Wacana Koalisi dan Capres-Cawapres di Seputar Partai Gerakan Indonesia Raya / Partai Gerindra (Seri 1)

Oleh BUTONet 2

gerindraMuradi [Pengamat politik dari “Pusat Studi Politik dan Keamanan” Universitas Padjajaran]:

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan partai pertama yang diacak-acak Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo Subianto. Bila operasi merusak PPP ini berhasil, maka Prabowo pun akan langsung memburu partai lain, dan yang menjadi target berikutnya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Prediksi ini bisa dibaca karena kisruh PPP merupakan imbas kehadiran Suryadharma Ali dalam kampanye Partai Gerindra beberapa waktu lalu.

Ada empat alasan mengapa SDA (Surya Darma Ali, Ketua Umum PPP) berani datang ke acara Gerindra.

Pertama, SDA memprediksi suara PPP akan jeblok sehingga harus buru-buru mendekat kepada calon pemenang, yakni Gerindra.

Kedua, SDA membaca konstelasi di Gerindra, bahwa Prabowo pasti jadi presiden, dan menafikan keberadaan Jokowi.

Ketiga, ada akumulasi permasalahan di tubuh PPP, seperti perbenturan antara kubu Nahdatul Ulama (NU) dan Permusi yang selama ini memang saling menerkam.

Keempat, SDA menafikan ada poros lain di internal partainya yang juga kuat melihat bahwa Prabowo bukan lah calon pemimpin yang tepat untuk dipegang.

***

SDA berani mengambil opsi tangan besi karena ada orang Prabowo di dekatnya, yakni Muchdi PR, mantan bawahan Prabowo di Kopassus. Muchdi juga adalah mantan Ketua DPD Gerindra di Papua, yang belakangan pindah dan bahkan sempat mencalonkan diri jadi Ketua Umum PPP.

Ada anomali dari apa yang dilakukan SDA saat hadir di kampanye Gerindra. Dia berani bermanuver yang sebenarnya bisa menampar muka sendiri. Saya duga karena ada back up politik itu. Dia mendapat garansi, kalaupun bermanuver, dia takkan apa-apa di PPP.

Prabowo masih memiliki basis pengaruh yang luar biasa di kalangan purnawirawan TNI dan intelijen. Contoh Muchdi, merupakan alumni Kopassus, yang kemungkinan besar masih memegang jejaring dari apa yang biasa dia lakukan di masa lalu.

Saya cenderung mengamati bahwa langkah ini akan dilakukan bukan hanya di PPP. Kasus di PPP hanyalah milestone. Kalau itu berhasil, bukan tak mungkin ini dilakukan di tempat lain juga. (Rakyat Merdeka Online / RMOL, Kamis, 17 April 2014).

 

Fachry Ali [Pengamat politik]:

Sebenarnya semua heran. Karena ini (konflik dan perpecahan yang mendera Partai Persatuan Pembangunan) berlangsung cepat.

Sementara soal dukungan Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali (SDA) terhadap calon presiden Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang disebut-sebut sebagai pemicunya, ini juga masih misteri.

Pada tahun 2009 kontak di antara mereka cukup intensif. Tapi tidak jadi. Apakah ini kelanjutan? Pada Pilpres 2009 lalu, PPP memang hampir mendukung Prabowo. Namun, tidak jadi karena partai itu mendukung duet SBY-Boediono.

Karena itu, saya mendukung gagasan Sekjen DPP PPP Romahurmuziy (Romi) agar digelar forum ishlah (damai).

PPP itu partai Islam tertua, bahkan yang lainnya itu anak-anaknya, bukan adik-adiknya.  Saya kira dengan logika seperti itu, mereka akan sadar untuk mempertontonkan sesuatu yang konstruktif terhadap anak-anaknya: PBB, PAN, PKB, dan lain-lain.

Apalagi, SDA bukan pendiri partai PPP seperti Gus Dur yang mendirikan PKB atau Susilo Bambang Yudhoyono yang melahirkan Partai Demokrat. SDA dipilih sebagai Ketua Umum melalui forum kongres karena dia dianggap yang terbaik dibanding yang lain.

SDA itu hanya primus inter pares, terpilih dalam kongres. Jadi dia harus mengikuti prosedur. Itu yang disampaikan Romi. Dan juga PPP ini partai santri yang harus melaksanakan nilai-nilai kepesantrenan, siap mengoreski diri. Ini yang harus menjadi semangat dalam rapat mereka malam. (Rakyat Merdeka Online / RMOL, Sabtu, 19 April 2014).

 

Sudaryono [Wakil Sekrtaris Jenderal Partai Gerindra]:

Mbah Mun [KH Maimun Zubair, Pengasuh Pondok Pesantren  Al Anwar Rembang (yang juga adalah Ketua Majelis Syariah PPP)] mengharapkan para purnawirawan TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan keluarga tentara untuk bersatu mendukung Prabowo Subianto. Mbah Mun juga mengharapkan agar partai-partai yang dipimpin oleh para purnawirawan TNI seperti Partai Demokrat dan Partai Hanura, juga dapat mendukung Prabowo Subianto. (Rakyat Merdeka Online / RMOL, Minggu, 20 April 2014)

Arie Sujito [Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta]:

Kisruh internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang kian memanas setelah ketua umumnya, Suryadharma Ali (SDA), mengumumkan mendukung pencapresan Prabowo Subianto itu memprihatinkan. Biaya yang harus dibayar PPP cukup mahal akibat gagalnya konsolidasi. Ini juga membuat para pemilihnya mengalami   distrust   luar biasa. [ Arie Sujito mengungkapkan hal itu usai menghadiri diskusi bertema   “Menilai Jokowi – Jokowi di Mata Intelektual” di Galeri Cafe, Cikini, Jakarta, Minggu (20/4)].

Dengan adanya dua kubu kepemimpinan di internal, partai berlambang Ka’bah itu akan kesulitan mengambil keputusan strategis dalam menentukan arah politik ke depan. Kemungkinan terburuknya, tidak ada kader PPP yang bakal duduk di pemerintahan ataupun menjadi oposisi.

Saya usul PPP lebih dulu menyelamatkan organisasinya, bukan hanya memikirkan kepentingan kelompok masing-masing. (Rakyat Merdeka Online / RMOL, Minggu, 20 April 2014)

 

Haris Azhar [Koordinator KontraS]:

Apa catatan Partai Gerindra kepada Ketua Umum PPP Suryadharma Ali (SDA) yang membangun kebencian terhadap kelompok minoritas? Gerindra juga terkesan biasa saja dalam menyikapi kasus orang hilang (penculikan) di masa lampau. Padahal, sudah jelas melanggar prinsip HAM (hak asasi manusia).   Seyogyanya, semua partai termasuk Gerindra menyikapi persoalan HAM secara serius dalam membangun pemerintahan baru nanti. (Rakyat Merdeka Online / RMOL, Minggu, 20 April 2014)

 

Prabowo Subianto [Calon Presiden dari Partai Gerindra]:

Tidak akan ada evaluasi dukungan dengan PPP. Insya Allah dengan PPP masih koalisi. Koalisi dengan PPP tetap seperti sedia kala. Insya Allah baik dengan PPP (Kompas, 23 April 2014).

 

Prabowo Subianto [Calon Presiden dari Partai Gerindra]:

Semua bermula dari 1998, bahkan kalau ditarik mundur sejak 1993 [hal ini merujuk pada tuduhan atas Prabowo Subianto yang diduga sebagai dalang aksi kerusuhan dan penculikan saat masih aktif sebagai petinggi ABRI / militer — Redaksi BUTONet 2]. Pada tahun-tahun itu, ekonomi Indonesia tumbuh mencengangkan. Indonesia bahkan mencapai angka pertumbuhan 8 persen, yang belum pernah dicapai negara lain terkecuali Tiongkok. Kita tercengang saat ekonomi Indonesia ambruk pada 1998. Itu bukan krisis melainkan lebih ke perang ekonomi. Saya juga keluar dari tentara dengan segala predikat dan cerita. Kalau dibutuhkan, saya siap memberikan klarifikasi. [Prabowo diberhentikan dari ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) oleh Panglima ABRI Jenderal Wiranto atas rekomendasi DKP (Dewan Kehormatan Perwira), di mana salah satu anggotanya adalah Agum Gumelar, yang saat ini adalah Ketua Umum DPP Pepabri — Redaksi BUTONet 2] —Kompas, 23 April 2014.

 

Ahmad Muzani (Sekretaris Jenderal Partai Gerindra):

Kita tunggu bagaimana formula itu (maksudnya adalah koalisi antara PPP dan Partai Gerindra — Redaksi BUTONet 2), tapi tentunya setelah proses islah (perdamaian) ini selesai (Kompas, 25/4/2014).

 

Mahfud MD(Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi):

Peluang saya menjadi cawapres (calon wakil presiden) untuk Jokowi masih terbuka. Namun, tidak menutup kemungkinan saya menjadi cawapres bagi capres (calon presiden) dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Untuk Golkar, ditinggal saja dulu. Bukan kami tak mau. PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) tak bisa menjawab hari ini. Golkar ingin cepat, padahal situasi cepat berubah (Kompas, 25/4/2014).

 

Albert Hasibuan[Mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)]:

Dalam kasus penculikan, sudah ada mahasiswa yang ditemukan. Namun, ada juga korban yang belum ditemukan [Hasibuan menyatakan ini pada hari Kamis (24/4) menyusul pernyataan Prabowo Subianto (Kompas, 23/4) bahwa ia siap mengklarifikasi sejumlah hal yang melekat kepadanya terkait kerusuhan Mei 1998 dan kasus penculikan beberapa aktivis — Redaksi BUTONet 2] — Kompas, 25/4/2014.

 

Haris Azhar[Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras)]:

Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia) juga sudah membuat laporan penyelidikan terkait kasus penculikan. Bahan dari Dewan Kehormatan Perwira juga tersedia.

Oleh karena itu, yang perlu dibangun adalah menjaga ruang atau ranah formal atas penanganan dan kasus lain, seperti kerusuhan Mei 1998. Proses formal itu selama ini tidak berjalan. [Haris menyatakan ini menyusul pernyataan Prabowo Subianto (Kompas, 23/4) bahwa ia siap mengklarifikasi sejumlah hal yang melekat kepadanya terkait kerusuhan Mei 1998 dan kasus penculikan beberapa aktivis — Redaksi BUTONet 2] — Kompas, 25/4/2014.

 

Mohammad Sohibul Iman(Anggota Majelis Syuro DPP Partai Keadilan Sejahtera):

Kami masih terbuka dan siap berkoalisi dengan pihak yang mau berkomunikasi dengan kami. Kami ingin koalisi yang tidak hanya untuk menang, tetapi juga ketika tidak sukses dalam pemilu presiden, kami ingin menjadi koalisi sebagai oposisi di luar pemerintahan.

Sekretariat Gabungan dalam koalisi pada masa lalu seakan hanya menjadi alat stempel kebijakan pemerintah. Ketika partai politik sebagai anggota koalisi mendapat jatah menteri, seolah proses sudah selesai sehingga kadang tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan strategis. Pola koalisi demikian harus diperbaiki pada masa datang. Sejauh ini, Partai Gerindra telah mengirimkan surat serta buku platform partai. Sementara itu, Partai Golkar baru mengirimkan buku program kerja (Kompas, 28/4/2014).

 

Ahmad Muzani(Sekretaris Jenderal Partai Gerindra):

Calon presiden (capres) dari Partai Gerindra Prabowo Subianto sudah bertemu dan berbicara dengan Ketua Majelis Syuro DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) KH Hilmi Aminuddin.

Hasilnya, kedua partai mulai menemukan kesamaan pandangan terkait solusi beberapa masalah bangsa ke depan.

Gerindra juga telah mengirimkan surat ke PKS. Surat itu penguatan dari yang sudah dibicarakan (Kompas, 28/4/2014).

Romahurmuziy (Sekretaris Jenderal PPP):

Pertemuan akan digelar dengan Jokowi, Prabowo, dan semua partai politik (parpol). Pertemuan dengan parpol (partai politik) dan capres bertujuan menyamakan platform dan visi-misi koalisi ke depan.

Kami masih window shopping ke semua parpol dan kandidat sampai akhir pekan depan (Kompas, 28/4/2014).

Informasi Terkait:
Berita Nasional:

http://news.sorotparlemen.com/index.php/2014/04/25/konflik-internal-ppp-berakhir-dengan-happy-ending-benarkah-kh-maimun-zubair-mendukung-prabowo-subianto-sebagai-calon-presiden/

Facebook Comments

Topik Tarkait

4 thoughts on “Wacana Koalisi dan Capres-Cawapres di Seputar Partai Gerakan Indonesia Raya / Partai Gerindra (Seri 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twenty − fifteen =