Wacana Koalisi dan Capres-Cawapres di Seputar Partai Golongan Karya / Partai Golkar (Seri 2)

Oleh BUTONet 2

golkarAkbar Tandjung (Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar):

Hasil Pileg (pemilihan umum legilatif) 2014 jauh dari target. Partai Golkar tidak bisa mengusung capres (calon presiden) secara langsung. Makanya, perlu ada pembicaraan, pembahasan tentang apa yang menjadi penyebabnya. Ini perlu dievaluasi (Selasa, 15/4).

Saat kampanye Pileg 2014,  Ketua Umum Partai Golkar ARB (Aburizal Bakrie) menyebut target perolehan suara Golkar sebesar 30 persen  atau 170 kursi di parlemen. Namun, berdasarkan simulasi sejumlah lembaga survei, perolehan suara Golkar tidak meningkat secara signifikan. Bahkan terjadi penurunan perolehan kursi di parlemen.

Sejumlah lembaga memprediksi, kursi Golkar hasil Pileg 2014 berkisar antara 83 sampai 96 kursi. Saat ini, kursi yang dimiliki Golkar di parlemen adalah 106 kursi, jadi turun. Kita tahu, untuk mengusung pasangan capres dibutuhkan 25 persen perolehan suara secara nasional atau 20 persen kursi di parlemen.
Makanya, DPP (Dewan Pimpinan Pusat) harus menjelaskan, ini prioritas utama.

Fokus kita saat ini kan pileg, dilanjutkan dengan pilpres (pemilihan umum presiden). Nah, kalau Pak ARB mengatakan mau maju terus, ya kita lihat dulu, kita perlu berbicara dulu.

Apalagi, Golkar tidak bisa langsung mencalonkan presiden. Kita tahu, suaranya hanya sekitar 14-15 persen dan kursinya turun.

Jika ingin berkoalisi, seyogyanya DPP Golkar mengajak atau meminta saran Dewan Pertimbangan. Itulah salah satu permintaan surat kami sebelumnya. Namun, sampai hari ini DPP tidak pernah mengajak dan meminta saran Dewan Pertimbangan.

Saya dengar, Golkar akan berkoalisi dengan Partai Hanura. Itu pun dari media massa. Kami tidak pernah diajak bicara soal itu.

Kalau mau mengambil keputusan yang cepat, ya tidak perlu menunggu pelaksanaan Rapimnas (Rapat Pimpinan Nasional). Agendanya, Rapimnas memang setelah pelaksanaan pileg.

Tapi, kalau DPP ingin mengejar waktu, mereka bisa menulis surat resmi atau berkomunikasi langsung dengan Dewan Pertimbangan. Partemuannya bisa dilakukan secara informal. Semuanya kan tinggal di Jakarta. Kediaman masing-masing anggota Dewan Pertimbangan juga diketahui pengurus DPP.

Rapimnas adalah forum bagi DPP untuk menjelaskan soal ketidakberhasilan target atau apa yang diamanatkan organisasi, baik Munas (Musyawarah Nasional) atau Rapimnas. Resminya, pertanggungjawaban itu dilakukan pada Munas. Tapi dalam Rapimnas nanti harus mulai dijelaskan.

Saat ini, saya baru bisa bicara soal evaluasi pencapaian target partai. Bagaimana dinamika dalam forum nanti, saya belum bisa memprediksi. Bisa saja ada suara-suara evaluasi di luar hasil pileg.

Kita sudah menetapkan, capres Golkar adalah ARB. Sejauh Golkar berhak menetapkan pencalonan presiden, ya calonnya ARB. Tidak ada calon lain.

Kecuali, ada pikiran-pikiran baru dalam Rapimnas nanti. Itu kita lihat nanti. Biar partai memutuskan itu. Sebab, penetapan ARB sebagai capres juga melalui Rapimnas. Kalau ada yang mau dikoreksi terhadap Rapimnas sebelumnya, ya harus lewat Rapimnas juga.

Saya belum mengamati (aspirasi kader daerah tentang pencapresan ARB). Beberapa pekan ini, saya masih fokus pada suksesi pemilu legislatif. Saya belum menanyakan soal lain, karena masih fokus di sana.

Komunikasi saya dengan kader di berbagai daerah masih terbatas pada hasil suara pileg. Saya hanya tanya berapa hasil suaranya, apakah meningkat atau turun. Kemudian berapa perolehan kursinya.

Antara situasi sekarang dengan Rapimnas yang akan datang, saya tidak bisa memastikan. Saat ini, saya belum tahu kearah mana pikiran-pikiran itu. Bagaimana dinamikanya, kita lihat saja nanti.

Saya sudah sangat fokus untuk Pileg. Saya kampanye mulai tanggal 16 Maret hingga 5 April. Saya kampanye di 15 provinsi dan menyambangi langsung 33 lokasi kampanye. Saya sudah melakukan tugas saya. Itu komitmen saya.

Mengenai cawapres, saya sudah menjawab. Saya bilang, saya bersedia menjadi cawapres kalau ada yang mengajak. Itu sikap saya. Harusnya, pertanyaan atau pernyataan yang sama diajukan juga kepada Pak JK (Jusuf Kalla). Saya dan beliau kan sama-sama mantan Ketua Umum Golkar (Rakyat Merdeka Online, 17/4/2014).

______________________________________________________________________

Bawano Kumoro (Peneliti “The Habibie Centre”):

Joko Widodo (Jokowi) sebaiknya tak menggandeng Jusuf Kalla (JK) sebagai cawapres.  Saya kira, JK sebaiknya tidak dipilih menjadi cawapres Jokowi. Karena perbedaan usia 20 tahun antara JK dan Jokowi berpotensi membuat Jokowi, sebagai orang Jawa, bersikap ewuh pakewuh  terhadap JK.

Selain itu, Jokowi dan JK memiliki kemiripan dalam gaya memimpin. Yakni sama-sama suka turun ke lapangan dan bukan administrator.

Kemiripan gaya kepemimpinan itu dapat membuat pemerintahan JK dan Jokowi tidak efektif. Karena dua tokoh nasional itu berpotensi besar menjadi matahari kembar di dalam pemerintahan.

Jadi, tanpa JK, Jokowi tetap Jokowi. Jokowi justru akan menjadi “Oowi” jika berpasangan dengan JK dalam Pilpres 2014 nanti. (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 25/4/2014).

______________________________________________________________________ 

Romahurmuziy (Sekretaris Jenderal PPP):

Mulai hari ini (Jum’at, 26/4), PPP melakukan pendekatan komunikasi secara proaktif mengingat dua pekan terakhir kami berkonsentrasi pada penyelesaian masalah internal. PPP saat ini berada pada kilometer nol untuk berkoalisi.

Dengan demikian, PPP masih menempatkan seluruh poros koalisi pada peluang yang sama. Baik kepada Jokowi-PDI-P, Prabowo-Gerindra, ARB-Golkar, maupun poros keempat bersama Partai Demokrat.

PPP membuka diri pada semua opsi politik, bermodal politik sebesar 45-50 kursi DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dari persyaratan pengusungan calon minimal 112 kursi (Kompas, 26/4/2014).

______________________________________________________________________ 

Aburizal Bakrie (Ketua Umun Partai Golkar):

Intinya, mereka [para peserta Silaturahim Dewan Perwakilan Daerah I Partai Golkar pada Selasa malam (29/4)] menginginkan supaya Ketua Umum tetap jadi calon presiden. Kemudian, juga melakukan negosiasi-negosiai politik untuk kemudian dilaporkan saan rapat pimpinan nasional (Rapimnas) mendatang. (Dari 33 DPD, sebanyak 25 ketua DPD dating dalam acara Silaturahim itu, dan sisanya hanya dihadiri para sekretaris — Redaksi BUTONet 2) — Kompas, 29/4/2014.

______________________________________________________________________ 

Gandung Pardiman (Ketua DPD Golkar Yogyakarta):

Pertemuan ini [Silaturahim Dewan Perwakilan Daerah I Partai Golkar pada Selasa malam (29/4)] memang DPD yang minta. (Pada silaturahim itu Dewan Pertimbangan Golkar, yang ketuanya adalah Akbar Tandjung, tidak diundang) — Kompas, 29/4/2014.

______________________________________________________________________ 

Aburizal Bakrie / ARB (Ketua Umum Partai Golkar):

Mungkin saja (pertemuan saya dengan Prabowo Subianto akan membahas koalisi Partai Gerindra dan Partai Golkar); tentu kita ke depan sama-sama lihat itu.

Pembicaraan koalisi dengan Gerindra bukan kali ini terjadi. Pembicaraan sudah beberapa kali dengan Gerindra. Secara pribadi saya sudah mengenal Prabowo cukup lama. Sebagai sahabat, saya menerima kunjungan Prabowo. Kenalnya sudah lama sekali. Jadi beliau lebih muda. Kemari begitu saja. (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 29/4/2014).

 ______________________________________________________________________

Aburizal Bakrie / ARB (Ketua Umum DPP Partai Golkar):

Rencana kedatangan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto ke kediaman saya kemungkinan untuk membicarakan koalisi.

Intinya, silahturahim saja. Saya kan kenal Pak Prabowo bukan setahun dua tahun saja. Mungkin saja ada pembicaraan koalisi.

Kemungkinan koalisi hanya terjadi jika ada kesamaan platform serta visi dan misi antara kedua partai. Tentu harus dilihat bagaimana platformnya. Sama-sama kita lihat dulu itu. (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 29/4/2014).

______________________________________________________________________ 

Aburizal Bakrie (Ketua Umun Partai Golkar):

Kami (saya dan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra) sepakat untuk membicarakan lagi (koalisi) pada kesempatan berikutnya. Golkar dan Gerindra masih sangat mungkin berbicara soal koalisi pada pertemuan-pertemuan berikutnya. [Ini diungkapkan Aburizal pada Selasa (29/4) saat menggelar jumpa pers di kediamannya di Menteng, Jakarta].

(Dalam pertemuan dengan Prabowo tadi) Sama sekali belum ada pembicaraan posisi calon presiden (capres) atau cawapres. Saya tidak mundur dari capres, Pak Prabowo juga tidak (Kompas, 30/4/2014).

______________________________________________________________________ 

Prabowo Subianto (Ketua Umum Partai Gerindra):

Tadi kami (saya dan Aburizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar) sepakat meneruskan pembicaraan lebih intensif dan rinci untuk kepentingan bangsa dan Negara ke depan. Kami serius untuk membicarakan penggabunagan kekuatan (Kompas, 30/4/2014).

______________________________________________________________________ 

Dave Laksono (Ketua Umum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia):

Yang harga mati itu hasil Rapimnas (rapat pimpinan nasional). Kita berharap Rapimnas mendatang (pertengahan Mei) tidak sekadar menjadi media untuk ketok “palu”, tetapi sungguh-sungguh mendengarkan aspirasi kader Golkar. Kami ingin diajak diskusi dalam keputusan apa pun. Tidak jadi soal apakah (hasil diskusi) Pak Ical (ARB) nantinya capres atau cawapres. Jika cawapres, deal-nya apa? Bagi kami, tak ada masalah mau ke mana pun (Kompas, 3/5/2014).

Catatan:

Dave Laksono mengungkapkan hal itu saat ditanya [di Jakarta pada Jum’at (2/5) kemarin] pencapresan Aburizal (ARB) merupakan harga mati atau tidak bagi Golkar.

______________________________________________________________________ 

Ade Komarudin (Ketua Umum Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia / SOKSI):

SOKSI tetap konsisten mendukung pencalonan Aburizal (ARB) pada Pemilu Presiden 2014. Apalagi pencapresan ARB juga diputuskan dalam Rapimnas SOKSI di Medan, Sumatera Utara, pada 2011, dan Rapat Kerja Nasional di Bandung, Jawa Barat, 2012.

Para kader Partai Golkar perlu tetap konsisten mendukung pencapresan Aburizal karena ia diputuskan sebagai capres dalam Rapimnas [Rapimnas merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi setelah Munas (musyawarah nasional) — Redaksi BUTONet 2] Partai Golkar tahun 2013.

Dalam politik, kata-kata itu adalah pegangan. Kata-kata akan diamati oleh publik (Kompas, 3/5/2014).

______________________________________________________________________ 

Akbar Tanjung (Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar):

Kami tetap mendukung rencana pencapresan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical / ARB) pada Pemilu Presiden 2014. Kendati demikian, mesin politik partai harus dapat bekerja lebih optimal untuk mewujudkan hal itu. Penegasan dukungan terhadap Ical sesuai dengan hasil keputusan rapat pimpinan nasional (Rapimnas) 2012 lalu.

Kami garisbawahi putusan daripada ormas yang memberikan dukungan kepada saudara Abruzial Bakrie untuk menjadi capres.   Berdasarkan hasil hitung cepat, Golkar diprediksi hanya akan mendapatkan 14,8 persen suara saja. Hal itu jauh dari target yang diharapkan Golkar, yaitu sebesar 30 persen. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi jika Golkar memang ingin mengusung Ical menjadi presiden.

Kalau dikonversi ke kursi antara 91-96 kursi (Dewan Perwakilan Rakyat / DPR). Sehingga akibatnya, Golkar tidak bisa mencalonkan presiden secara langsung.

Saya berharap agar Golkar dapat meningkatkan intensitas komunikasi dengan partai politik (parpol) calon mitra koalisi Golkar. Dengan catatan, parpol mitra koalisi bersedia mendukung rencana pencapresan Ical. Artinya haus ada kesediaan parpol untuk berkoalisi dan kesediaan berkoalisi itu menjadikan Golkar bisa mencalonkan langsung (KOMPAS.com, Jakarta, 3/5/2014).

______________________________________________________________________ 

Philips J Vermonte [Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS)]:

Pilihan Ical / ARB (Ketua Umum Partai Golkar) berduet dengan Prabowo (Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra) akan sangat problematik. Ical punya banyak isu yang diangkat media, ditambah figur Prabowo yang kontroversial. Ini akan menjadi beban terhadap peluang mereka di pilpres (pemiluhan umum presiden), sangat sulit.

Perolehan suara Partai Golkar dibandingkan Partai Gerindra akan menjadi hambatan dalam menjadikan Ical sebagai cawapres. Pasalnya, internal Golkar dinilai tak akan menerima jika tidak mengajukan capres.

Akan tetapi, kalau duet ini terjadi, maka saya tidak terkejut karena di antara dua tokoh ini ada banyak irisan. Keduanya memiliki   chemistry  yang cukup baik untuk menjadi mitra koalisi. Namun, untuk duet ini terjadi, harus melalui forum Rapimnas (Rapat Pimpinan Nasional) KOMPAS.COM, Jakarta, 3/5/2014.

______________________________________________________________________

Sharif Cicip Sutarjo [Wakil Ketua Umum Partai Golkar Sharif; Menteri Kelautan dan Perikanan]:

Semua kemungkinan (koalisi dalam Pemilihan Presiden 2014) bisa terjadi. Namun dengan Pak Prabowo, Pak Ical / ARB sudah punya hubungan lama, dan sudah bicara soal pembangunan ke depan, sudah klop. Chemistry juga sudah ada.

Pertemuan Pak Ical dengan Pak Prabowo pada Selasa lalu juga belum memutuskan apakah akan saling bersaing atau berkoalisi. Kedua tokoh itu hanya bertemu membicarakan program masing-masing dan ternyata memiliki kesamaan cara pandang.

Di antara obrolan keduanya, juga sempat terlontar tawaran menjadi calon wakil presiden bagi Ical. Namun, tawaran itu dibalas Ical dengan menawarkan Prabowo sebagai calon wakil presidennya.

Pertemuan Ical dengan Prabowo berbeda dibandingkan pertemuan Ical dengan Jokowi. Saat bertemu dengan Jokowi, Ical sepakat untuk saling bersaing sebagai bakal capres. Sementara itu, bersama Prabowo, belum ada keputusan apa pun. Jadi pertemuannya sangat cair. Belum ada yang putus. Nanti kita lihat pada Rapimnas bulan Mei, kemungkinannya bisa saja terjadi. (KOMPAS.COM, Jakarta, 3/5/2014).

______________________________________________________________________

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

15 + eight =