Wacana Koalisi dan Capres-Cawapres di Seputar Partai Demokrat (Seri 4)

Oleh BUTONet 2

demokratkoalisiAdi Suryadi Culla (Pengamat Politik; Dosen FISIP Universitas Hasnuddin):

Partai-partai yang sudah merapat ke Prabowo Subianto bisa menjaga jarak gara-gara pernyataan SBY itu (yakni pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono / SBY di Youtube soal capres berbahaya yang mengumbar isu nasionalisasi. Karena peringatan SBY tersebut ditengarai ditujukan kepada capres Partai Gerindra, Prabowo Subianto). Bisa-bisa, tidak ada yang mau berkoalisi (dengan Partai Gerindra) yang menyebabkan Prabowo gagal nyapres.

Saya melihat, partai lain akan tercerah dengan pernyataan SBY. Sebab, memang betul pernyataan (nasionalisasi) Prabowo itu sangat bahaya dan fatal. Nasionalisasi aset-aset asing, kan ideologi sosialis. Mana ada partai di Indonesia yang mau disebut sosialis.

Saya menduga, Prabowo sebenarnya tidak berpikir seekstrem itu, yakni menasionalisasi semua perusahaan asing. Mungkin waktu itu Prabowo split. Karena terlalu semangat, jadi tidak terkontrol. Tapi, karena itu sudah terucap, maka Prabowo harus menyampaikan klarifikasi. Karena ini bisa menyebabkan dia kesulitan cari teman koalisi.

(RMOL / Rakyat Merdeka Online, 8/5/2014).

_______________________________________________________________

Fadli Zon (Wakil Ketua Umum Partai Gerindra):

Beberapa hari lalu ada pertemuan antara Prabowo dan Hatta Rajasa untuk membahas platform dan persiapan koalisi. Termasuk pembicaraan tentang cawapres. Selain dengan Partai Golkar dan PAN, selama ini Partai Gerindra juga melakukan pembicaraan intensif dengan PKS, Hanura, Golkar, dan PPP. Dengan Partai Demokrat juga akan segera bertemu (KOMPAS, 8/5/2014).

______________________________________________________________

Saleh Husin (Ketua DPP Partai Hanura):

Pada kesempatan (dalam Rapimnas) memberikan masukan terkait arah koalisi Partai Hanura ke depan, pendapat para kader Hanura bervariasi. Ada yang meminta agar Hanura berkoalisi dengan PDI-P yang telah mengusung Joko Widodo sebagai capres, ada pula yang berharap Hanura berkoalisi dengan Gerindra yang mengusung Prabowo menjadi capres.

Ada pula kader yang meminta agar Hanura menanti langkah Partai Demokrat. Hal itu karena tidak tertutup kemungkinan Demokrat berkoalisi dengan sejumlah partai politik (parpol) yang telah menjadi mitra koalisi dalam lima tahun terakhir, untuk mengusung capres dan cawapres.

Selain itu, belum adanya cawapres yang ditetapkan para capres yang kini sudah ada juga menjadi salah satu pertimbangan. Belum tuntasnya hasil rekapitulasi suara oleh Komisi Pemilihan Umum pun menjadi pertimbangan lain(KOMPAS, 8/5/2014).

______________________________________________________________

Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo (Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat):

Saya ingin melihat lebih spesifik, entah masalah infrastruktur jalan, pelabuhan, hingga perizinan. Mengapa saya membutuhkan hal itu? Ini karena, meski menurut hitung cepat hanya mendapat sekitar 9,7 persen suara di pemilu legislatif, Partai Demokrat harus memberikan sumbangan pemikiran untuk membangun Indonesia ke depan.

Partai bisa member gagasan terbaiknya, baik dalam posisi di dalam maupun di luar pemerintahan. Bangsa Indonesia harus menunjukkkan kedewasaannya kepada dunia internasional. Apabila ada perbedaan pandangan, seharusnya mengetahui saluran aspirasi dan menunggu keputusan.

Di tangan kita rasa aman, nyaman, dan tenteram untuk membangun Indonesia ke depan. Kalau sudah aman dan nyaman, orang yang mau membuka usaha di Indonesia bisa merasakan kenyamanan.

Pedihnya kerusuhan 1998 harus menjadi pelajaran berharga. Kerusuhan hanya menciptakan ketidaknyamanan seluruh rakyat.

Sebelum pemilu legislatif, saya kerap menyatakan, mereka yang menang jangan sombong, sedangkan mereka yang kalah juga tidak marah. Semua harus siap menang dan siap kalah (KOMPAS, 9/5/2014).

Catatan :

Pramono menyatakan hal itu terkait dengan pertemuannya (secara tertutup) dengan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Susilo — beserta jajarannya — di kantor Kadin Indonesia di Jakarta, Kamis (8/5).

______________________________________________________________

Eriko Sotarduga (Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P):

PDI-P melihat adanya kecenderungan Partai Demokrat akan merapat ke partai pemenang pemilu setelah KPU (Komisi Pemilihan Umum) mengumumkan hasil akhir penghitungan suara. Kami tidak menampik kabar bahwa Partai Demokrat akan membuat poros baru. Hanya, poros ini cenderung memilih berkoalisi dengan partai pemenang pemilu. Demokrat bisa menjadi penentu. Mereka bisa membuat poros baru, dan poros ketiga ini akan merapat ke partai pemenang. Demokrat punya peranan penting.

Peluang berkoalisi dengan poros baru bentukan Partai Demokrat sangat terbuka. Koalisi dengan Demokrat bisa menjadi penentu kemenangan dalam pemilihan presiden. Menurut dia, selain memegang kunci koalisi poros ketiga, Partai Demokrat merupakan partai penguasa dan memiliki akses serta infrastruktur yang kuat. Bola ada di Demokrat. Biar bagaimanapun, dia adalah partai penguasa dengan infrastruktur yang kuat.

Tapi, koalisi dengan poros yang dibuat Demokrat masih menunggu hasil keputusan konvensi. PDI-P masih menunggu keputusan Partai Demokrat apakah akan mengusung capres atau cawapres. Kan sekarang kita juga belum tahu apakah mereka mengusung capres atau cawapres. Pergerakannya akan menarik dalam satu-dua hari ini.

Sebenarnya, untuk memenuhi syarat pengajuan Joko Widodo sebagai calon presiden, koalisi antara PDI-P, NasDem, dan PKB sudah cukup. Tapi, untuk mengamankan parlemen, PDI-P tentunya masih membuka pintu koalisi dengan poros ketiga yang mungkin akan dibangun Demokrat. Meski ada koalisi ramping, kita terbuka untuk koalisi dengan sebanyak mungkin partai (TEMPO.CO, Manado, 10/5/2014).

Catatan:

Eriko menyatakan hal itu di Hotel Swiss-Belhotel Maelosan, Manado, Sabtu, 9 Mei 2014.

Berdasarkan hasil akhir rekapitulasi KPU, PDI Perjuangan memperoleh suara terbanyak dengan 23.681.471 suara atau 18,95 persen. Partai Golongan Karya mengekor di tempat kedua dengan 18.432.312 suara atau 14,75 persen. Partai Gerakan Indonesia Raya memperoleh 14.760.371 suara atau 11,81 persen. Partai Demokrat menempati peringkat keempat dengan 12.728.913 suara atau 10,19 persen.

______________________________________________________________

Suaidi Marasabessy (Sekretaris Komite Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat / PD):

Tim audit konvensi capres sudah melaporkan (hasil konvensi capres PD yamh memasuki tahap terakhir hingga Minggu, 11 Mei), tapi hasilnya butuh penyempurnaan. Belum selesai. Mereka masih minta satu hari lagi. Menurut rencana, tim audit akan menyerahkannya kepada komite konvensi Senin ini.

Hasil tim audit ini akan dikonsultasikan dahulu kepada Majelis Tinggi PD. Setelah itu, sesuai tata tertib penyelenggaraan konvensi, hasil akhir akan diumumkan Komite Konvensi Capres PD. Namun, bisa saja Majelis Tinggi memiliki pertimbangan lain sehingga hasil diumumkan langsung oleh Ketua Majelis Tinggi PD Susilo Bambang Yudhoyono (KOMPAS, 12/5/2014).

______________________________________________________________

Marzuki Alie (Ketua DPR; Peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat / PD):

Menurut rencana, saya juga ingin mendorong agar hasil survei (elektabilitas 11 kandidat capres peserta konvensi) dibuka secara transparan. Pertimbangannya tiada lain asas transparansi(KOMPAS, 12/5/2014).

______________________________________________________________

Dahlan Iskan (Menteri BUMN; Peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat / PD):

Sejak awal, saya memang optimistis atas peluang pencapresan ini. Sejak awal, saya lebih menekankan sikap “menjemput takdir” sebagai capres. Namun, setelah proses berjalan, saya mengubah sikap menjadi “menunggu takdir” semata dari Partai Demokrat.

Sikap “menunggu takdir” bukan hanya sikap pribadi, melainkan juga bisa sebuah introspeksi bagi PD. Mengapa? PD masih menunggu hasil survei. Sementara partai lain sudah mencari mitra koalisi. Sikap “menunggu takdir” ini sangat jelas. Kalau tidak lekas membentuk koalisi, berarti PD juga tidak bisa memanfaatkan peluang untuk mengusung capres sendiri. Ujungnya, peserta konvensi yang harus “menunggu takdir”(KOMPAS, 12/5/2014).

______________________________________________________________

Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden Republik Indonesia):

Saya telah menerima pengajuan izin Jokowi, baik secara lisan maupun tertulis, terkait pencalonannya sebagai presiden. Secara resmi saya memberikan izin. Insya Allah, besok saya keluarkan izin tertulis. Sesuai peraturan perundang-indangan, Pak Jokowi berstatus nonaktif sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga KPU mengumumkan presiden terpilih (KOMPAS, 14/5/2014).

Catatan:

Terkait dengan pilpres, sebelum menerima Jokowi kemarin siang (13/5), Presiden SBY sempat memberikan komentar, “Kita serahkan kepada rakyat. Rakyat yang berdaulat”.

______________________________________________________________

Syarief Hasan (Ketua Harian Partai Demokrat):

(Soal koalisi) Masih ada opsi lain yang dapat dipilih oleh Partai Demokrat. Opsi itu bisa berupa bergabung dengan koalisi yang sudah terbentuk atau memilih berada di luar koalisi. Opsi yang akan dipilih Partai Demokrat akan diambil dalam rapat pimpinan nasional pada 18 Mei. Partai Demokrat sudah memiliki kalkulasi dalam hal ini(KOMPAS, 14/5/2014).

______________________________________________________________

Amir Syamsuddin (Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat):

Partai Demokrat bisa saja mengusung tokoh alternatif seperti Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X (KOMPAS, 14/5/2014).

Catatan:

Amir mengungkapkan hal itu seuasai mengikuti rapat Majelis Tinggi Partai Demokrat kemarin malam (13/5).

_______________________________________________________________

Idrus Marham (Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar):

Semua komunikasi politik Aburizal Bakrie (ARB) dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Golkar akan dilaporkan di Rapimnas, termasuk pertemuan terakhirnya yang cukup lama dengan Bu Mega (Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI-P).

Ada tiga agenda yang akan dibahas dan ditetapkan di Rapimnas. Pertama, menetapkan partai yang menjadi mitra koalisi Golkar. Kedua, menetapkan calon pasangan presiden dan calon wakil presiden. Ketiga, membicarakan strategi pemenangan pemilu presiden pada 9 Juli mendatang (KOMPAS, 16/5/2014).

Catatan:

Kamis siang (15/5), ARB berunding empat mata dengan Megawati Soekarnoputri di kediaman Megawati di Teuku Umar, Jakarta. Namun, ARB menegaskan, pertemuan itu belum berbuah kesepakatan.

Sehari sebelumnya, Rabu (14/5), ARB bertemu Presiden RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Selasa (13/5), ia bertemu Joko Widodo, calon presiden dari PDI-P.

Terkait peluang Golkar membentuk poros baru dengan partai lain, Idrus menepis hal itu. “Masa poros baru. Poros baru apa? Semua ini poros besar,” katanya.

________________________________________________________________

Suhardi (Ketua Umum Partai Gerindra):

Keputusan soal cawapres akan disampaikan pada Minggu (18/5). Pak Prabowo akan minta pendapat dari calon-calon koalisi Gerindra. Harapannya, apa yang dipikirkan Prabowo bisa klop dengan usulan partai koalisi.

Semoga,kelak, Prabowo akan didanpingi sosok yang berpengalaman dan bisa bekerja sama secara berkelanjutan.

Selama ini kita selalu mengalami pemerintahan yang terputus-putus. Jadi selalu bikin fondasi, tidak pernah naik ke level yang lebih tinggi. Tentu saja kalau Partai Demokrat bisa merapat dengan Gerindra, kita bisa ambil pengalaman-pengalamannya yang baik. Yang tidak baik tidak perlu dilanjutkan (KOMPAS, 16/5/2014).

________________________________________________________________

Amir Syamsuddin (Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat):

Manakala muncul wacana di survei, Sultan Hamengku Buwono X menempati ranking ketiga, dan yang belum menentukan sikap adalah 41 persen, saya kira hal ini patut dipertimbangkan (KOMPAS, 16/5/2014).

Catatan:

Sebagaimana diberitakan sejumlah media massa, Partai Demokrat mengusulkan Sultan Hamengku Buwono X dipertimbangkan untuk menjadi calon presiden alternatif. Ia dinilai memiliki elektabilitas yang bisa bersaing dengan dua capres yang sudah muncul sekarang.

Sultan sendiri mengaku belum tahu soal rencana Partai Demokrat mengusungnya sebagai calon presiden dalam pemilu mendatang. Ia mengaku belum berkomunikasi dengan Demokrat terkait wacana pencalonannya itu (KOMPAS, 16/5/2014).

_______________________________________________________________

Suntan Hamengku Buwono X (Gubernur DI Yogyakarta):

Belum tahu saya (soal isu pengusulan sebagai calon presiden oleh Partai Demokrat). Belum ada partai yang ketemu sama saya, kok. Kita lihat saja bersama-sama nanti perkembangannya bagaimana (KOMPAS, 16/5/2014).

____________________________________________________________

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 − one =