Wacana Koalisi dan Capres-Cawapres di Seputar Partai Kebangkitan Bangsa / PKB (Seri 2)

Oleh BUTONet 2

Saiful Bahri Anshori (Ketua Dewan Pimpinan Pusat PKB):

Hampir dapat dipastikan koalisi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dengan PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) dapat terwujud. Meski tidak matematis, bisa dibilang arah PKB untuk berkoalisi dengan PDI-P mungkin sekitar 90 persen (Kompas, 29/4/2014).

Joko Widodo (Calon Presiden dari PDI-P):

Saya optimis dua partai itu (PKB dan PPP) akan merapat. Bisa dua partai itu. Semua memang sangat bergantung pada kesamaan langkah (Kompas, 29/4/2014).

Sjarifuddin Hasan (Ketua Harian Partai Demokrat):

Sampai sekarang Partai Demokrat masih menjalin komunikasi politik. Keputusan berkoalisi atau tidak, kemudian partai-partai mana yang akan diajak berkoalisi, sepenuhnya menjadi keputusan Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Jadi jangankan memilih orang untuk dijadikan capres atau cawapres, memilih mitra koalisi saja masih dalam penggodokan. Kalau sekarang ini berkembang isu duet nama capres dan cawapres yang bakal diusung Partai Demokrat, semua itu jangan-jangan hanya bikinan media. [Ini merupakan bantahan Sjarifuddin atas isu yang berkembang bahwa Partai Demokrat akan membentuk poros baru dengan mengusung capres Mahfud MD (PKB) dan cawapres Hatta Rajasa (PAN)] — Kompas, 30/4/2014.

Bawono Kumoro (Pengamat Politik “The Habibie Centre” / THC):

Dukungan PKB ke PDI-P tidak akan solid jika PKB tidak mendapatkan konsesi politik sebagai cawapres dari Jokowi. Saya agak pesimis koalisi PDI-P dan PKB akan solid, jika PKB tidak mendapatkan konsesi politik sebagai RI-2 untuk mendampingi Jokowi.

Pasalnya, posisi tawar PKB jauh lebih kuat dari Partai Nasional Demokrat (NasDem). Apalagi perolehan suara PKB dalam pemilihan umum (pemilu) legislatif 2014 meraih sekitar 9,5 persen suara.

PKB, juga memiliki basis massa yang konkrit, yakni warga Nahdliyin. Jadi, kader PKB berpeluang besar mendampingi Jokowi sebagai cawapres dari PDI-P.

Sesuai dengan kriteria umum pemimpin ideal dari pendiri THC, Prof. Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, 40 s/d 60 tahun, maka lebih baik Mahfud MD yang mendampingi Jokowi sebagai cawapres daripada mantan wakil presiden Muhammad Jusuf Kalla (JK).

Usia Jokowi dan Mahfud MD. Mereka masih berada di kisaran 40 sampai dengan 60 tahun. Sehingga, kerjasama kedua pemimpin itu akan jauh ebih efektif (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 02/5/2014).

Imam Nahrawi (Sekretaris Jenderal DPP PKB):

Kerja sama PKB dan PDI-P tinggal peresmian saja. Soal cawapres (calon wakil presiden), kami serahkan sepenuhnya kepada Ibu Megawati Soekarnoputri dan Pak Jokowi (Joko Widodo) untuk menentukan.

Rencana koalisi dengan PDI-P sudah dikomunikasikan dengan semua jajaran pengurus tingkat pusat hingga wilayah PKB. Rencana kerja sama itu didasari kesaaan platform visi misi dan tujuan pembangunan (Kompas, 2/5/2014).

Abdul Kadir Karding (Ketua DPP PKB Bidang Organisasi):

Peresmian keputusan koalisi diumumkan setelah Muhaimin (Ketua Umum PKB) bertemu dengan Megawati. Siapa pun yang diusung jadi cawapres, kami terima (Kompas, 2/5/2014).

Marwan Ja’far (Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa / PKB):

Nanti deklarasi dulu (baru ada kepastian koalisi PKB dengan PDI-P). Dari internal PKB semua solid berkoalisi dengan PDI-P. Mayoritas ulama NU telah mendukung Jokowi sebagai capres. Kami sudah konsultasi dengan PBNU dan para Kyai. Kehadiran beliau menunjukkan kyai NU mensuport beliau.

Kunjungan Jokowi ke sejumlah ulama Muhammadiyah dan NU menunjukkan hubungan baik Jokowi dengan para ulama. Deklarasi koalisi PKB dengan PDIP akan disampaikan setelah rekapitulasi suara pemilu legislatif di KPU 9 April (REPUBLIKA.CO.ID, Yogyakarta, 03/5/2014).

Catatan :

Marwan mengatakan hal seperti di atas di Yogyakarta saat menemani calon presiden (capres) PDI-P Joko Widodo (Jokowi) yang bersilaturahim ke sejumlah tokoh ulama Muhammadiyah dan NU.

Menurut jadwal Jokowi akan mengisi libur akhir pekan dengan bersilaturahim ke sejumlah tokoh alim ulama Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Tokoh pertama yang akan ditemui Jokowi adalah sesepuh Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif, di Yogyakarta, pada hari Sabtu (3/5).

Selanjutnya ia akan berkunjung ke Museum Taman Siswa. Di tempat ini sedianya dia akan memberikan pernyataan politik kepada para wartawan.

Usai dari Taman Siswa Jokowi akan melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur, yakni Kota Surabaya. Di kota pahlawan ini Jokowi dijadwalkan menggelar makan siang bersama dengan tokoh muslimat NU, Khofifah Indarparawansah.

Dari kediamana Khofifah, Jokowi dan rombongan akan melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Pacul Gowang asuhan K.H. Anwar Mansur di Jombang. K.H. Anwar merupakan salah satu guru dari Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Usai dari Jombang, Jokowi melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Tebu Ireng. Di sini Jokowi akan bertemu dengan Sholahudin Wahid dan berziarah ke makam Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Masih di hari yang sama, Jokowi selanjutnya mengunjungi Pondok Pesantren Putri al-Lathifiyah di Tambak Beras, Jombang. Di sini dia akan bertemu dengan Hajah Mahfudhoh Ali Ubaid dan KH Hasib Wahab Hasbullah.

Dari Jombang Jokowi akan kembali ke Surabaya. Dia jadwalkan akan bertemu dengan sejumlah pengurus DPD dan kepala daerah PDI-P di Jawa Timur (REPUBLIKA.CO.ID, Yogyakarta, 03/5/2014).

Khofifah Indar Parawansah (Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama / NU; mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden Gus Dur):

Silsilah ajaran ini (yakni piagam yang berisi silsilah ajaran NU yang dihadiahkan Khofifah kepada Jokowi saat Jokowi sebagai capres berkunjung di kediamannya pada Sabtu, 3 Mei 2014) berhulu kepada Nabi Muhammad Saw dan turun-temurun hingga ke KH Hasyim Asy’ari sebagai tokoh pendiri NU. Pak Jokowi jangan khawatir, ajaran NU ini juga memiliki nilai-nilai cinta Tanah Air, dan menanamkan jiwa nasionalisme kepada kadernya.

Kedatangan Gubernur DKI Jakarta ke kediamannya itu hanyalah silaturahim biasa (KOMPAS.com, Surabaya, 03/5/2014)..

Catatan :

Terkait dengan silatrahim tersebut, Khofifah tidak menjawab dengan tegas apakah kedatangan Jokowi itu menandakan bahwa Muslimat NU akan mendukung Jokowi pada Pilpres 9 April mendatang.

Namun demikian, Khofifah hanya mengiyakan bahwa dirinya secara personal ditunjuk oleh Jokowi sebagai juru bicara tim pemenangan Jokowi. Kedatangan Jokowi ke kediaman Khofifah di Jemursari, Surabaya, itu, disambut ratusan kader NU dari berbagai elemen seperti Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, Gerakan Pemuda Ansor, hingga kalangan mahasiswa PMII Jatim.

Di forum pertemuan terbuka itu bahkan beberapa kali terdengar teriakan “Jokowi-Khofifah Yes”. Setelah berkunjung ke kediaman mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu, Jokowi dijadwalkan berkunjung ke Ponpes Tebuireng, Jombang, bertemu KH Salahuddin Wahid, diteruskan bertemu dengan Ketua Dewan Syuro PKB KH Azis Mansyur di Ponpes Pacul Gowang, Jombang.

Terakhir, Jokowi akan bertemu dengan pengurus dan kader PDI-P se-Kabupaten Jombang.

Marwan Ja’far (Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa / PKB):

PKB sudah pasti akan berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Namun, keputusan itu memang belum diumumkan secara formal. Secara teknis dan formal tentu ada tanda-tangan tertulis. Ini yang semuanya belum ada. Nanti, kan semua sama-sama ke KPU untuk tanda tangan. Secara prinsip saya kira sudah (berkoalisi).

Sebetulnya dengan kehadiran saya di sini [yakni saat menemani Jokowi sowan ke sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sebagai utusan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar], secara tidak langsung telah diputuskan bahwa memang kami berkoalisi dengan PDI-P.

Selain bertemu dengan Buya Syafi’i Ma’arif dan Khofifah Indarparawansa (Ketua Muslimat NU), Jokowi juga akan bertemu Ketua Dewan Syuro DPP PKB di Jombang. Selain itu, Jokowi berencana ziarah ke makam para tokoh bangsa, salah satunya makam Presiden Ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid.

Ini bagian dari safari politik yang mencerminkan PKB berlabuh kepada PDI-P.
PKB dan PDI-P tinggal menunggu waktu dan momentum yang tepat untuk mendeklarasikan koalisi tersebut. PKB dan PDI-P memiliki visi dan misi yang sama untuk membangun pemerintahan ke depan.

Dalam koalisi ini tidak ada kesepakatan bagi-bagi kursi menteri. PKB pun menyerahkan sepenuhnya penentuan cawapres kepada pimpinan koalisi dan Jokowi (KOMPAS.com, Yogyakarta, 03/5/2014).

Joko Widodo / Jokowi (Calon Presiden dari PDI-P):

Kami sudah kerap menjalin komunikasi politik dengan sejumlah partai untuk menghimpun dukungan. Namun komunikasi tersebut tidak untuk membahas rencana bagi-bagi kursi.

Yang dikomunikasikan dengan partai-partai tersebut lebih banyak pada persoalan penyamaan visi dan misi capres. Kita membahas kesamaan program dan visi misi untuk rakyat, bukan bagi-bagi kursi.

Kami tidak sepakat dengan kebiasaan bagi-bagi kursi pada setiap kali komunikasi untuk koalisi dilakukan. Yang dibahas pertama harusnya bagaimana nasib rakyat, bukan malah bagi-bagi kursi(KOMPAS.com, Surabaya, 03/5/2014).

Bawono Kumoro (Pengamat Politik The Habibie Centre / THC):

Blusukan Jokowi ke tokoh NU dan Muhammadiyah tidak serta merta menjamin soliditas grass root memberikan dukungan kepadanya.

Silaturrahim dan blusukan itu baru benar-benar efektif apabila Jokowi menjadikan tokoh berlatar-belakang NU sebagai cawapres. Kalau tidak, blusukan itu justru tidak efektif. Padahal saat ini belum jelas figur yang akan digandengnya di Pilpres 2014 nanti.

Saya pikir (dijadikannya Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa sebagai juru bicara tim pemenangan Jokowi, “JKW4P”) bertujuan untuk memaksimalkan dukungan warga NU (REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta, 4/5/2014).

Marwan Ja’far (Katua DPP Partai Kebangkitan Bangsa):

Saya hadir dalam rombongan ini (yakni rombongan capres Jokowi yang mengunjungi sejumlah tokoh Islam di Yogyakarta dan Jawa Timur pada Sabtu, 3 April) resmi mewakili PKB. Kehadiran saya sebagai salah satu wujud koalisi antara PKB dan PDI-P dalam pilpres mendatang. (Koalisi antara PKB dan PDI-P) Tinggal ketok palu saja (Kompas, 4/5/2014).

Khofifah Indar Prawansa (Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama):

Tugas saya secara detail sebagai juru bicara akan dibahas dalam pertemuan dengan Pak Jokowi pekan depan. Indonesia membutuhkan presiden yang mampu mempercepat pemerataan kesejahteraan tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi.

Harus ada yang mampu menyeimbangkan antara pro-poor, pro-growth, dan pro-business (pro-kemiskinan, pro pertumbuhan, dan pro dunia usaha). Saya rasa figur itu ada di Jokowi (Kompas, 4/5/2014).

KH Sholahuddin Wahid / Gus Sholah (Tokoh Nahdlatul Ulama):

Kami sarankan bakal calon presiden (capres) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo atau Jokowi agar memilih calon wakil presiden yang menguasai bidang hukum. (Saran atau pendapat Gus Sholah itu disampaikan langsung kepada Jokowi saat Jokowi bersilaturahim di Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, Sabtu (3/5/2014) malam. Atas pernyataan itu, Jokowi pun menduga Gus Sholah menginginkan cawapresnya adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD — Radaksi BUTONet 2) —KOMPAS.com, Jombang, 4/5/2014.

Joko Widodo / Jokowi (Calon Presiden dari PDI-P):

Gus Sholah (KH Sholahuddin Wahid) tidak menyampaikan secara eksplisit nama calon wakil presiden [yang disarankannya secara langsung kepada Jokowi saat Jokowi bersilaturahim di Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, Sabtu (3/5/2014) malam — Redaksi BUTONet 2], tetapi kalau tadi ia sebutkan masalah penegakan hukum, masalah reformasi, kok feeling saya mengarah ke sana (Mahfud MD) — KOMPAS.com, Jombang, 4/5/2014.

Catatan :

Jokowi enggan menjawab apakah ia bersedia jika dipasangkan dengan Mahfud di Pemilu Presiden 2014 nanti. Sebelumnya, Gus Sholah — yang juga adalah adik kandung Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur — mengatakan, masalah utama bangsa yang harus dibenahi ialah penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM).

Kemudian, yang kedua adalah masalah reformasi . Untuk itu, Jokowi bersama cawapresnya nanti harus memiliki misi mengatasi masalah tersebut. Mahfud MD sendiri merupakan salah satu kandidat capres maupun cawapres dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Seperti diketahui, PKB juga telah menyatakan ingin berkoalisi dengan PDI-P. Ketua DPP PKB Marwan Ja’far bahkan mengatakan sebenarnya kedua partai tersebut telah menjalin koalisi. Hanya saja belum diumumkan secara resmi. Koalisi yang terbangun di antara keduanya terbukti ketika Marwan dan Wasekjen PKB Fathan Subchi menemani Jokowi sowan ke sejumlah tokoh NU dan Muhammadiyah.

Menurut Marwan, ia mendapat perintah dari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar untuk menemani safari politik Jokowi hingga Minggu (4/5/2014). Selain Gus sholah, Sabtu siang hingga malam Jokowi telah bertemu mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafi’i Ma’arif, Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, dan Ketua Dewan Syuro PKB, KH Abdul Aziz Manshur.

Gubernur DKI Jakarta itu juga melakukan ziarah ke makam pendiri NU KH Hasyim Ansyari, makam Wahid Hasyim, dan Gus Dur yang terletak di kawasan Pondok Pesantren Tebuireng.

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

20 + fourteen =