santer diberitakan sebagai salah satu kandidat terkuat cawapres Jokowi. Meski demikian, hingga kini, Jokowi belum mau mengumumkan sosok cawapresnya.

_________________________________________________________________

Yuddy Chrisnandi (Ketua DPP Partai Hanura):

Rapat pimpinan nasional Partai Hanura (Partai Hati Nurani Rakyat) mengerucutkan dua arah koalisi dalam pemilu presiden 2014, yakni ke kubu PDI Perjuangan (PDI-P) atau Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindra).

Kalau ditanyakan mana yang lebih kuat (arah dukungannya), saya rasa sama kuatnya. Sama-sama memiliki pandangan dan argumentasi untuk memilih dari keduanya.

Dua arah koalisi itu masih terus dikaji oleh Partai Hanura. Apalagi sudah diputuskan bahwa Hanura ingin menjadi partai pemerintah, tidak lagi menjadi oposisi seperti sebelumnya. Makanya, kami menyorot seperti apa kekuatan capres PDI-P Joko Widodo dan capres Hanura Prabowo Subianto.

Kami belum bisa memastikan apakah Partai Hanura bakal lebih condong ke Prabowo dibanding Jokowi. Namun, kami menyodorkan PDI-P sebagai rekan koalisi. Alasannya, PDI-P adalah pemenang pemilu legislatif versi perhitungan cepat. PDI-P juga memiliki calon presiden yang mendapat respons positif di masyarakat. Kalau saya berpandangan yang baik bagi Hanura ke depan ini tentu bergabung dengan PDI-P(TEMPO.CO, Jakarta, 7/5/2014).

Catatan:

Yuddy Chrisnandi mengungkapkan hal di atas di sela rapat pimpinan nasional Hanura di Sultan Hotel, Senayan, Selasa malam (6 Mei 2014). Lobi politik jelang pemilihan presiden cukup gencar dilakukan Hanura. Terakhir yang terdeteksi media adalah pertemuan antara Wiranto dan Prabowo Subianto. Sigi lembaga survei Saifulmujani Research & Consulting menyatakan sebanyak 50 persen pemilih Partai Hanura menjatuhkan pilihannya ke Prabowo Subianto. Sedangkan 36 persen responden memilih Joko Widodo.

______________________________________________________________________

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

thirteen + seventeen =