Wacana Koalisi dan Capres-Cawapres di Seputar Partai Demokrat (Seri 2)

Oleh BUTONet 2

koalisidemokratSusilo Bambang Yudhoyono / SBY (Ketua Umum Partai Demokrat):

Kalau memang Tuhan menakdirkan, saya bisa berkomunikasi baik dengan Ibu Megawati, itu bisa menjadi jalan bagaimana bangsa dan negara ini kita majukan bersama-sama. Tidak harus bersatu dalam satu kubu, tetapi paling tidak kita semua menyadari bahwa diperlukan kebersamaan dan kemitraan yang baik di antara elemen bangsa, di antara para pemimpin bangsa, untuk rakyat kita, dan untuk masa depan bangsa dan negara kita. [Ini diungkapkan SBY di kanal Youtube-nya, seperti dilihat Sabtu (26/4)] —Kompas, 27/4/2014.

_______________________________________________________________ 

Syarief Hasan (Ketua Harian Partai Demokrat):

Ada suara agar Partai Demokrat membentuk poros capres (calon presiden) sendiri atau poros keempat, ada yang ingin bergabung dengan salah satu poros, ada juga yang ingin menjadi oposisi. Dalam waktu tak lama lagi, SBY akan mengambil keputusan (Kompas, 27/4/2014).

_______________________________________________________________ 

Romahurmuziy (Sekretaris Jenderal PPP):

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) layak dicalonkan sebagai wakil presiden. Selain memiliki pengalaman di pemerintahan, elektabilitas SBY masih tinggi. Usulan ini dapat memecah kebuntuan para calon presiden (capres) memilih pasangan (Kompas, 27/4/2014).

_______________________________________________________________ 

Tjahjo Kumolo (Sekretaris Jenderal PDI-P):

Yang saya pahami [terkait dengan keinginan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertemu Megawati, seperti yang diberitakan Kompas, Minggu, 27/4/2014], Ibu Megawati merasa tidak ada masalah dengan Bapak SBY (Kompas, 29/4/2014).

_______________________________________________________________ 

Irman Gusman (Peserta Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat; Ketua Dewan Perwakilan Daerah):

Partai Demokrat juga masih mencoba membangun poros sendiri. Meski demikian, saya berharap PDI-P dan Demokrat dapat berkoalisi (Kompas, 29/4/2014).

_______________________________________________________________ 

Sjarifuddin Hasan (Ketua Harian Partai Demokrat):

Sampai sekarang Partai Demokrat masih menjalin komunikasi politik. Keputusan berkoalisi atau tidak, kemudian partai-partai mana yang akan diajak berkoalisi, sepenuhnya menjadi keputusan Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Jadi jangankan memilih orang untuk dijadikan capres atau cawapres, memilih mitra koalisi saja masih dalam penggodokan. Kalau sekarang ini berkembang isu duet nama capres dan cawapres yang bakal diusung Partai Demokrat, semua itu jangan-jangan hanya bikinan media. [Ini merupakan bantahan Sjarifuddin atas isu yang berkembang bahwa Partai Demokrat akan membentuk poros baru dengan mengusung capres Mahfud MD (PKB) dan cawapres Hatta Rajasa (PAN)] — Kompas, 30/4/2014.

_______________________________________________________________ 

Sjarifuddin Hasan (Ketua Harian Partai Demokrat):

Partai Demokrat sudah menyiapkan lima opsi guna menghadapi pertarungan pemilihan presiden (pilpres) 2014. Pertama, Partai Demokrat akan mengusung calon presiden (capres) sendiri. Ini salah satu opsi. Kita lihat nanti hasil konvensi.

Setelah mendapatkan hasil, Partai Demokrat tak serta-merta langsung mengusung pemenang konvensi. Partai Demokrat akan membandingkan elektabilitas sang pemenang dengan tiga kandidat capres dari partai lain. Kalau terlalu jauh, sulit. Kami tidak akan mencalonkan. Hasil konvensi rencananya akan diumumkan pada awal Mei nanti.

Opsi selanjutnya, Partai Demokrat menjalin koalisi dengan partai lainnya. Mungkin ke partai A, partai B, atau partai C.

Opsi ketiga, Partai Demokrat mengusung pemenang konvensi sebagai calon wakil presiden. Opsi keempat, kita jadi “Poros Tengah”. Jadi oposisi juga merupakan opsi.

Semua opsi tersebut, baru akan diputuskan pada awal Mei. Kita rapatkan di Majelis Tinggi (TEMPO.CO, Jakarta, 01/5/2014).

_______________________________________________________________ 

Hayono Isman (Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat):

Calon presiden dari Partai Demokrat akan ditentukan pekan depan. Partai masih menunggu hasil tiga lembaga survei terkait elektabilitas peserta konvensi calon presiden Demokrat yang akan keluar pekan depan. Kalau pemenang konvensi elektabilitasnya memenuhi angka yang ditargetkan Ketua Umum, pasti langsung menjadi calon presiden.

Angka yang ditargetkan hanya Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saja yang tahu. Pastinya, indikator besaran angka target SBY itu minimal harus berhasil masuk pemilihan presiden putaran kedua. Pemenang konvensi tak akan menjadi calon presiden atau wakil presiden kalau hasil surveinya rendah.

Bila elektabilitas pemenang konvensi tinggi maka endorsement dari SBY semakin maksimal. Tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap SBY akan tak bisa digunakan kalau elektabilitas pemenang konvensi rendah.

Ihwal koalisi, Partai Demokrat akan gencar melakukan komunikasi politik setelah hasil survei konvensi keluar. Sebelum itu, komunikasi politik yang dilakukan oleh kader partai hanya bersifat informal alias belum resmi.

Kami tak khawatir ketinggalan dari partai lain meski komunikasi politik yang dilakukan Demokrat baru akan dilakukan pekan depan. Karena sampai sekarang belum ada calon presiden dari partai lain yang sudah aman — (TEMPO.CO, Jakarta, 01/5/2014).

_______________________________________________________________

Susilo Bambang Yudhoyono / SBY (Ketua Umum Partai Demokrat; Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat):

Kami memastikan pelaksanaan konvensi calon presiden yang digelar Partai Demokrat akan tetap dilanjutkan hingga didapatkan pemenangnya
(TEMPO.CO, Jakarta, 01/5/2014).

_______________________________________________________________ 

Pramono Edhie Wibowo (Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat):

Saya meminta Nahdlatul Ulama (NU) mengevaluasi anjloknya suara Partai Demokrat di kantong-kantong NU pada pemilu legislatif lalu. Jawaban dari Said (KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU) adalah pentingnya semua pihak untuk terus menjaga komunikasi dengan warga NU (Kompas, 2/5/2014).

Catatan :

Pramono menyampaikan hal itu usai bertemu dengan KH Said Aqil Siroj di Kantor Pusat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Rabu lalu (30/4).

_______________________________________________________________ 

Max Sopacua (Wakil Ketua Umum Partai Demokrat):

Partai Demokrat tengah bersabar untuk melihat peta koalisi yang ada. Demokrat tak takut tertinggal karena hingga kini belum ada bentuk koalisi pasti, kecuali PDI-P dan NasDem.

Kami tidak khawatir, sampai sekarang belum ada koalisi yang pasti kecuali PDI-P dan NasDem. Komunikasi kami dengan partai lain juga jalan terus, tapi kami menunggu hasil konvensi.

Saat ini Partai Demokrat memiliki tiga opsi, yaitu membuat poros baru dengan mengajukan capres hasil konvensi, mendorong capres lain, atau menjadi oposisi. Belum ada keputusan apa pun dari tiga opsi yang ada.

Untuk merumuskan sikap Partai Demokrat, Majelis Tinggi akan menggelar rapat pada akhir pekan ini atau akhir pekan minggu depan. Hasil keputusan Majelis Tinggi itu akan memberikan titik terang tentang posisi Partai Demokrat selama ini yang terkesan misterius (KOMPAS.com, Jakarta, 3/5/2014).

Catatan :

Berdasarkan hasil Hitung Cepat Kompas, Partai Demokrat berada di peringkat keempat dengan perolehan suara 9,43 persen. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mendapat posisi teratas dengan 19,24 persen, Partai Golkar 15,01 persen, dan Partai Gerindra 11,77 persen.

Partai Demokrat sejak tahun 2013 lalu juga sudah menyelenggarakan konvensi capres yang mengikutsertakan 11 peserta dari berbagai latar belakang. Konvensi sudah mencapai akhir.

Kini semua peserta konvensi tengah disurvei oleh tiga lembaga. Hasil survei elektabilitas itu akan jadi tolok ukur utama dalam menentukan pemenang konvensi pada tanggal 5 Mei mendatang.

Namun, Partai Demokrat juga akan membandingkan elektabilitas pemenang konvensi dengan capres dari partai lain. Jika dianggap tidak menjanjikan, pemenang konvensi bisa saja dijadikan calon wakil presiden.

_______________________________________________________________

Pramono Edhie W (Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat):

Peta dukungan terhadap sejumlah kandidat capres saat ini justru tidak bertambah jelas. Kondisinya masih sangat cair sehingga ada peluang besar untuk terbentuk poros baru.

Keputusan untuk membentuk poros baru adalah hak Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) —Kompas, 3/5/2014.

_____________________________________________________________________

Philips J Vermonte [Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS)]:

Partai Demokrat tak akan berani beroposisi. Saat Demokrat dibentuk, partai ini langsung berkuasa hingga 10 tahun. Apakah Partai Demokrat punya stamina untuk jadi oposisi? Apa mereka punya keberanian?  Saya rasa tidak.

Demokrat akan tetap melakukan koalisi dengan pemerintahan yang terpilih. Saat ini, Demokrat bisa saja mengambil pilihan membentuk poros baru atau bergabung ke poros yang sudah ada. Namun setelah ada presiden terpilih, Demokrat bisa merapat ke poros kekuasaan itu.

Jika Jokowi yang terpilih sebagai presiden, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono berpotensi menjalin komunikasi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang sudah lama merenggang. Hubungan SBY dan Megawati dianggap akan lebih cair setelah presiden terpilih diketahui.

Demokrat membutuhkan PDI-P dan sebaliknya. Tinggal di internal PDI-P ini apakah mau mengajak banyak partai ke dalam pemerintahannya atau tetap konsisten dengan koalisi yang sedikit partai. Bentuk koalisi aslinya baru akan diketahui setelah presiden terpilih (KOMPAS.com, Jakarta, 3/5/2014).

Catatan :

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sempat menyatakan bahwa Demokrat juga siap untuk menjadi oposisi. Seperti diberitakan, Partai Demokrat sudah mengakui kekalahannya pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 kali ini. Ke depan, Partai Demokrat pun tak lagi bersikeras untuk tetap mengusung calon presiden. Partai pemenang Pemilu 2009 itu bahkan menyatakan diri siap menjadi oposisi (KOMPAS.com, Jakarta, 3/5/2014).

______________________________________________________________________

Andi Nurpati [Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat; mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU)]:

Tidak masalah buat kami (untuk jadi oposisi). Berbuat untuk masyarakat tidak harus ada dalam koalisi. Oleh karena itu, Partai Demokrat tidak ada salahnya berpeluang juga menjadi oposisi.

Meskipun demikian, Partai Demokrat masih tetap berusaha membangun koalisi. SBY, juga akan mulai menjalin komunikasi politik dengan pimpinan partai-partai lain.   Sekarang tidak ada partai yang suaranya dominan (KOMPAS.com , Jakarta, 3/5/2014).

_______________________________________________________________ 

Tifatul Sembiring (Politisi Partai Keadilan Sejahtera; Menteri Komunikasi dan Informatika):

Kemajuan di bidang IT (Information Technology) adalah salah satu dalam program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) dalam bidang connectivity.

“Semangka muda dicicipi kelinci. Semoga kita berkoalisi lagi”.
(KOMPAS.com, Jakarta, 4/5/2014).

Catatan :

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dikenal gemar melontarkan pantun yang membuat banyak orang tertawa saat berbicara di depan umum.

Pantun berbau politis yang diucapkannya secara spontan seperti di atas (yakni : “Semangka muda dicicipi kelinci. Semoga kita berkoalisi lagi”) — saat memberikan sambutan di sebuah acara peluncuran identitas baru stasiun televisi swasta, Sabtu (3/5/2014) malam — mampu membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpingkal mendengarnya. Awalnya, Tifatul didaulat memberikan sambutan soal kemajuan perkembangan teknologi pertelevisian di Indonesia. Secara panjang lebar ia menjabarkan capaian pemerintahan di bawah kepemimpinan SBY-Boediono di bidang teknologi informasi atau information technology (IT).

Beberapa hal yang disorotnya seperti program desa berdering, penetrasi internet ke desa melalui program PLIK/MPLIK (Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan), bisnis IT yang omsetnya mencapai Rp 400 triliun, efektivitas pemblokiran konten negatif di internet yang mencapai 1 juta situs, dan jumlah ponsel yang beredar mencapai 250 juta.

Indikator-indikator itu diklaim Tifatul sebagai betapa pesatnya kemajuan masyarakat Indonesia di bidang IT.

Saat menutup sambutannya, Tifatul pun tak lupa memberikan dua buah pantun seperti dikutib di atas. Lucunya, pantun ini bernuansa “politis” dan jauh sekali di luar konteks sambutan Tifatul.

Tentu saja pantun tersebut sontak membuat hadirin tertawa,   tidak terkecuali Presiden SBY (yang tertawa lepas). Selain SBY, Ibu Negara Ani Yudhoyono pun tak kuasa menahan tawanya. Dia juga menyikut SBY dan tertawa   geli atas ulah Tifatul itu.

_____________________________________________________________________

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 × 2 =